Beni meletakkan empat piring kecil di meja sebelum restoran dibuka. Ada ayam panggang dengan rempah, dua pilihan saus dan sup labu yang warnanya lebih pucat daripada foto contoh yang dibawa Sinta. Mereka sedang mencoba pilihan menu untuk bulan berikutnya, setelah pengaturan pembelian pada masa sepi cukup lama berjalan untuk diketahui hasilnya.
Sinta datang membawa catatan keluhan serta permintaan pelanggan, bukan daftar masakan yang hanya disukainya sendiri. Beberapa orang ingin hidangan hangat dengan porsi yang lebih ringan. Ada pula yang meminta pilihan saus dipisah agar dapat mengatur rasa. Ia mengingat kesalahan pesanan lamanya dan ingin pilihan tersebut benar-benar jelas sejak pelanggan memesan.
Dimas ikut duduk bersama dua orang staf layanan. Mereka mencicipi dalam porsi kecil, mencatat rasa serta waktu penyajian yang dapat dilakukan dapur. Beni meminta penilaian terus terang. Sup yang terlalu manis tidak akan menjadi lebih baik hanya karena semua orang merasa perlu menyenangkan kepala dapur atau adik pemilik.
'Yang ini enak di sendok pertama, tapi cepat terasa berat,' kata seorang pelayan sambil menunjuk saus.
Sinta mencoba lagi dengan sepotong ayam. Ia mengangguk dan menanyakan apa yang dapat diubah tanpa membuat biaya bahan melonjak. Beni menyebut pilihan yang tersedia, kemudian kembali menyiapkan versi kecil untuk dicoba. Mereka menunggu sambil membicarakan cara menjelaskan menu kepada pelanggan.
Ketika aroma rempah baru tercium, Sinta mendadak teringat Aldo pernah memisahkan potongan bawang dari piring dengan sangat teliti. Ingatan itu membuatnya tersenyum sendiri sebelum dada terasa berat. Dimas melihat, tetapi tidak langsung menanyakan apakah menu tersebut perlu dinamai untuk mengenang suaminya.
Sinta mengatakan sedang teringat sesuatu, lalu meminta waktu minum. Ia dapat menyayangi kenangan itu tanpa menaruh seluruh nama serta selera Aldo pada usaha yang juga menjadi tempat hidup banyak orang lain. Ketika kembali mencicipi, ia menilai hidangan berdasarkan rasa serta kebutuhan pelanggan yang akan memakannya.
Versi saus berikutnya lebih ringan. Mereka menguji cara membungkus untuk pesanan bawa pulang, memastikan wadah yang sesuai tersedia dan membuat daftar bahan yang perlu diketahui staf. Ada pertanyaan dari pelayan mengenai pelanggan yang mempunyai pantangan makan tertentu. Beni menyebut bahan yang digunakan dan meminta staf tidak menjamin sesuatu yang belum dapat dipastikan dapur.
Perhitungan biaya menunjukkan satu pilihan terlalu mahal bila memakai porsi yang direncanakan. Dimas meminta mereka menimbang ulang ukuran tanpa menyamarkan pengurangan. Sinta memilih menawarkan satu ukuran yang jelas, disertai gambar serta keterangan sesuai hasil sebenarnya. Harga ditentukan setelah biaya bahan dan pekerjaan diketahui, lalu dicoba pada jumlah terbatas.
Pada Sabtu pertama, dua menu baru ditawarkan kepada pelanggan dengan penjelasan bahwa persediaannya terbatas. Pelayan sudah mencicipi dan dapat menjawab pertanyaan dasar. Sinta berdiri di meja penerimaan, melihat pelanggan membaca daftar sebelum memutuskan. Ia menahan keinginan merekomendasikan terlalu keras hanya karena telah bekerja beberapa hari menyiapkannya.
Seorang pelanggan memesan sup dan mengatakan kurang panas ketika datang. Pelayan meminta maaf serta membawa kembali untuk ditangani dengan cara yang sesuai. Beni memeriksa urutan penyajian, menemukan jeda terlalu panjang saat piring lain disiapkan dan mengubah susunan pengeluaran berikutnya. Keluhan itu dicatat, bukan diminta dihapus karena mereka baru memulai.
Pelanggan kedua menyukai ayamnya tetapi meminta saus lebih banyak. Sinta menanyakan bagian yang kurang sebelum menyimpulkan porsi harus langsung ditambah untuk semua orang. Ada masukan lain yang berbeda. Mereka mengumpulkan beberapa pengalaman sepanjang layanan dan menunggu jumlah yang cukup untuk menilai perubahan, bukan menganggap satu pujian telah memastikan keberhasilan.
Di tengah kesibukan, seorang staf menawarkan mengambil foto dengan telepon sendiri untuk dibagikan. Dimas setuju pada foto hidangan setelah memastikan tidak ada pelanggan yang masuk gambar tanpa kebutuhan. Foto yang dipilih menunjukkan porsi yang benar-benar dijual, tidak ditambah hiasan yang nantinya membuat orang kecewa saat pesanan tiba.
Pada akhir hari, dua porsi sup tersisa dalam keadaan yang masih dapat ditangani sesuai waktu penyimpanannya. Beni mencatat untuk kebutuhan dapur yang diizinkan, sementara porsi yang tidak lagi memenuhi keadaan layak tidak dipaksakan keluar. Mereka mengurangi jumlah persiapan esok hari berdasarkan penjualan, bukan menyalahkan pelayan karena belum dapat menghabiskan semua.
Sinta makan bersama staf setelah giliran panjangnya selesai. Ia mendengar cerita tentang sepatu kerja yang rusak dan anak salah satu pegawai yang baru mulai sekolah. Untuk beberapa saat, percakapan restoran tidak berkisar pada pemulihannya atau masalah keluarga pemilik. Ia menyukai keadaan itu, sebab orang lain juga mempunyai hidup yang layak mengambil tempat.
Pada peninjauan pekan berikutnya, ayam panggang tetap dipertahankan dengan saus yang sudah diperbaiki. Sup ditawarkan pada hari tertentu dalam jumlah lebih kecil. Pembelian serta biaya dicocokkan dengan hasil, dan tambahan waktu percobaan staf masuk dalam pembayaran. Tidak ada kewajiban membantu di luar jam secara cuma-cuma karena ide tersebut dianggap menyenangkan.
Sinta mengirim kabar singkat kepada Ati tentang menu baru ketika mereka saling menanyakan keadaan. Ati mengatakan ingin mencobanya pada waktu yang tidak terlalu ramai. Mereka memilih hari yang mungkin, tanpa mengubah kunjungan menjadi acara mengenang Aldo yang harus dihadiri semua orang. Ia akan datang sebagai orang yang ingin makan serta bertemu.
Pada hari yang dipilih, Ati datang bersama suaminya dan memesan seperti pelanggan lain. Mereka mencoba ayam, membagi satu porsi sup dan menyebut bagian yang disukai ketika Sinta sempat menghampiri. Pembayaran diselesaikan sesuai pesanan sebelum pulang. Sinta tidak perlu duduk sepanjang makan atau meninggalkan tugas untuk membuat kunjungan tampak istimewa. Ia mengantar sampai pintu setelah layanan tenang, menerima ajakan bertemu pada waktu lain dan kembali memeriksa meja. Pertemuan tersebut cukup menyenangkan untuk diingat tanpa harus menjadi tanda bahwa duka seluruh keluarga telah selesai.
Ketika pulang, Sinta masih dapat mengingat cara Aldo menyisihkan bawang. Kenangan itu ikut duduk dalam dirinya, sementara buku menu tetap memuat pilihan yang dibuat bersama staf. Ia tidak harus mengusir yang lama untuk menikmati pekerjaan sekarang. Malam itu ia mencatat hasil percobaan terakhir, menutup tas dan memikirkan sarapan yang ingin dimasak besok, dengan rasa lapar yang sederhana serta miliknya sendiri.