Anisa menemukan buku keperawatan lamanya ketika merapikan rak yang sebelumnya dipakai Rangga. Setelah kamar tamu kembali kosong, ia ingin memindahkan beberapa berkas pendidikan ke tempat yang lebih mudah dijangkau. Di antara kertas itu ada catatan tangan ketika ia masih bekerja di klinik. Ia membacanya sambil duduk di lantai, sementara Daniel menggerakkan kaki di atas alas dekatnya.
Enam tahun lebih ia tidak bekerja sebagai perawat. Selama itu ia memilih memusatkan perhatian pada keluarga, dan pilihan tersebut memuat hari-hari yang disayanginya. Namun, semakin sering ia membuka kembali buku, semakin jelas bahwa ia ingin menggunakan bagian hidupnya yang tidak berhenti menjadi penting hanya karena sekarang mempunyai dua anak.
Ia tidak ingin kembali dengan menganggap pengetahuan lama otomatis cukup. Ia mencari penjelasan dari tempat yang dapat meninjau berkas serta kebutuhan persiapan sebelum seseorang lama tidak praktik mulai bekerja lagi. Ia mencatat pertanyaan tentang penilaian, pembaruan pengetahuan dan pilihan jadwal. Untuk pertama kalinya, kertas tersebut tidak segera disimpan hanya karena terdengar suara pekerjaan rumah.
'Aku ingin menanyakan kemungkinan kembali bekerja,' katanya kepada Dimas malam itu.
Dimas memandang buku yang diletakkan di meja. Ia hampir mengatakan penghasilan mereka masih cukup, seolah pekerjaan hanya diperlukan bila keluarga kekurangan uang. Ia menahan kalimat tersebut dan bertanya bagian yang ingin dilakukan Anisa serta bantuan yang dibutuhkannya untuk mencari tahu.
'Aku belum menerima pekerjaan. Aku perlu dinilai dan belajar lagi. Tapi aku ingin waktu untuk menjalani itu tanpa harus memastikan semua kebutuhan rumah selesai lebih dahulu olehku.'
Dimas mengangguk. Mereka membicarakan pengasuhan Daniel, antar-jemput Aqila dan waktu Anisa dapat pergi. Ia tidak langsung menawarkan menitipkan semuanya kepada Sinta. Adiknya sedang menjalani pemulihan dan jadwal kerja terbatas. Yuni juga mempunyai tugas yang telah disepakati di rumah Rusman, bukan orang yang dapat dipindahkan untuk menutup kebutuhan siapa pun.
Mereka memilih satu pagi untuk pertemuan awal Anisa. Dimas akan berada di rumah bersama Daniel dan menjemput Aqila. Urusan usaha yang biasanya diperiksa pagi dipindahkan atau diberikan kepada orang yang memang dapat menanganinya, dengan informasi yang cukup. Ia tidak sekadar mengatakan akan membantu lalu membiarkan Anisa menerima semua panggilan ketika sedang berada di tempat lain.
Pada hari yang ditentukan, Anisa bersiap dengan tas berisi berkas. Aqila menanyakan mengapa Ibu membawa buku seperti anak sekolah. Ia menjelaskan akan bertanya tentang belajar dan bekerja kembali. Aqila tampak kecewa karena ibunya tidak mengantar, tetapi Dimas sudah menyiapkan rencana perjalanan mereka tanpa meminta anak itu mengatakan ia bangga terlebih dahulu.
Pertemuan awal membuat Anisa menyadari ada beberapa hal yang perlu diperbarui dan dinilai. Ia tidak pulang dengan izin langsung menangani pasien karena pernah mengenal Rina atau mempunyai pengalaman lama. Ia membawa daftar tahap persiapan yang harus dijalani, perkiraan waktunya dan informasi mengenai tempat yang dapat membantu. Pilihan penempatan kerja akan dibicarakan setelah kebutuhannya dipenuhi.
Di ruang tunggu, ia sempat merasa ingin menutup map. Orang lain terlihat lebih muda dan lebih cepat menyebut hal yang baru dipelajari. Ia teringat betapa mudah keluarganya memuji bahwa ia dahulu perawat baik, seolah pujian dapat menggantikan kesiapan. Justru karena pekerjaan itu penting baginya, ia tidak mau memulai dengan menyembunyikan bagian yang perlu dipelajari kembali.
Sementara itu, Dimas menenangkan Daniel setelah tidur paginya terganggu. Ia sudah biasa menggendong dan mengganti keperluan bayi, tetapi pagi itu telepon usaha beberapa kali berbunyi pada saat yang sama. Ia menyampaikan kapan dapat menelepon kembali, memeriksa kebutuhan anak dahulu dan tidak memakai kesibukan sebagai bukti Anisa seharusnya tetap berada di rumah.
Ketika menjemput Aqila, ia membawa perlengkapan Daniel yang diperlukan. Aqila bercerita tentang temannya, lalu bertanya apakah Ibu akan pergi setiap hari. Dimas mengatakan jadwalnya masih dibicarakan. Ia tidak menjanjikan semua akan sama, tetapi mereka akan memberi kabar dan mengatur kebutuhan anak-anak bersama.
Anisa pulang menjelang siang. Ada alat makan yang belum dicuci dan beberapa benda bayi di sofa. Dimas sudah menyiapkan makan, tetapi salah menaruh buku Aqila di rak lain. Anisa menyebut tempat yang biasa digunakan, lalu duduk untuk makan. Ia tidak langsung membatalkan niat belajar karena rumah beberapa jam tidak diaturnya sendiri.
'Ada tahap yang harus kujalani dahulu,' katanya sambil menunjukkan daftar. 'Mungkin waktunya lebih panjang daripada yang kubayangkan.'
'Kita periksa jadwal yang nyata. Jangan kamu bilang sanggup semua hanya karena takut waktumu dianggap merepotkan,' jawab Dimas.
Mereka memilih tahap persiapan pertama dan menyesuaikan pengeluaran keluarga. Dimas tidak menandatangani atau menjawab atas nama istrinya. Anisa sendiri menghubungi tempat yang diperlukan dan memastikan informasi yang diterima benar-benar berkaitan dengan keadaannya, bukan mengandalkan cerita kenalan yang berbeda pengalaman.
Beberapa hari kemudian ia menghadiri sesi awal yang telah dijadwalkan. Ia memperkenalkan dirinya sebagai orang yang sedang kembali mempersiapkan kemampuan, tidak berpura-pura masih aktif bekerja. Ketika tidak memahami sesuatu, ia bertanya. Perasaan malu tetap ada, tetapi ia lebih takut membawa ketidaktahuan ke hadapan orang yang membutuhkan perawatan tanpa mengakuinya.
Ia juga teringat masa bekerja bersama Rina, ketika persoalan persahabatan dan perasaan terhadap Aldo begitu mudah dibicarakan di sela pelayanan. Anisa dahulu pernah memperingatkan sahabatnya agar tidak bertindak nekat. Sekarang ia memahami bahwa kehati-hatian tidak cukup disimpan sebagai nasihat kepada orang lain. Dalam pekerjaan yang ingin dimasukinya kembali, ia harus menjaga informasi, mengenali batas peran dan berani menyampaikan keberatan ketika sesuatu menyimpang. Ia tidak dapat mengandalkan kedekatan dengan pemilik tempat kerja sebagai jaminan bahwa semua keputusan sudah tepat. Persiapan itu menyangkut cara bekerja, bukan hanya seberapa banyak materi yang mampu diingatnya.
Malamnya Aqila meminta Ibu melihat gambar sekolah. Anisa menutup buku pada waktu yang telah dipilih dan mendengarkan. Sesudah anak-anak tidur, ia kembali membaca sebagian materi. Bukan seluruh rumah yang harus berhenti agar ia belajar, dan bukan seluruh keinginannya yang harus dihapus agar rumah berjalan. Ada pekerjaan yang perlu dibagi dan waktu yang harus benar-benar diberikan, sesudah kata-kata dukungan selesai diucapkan.