Anisa menaruh piring yang tidak mudah pecah di dekat tempat Daniel. Anak itu hampir berusia dua tahun dan sedang ingin mengambil apa pun yang disentuh kakaknya. Aqila memindahkan gelas sendiri sedikit lebih jauh, lalu memprotes ketika adik tetap meraih sendoknya. Dimas menghentikan tangan kecil tersebut, memberikan benda yang sesuai dan memeriksa makanan sebelum anak mulai makan.
Malam itu mereka mengundang beberapa orang untuk makan di rumahnya. Mita datang bersama Rangga serta Rival setelah menutup butik. Sinta tiba dari alamatnya sendiri, sedangkan Rusman diantar sesuai rencana perjalanan. Ati dan suaminya datang kemudian dengan sedikit makanan yang sudah ditanyakan lebih dahulu agar tidak semuanya membawa hidangan yang sama.
Ada makanan yang dipesan, ada yang disiapkan Dimas serta Anisa sesuai waktu mereka. Mita tidak diminta tiba sebelum tamu lain untuk memasak serta membereskan dapur. Ia membawa bagian yang telah dipilih, menyerahkan di tempat yang ditunjukkan dan duduk setelah mencuci tangan. Pekerjaan menjamu tetap mempunyai tuan rumah yang mengetahui tanggung jawabnya.
Rival serta Aqila memperlihatkan benda sekolah masing-masing. Rival membawa gambar kincirnya karena model terlalu besar untuk dibawa. Aqila ingin membacakan satu cerita pendek sebelum makan, lalu berubah pikiran ketika melihat makanan datang. Dimas mengatakan dapat dilakukan nanti bila masih ingin, tanpa menjadikannya janji penampilan yang harus dipenuhi di hadapan kerabat.
Daniel mengetuk meja dengan sendok. Beberapa orang tertawa, kemudian Dimas mengalihkan sebelum suaranya membuat anak lain ikut memukul piring. Ia menangani tumpahan kecil yang jatuh, sementara Anisa membantu mengambil lauk untuk Aqila. Sinta tidak otomatis dipanggil menjaga bayi karena duduk paling dekat atau dianggap perlu disibukkan supaya tidak mengingat kehilangan.
Ati menanyakan rumah baru Sinta. Ia sudah pernah datang dan menyukai letak terasnya. Sinta mengatakan melati tumbuh dengan beberapa cabang baru, meskipun ia masih belajar mengenali kebutuhan airnya. Pot yang dulu kosong kini mempunyai tempat tetap. Ia tidak membawa bunga atau mengatakan tanaman itu menyampaikan kabar dari Aldo.
Ayah Aldo mendengar lalu menanyakan apakah jalan dekat rumah masih tergenang setelah hujan. Sinta menjelaskan bagian yang perlu dihindari serta waktu yang lebih mudah untuk perjalanan. Pembicaraan mengalir ke keadaan lingkungan, harga bahan dan menu restoran. Nama Aldo muncul ketika Ati mengingat anaknya dahulu tidak menyukai potongan bawang, lalu semua kembali pada hidangan di meja.
Lina tidak hadir. Ia masih menjalani pidana yang telah diputuskan. Tidak ada kursi kosong sengaja diletakkan agar orang menatap Mita atau menganggap makan malam hanya dapat disebut keluarga bila ia mengusahakan kepulangan ibu mertuanya. Rusman memperoleh kabar melalui cara yang telah diatur dan tetap dapat duduk makan bersama orang-orang yang datang malam itu.
Ketika seorang bertanya tentang kebutuhan Lina, Rangga menjawab singkat mengenai bagian yang memang boleh disampaikan. Urusan yang perlu dikerjakan sudah mempunyai orang serta jadwal. Ia tidak membuka pembicaraan rinci di tengah anak-anak atau memberikan dokumen kepada Mita sebagai pekerjaan sesudah makan. Pertanyaan selesai, kemudian ia mengambilkan air untuk Rival yang memintanya.
Anisa bercerita tentang jadwal kerja terbatas yang mulai terasa lebih akrab. Ia tidak menyebut orang yang dilayani atau pengalaman mereka sebagai cerita hiburan keluarga. Rusman menanyakan apakah masih lelah. Anisa mengatakan tentu, tetapi ia serta Dimas terus memeriksa pembagian agar kebutuhan rumah tidak hanya menunggu dirinya pulang.
Dimas mengangguk sambil mengganti lap yang basah. Ada panggilan usaha yang masuk pada waktu makan, dan ia melihat pesan untuk memastikan apakah mendesak. Orang yang sedang bertugas sudah memberikan kabar bahwa masalah tertangani. Ia membalas pada bagian yang perlu, lalu meletakkan telepon agar dapat mendengar Aqila menjelaskan akhir cerita yang tadi belum dibaca.
Mita menyampaikan pekerjaan butik berjalan dengan tim yang lebih teratur. Ia tidak mengumumkan rencana besar yang belum diperiksa atau mengubah setiap percakapan menjadi bukti bahwa ia kini berhasil. Wanda mempunyai tugas serta upah yang disepakati, Bu Rukmini tetap menerima pekerjaan berdasarkan kesediaan dan pelanggan datang karena pakaian yang benar-benar dapat dipakai.
Sesudah makan, Rival mengajak Aqila melihat gambar lain di ruang yang diizinkan. Mereka sempat berebut tempat duduk. Rangga mendekat, mendengarkan penjelasan keduanya dan membantu membagi giliran tanpa menuntut anak lebih tua selalu mengalah. Daniel tetap bersama orang tuanya, mengantuk serta mulai menjatuhkan benda yang tidak lagi ingin dipegang.
Sinta membantu membawa piring yang digunakannya sendiri, kemudian menanyakan apakah tuan rumah masih memerlukan bantuan tertentu. Anisa meminta menaruh satu wadah pada tempatnya dan mengatakan selebihnya sudah dibagi bersama Dimas. Tidak ada orang yang harus membuktikan rasa terima kasih dengan bertahan sampai seluruh rumah tampak seperti sebelum tamu datang.
Rusman mengumpulkan gelas di bagian meja yang dekat dengannya. Satu tumpahan membuat lengan bajunya basah dan ia mengambil lap tanpa menyalahkan anak yang bergerak. Rival meminta maaf karena tidak melihat, lalu membantu mengeringkan tempatnya sendiri. Urusan selesai ketika meja bersih. Tidak ada suara keras yang membuat seluruh orang berhenti makan atau seorang ibu harus meminta maaf atas semua gerakan anak. Anisa memberikan wadah pengganti, Dimas menyimpan benda yang mudah terjangkau dan percakapan kembali berlanjut setelah kebutuhan kecil ditangani.
Menjelang waktu pulang, Aqila akhirnya membacakan cerita singkat yang dipilih. Semua mendengarkan sampai selesai, lalu bertanya tentang satu tokoh yang disukainya. Ia senang karena ada orang mengingat isi, bukan hanya berkata pintar. Rival menunjukkan gambar sesudahnya, sementara Daniel tertidur dengan kepala bersandar pada Dimas.
Mereka berpamitan pada waktu yang masuk akal untuk perjalanan serta istirahat anak. Sinta pulang ke rumah sendiri, Rusman kembali ke alamat yang sudah dipelajarinya mengurus dan keluarga Ati melanjutkan perjalanan bersama. Mita berdiri sebentar di halaman, merasakan kenyang serta lelah yang tidak disertai daftar kewajiban baru. Malam itu meja telah menampung anak-anak, pekerjaan dan kenangan, dengan ruang bagi setiap orang untuk pulang tanpa merasa sedang meninggalkan hidup yang seharusnya ditanggungnya sendiri.