Enam minggu setelah memulai jadwal Rabu dan Sabtu, Sinta meninjau pekerjaannya bersama Dimas. Mereka bertemu sesudah waktu pagi selesai, dengan catatan mengenai tugas yang benar-benar dikerjakan, pembatalan yang pernah diperlukan dan kesalahan layanan yang telah diperbaiki. Percobaan itu tidak ditutup hanya dengan ucapan bahwa semua orang senang ia kembali.
Sinta memilih mempertahankan dua pagi yang sama untuk sementara. Ia ingin lebih mantap menangani bagian yang sudah dipegang sebelum menambah waktu. Dimas menyetujui dan tetap mencatat biaya penggantian secara terbuka. Mereka menetapkan peninjauan berikutnya tanpa menjadikannya tuntutan bahwa Sinta harus terus menambah kesanggupan pada setiap pertemuan.
Pada pekan yang sama, Rangga menemukan kamar sewa dekat kantornya. Ia telah membicarakan kebutuhan dengan Dimas dan Anisa. Kamar tamu tidak diambil kembali secara mendadak, tetapi Rangga menyadari ia perlu mengurus tempat tinggal yang tidak terus bergantung pada kesediaan rumah tangga adiknya menampung.
Ia menghitung sewa, perjalanan dan kebutuhan pribadi setelah memastikan pengeluaran Rival tetap dapat dipenuhi. Tempat yang dipilih sederhana, dengan ruang menyimpan pakaian dan kamar mandi yang dapat digunakan sendiri. Ia tidak mengambil kamar yang lebih mahal lalu meminta Mita mengurangi kebutuhan anak agar dirinya tidak terlalu merasakan akibat tinggal terpisah.
Sebelum membayar, Rangga memeriksa ketentuan sewa dan waktu ia dapat mulai menempati. Ia kemudian memberi tahu Mita alamat serta rencana memindahkan barang, karena hal itu memengaruhi perjalanan menjemput Rival. Informasi tersebut disampaikan tanpa menyisipkan pesan bahwa istrinya akan bertanggung jawab bila ia merasa semakin sendirian.
Mita menerima kabar itu setelah menutup pekerjaan butik. Mereka sudah bersepakat meninjau hubungan lagi sekitar sebulan sesudah pertemuan sebelumnya. Ia menyetujui berbicara pada Minggu, setelah sedikit lebih sebulan berlalu, tetapi mengatakan sejak awal bahwa pindah kamar tidak akan menjadi alasan memaksanya memberi jawaban berbeda.
Dalam pertemuan tersebut, Mita mengatakan ia masih ingin tinggal terpisah. Ia melihat tindakan yang lebih dapat diandalkan, tetapi kepercayaan tidak tumbuh mengikuti jadwal pembayaran sewa atau jumlah pertemuan konseling. Ia juga sedang memutuskan langkah mengenai kebakaran, dan tidak ingin keputusan perkawinannya dipakai untuk menutup persoalan itu.
'Aku kecewa, tapi aku dengar,' jawab Rangga. 'Kamar yang kusewa akan kuurus sendiri. Aku tidak mengambilnya supaya kamu merasa bersalah.'
Mita menanyakan bagaimana pertemuannya dengan Rival akan diatur. Mereka memeriksa jarak dari tempat tinggal baru dan mengubah satu waktu penjemputan yang tidak realistis. Rangga tidak menjanjikan tiba lebih cepat daripada perjalanan yang dapat ditempuh. Bila terlambat, ia harus memberi kabar dan menyiapkan pengganti yang sudah disepakati.
Sesudah percakapan, Mita mengizinkan Rangga mengambil sisa pakaian dan barang kerja pada waktu yang telah ditentukan. Ia berada di rumah, sedangkan Rival bermain bersama keluarga yang sudah bersedia mendampingi. Rangga tidak diminta menemui anak di tengah pemindahan atau menjelaskan kepada tetangga bahwa ia sedang diperlakukan tidak adil.
Ketika membuka rak, Rangga melihat beberapa barangnya masih berada di tempat lama. Ia semula ingin meninggalkan semuanya agar terasa akan segera kembali. Namun, Mita mengatakan rumah tersebut tidak dapat terus menjadi tempat menunggu keputusan yang hanya nyaman bagi satu orang. Ia perlu menggunakan ruang tanpa selalu diminta memperhitungkan harapan suaminya.
Rangga memasukkan barang yang diperlukan ke dalam kotak, lalu menanyakan mana yang memang digunakan bersama dan belum akan dipindahkan. Mereka membuat catatan sederhana agar tidak ada barang yang kemudian disebut diambil diam-diam. Kunci rumah tetap dipegang Mita; Rangga membawa kunci kamar sewanya sendiri.
Di depan pintu, ia berhenti ketika melihat bekas ukuran tinggi Rival pada sisi kusen. Ia ingin mengatakan betapa banyak yang hilang sejak tinggal terpisah. Kalimat itu tidak diucapkannya kepada Mita sebagai tagihan. Ia memandangi tanda tersebut sebentar, mengingat waktu berikutnya bertemu anak, lalu melanjutkan mengangkat kotak ke kendaraan.
Dimas membantu mengantar barang dari kamar tamu sesudah urusan di rumah Mita selesai, bersama seorang rekan kerja Rangga yang bersedia membantu membawa kotak. Rangga membersihkan tempat yang dipakainya dan mengganti kebutuhan rumah yang telah disepakati selama menumpang. Anisa mengucapkan terima kasih karena ia mengembalikan ruang dalam keadaan dapat digunakan, bukan membiarkan keluarga lain membereskan seluruh akibat keberangkatannya.
Malam pertama di kamar sewa terasa sunyi. Rangga menata pakaian dan menyiapkan makanan sederhana. Tidak ada orang yang dapat dipanggil untuk menanyakan tempat alat atau memastikan pekerjaannya telah disiapkan. Ia mengirim kabar bahwa alamat dan jadwal baru sudah benar, kemudian meletakkan telepon.
Seorang rekan kerja yang membantunya membawa kotak menelepon untuk memastikan barang tidak tertinggal. Setelah urusan selesai, ia menanyakan apakah Rangga akan terus mengalah kepada istri. Rangga sempat ingin menjelaskan betapa sulit beberapa minggu terakhir, lalu menyadari penjelasan yang dipilihnya dapat membuat Mita kembali menjadi penyebab persoalan di mata orang lain.
Ia mengatakan ia pernah melakukan hal yang menyakiti dan sedang menerima akibatnya. Rekannya tidak perlu menghubungi Mita atau memberi nasihat tanpa diminta. Percakapan itu menjadi canggung, tetapi Rangga tidak menambahkan cerita pribadi istrinya supaya dirinya kembali tampak patut dikasihani. Ketika sambungan ditutup, tidak ada yang memuji keberaniannya. Ia tetap harus membereskan kotak, mencuci alat makan dan menyiapkan barang kerja esok pagi. Mengurus bagian yang tidak disaksikan Mita sama perlunya dengan hadir pada jadwal yang dapat diperiksa orang lain.
Di rumah, Mita memindahkan beberapa kertas kerja ke rak yang kini kosong. Ia tidak mengisinya untuk menghapus keberadaan Rangga atau memberi pesan kepada siapa pun. Ia hanya memerlukan tempat yang dapat digunakan hari ini. Ketika Rival pulang dan bertanya mengapa rak berubah, ia menjelaskan bahwa Ayah membawa barang yang diperlukan ke tempat tinggal barunya.
Rival mengangguk, lalu meminta tempat menyimpan mobil kardusnya. Mita membantu memilih sisi rak yang tidak mengganggu dokumen. Rumah itu tetap mempunyai pertanyaan yang belum selesai, tetapi juga kebutuhan yang harus dijalani sekarang. Mita tidak perlu membiarkan seluruh ruang membeku untuk membuktikan bahwa ia belum memutuskan akhir perkawinannya. Ia dapat menata tempat tinggal, menjaga anak dan bekerja, sambil tetap memikirkan keputusan besar tanpa batas waktu yang ditentukan ketidaknyamanan orang lain.