Rina meminta bertemu Sinta dan Ati pada Selasa, dalam ruang yang tidak dipakai menerima pasien saat itu. Permintaan tersebut disampaikan lebih dahulu, dengan penjelasan bahwa ia ingin mengoreksi keterangannya pada masa awal perkawinan Sinta. Ia tidak mengundang mereka datang berobat lalu membuka persoalan lama tanpa kesiapan.
Sinta setuju, setelah memastikan pertemuan itu tidak menjadi acara keluarga. Dokter Hera, yang kini ikut menangani peninjauan mutu pelayanan di klinik, akan hadir untuk mendengar bagian yang berhubungan dengan pekerjaan Rina. Informasi pribadi tidak boleh berubah menjadi cerita yang dibagikan kepada semua pegawai.
Ati duduk di seberang Rina. Ia masih mengingat belanja makanan yang dahulu dilakukannya karena percaya menantunya mengalami keadaan yang disebut bidan tersebut. Ingatan itu selama ini berakhir pada kemarahan kepada Sinta yang berbohong. Ia belum pernah meminta Rina menjelaskan dasar keterangan yang diberikan kepadanya.
'Dulu saya mengatakan Sinta mengalami HB rendah,' ujar Rina. 'Saya tidak mempunyai pemeriksaan yang mendasari pernyataan itu. Saya menggunakan keterangan yang tidak benar untuk membantu menyembunyikan keadaannya, lalu membiarkan Ibu dan Aldo mempercayainya.'
Sinta menunduk. 'Aku meminta bantuan supaya tidak disuruh bekerja. Aku berpura-pura pingsan. Bagian itu tetap perbuatanku.'
'Iya. Tapi permintaanmu tidak mengambil tanggung jawabku sebagai orang yang memberikan keterangan,' jawab Rina. 'Aku bisa menolak. Aku memilih ikut berbohong.'
Hera meminta mereka membedakan ingatan percakapan dengan catatan yang masih dapat ditemukan. Rina tidak boleh membuat hasil pemeriksaan baru seolah telah ada pada hari tersebut. Ia perlu menyampaikan pengakuannya dengan benar dan mengikuti peninjauan, termasuk menjelaskan bagian dokumentasi yang tidak lengkap atau tidak mendukung keterangannya.
Rina mengangguk. Ia telah mengajukan pernyataan tertulis kepada pihak yang meninjau. Ia tidak ingin menutupnya dengan meminta Sinta memberi pengakuan bahwa mereka sama-sama salah lalu menganggap urusan profesinya selesai. Pertemuan dengan keluarga merupakan bagian menjelaskan kebohongan kepada orang yang menerimanya, bukan pengganti pemeriksaan pekerjaannya sendiri.
Ati memandang kedua perempuan itu. 'Aku memang marah kepada Sinta. Tapi aku juga membuat keputusan berdasarkan yang kukira penjelasan tenaga kesehatan. Kenapa tidak pernah diluruskan setelah semuanya terbuka?'
Ia menceritakan bagaimana ia membeli makanan dan mengubah perlakuannya setelah menerima keterangan tersebut. Masalahnya bukan ia menyesal pernah merawat menantu. Ia merasa kepercayaan yang dipakai untuk mengambil keputusan telah dianggap sesuatu yang dapat diarahkan demi tujuan pribadi. Rina mendengarkan tanpa memotong dengan pujian bahwa Ati tetap ibu mertua yang baik. Ia perlu memahami akibat pilihannya, bukan menenangkan korban agar pembicaraan segera terasa selesai.
Rina mengakui ia takut dipandang tidak layak dipercaya. Sesudah kehamilan palsu terbongkar dan keluarga sibuk dengan talak serta rujuk, ia membiarkan orang lain menjadi pusat kesalahan. Kedudukannya sebagai bidan dan pemilik usaha kesehatan membuatnya mempunyai lebih banyak cara untuk menghindari pertanyaan daripada orang yang pernah dibantunya berbohong.
'Saya juga mempunyai urusan pribadi dengan Sinta waktu itu,' katanya. 'Dia pernah mengambil surat yang saya tulis untuk Aldo. Kemarahan saya ikut terbawa ke cara saya memperlakukannya. Saya tidak boleh memakai pemeriksaan atau keterangan pelayanan untuk membalas itu.'
Sinta mengatakan ia pernah meminta maaf mengenai surat tersebut dan tetap bertanggung jawab atas yang dilakukannya. Ia tidak meminta Rina berhenti mengingat hanya karena kini sudah menikah dengan orang lain. Tetapi persoalan dua sahabat tidak semestinya membuat Ati menerima keterangan yang dipakai untuk mengatur rumah tangga tanpa mengetahui keadaan sebenarnya.
Hera menyampaikan bahwa peninjauan akan dilanjutkan sesuai peran pihak yang berwenang menilai. Tidak ada hasil yang diputuskan hanya karena Rina menangis atau karena Sinta bersedia mendengar maafnya. Untuk urusan yang berkaitan langsung dengan keluarga tersebut, Rina tidak akan menjadi orang yang menilai pekerjaannya sendiri.
Ati tidak mengatakan kekecewaannya hilang. Ia menerima koreksi dan meminta agar tidak ada nama anaknya dipakai untuk menjelaskan betapa baik maksud semua orang. Aldo telah mengambil keputusan dengan informasi yang sempat dibuat keliru. Kesediaannya menjalani perkawinan lagi tidak mengubah kebohongan itu menjadi cara yang tepat.
Pertemuan dihentikan setelah bagian yang diperlukan dicatat. Rina menawarkan menyampaikan perkembangan yang memang dapat dibagikan kepada orang terkait, tanpa menjanjikan peninjauan cepat selesai. Sinta meminta ia tidak mengirim rincian ke grup keluarga. Ati menyanggupi menjaga informasi sesuai kebutuhan, bukan membawanya kembali sebagai kabar untuk mempermalukan menantu.
Di luar ruangan, Sinta merasa lelah. Ia menghubungi pendampingnya untuk memastikan jadwal berikutnya tetap ada dan mencatat hal yang ingin dibicarakan. Pengakuan yang diterimanya tidak menyembuhkan duka atau mengurangi kesalahannya sendiri. Ia hanya tidak lagi harus membawa seluruh tindakan orang lain seolah semua terjadi karena ia pernah menjadi orang yang sulit.
Romi menunggu Rina setelah urusannya selesai. Ia tidak masuk ke ruang pertemuan atau meminta istrinya menceritakan isi pemeriksaan pasien. Dalam perjalanan pulang, Rina hanya mengatakan sulit mengakui bahwa sesuatu yang dianggapnya bantuan pernah membuat orang lain mengambil keputusan berdasarkan kebohongan.
Romi mendengarkan, kemudian menyebut satu hal mengenai dirinya sendiri. Dahulu ia memantau kedatangan Rina melalui kamera tempat usahanya dan mendesaknya memberi jawaban atas ajakan menikah. Ia kerap menceritakan kejadian itu sebagai kisah lucu pertemuan mereka, tanpa cukup mengakui tekanan yang dibuatnya.
'Aku memilih menikah denganmu dan memilih melanjutkannya sampai sekarang,' jawab Rina. 'Tapi itu tidak membuat caramu mendesak waktu itu otomatis benar. Aku ingin kita bisa mengakui tanpa mengubahnya menjadi bahan tertawaan lagi.'
Romi mengangguk. Kamera usaha tidak akan dipakai untuk mengikuti kehidupan pribadi tamu, dan keputusan Rina tidak dianggap sesuatu yang telah dimilikinya selamanya hanya karena pernah menerima. Mereka tidak menyamakan percakapan itu dengan peninjauan kerja Rina. Ada tanggung jawab yang berbeda, dengan orang dan akibat yang berbeda pula.
Malam itu Rina menyelesaikan pernyataan tambahan yang diminta Hera. Ia menulis apa yang diketahuinya, menandai bagian yang tidak dapat dipastikan, lalu menyerahkannya melalui jalur peninjauan. Tidak ada permintaan agar namanya diselamatkan karena dahulu membantu keluarga. Ia mulai menerima bahwa kejujuran tidak hanya berarti membongkar kebohongan Sinta, tetapi juga menyebut pilihannya sendiri ketika ia mempunyai kesempatan untuk bertindak benar dan tidak melakukannya.