Keheningan di ruang rapat itu… tidak bertahan lama.
Karena dalam perang seperti ini—
Tidak ada yang mundur.
Hanya ada yang menyerang… atau dihancurkan.
Elisa berdiri diam.
Namun matanya—
Tidak lagi goyah.
Rasa panik tadi…
Hilang.
Digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Keputusan.
Ia tertawa pelan.
Pelan… namun cukup untuk membuat semua orang menoleh.
“Hebat.”
Tatapannya tertuju pada Elara.
“Benar-benar hebat.”
Nada suaranya berubah.
Lebih dingin.
Lebih tajam.
“Aku hampir percaya… kamu yang mengendalikan semuanya.”
Hening.
Namun Elara tidak menjawab.
Ia hanya menatap balik.
Dan itu—
Membuat Elisa semakin tersenyum.
“Sayangnya…”
Ia mengangkat tabletnya.
“…kamu terlalu meremehkanku.”
Klik.
Layar berubah lagi.
Dan dalam satu detik—
Situasi berbalik.
Video muncul.
Bukan dari rapat.
Bukan dari kantor.
Tapi—
Dari masa lalu.
Wajah Elara.
Lebih muda.
Lebih rapuh.
Dan di sampingnya—
Seorang pria.
Ruangan langsung gaduh.
“Siapa itu?”
“Bukankah itu—”
Bisikan mulai menyebar.
Elara membeku.
Hanya satu detik.
Namun cukup.
Karena Elisa melihatnya.
Dan itu—
Yang ia tunggu.
“Menarik, bukan?”
Ia melangkah mendekat.
“Wanita sempurna kita ternyata punya sejarah…”
Senyumnya melebar.
“…yang tidak terlalu bersih.”
Pria di video itu—
Bukan sembarang orang.
Seorang nama lama.
Seseorang yang…
Seharusnya tidak pernah muncul lagi.
Elara mengepal.
“Itu tidak—”
Namun Elisa memotong.
“Jangan.”
Nada suaranya tajam.
“Kamu sudah cukup berbohong hari ini.”
Hening.
Semua mata kini tidak lagi pada Elisa.
Melainkan—
Pada Elara.
Atau…
Siapa pun dia sebenarnya.
“Jadi ini rencanamu?”
Elisa menatapnya lurus.
“Menyusup, berpura-pura, lalu menghancurkan semuanya?”
Langkahnya semakin dekat.
“Dan kamu pikir…”
Ia berhenti.
Tepat di depan Elara.
“…aku akan diam saja?”
Hening.
Dan untuk pertama kalinya—
Elara tidak langsung menyerang balik.
Karena ini—
Bukan bagian dari rencana.
Elisa tersenyum.
Ia tahu.
Ia menangkap celah.
Dan sekarang—
Ia akan menghancurkannya.
“Kamu ingin bermain?”
Bisiknya pelan.
“Baik.”
Ia menoleh ke semua orang.
“Kalau begitu… mari kita buka semuanya.”
Kalimat itu jatuh seperti bom.
Pria itu langsung berdiri.
“Cukup, Elisa.”
Namun—
Elisa tidak berhenti.
“Tidak.”
Ia menatapnya.
“Ini belum cukup.”
Tatapannya berubah.
Lebih emosional.
Lebih… terluka.
“Aku sudah kehilangan semuanya karena ini.”
Suaranya naik.
“Reputasi. Kepercayaan. Semuanya!”
Air matanya jatuh.
Namun tidak membuatnya lemah.
Justru—
Lebih berbahaya.
“Dan kamu…”
Ia menunjuk Elara.
“…kamu pikir kamu bisa datang kembali…”
Langkahnya maju.
“…dan mengambil semuanya dariku?”
Hening.
Elara akhirnya bicara.
“Tidak.”
Suaranya pelan.
Namun kali ini—
Tidak dingin.
Lebih dalam.
“Aku tidak mengambil apa pun darimu.”
Ia menatap Elisa.
“Tapi kamu…”
Senyumnya tipis.
“…mengambil semuanya dariku.”
Udara langsung berubah.
Dan di situlah—
Semua orang mulai mengerti.
Ini bukan sekadar konflik bisnis.
Ini—
Pribadi.
Sangat pribadi.
Pria itu menatap Elara.
Dalam.
“Jadi ini benar…”
Bisiknya pelan.
Dan kali ini—
Tidak ada lagi penyangkalan.
Tidak ada lagi topeng.
Hanya…
Kebenaran yang menggantung.
Elara tidak menjawab.
Namun matanya—
Sudah cukup.
Dan itu—
Lebih menyakitkan dari apa pun.
Elisa tertawa.
Namun kali ini—
Suaranya pecah.
“Luar biasa…”
Ia mundur selangkah.
“Jadi ini semua… tentang cinta?”
Tatapannya tajam.
“Balas dendam karena cinta yang ditinggalkan?”
Hening.
Namun—
Tidak ada yang menyangkal.
Dan itu—
Yang paling menyakitkan.
“Kalau begitu…”
Senyumnya berubah.
Lebih kejam.
Lebih gelap.
“…aku akan menghancurkan cinta itu juga.”
Kalimat itu…
Bukan ancaman.
Janji.
Ia menatap pria itu.
“Kamu.”
Suaranya pelan.
“Kamu yang memilih ini.”
Lalu ke Elara.
“Dan kamu…”
Matanya dingin.
“…akan menyesal kembali.”
Ia berbalik.
Namun sebelum pergi—
Ia berhenti.
Dan tanpa menoleh—
“Karena kali ini…”
Suaranya sangat pelan.
“…aku tidak akan berhenti sampai salah satu dari kita benar-benar hancur.”
Pintu tertutup keras.
Dan ruangan itu—
Akhirnya pecah.
Namun di tengah semua itu—
Pria itu hanya menatap satu orang.
Elara.
Dan untuk pertama kalinya—
Ia tidak tahu harus marah…
atau—
menariknya kembali.
Sementara itu—
Elara berdiri diam.
Namun di dalam—
Semuanya mulai goyah.
Karena untuk pertama kalinya—
Permainan ini…
Sudah keluar dari kendalinya.
Dan sekarang—
Bukan hanya tentang balas dendam.
Tapi tentang—
Siapa yang akan kehilangan segalanya lebih dulu.