Sabtu sore, setelah menyelesaikan waktu kerjanya dan beristirahat, Sinta menyalakan telepon lama yang dibawa dari rumah Ati. Ia telah membicarakan keinginannya menghadapi benda tersebut dalam pendampingan, dan memilih tidak melakukannya menjelang tidur. Tidak ada orang yang memintanya membuka seluruh isi telepon untuk membuktikan penyesalan.
Beberapa foto tidak dapat langsung dibuka karena sudah dipindahkan dahulu. Yang masih ada tersimpan dalam folder lama. Sinta mengetahui apa yang dicarinya dan berhenti sebelum layar menghadap ke arah pintu. Ia tidak memanggil orang lain untuk melihat. Isi itu pernah dipakai mengambil kendali atas keputusan Aldo, tanpa persetujuan orang yang berada di dalamnya.
Sinta duduk lama sebelum meletakkan telepon. Enam tahun lebih sebelumnya, ia mengambil foto Aldo ketika lelaki itu tidur dalam keadaan yang tidak layak diperlihatkan. Ia memakai kesan yang ditimbulkannya bersama kebohongan kehamilan agar perkawinan terjadi. Aldo kemudian mengetahui kebenaran, menjatuhkan talak dan akhirnya memilih rujuk. Pilihan terakhir itu tidak mengubah caranya dahulu menjadi sesuatu yang pantas dirayakan.
Ia hampir menulis bahwa semua dilakukan karena terlalu mencintai. Jarinya berhenti. Kalimat tersebut pernah dipakainya untuk meminta orang memahami tindakan yang diambil tanpa memberi Aldo kesempatan mengetahui keadaan sebenarnya. Cinta yang disebut belakangan tidak dapat memberikan persetujuan yang tidak pernah diminta.
Sinta menutup folder, lalu menelepon Ati. Ia menanyakan apakah ibu mertuanya mempunyai waktu berbicara sebentar mengenai masa awal perkawinan. Ia tidak mengirim foto atau memberi kejutan dengan menampilkannya di layar. Ati menjawab bersedia mendengar dan bertanya apakah Sinta sedang aman di rumah. Sinta mengatakan ia sudah beristirahat dan dapat menghentikan percakapan bila terlalu berat.
'Aku menemukan telepon yang dulu kupakai,' ujarnya. 'Ada foto yang pernah kupakai menekan Mas Aldo. Aku tidak ingin menyimpannya sebagai sesuatu yang menunjukkan betapa keras aku memperjuangkan pernikahan.'
Ati menghela napas. Ia mengetahui bagian cerita tersebut dari Aldo ketika kebohongan terbongkar. Sesudah rujuk, ia lebih sering memilih menganggap semuanya telah tertutup. Ia tidak ingin mengingat bahwa rumah tangga yang kemudian mereka sayangi dimulai dengan keputusan yang tidak dipahami sama oleh kedua orang di dalamnya.
'Aku tidak menelepon untuk minta Mama mengatakan Mas Aldo pasti sudah memaafkan,' lanjut Sinta. 'Aku tidak bisa meminta jawaban darinya sekarang. Aku hanya ingin bertanggung jawab atas yang masih berada di tanganku.'
Ati terdiam, lalu mengatakan bahwa ia tidak akan menjawab atas nama anaknya. Ia dapat mendengarkan pengakuan Sinta, tetapi tidak berhak mengubahnya menjadi permintaan maaf dari Aldo kepada siapa pun. Perasaan Aldo dahulu dan keputusannya menjalani perkawinan sesudahnya tidak harus dijadikan alasan agar semua tindakan sebelumnya kehilangan akibat.
Sinta menjelaskan bahwa ia hendak menghapus salinan yang masih dimilikinya dan memeriksa cadangan yang diketahuinya, tanpa mengirimkan kepada orang lain. Ia tidak dapat menjamin sesuatu yang pernah berada di luar jangkauannya telah hilang seluruhnya. Tetapi ia dapat berhenti menyimpan dan menggunakan bagian yang memang dikuasainya sekarang.
'Aku tidak akan meminta Mama melihatnya,' katanya.
'Jangan. Mama tidak memerlukan itu untuk mendengar apa yang kamu katakan.'
Percakapan tersebut tidak membuat Sinta merasa lebih ringan seketika. Ati mengatakan ada kemarahan yang muncul kembali dan ia perlu waktu. Sinta menerima tanpa membalas bahwa ia sendiri sedang berduka. Penderitaannya sekarang tidak menjadikan ibu Aldo berkewajiban memberi jawaban yang menyenangkan pada semua pengakuan.
Setelah sambungan berakhir, Sinta kembali ke telepon. Ia menghapus salinan yang telah diperiksanya dari penyimpanan yang masih dapat diakses, kemudian meninjau cadangan yang pernah dibuatnya. Ia tidak memindahkan foto ke perangkat lain agar dapat dikatakan sudah dihapus dari telepon. Pekerjaan itu dilakukan tanpa mengulang melihat lebih lama daripada yang diperlukan.
Ia lalu menulis catatan untuk dirinya sendiri mengenai keputusan yang diambil dan orang yang telah diberi tahu. Catatan itu tidak memuat gambar atau rincian tubuh Aldo. Ia ingin mengingat perbuatannya dengan jujur, tanpa mempertahankan sesuatu yang melanggar privasi sebagai alat untuk menghukum diri setiap malam.
Mita menelepon pada waktu yang telah mereka sepakati sebelumnya. Sinta mengatakan ada bagian masa lalu yang baru dihadapinya dan ia tidak meminta kakak iparnya mendengar semua isi. Ia hanya ingin menyampaikan bahwa dirinya mulai memahami perbedaan antara berusaha memperbaiki hubungan dan memaksa orang lain memberi hasil yang diinginkan.
'Aku dulu ingin semua orang menerima alasanku karena aku mengaku cinta,' ujar Sinta. 'Padahal orang yang kena akibatnya tetap kehilangan pilihan.'
Mita mendengarkan. Ia tidak membuat percakapan itu menjadi sidang baru atau mengatakan penghapusan salinan membuat seluruh kesalahan lunas. Ia menyatakan bahwa apa yang dilakukan Sinta sekarang dapat menjadi awal tanggung jawab, selama tidak dipakai menagih orang lain berhenti mengingat.
Sesudah menelepon, Sinta mematikan perangkat lama dan menyimpannya bersama barang pribadi. Ia tidak menaruhnya bersama kemeja dan agenda Aldo yang ingin dikenang dengan hangat. Ada benda yang membawanya pada rasa sayang, dan ada yang mengingatkannya pada perbuatan yang harus diakui tanpa dibenarkan. Ia tidak perlu mencampur keduanya agar hidup mereka terlihat lebih rapi daripada kenyataannya.
Yuni mengetuk untuk mengabari bahwa makan malam sudah disiapkan sebelum ia pulang. Sinta menyimpan buku catatannya dan keluar ke ruang tengah. Rusman sedang membetulkan kaki kursi yang goyah, sedangkan Lina duduk dengan kain yang hendak dilipat. Tidak ada yang meminta ia menjelaskan percakapan teleponnya. Ia mengambil porsi kecil, mencicipi masakan, kemudian membantu memindahkan gelas agar ayahnya mempunyai tempat bekerja. Ada bagian malam yang dapat dijalani tanpa meniadakan apa yang baru dihadapinya. Ia tidak harus menceritakan penyesalan kepada semua orang untuk membuat tindakannya sungguh-sungguh berarti.
Malam itu, ia menyiapkan keperluan pemeriksaan berikutnya dan memilih membaca sebelum tidur. Aldo tidak kembali, dan tidak ada jawaban yang dapat diminta atas nama orang yang sudah meninggal. Tetapi Sinta telah berhenti memakai sisa privasinya sebagai sesuatu yang boleh disimpan hanya karena pernah menjadi istri. Ia membawa penyesalan yang tidak selesai dalam satu hari, lalu melanjutkan tindakan yang memang masih menjadi tanggung jawabnya.