Tidak semua orang bertarung dengan tangan.
Beberapa…
Bertarung dengan rahasia.
Dan malam itu—
Elisa memilih untuk menggunakan semuanya.
Lampu kota masih menyala terang.
Namun di sebuah ruangan gelap—
Seseorang sedang tersenyum.
Elisa.
Di tangannya—
Sebuah tablet.
Menampilkan rekaman.
Rekaman parkiran bawah tanah.
Pertemuan itu.
Setiap kata.
Setiap tatapan.
Dan yang paling penting—
Satu momen.
“…Elara…”
Nama itu terdengar jelas.
Elisa memutar ulang.
Lagi.
Dan lagi.
Senyumnya semakin lebar.
“Jadi kamu masih hidup…”
Bisiknya pelan.
Matanya bersinar.
Berbahaya.
“Dan kamu kembali…”
Ia menyandarkan tubuhnya.
Santai.
“…untuk merebut semuanya.”
Namun senyumnya berubah.
Lebih dingin.
Lebih kejam.
“Sayangnya…”
Jarinya mengetuk layar.
“…aku tidak akan membiarkan itu terjadi.”
Keesokan paginya—
Udara terasa berbeda.
Lebih tegang.
Lebih berat.
Di kantor—
Bisikan mulai muncul lagi.
Namun kali ini—
Lebih liar.
“Kamu lihat berita itu?”
“Katanya ada identitas palsu…”
“Perempuan misterius itu…”
Nama belum disebut.
Namun arah sudah jelas.
Di ruang kerjanya—
Elara berdiri diam.
Ponselnya menyala.
Menampilkan satu email.
Tanpa pengirim.
Tanpa nama.
Hanya satu file.
Ia membukanya.
Dan dalam satu detik—
Darahnya terasa dingin.
Foto lama.
Dirinya.
Elara.
Sebelum semuanya.
Dan di bawahnya—
Satu kalimat.
“Berapa lama kamu pikir kamu bisa bersembunyi?”
Tangannya mengepal.
“Dia…”
Tidak perlu disebut.
Ia tahu siapa.
Di sisi lain—
Pria itu berjalan cepat menuju ruang rapat.
Tatapannya tajam.
Langkahnya berat.
Ia sudah tahu.
Sebagian.
Namun belum semuanya.
Dan itu—
Membuatnya semakin berbahaya.
Pintu terbuka.
Semua sudah ada.
Termasuk—
Elara.
Dan Elisa.
Untuk pertama kalinya—
Mereka bertiga berada dalam satu ruangan.
Dengan rahasia…
Yang hampir meledak.
“Rapat dimulai.”
Namun tidak ada yang benar-benar fokus.
Karena—
Permainan hari ini…
Bukan tentang bisnis.
Melainkan…
Tentang siapa yang akan hancur lebih dulu.
Elisa tersenyum.
Dan tanpa peringatan—
Ia berdiri.
“Sebelum kita lanjut…”
Semua mata tertuju padanya.
“Ada sesuatu yang perlu kita bahas.”
Nada suaranya ringan.
Namun—
Terlalu tenang.
“Ini tentang kepercayaan.”
Jantung Elara berdetak lebih cepat.
Namun wajahnya—
Tetap dingin.
Elisa berjalan pelan.
Mengitari meja.
“Karena ternyata…”
Ia berhenti.
“Terkadang…”
Tatapannya jatuh tepat pada Elara.
“…orang yang kita percayai…”
Senyumnya perlahan muncul.
“…bukanlah siapa yang mereka katakan.”
Hening.
Udara terasa berat.
Pria itu menatap Elisa.
“Apa maksudmu?”
Pertanyaan itu keluar pelan.
Namun penuh tekanan.
Elisa tidak langsung menjawab.
Ia hanya—
Menekan tombol di tabletnya.
Layar besar menyala.
Dan dalam satu detik—
Semuanya berubah.
Foto muncul.
Wajah lama.
Nama lama.
Elara.
Ruangan langsung sunyi.
Beberapa orang membelalak.
“Apa ini…?”
Namun Elisa tidak berhenti.
“Menarik, bukan?”
Ia menoleh ke arah Elara.
“Karena wajah ini…”
Ia menunjuk layar.
“…sangat mirip dengan seseorang di ruangan ini.”
Semua mata—
Langsung tertuju pada satu orang.
Alvena.
Atau…
Elara.
Hening.
Dan untuk pertama kalinya—
Topeng itu benar-benar retak.
Pria itu berdiri perlahan.
Tatapannya berpindah dari layar…
Ke wajahnya.
Dan kali ini—
Tidak ada lagi keraguan.
“Elara…”
Nama itu keluar lagi.
Namun kali ini—
Di depan semua orang.
Udara terasa berhenti.
Namun—
Elara tidak panik.
Tidak gemetar.
Ia hanya…
Bangkit.
Perlahan.
Dan menatap semua orang.
Tenang.
Sangat tenang.
“Apakah ini lelucon?”
Suaranya stabil.
Dan itu—
Membuat semua orang ragu.
Elisa tersenyum tipis.
“Kamu masih mau menyangkal?”
Ia melangkah mendekat.
“Bukti sudah ada di depan mata.”
Namun—
Elara hanya menghela napas pelan.
Lalu—
Ia tersenyum.
Namun kali ini—
Senyum itu…
Berbeda.
Lebih berani.
Lebih tajam.
“Kalau begitu…”
Ia melangkah maju.
Mendekati layar.
“Kenapa tidak kita lihat lebih dekat?”
Semua orang terdiam.
Elisa sedikit mengernyit.
Ada sesuatu yang salah.
Namun terlambat.
Elara mengambil remote.
Klik.
Layar berubah.
Data lain muncul.
Dokumen.
Rekaman.
Transaksi.
Dan satu nama—
Elisa.
Wajah Elisa langsung pucat.
“Apa—”
“Karena kalau kita bicara soal
identitas…”
Elara menoleh.
Tatapannya dingin.
“…kita juga harus bicara soal kebenaran.”
Ruangan langsung kacau.
Semua orang mulai berbisik.
“Apa ini…?”
“Ini data internal…”
“Ini—”
Elisa mundur selangkah.
“Kamu—”
Namun Elara tidak berhenti.
“Kamu benar.”
Ia menatap Elisa.
“Rahasia memang berbahaya.”
Senyumnya perlahan muncul.
“Tapi hanya untuk orang yang tidak siap.”
Hening.
Dan di saat itu—
Permainan benar-benar berubah.
Bukan lagi Elara yang terpojok.
Melainkan—
Elisa.
Namun—
Di tengah semua itu—
Pria itu tidak melihat layar.
Tidak melihat data.
Ia hanya…
Menatapnya.
Dalam.
Seolah dunia di sekitarnya tidak ada.
“Elara…”
Nama itu keluar lagi.
Namun kali ini—
Bukan penuh kecurigaan.
Melainkan…
Perasaan.
Dan itu—
Jauh lebih berbahaya.
Karena untuk pertama kalinya—
Balas dendam…
Dan cinta…
Bertabrakan secara langsung.
Dan tidak ada yang tahu—
Siapa yang akan menang.