Aku terengah saat tiba di depan ruang Kavindra. Sebelum mengetuk, kutarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan, mencoba menenangkan d**a yang terasa sesak. Setelah yakin suaraku tak lagi bergetar, kuangkat tangan dan mengetuk dua kali.
“Masuk,” sahutnya dari dalam.
Tanpa menunggu lebih lama, kutekan gagang pintu dan melangkah masuk. Ketegangan yang sejak tadi menempel di wajahku berubah menjadi keterkejutan saat melihatnya memasukkan berkas serta beberapa barang pribadi ke dalam sebuah kotak kardus. Jantungku berdegup makin cepat. Kakiku bergerak otomatis mendekat.
“Bapak mau ke mana? Kenapa semua barangnya dimasukkan ke dalam kotak?”
Dia mendongak. Tatapan kami bertemu, dan sudut bibirnya pun terangkat tipis—senyum yang terasa terlalu tenang untuk situasi seperti ini.
“Ti