Setahun setelah Aldo wafat, Sinta terbangun sebelum jam yang dipasangnya berbunyi. Langit di balik jendela masih pucat. Ia duduk di tepi tempat tidur dan membiarkan ingatan datang tanpa segera mencari pekerjaan untuk menutupinya. Beberapa hari terakhir tidurnya lebih mudah terputus, meskipun pada pekan lain ia sudah dapat melewati malam dengan tenang.
Di lemari ada satu baju Aldo yang dibawanya dari Ati beberapa bulan lalu. Sinta mengeluarkannya, melipat bagian yang bergeser dan meletakkan kembali di rak. Ia memilih membawa satu foto biasa untuk kunjungan hari itu. Foto itu bukan pesan terakhir atau petunjuk yang baru ditemukan; hanya gambar ketika mereka duduk di rumah dan sama-sama belum mengetahui berapa lama waktu yang dimiliki.
Ati telah menanyakan kesediaannya datang. Mereka akan ke makam bersama Aldi dan ayah Aldo, lalu makan di rumah sesuai keinginan masing-masing. Tidak ada undangan yang mewajibkan seluruh keluarga berkumpul. Mita mengatakan ia bekerja hari itu, dan Ati menerima jawaban tersebut tanpa menghubungkannya dengan rasa hormat kepada orang yang meninggal.
Sinta menyiapkan makan pagi dan memeriksa kebutuhan yang biasa dibawa ketika pergi. Ia sudah memberi tahu restoran mengenai liburnya. Beni serta giliran kerja yang lain mengetahui siapa menangani pesanan hari itu. Ia tidak perlu mengawasi dari telepon agar berhak meluangkan waktu untuk sesuatu yang berat baginya.
Sebelum berangkat, ia menerima pesan Mita bahwa sepuluh set kedua katering sudah diserahkan serta dibayar pekan sebelumnya. Mita menanyakan kabarnya dengan singkat, tidak mengirim nasihat bahwa setahun seharusnya cukup untuk pulih. Sinta membalas ia akan pergi bersama keluarga Aldo dan mengucapkan selamat atas pekerjaan butik. Dua hal dapat hadir pada pagi yang sama tanpa salah satunya menghapus yang lain.
Aldi menjemput sesuai jam. Di kendaraan, Ati duduk memegang tas dengan kedua tangan. Dahulu ia mungkin akan memakai perjalanan itu untuk mengulang apa yang terjadi pada hari kecelakaan. Kali ini ia bertanya apakah Sinta ingin berhenti membeli air. Sinta mengangguk, lalu mereka membicarakan jalan yang lebih sepi tanpa dipaksa mengisi setiap jeda dengan kenangan.
Di makam, ayah Aldo berjalan pelan dan berhenti sebentar sebelum duduk. Sinta meletakkan foto tetap di dalam tas. Ia tidak membutuhkan benda itu ditunjukkan kepada semua orang. Ia memandang nama yang sudah dikenalnya, mengucapkan doa dengan suara yang hampir hilang dan menangis setelah beberapa saat berusaha mengatur napas.
Ati memberikan tisu tanpa meminta ia berhenti. Air matanya sendiri jatuh sampai ke dagu. Mereka duduk berdampingan, cukup dekat untuk saling mengetahui masih ada, tanpa mengatakan kehilangan mereka persis sama. Seorang kehilangan anak yang dilahirkan, seorang kehilangan suami serta kehamilan yang kemudian tidak berlanjut. Tidak ada keharusan menentukan siapa yang lebih berhak merasa hancur hari itu.
'Kadang aku masih ingin menelepon dia ketika ada hal sepele,' kata Sinta.
'Aku juga masih ingat jam biasanya dia pulang,' jawab Ati.
Sesudah itu mereka diam. Aldi mengambil jarak ketika menelepon sebentar untuk urusan rumah, lalu kembali tanpa membawa semua orang berdiri sebelum siap. Saat matahari mulai terasa panas, ayah Aldo menanyakan apakah mereka ingin pulang. Sinta mengangguk. Ia dapat meninggalkan makam tanpa berarti sedang meninggalkan orang yang disayangi.
Di rumah Ati, makan sudah disiapkan secukupnya. Ada lauk yang dulu disukai Aldo dan lauk lain yang dipilih karena mereka masih perlu makan hari itu. Ati sempat meminta maaf karena rasanya mungkin berbeda. Sinta mengatakan enak, lalu menanyakan bahan yang digunakan. Percakapan mengenai masakan terasa sederhana dan menyenangkan sebelum ingatan kembali membuat matanya panas.
Ati menyebut barang-barang Aldo yang masih berada di rumah. Mereka sepakat kelak memilih bersama pada satu waktu yang khusus, setelah Sinta tahu barang apa yang dapat disimpan di tempatnya sendiri. Tidak ada benda yang akan dibuang diam-diam atau dipaksa dibawa sebagai bukti cinta. Daftar lama disimpan sampai pertemuan tersebut benar-benar dapat dijalankan.
Sinta memberitahu bahwa ia mulai mencoba layanan makan siang penuh di restoran. Ati bertanya bagaimana rasanya. Ia menceritakan kemasan yang terlambat, pelanggan yang marah dan pelayan yang membantu. Untuk beberapa menit mereka dapat tertawa ketika Sinta menirukan kebingungannya mencari wadah yang benar, tanpa merasa sedang mengkhianati orang yang namanya baru didoakan.
Menjelang sore, kelelahan mulai terasa. Sinta meminta pulang lebih dahulu. Ati tidak menahan dengan kalimat bahwa rumah kembali sepi bila ia pergi. Ia membungkus sisa lauk setelah menanyakan apakah Sinta menginginkannya. Ayah Aldo mengingatkan Aldi memeriksa kendaraan, lalu mengantar mereka sampai depan pintu.
Sesampainya di rumah Rusman, Sinta memberi kabar telah tiba dan menaruh foto kembali di lemari. Ia beristirahat, kemudian menghubungi tempat perawatannya untuk memastikan jadwal yang memang masih dijalani sesuai kebutuhan. Ia ingin membicarakan beberapa malam yang kembali berat, tanpa menyimpulkan semua kemajuan hilang karena hari peringatan membuatnya menangis.
Telepon restoran sempat berbunyi ketika ia baru berbaring. Seorang pegawai menanyakan barang yang biasa diperiksanya. Sinta hampir bangun mengambil buku, lalu mengingatkan bahwa hari itu Beni telah menerima pembagian tugas. Ia memberikan letak catatan yang diperlukan dan meminta pertanyaan berikutnya diarahkan kepada orang yang bertugas. Beberapa menit kemudian Beni mengirim kabar bahwa barang ditemukan serta kebutuhan sudah ditangani. Sinta membalas terima kasih, lalu meletakkan telepon kembali. Ia tidak merasa perlu datang ke restoran untuk menunjukkan bahwa kesedihannya terkendali. Libur yang sudah disepakati perlu benar-benar dipakai, bahkan ketika kebiasaan lama membuat orang masih menghubunginya lebih dahulu. Ia menutup mata dan memberi tubuhnya waktu sampai rasa lelah berkurang.
Malam itu ia makan lauk dari Ati dan mencuci wadahnya. Tahun pertama telah dilewati dengan hari-hari yang tidak sama. Ada rawat inap, kehilangan kehamilan, pekerjaan yang perlahan diambil kembali dan percakapan sulit tentang perbuatannya dahulu. Ia masih menyayangi Aldo. Ia juga masih hidup, mempunyai rasa lapar, lelah dan keinginan merancang hari berikutnya. Ia menyiapkan pakaian untuk jadwal restoran, lalu mematikan lampu pada waktu yang dipilihnya sendiri.