Pada Senin setelah lima pekan Rangga tinggal terpisah, Rival membawa pulang tugas menggambar keluarga. Ia tidak langsung mengeluarkan buku ketika ayahnya menjemput. Sepanjang perjalanan, ia memandang tas di pangkuan, lalu bertanya apakah tugas itu harus memperlihatkan semua orang berada di rumah yang sama.
'Gurumu bilang begitu?' tanya Rangga.
'Tidak. Tapi gambar temanku ada Ayah dan Ibu di depan rumah. Kalau aku gambar Ayah di rumah Om Dimas, nanti teman-teman bertanya.'
Rangga menepi setelah tiba di tempat yang aman dekat butik. Ia tidak ingin menjawab sambil buru-buru menurunkan anak. Ia mengatakan Rival boleh menggambar orang yang dianggap keluarganya dan menyebut tempat tinggal sebagaimana keadaannya sekarang. Tidak ada kewajiban membuat rumah terlihat seperti keluarga teman yang lain.
'Ayah kapan pulang?' tanya Rival.
Pertanyaan itu sudah pernah muncul dalam bentuk lain sejak tas pakaian dibawa keluar. Rangga dahulu mudah mengatakan sebentar lagi untuk membuat anaknya tenang. Sekarang ia tahu jawaban yang tidak dapat dipastikannya hanya akan menjadi penantian baru yang harus ditanggung Rival.
'Ayah dan Ibu belum memutuskan. Ayah tetap akan bertemu kamu sesuai rencana dan memberi kabar kalau ada perubahan.'
'Karena Ibu marah?'
Rangga memegang kemudi yang sudah tidak bergerak. Ia teringat percakapan dengan Mita dan pendamping mengenai cara menjelaskan tanpa memakai anak untuk mencari pembelaan. Ia tidak boleh menjadikan perasaan istrinya penyebab semua perubahan yang terlihat.
'Ada perbuatan Ayah yang menyakiti Ibu. Dulu Ayah pernah memukulnya. Itu salah Ayah. Sekarang Ibu perlu merasa aman dan mempunyai waktu untuk memikirkan keputusan.'
Rival menatap wajahnya. 'Ayah memukul Ibu?'
'Iya. Ayah tidak akan menyalahkan Ibu atas tindakan itu. Kamu tidak perlu memperbaikinya atau membuat Ibu menerima Ayah lagi.'
Anak itu terdiam. Rangga tidak menambahkan rincian yang belum diperlukan dan tidak meminta Rival memaafkan agar dirinya merasa lebih baik. Ia menjelaskan bahwa orang dewasa sedang mengurus persoalan itu, dan Rival dapat memberi tahu Mita, guru atau orang dewasa yang dipercaya bila merasa takut atau bingung.
'Kalau aku masih sayang Ayah, Ibu sedih?'
'Kamu boleh menyayangi Ayah. Menyayangi seseorang juga tidak membuat perbuatan yang salah menjadi benar. Ibu tidak meminta kamu berhenti menjadi anak Ayah.'
Mereka masuk ke butik setelah Rival siap turun. Rangga memberi tahu Mita bagian percakapan yang baru berlangsung, tanpa memintanya mengatakan kepada anak bahwa semua akan segera baik. Mita memilih menutup meja kerja sebentar dan mengajak Rival duduk di ruang belakang. Rangga menunggu di depan setelah anaknya mengatakan ingin berbicara dengan ibu dahulu.
Rival menanyakan apakah ia boleh menggambar mereka bertiga bersama. Mita menjawab boleh, selama itu gambar yang ingin dibuatnya, bukan janji bahwa orang tuanya harus segera tinggal bersama. Ia juga tidak harus menuliskan persoalan keluarga di tugas jika tidak ingin. Ia dapat membicarakan dengan guru bagaimana mengerjakan tanpa merasa harus membuka semua hal pribadi di depan kelas.
'Aku tidak suka kalau teman bertanya terus,' katanya.
'Ibu bisa berbicara kepada gurumu supaya kamu tidak ditanya di depan banyak orang. Tapi Ibu tidak akan memintamu mengarang bahwa Ayah sedang bekerja ke luar kota.'
Rival mengangguk. Ia meminta Mita menemaninya ketika membuka buku, lalu mulai menggambar tiga orang dengan tangan yang terlalu panjang. Ia menambahkan meja potong karena ingin memasukkan tempat ia sering menunggu sepulang sekolah. Mita tidak membetulkan gambar rumah agar tampak lebih pantas atau menyuruhnya menambahkan senyum.
Setelah Rival kembali berbicara dengan ayahnya mengenai buku, Mita menghubungi guru pada waktu yang sesuai. Ia menyampaikan perubahan tempat tinggal yang memengaruhi anak, secukupnya untuk meminta dukungan di sekolah. Tidak semua rincian pengakuan Lina atau perbuatan Rangga perlu dibawa ke ruang kelas. Guru mengatakan tugas dapat dikerjakan dalam bentuk yang nyaman bagi Rival dan akan menjaga agar pertanyaan teman tidak berubah menjadi ejekan.
Malamnya, Rival bertanya mengapa ia belum boleh menemui nenek Lina seperti biasa. Mita mengatakan ada perbuatan lama yang sangat menyakiti Ibu dan sedang ditangani orang dewasa. Untuk sementara, pertemuan diatur agar semua kebutuhan keamanan diperhatikan. Ia tidak menyuruh Rival membenci nenek atau menyampaikan pesan kepada siapa pun.
'Aku jadi bingung siapa yang baik,' ujar Rival.
Mita duduk di sampingnya. Ia mengatakan orang yang disayangi dapat melakukan hal yang salah dan harus bertanggung jawab. Rival tidak ditugaskan memberi nilai kepada seluruh keluarganya. Ia dapat bercerita bila ada yang membuatnya tidak nyaman, tetap bermain, bersekolah dan meminta perhatian tanpa terlebih dahulu memastikan orang dewasa tidak sedih.
Sebelum tidur, Rival meletakkan gambar di meja agar tidak terlipat. Ia belum selesai mewarnai. Mita membantunya menyiapkan pensil untuk esok, kemudian mematikan lampu kamar setelah anak itu siap. Ada pertanyaan yang mungkin akan diulang lagi, dan ia tidak dapat menjanjikan satu percakapan menyelesaikan semuanya.
Di rumah Dimas, Rangga membaca pesan bahwa Rival sudah tidur. Ia tidak bertanya apakah anaknya berhasil membujuk Mita atau mengatakan rindu agar istrinya berubah pikiran. Ia mencatat hal yang perlu dibicarakan pada pertemuan pendampingan berikutnya: bagaimana hadir sebagai ayah sambil menerima bahwa pengakuan atas perbuatannya tidak boleh dibayar dengan ketenangan yang dipaksakan kepada anak. Setelah itu ia menyiapkan jadwal kerja dan penjemputan. Rival memerlukan tindakan yang dapat diandalkan, bukan janji yang dibuat hanya untuk menutup pertanyaan sore itu.
Esoknya, Rival menyerahkan gambar tanpa harus menjelaskan perubahan rumah kepada seluruh kelas. Guru menanyakan meja potong yang digambarnya, dan ia bercerita bahwa ibunya membuat pakaian untuk pelanggan. Ia senang dapat menjelaskan sesuatu yang diketahuinya dengan baik. Ketika seorang teman bertanya mengapa ayahnya digambar di sisi lain kertas, Rival mengatakan ayah sedang tinggal di rumah pamannya. Guru melanjutkan kegiatan tanpa menjadikannya bahan tanya jawab.
Sepulang sekolah, ia menunjukkan gambar yang telah diberi catatan oleh guru. Ia masih ingin ayahnya pulang, tetapi sore itu juga ingin membuat mobil dari kardus. Mita membantunya mencari kotak kosong yang boleh digunakan. Ada keinginan yang belum dapat dipenuhi orang tua, dan ada sore yang tetap dapat diisi dengan sesuatu yang dinikmati Rival sendiri.