Sepekan kemudian, pada Senin sore, Dimas datang membawa ringkasan usaha yang telah diperbarui. Sinta memilih berbicara di ruang makan rumah orang tuanya, ketika Lina sedang beristirahat dan Rusman berada di halaman. Ia sudah melihat laporan pertama di rumah sakit. Kini ia ingin memahami pekerjaan apa yang selama ini ditangani orang lain dan bagaimana ia dapat kembali tanpa berpura-pura sanggup menjalani jadwal lama.
Dimas membuka lembar kedua yang dahulu belum sempat dibahas. Ia tidak membawa semua buku kas sekaligus. Ada daftar tugas Sinta sebelum kehilangan Aldo, pekerjaan yang sementara dijalankan Beni, serta keputusan pembelian yang kini ditanganinya sendiri. Beberapa bagian telah diubah karena ternyata dapat dikerjakan lebih baik bila tidak menunggu satu orang.
'Aku ingin mencoba dua pagi seminggu,' kata Sinta. 'Bukan untuk duduk lalu semua orang bertanya apa aku sudah sehat. Aku ingin ada tugas yang jelas.'
'Kita tentukan yang dapat dikerjakan pada waktu itu. Beni tetap bertanggung jawab di dapur. Kamu tidak perlu berdiri di dekat kompor sepanjang pagi untuk menunjukkan bahwa kamu pengelola.'
Sinta memilih memeriksa barang masuk bersama petugas kas, meninjau pesanan yang perlu dikonfirmasi, dan membicarakan keluhan pelanggan yang sudah dicatat. Ia belum akan menjadi orang yang harus menerima semua telepon malam. Untuk keputusan di luar waktunya, Dimas dan petugas yang ditunjuk tetap harus dapat bekerja.
Mereka menyepakati Rabu dan Sabtu, pukul sembilan sampai dua belas, sebelum layanan siang menjadi padat. Sinta akan mencoba selama enam minggu, lalu meninjau dengan Dimas serta memperhatikan keadaan dirinya bersama tenaga perawatan. Ia dapat memberi kabar bila perlu membatalkan. Pembatalan tidak boleh membuat pekerja lain tiba-tiba diminta menggandakan jam tanpa dibayar.
'Lalu hasil yang tiga puluh persen?' Sinta menatap angka di halaman berikutnya.
Dimas menjelaskan bahwa mereka sedang membicarakan pembagian hasil pengelolaan yang telah berjalan, bukan memindahkan kepemilikan secara diam-diam. Bagian yang telah dicatat selama ia beristirahat tetap diberikan sesuai kesepakatan periode tersebut. Untuk masa percobaan berikutnya, tambahan biaya penggantian tugas dicatat terbuka sebelum menentukan hasil yang dapat dibagikan.
'Aku tidak mau Beni menanggung kekurangan hanya karena aku adik pemilik,' ujar Sinta.
'Aku juga tidak. Karena itu biaya dan jamnya harus terlihat. Tujuh puluh persen untukku tidak berarti aku dapat menyebut setiap pekerjaan tambahan sebagai kewajiban pegawai. Dan tiga puluh persen untukmu bukan alasan meminta kamu mengabaikan keadaan sendiri.'
Mereka menghitung satu contoh dari periode yang telah selesai. Sinta melihat bahwa penjualan bukan seluruhnya uang yang dapat dibawa pulang. Ada pembelian bahan, kewajiban usaha dan pengeluaran yang memang harus dibayar. Ia pernah memeriksa angka tersebut hampir setiap hari, tetapi masa kehilangan membuatnya takut kembali melihat sesuatu yang dahulu terasa biasa.
Dimas tidak mengambil alih pensil ketika Sinta perlu menghitung ulang. Ia menunggu, lalu menunjukkan satu nota yang belum masuk jumlahnya. Kesalahan itu diperbaiki di depan mereka, tanpa menjadikannya bukti bahwa Sinta tidak lagi mampu memegang laporan. Pada akhir percakapan, angka yang disepakati ditulis dan salinannya dipegang keduanya.
Sebelum jadwal dimulai, Dimas juga berbicara dengan Beni. Kepala dapur itu meminta tugas di luar memasak tetap dibagi meskipun Sinta kembali. Ia tidak mau seluruh telepon dan pencatatan jatuh kepadanya pada lima hari yang lain. Dimas menerima keberatan tersebut, lalu menetapkan siapa yang menangani pembelian dan layanan pada waktu Sinta tidak ada. Sinta membaca pembagian itu ketika datang, mengoreksi satu tugas yang ternyata membutuhkan akses yang belum diberikan kepada petugas kas. Mereka memperbaikinya sebelum menjadikan kertas tersebut aturan. Kejelasan itu melindungi pekerjaan semua orang, bukan hanya membuat pemilik merasa telah mengatur pergantian.
Rabu pagi, Sinta datang sesuai jadwal. Beni sudah mengetahui tugas yang akan dicoba dan siapa yang mengambil keputusan bila Sinta perlu pulang. Tidak ada pengumuman bahwa pengelola lama telah kembali sepenuhnya. Ia meletakkan tas, mencuci tangan dan memeriksa catatan barang bersama petugas kas.
Satu jumlah tidak cocok dengan barang di tempat penyimpanan. Sinta bertanya apakah ada pemakaian yang belum dicatat. Petugas kas menemukan bahan yang dipindahkan untuk persiapan malam, tetapi kertasnya masih tertinggal di dapur. Mereka memperbaiki catatan dan menentukan tempat menaruhnya. Sinta tidak menuduh seseorang mengambil barang hanya karena angka pertama terlihat berbeda.
Menjelang akhir waktunya, ada pelanggan menelepon dan meminta bicara langsung dengan pengelola. Sinta menerima percakapan singkat mengenai pesanan yang datang terlambat pada hari sebelumnya. Ia mencatat kejadian, meminta waktu memeriksa dan menyerahkannya kepada Dimas untuk keputusan yang belum dapat dipastikan. Ia tidak menjanjikan penggantian yang belum dibicarakan hanya agar keluhan segera berhenti.
Sesudah itu ia merasa sangat lelah. Beni mengatakan pekerjaan yang tersisa dapat dilanjutkan sesuai pembagian. Sinta pulang pada jam yang disepakati, bukan menunggu sampai semua orang berhenti bekerja. Di rumah, ia makan dan beristirahat sebelum memberi kabar kepada keluarganya bahwa hari pertama sudah selesai.
Sabtu sedikit lebih mudah. Ia mengenali letak catatan baru dan tidak perlu bertanya dari awal. Namun, ketika mendengar seorang pelanggan membicarakan bayi, ia meminta Beni melanjutkan percakapan layanan. Ia memilih duduk di kantor kecil beberapa menit. Tidak ada pekerja yang diminta mengetahui seluruh alasan pribadi di balik jeda tersebut.
Sinta kembali memeriksa satu pesanan setelah merasa cukup tenang, kemudian berhenti sesuai waktu. Ia mengirim ringkasan pekerjaan kepada Dimas dan menyebut bagian yang perlu diperbaiki untuk pagi berikutnya. Percobaan itu menghasilkan pekerjaan nyata, bukan hanya cerita bahwa ia sudah berani datang. Pada saat yang sama, ia tetap mempunyai hak untuk mengatakan bahwa tenaga yang tersedia hari ini tidak dapat dipakai menjanjikan semua hari berikutnya.
Malamnya, Sinta menyimpan salinan kesepakatan bersama berkas usahanya. Catatan perawatan berada di map lain. Dua bagian hidup itu perlu saling diperhatikan tanpa membuat semua orang merasa berhak membaca keduanya. Ia masih berduka dan masih memerlukan bantuan, tetapi namanya di laporan restoran kembali disertai keputusan yang dibuatnya sendiri.