Pada bulan keempat belas setelah Aldo wafat, Mita mengajak Rangga berbicara mengenai tempat tinggal mereka. Undangan itu datang sesudah berbulan-bulan pertemuan, pekerjaan mengurus Rival dan pendampingan yang dijalani masing-masing sesuai kebutuhan. Rangga masih menempati kamar sewanya. Ia tidak membawa tas ketika datang, sebab percakapan yang diminta belum tentu menghasilkan keputusan yang selama ini diharapkannya.
Mita memilih waktu ketika Rival berada pada kegiatan sekolah yang sudah dijadwalkan. Ia ingin berbicara tanpa anak menunggu hasil di belakang pintu. Di meja ada dua gelas minum dan catatan mengenai pengeluaran rumah. Ia duduk di kursi yang dipilih sendiri, membiarkan pintu ruang depan terbuka seperti biasa.
'Aku ingin mencoba tinggal bersama lagi,' katanya setelah beberapa saat. 'Aku memikirkan ini bukan karena Rival meminta atau karena urusan ibumu akan lebih mudah. Aku sendiri ingin melihat apakah rumah ini dapat kita jalani dengan cara yang sudah dibicarakan.'
Rangga meletakkan gelas dengan hati-hati. Ia ingin segera bertanya kapan dapat pindah, tetapi mendengarkan sampai Mita selesai. Keinginan mencoba tidak berarti ia berhak meminta semua ketakutan hilang atau menganggap perkara keluarganya ikut berubah arah. Laporan kebakaran tetap ditangani, dan keputusan Mita mengenai Lina tetap berlaku.
Mita mengatakan ia masih kadang tegang ketika Rangga meninggikan suara kepada sesuatu yang tidak berkaitan dengannya. Ia mengetahui reaksi itu dapat hadir meskipun suaminya sedang berbicara tentang pekerjaan. Jika membutuhkan jeda, ia ingin dapat mengatakannya tanpa dikejar dari ruangan ke ruangan atau diminta segera membuktikan bahwa ia sudah percaya.
'Aku tidak akan menahanmu atau menghalangi pintu,' jawab Rangga. 'Kalau aku mulai marah, aku harus mengurus tindakanku sendiri. Kamu tidak perlu menjadi orang yang menenangkan supaya aku tidak menyakiti.'
Mereka membicarakan dana serta akses rumah. Penghasilan butik tetap dikelola Mita, kebutuhan bersama mempunyai pembagian yang dapat dilihat, dan simpanan pribadinya tetap dapat dijangkau sendiri. Ia tidak akan menyerahkan kata sandi atau semua catatan usahanya sebagai syarat tinggal bersama. Rangga juga tetap mempunyai tanggung jawab kepada Rival yang tidak hilang bila mereka kembali memerlukan jarak.
Perkara pekerjaan rumah dibicarakan sampai hal kecil. Selama tinggal di kamar sewa, Rangga sudah mengurus pakaian serta makannya sendiri. Ia mengambil tugas yang jelas ketika kembali, termasuk beberapa antar-jemput serta kebutuhan makan pada hari yang disepakati. Mita tidak ingin dukungan kembali menjadi kalimat akan membantu yang harus diterjemahkannya sendiri setiap pagi.
Mereka memberi waktu sampai akhir masa sewa kamar yang sudah diatur Rangga. Ia berbicara dengan pemilik, melunasi kebutuhan yang masih ada dan memastikan jadwal pengosongan. Tidak ada barang yang dibawa diam-diam ke rumah Mita agar keputusan lebih sulit diubah ketika ia melihat suami sudah menempati sudut lama.
Beberapa hari sebelum pindah, mereka menjelaskan kepada Rival bersama-sama. Ayah akan kembali tinggal setelah orang tua membicarakan dan memilihnya. Rival senang, lalu bertanya apakah ia tidak perlu lagi tidur bila mendengar mereka bicara. Mita mengatakan anak tidak bertugas mendengarkan urusan orang dewasa, dan boleh mencari bantuan jika sesuatu membuat takut.
Rangga menambahkan bahwa dulu ia pernah menyakiti Ibu dan hal itu salah. Kembali ke rumah tidak mengubah siapa yang bertanggung jawab atas perbuatan tersebut. Ia tidak meminta Rival berjanji menjadi anak baik agar orang tua dapat terus tinggal bersama. Mereka mendengarkan pertanyaan sampai anak itu beralih menanyakan letak sepatu Ayah nanti.
Pada hari pindahan, Rangga datang bersama beberapa kotak yang sudah diperiksa kebutuhannya. Ia menyerahkan kunci kamar sewa kepada pemilik sesuai kesepakatan sebelum pergi. Di rumah, Mita menunjukkan ruang yang disiapkan bersama, lalu memberikan duplikat kunci yang dibuat setelah ia menyetujui. Kunci utama yang selama ini dipegangnya tetap berada pada gantungan miliknya.
Rival membantu membawa satu benda ringan, kemudian diminta melanjutkan kegiatan sendiri. Pekerjaan mengangkat serta menata menjadi urusan orang dewasa. Rangga membersihkan rak sebelum memasukkan pakaian, sedangkan Mita kembali memeriksa pesanan yang telah dibawanya dari butik. Kepulangan itu tidak memerlukan seluruh hari perempuan tersebut berhenti untuk menyambutnya.
Sore pertama terjadi perbedaan kecil mengenai letak meja belajar Rival. Rangga merasa sebaiknya dipindahkan dekat jendela. Mita mengatakan tempat itu terkena air ketika hujan deras dan ia sudah mencoba beberapa pilihan selama tinggal sendiri. Rangga sempat menjawab cepat, lalu berhenti sebelum mengulangi pendapat dengan suara lebih keras.
Ia meminta diperlihatkan bagian yang dimaksud. Mereka memeriksa, lalu mempertahankan meja di tempatnya. Rival tidak dipanggil untuk memilih pendapat Ayah atau Ibu. Perdebatan selesai sebagai keputusan mengenai meja, tanpa berubah menjadi pertanyaan siapa lebih berhak mengatur rumah.
Malam itu Rangga menyiapkan makan sesuai bagian yang dipilih. Ada lauk terlalu asin dan Rival mengatakannya terus terang. Mereka menambah lauk lain yang tersedia dan menyimpan sisa dengan rencana pemakaian yang masuk akal. Tidak ada jamuan yang membuktikan semua tahun berat telah terbayar karena satu orang akhirnya pulang.
Pagi berikutnya Rangga bangun lebih awal untuk menyiapkan bekal. Mita sempat mendekat ketika mendengar beberapa barang jatuh, lalu melihat suaminya memungut serta mengelap sendiri. Ia mengambil minum dan kembali menyelesaikan persiapan butik. Ketika tiba waktu berangkat, Rival baru ingat buku yang diminta guru. Rangga membantu mencarinya di rak sesuai keterangan anak, tanpa memanggil Mita agar membereskan keterlambatan. Mereka berangkat dengan bekal sederhana dan buku yang akhirnya ditemukan di bawah map gambar. Mita mengunci pintu setelah memeriksa barangnya sendiri. Hari pertama yang biasa itu memberi lebih banyak keterangan daripada janji panjang: ada tugas yang benar-benar berpindah tangan, dan ia dapat menuju pekerjaan tanpa menjadi pengingat untuk setiap kebutuhan rumah.
Sesudah anak tidur, Mita melihat kunci Rangga pada gantungan terpisah. Perasaannya memuat lega serta waspada, dan ia tidak memaksa memilih salah satunya saja. Ia memberi tahu bahwa besok tetap akan membuka butik seperti biasa. Rangga memeriksa tugas antar sekolahnya, kemudian menutup kalender. Rumah itu menerima mereka kembali melalui keputusan yang dibuat dengan sadar, sementara hak Mita menentukan rasa aman tetap berada di tangannya.