Pagi berikutnya, aku turun ke toko dengan naskah yang masih terbuka di ponsel. Aku telah menulis sampai larut, dan sekarang kepalaku terasa penuh oleh dialog tokoh yang belum tahu bagaimana menyelesaikan masalahnya. Ethan sedang menimbang bahan di meja kerja ketika aku masuk.
'Kau membawa tulisanmu ke toko?' tanyanya.
'Aku takut kehilangan kalimat yang muncul tadi malam.'
'Kalimat yang bagus?'
'Belum tahu. Kalimatnya ada. Bagus atau tidaknya urusan nanti.'
Ia tersenyum. 'Itu terdengar seperti kemajuan.'
Daren menyerahkan celemek kepadaku. 'Kalau kalian sudah selesai membahas sastra, adonannya menunggu.'
'Aku tidak tahu kalau tepung bisa merasa diabaikan,' kataku.
'Di toko ini, semua bahan punya perasaan,' kata Daren. 'Ethan bahkan meminta maaf pada mixer kalau mesin itu berisik.'
Ethan menghela napas. 'Aku tidak meminta maaf. Aku bilang suaranya mengganggu pelanggan.'
'Terdengar seperti permintaan maaf versi Ethan,' sahutku.
Kami memulai persiapan. Aku mencampur bahan kering, sementara Ethan mengukur cairan. Saat aku menuang tepung ke mangkuk, sedikit debu putih menempel di lengan bajuku.
'Ada tepung di sini,' katanya sambil menunjuk lenganku.
Aku menepuknya, tetapi malah menyebarkan tepung ke celemek. Ethan tertawa dan menyerahkan kain lap.
'Jangan tertawa. Ini serangan tepung yang tidak beralasan.'
'Aku tidak menyangka tepung akan menyerangmu.'
'Kau yang menaruhnya di dekatku. Kau harus bertanggung jawab.'
Ia mengangkat kedua tangan. 'Aku mengaku bersalah karena menempatkan bahan terlalu dekat dengan orang yang mengaduknya terlalu cepat.'
'Pengakuan diterima.'
Daren memandang kami sambil menggeleng. 'Kalau kalian terus bercanda, roti ini akan matang besok.'
Aku menunduk pada adonan, mencoba menyembunyikan senyum. Bekerja bersama Ethan terasa mudah hari ini. Ia mengoreksi gerak tanganku tanpa mengambil alih, dan aku bisa meminta bantuan tanpa merasa seperti mengganggu.
**
Saat adonan mulai mengembang, Ethan menunjukkan cara memeriksa teksturnya. Ia berdiri di sampingku, memperagakan cara menekan permukaan dengan ujung jari.
'Jangan terlalu dalam,' katanya. 'Kita hanya ingin tahu apakah adonan kembali perlahan.'
Aku mencoba. Bekas tekananku langsung menghilang.
'Terlalu cepat?' tanyaku.
'Sedikit. Kita beri waktu lagi.'
'Adonan ini punya banyak waktu.'
'Tidak sebanyak yang kau kira. Jadwal pengiriman tetap harus dipenuhi.'
Aku menatapnya. 'Kau berhasil menyelipkan jadwal di tengah pembicaraan tentang adonan.'
'Kebiasaan.'
'Kebiasaan yang sedang kita kurangi.'
Ia tersenyum. 'Benar. Aku akan berhenti membicarakan jadwal selama lima menit.'
'Aku catat.'
Kami menunggu sambil membersihkan meja. Aku menceritakan satu bagian tulisanku, tanpa membacakan isinya. Ethan mendengarkan, lalu bertanya apakah tokohku akhirnya akan mengatakan apa yang ia rasakan.
'Aku belum tahu. Mungkin dia perlu memahami dirinya dulu.'
'Kedengarannya masuk akal.'
'Kau tidak mencoba menebak akhir ceritanya?'
'Aku belajar dari permintaanmu. Kau ingin aku mendengarkan, bukan membongkar siapa tokohnya.'
Aku merasa dihargai. 'Terima kasih.'
Adonan akhirnya siap. Ethan menyuruhku membentuknya perlahan. Aku membuat satu roti terlalu lonjong, lalu mencoba memperbaikinya. Hasilnya malah mirip sandal.
'Ini bentuk kreatif,' katanya.
'Jangan menyebutnya kreatif hanya karena kau tidak tahu harus menyebutnya apa.'
'Aku bisa menyebutnya roti Shopia. Bentuknya tidak harus sama dengan yang lain.'
Aku memandangi adonan itu. 'Kalau pelanggan bertanya, kita bilang ini edisi terbatas.'
'Setuju.'
Roti-roti itu masuk ke oven. Kami menunggu sambil minum teh. Aku merasa senang bisa berbagi waktu sederhana dengannya tanpa perlu memaksa hubungan kami bergerak lebih cepat. Ketika bel oven berbunyi, roti sandal buatanku ternyata matang dengan baik. Daren memotretnya dan berkata ia akan menyimpan foto itu untuk promosi.
'Jangan berani-berani,' protesku.
'Terlambat. Sudah tersimpan,' katanya.
Ethan membagi roti itu menjadi tiga bagian. Aku menggigit bagianku dan mendapati rasanya cukup enak. Aku mengangkat jempol.
'Besok kita buat bentuk yang lebih normal,' katanya.
'Tidak. Kita harus mempertahankan ciri khas.'
**
Sesudah kami mencicipi roti sandal itu, Daren membuka foto yang tadi diambilnya. Ia mengirim foto tersebut ke grup kecil toko dengan tulisan: 'Kreasi baru Shopia: roti yang menolak mengikuti aturan bentuk.' Aku melihat pesan itu dan langsung mengirim protes.
'Hapus fotonya,' seruku.
'Terlambat. Ethan sudah memberi tanda suka,' kata Daren.
Aku menoleh kepada Ethan. 'Kau ikut berkomplot?'
'Aku menghargai kreativitas.'
'Kau bisa menghargainya tanpa menyebarkan bukti.'
Daren tertawa. 'Tenang. Aku tidak akan memasangnya di akun toko sebelum kau memberi izin.'
'Bagus. Karena kalau dipasang, aku akan menuntut bagian keuntungan dari roti sandal.'
'Kita bisa membicarakan royalti,' kata Ethan serius-serius bercanda. 'Mungkin satu potong roti setiap bulan.'
'Dua potong. Aku pencipta bentuknya.'
Mereka berpura-pura mempertimbangkannya. Aku menggeleng, tetapi ikut tertawa. Suasana kerja terasa lebih ringan. Daren akhirnya menghapus foto itu dari grup, meski ia mengaku menyimpannya di ponsel untuk kenang-kenangan.
Sebelum pulang, aku dan Ethan memeriksa ulang persediaan. Ia menyerahkan daftar dan membiarkanku menentukan jumlah bahan yang perlu dipesan. Aku menghitung tepung, ragi, dan mentega, lalu mencatat angka-angkanya.
'Kau yakin menteganya cukup sampai Jumat?' tanyanya.
'Kalau pesanan tidak bertambah. Kalau bertambah, kita bisa membeli lagi Kamis.'
Ia mengangguk tanpa membantah. 'Masuk akal.'
Aku merasa bangga karena ia mempercayai penilaianku, bukan karena itu hal besar, tetapi karena kami sedang membangun cara bekerja yang saling menghormati.
Di perjalanan pulang, aku memikirkan satu paragraf tentang roti sandal. Tokohku membutuhkan sesuatu yang membuatnya tertawa di tengah kebingungan. Aku belum menuliskannya, hanya mencatat gagasan membawa perasaan ringan itu ke halaman. Kadang, pengalaman kecil lebih berguna daripada jawaban besar.
Di lift, aku bertanya tentang rencana resep minggu depan. Ethan ingin mencoba roti dengan kulit lebih renyah. Aku mengusulkan membuat dua versi dan meminta beberapa pelanggan tetap mencicipi. Ia menerima usul itu dan mulai menyebut siapa yang mungkin bersedia. Kami berdiskusi sampai pintu lift terbuka.
Di rumah, aku mandi dan mengganti baju sebelum membuka laptop lagi. Aku menulis adegan pendek tentang seseorang yang membuat kesalahan bentuk, lalu memilih tetap menyajikannya dengan bangga. Aku mengubahnya menjadi kue, bukan roti, agar tidak terlalu mirip kejadian hari ini. Meski begitu, aku masih tersenyum saat mengetik. Aku menyimpan draf dan memutuskan tidak menunjukkan bagian itu kepada Ethan dulu. Beberapa kenangan boleh kusimpan untuk diriku sendiri, lalu kuolah menjadi sesuatu yang berbeda.