Pagi itu aku berjanji pada diriku sendiri untuk bersikap biasa. Aku menyapa Ethan di dapur, mengambil cangkir, lalu bertanya apakah ia sudah memeriksa pesanan tepung. Tidak ada jeda canggung, tidak ada pembicaraan tentang ciuman kami. Semuanya terdengar wajar, dan aku hampir percaya bahwa pagi itu memang biasa saja.
Sampai aku melihatnya menatapku dari balik cangkir kopinya.
'Ada apa?' tanyaku.
'Tidak ada. Kau terlihat sibuk memikirkan sesuatu.'
'Aku sedang memikirkan daftar belanja.'
'Daftar belanja biasanya tidak membuatmu mengerutkan dahi seperti itu.'
'Kau sekarang ahli membaca dahi?'
'Aku tinggal serumah denganmu. Ada beberapa hal yang kupelajari.'
Aku tersenyum tipis. Kami tidak membahas lebih jauh. Setelah sarapan, kami turun ke toko bersama. Daren sedang membuka pintu depan dan menyapa kami dengan riang.
'Wah, rombongan datang bersamaan. Kalian sudah berdamai dengan alarm pagi?'
'Aku tidak pernah bertengkar dengan alarm,' kataku.
'Dia yang selalu kalah,' ujar Ethan.
'Aku memilih untuk tidak menanggapi fitnah ini sebelum kopi kedua.'
Daren tertawa dan menyodorkan daftar tugas. Kami membagi pekerjaan. Aku mengatur kotak-kotak pesanan, Ethan memeriksa adonan, dan Daren melayani pelanggan. Saat beberapa pelanggan datang hampir bersamaan, Ethan berdiri di belakangku untuk mengambil nampan. Bahunya menyentuh bahuku sekilas.
'Maaf,' katanya.
'Tidak apa-apa. Raknya memang sempit.'
Kami kembali bekerja, tapi pikiranku sempat tersangkut pada sentuhan ringan itu. Aku mengingatkan diriku bahwa kedekatan tidak otomatis menjadi janji. Aku bisa menikmati kerja sama kami sambil tetap menjaga perasaanku.
**
Menjelang siang, Ningning datang membeli roti untuk dibawa pulang. Ia memperhatikan cara Ethan dan aku berdiri bersebelahan di meja kasir.
'Kalian kelihatan kompak hari ini,' katanya.
'Kami sedang bekerja,' jawabku.
'Itu yang kumaksud. Kompak saat bekerja.'
Ethan mengambil kotak untuk membungkus roti. 'Apa ada yang salah dengan kerja sama kami?'
'Tidak. Justru bagus. Aku senang melihat kalian bisa santai.'
Ningning membayar, lalu menungguku mengantarnya sampai pintu.
'Kau baik-baik saja?' bisiknya.
'Iya. Kami sedang mencoba bersikap biasa.'
'Bersikap biasa atau pura-pura tidak ada apa-apa?'
Aku melirik Ethan yang sedang mengatur roti di rak. 'Belum tahu bedanya.'
'Jangan buru-buru menentukan. Yang penting kau tidak menyembunyikan perasaanmu dari dirimu sendiri.'
Aku mengangguk. Ningning melambaikan tangan lalu pergi. Beberapa menit kemudian, Ethan berdiri di sampingku.
'Kau ingin membicarakan sesuatu?' tanyanya.
'Tidak sekarang. Aku cuma sedang memikirkan bagaimana caranya menjaga suasana tetap nyaman.'
'Aku juga. Kalau ada hal yang ingin kau bicarakan, aku akan mendengarkan.'
'Begitu juga sebaliknya.'
Kami bertukar senyum. Tidak ada kesimpulan besar, tetapi kesediaan untuk berbicara terasa seperti langkah kecil yang baik.
Sore harinya, kami menutup toko bersama. Dalam perjalanan pulang, Ethan bertanya apakah aku ingin memasak atau memesan makanan. Aku memilih memasak karena masih ada sayuran di kulkas. Ia menawarkan diri memotong bawang. Aku mengingatkannya untuk tidak membuat potongan yang terlalu besar.
'Aku tahu cara memotong bawang,' katanya.
'Aku hanya memastikan tidak ada yang berakhir sebesar tomat.'
'Itu terjadi satu kali.'
'Dua kali.'
Ia mengangkat alis. 'Kau menghitung?'
'Aku tinggal serumah denganmu. Ada beberapa hal yang kupelajari.'
Ia tertawa, mengenali kalimatnya sendiri. Kami memasak dengan nyaman, dan untuk pertama kalinya sejak perayaan, aku tidak merasa harus mengukur jarak di antara kami setiap saat. Kami tetap berhati-hati, tapi kewaspadaan itu mulai terasa seperti perhatian, bukan dinding.
**
Setelah makan malam, aku mengeringkan piring sementara Ethan menyimpannya di lemari. Kami bergerak di dapur yang sama tanpa saling menghalangi, meski ruangnya tidak terlalu besar. Ia menyerahkan piring satu demi satu, dan aku memperhatikan bagaimana kebiasaan baru terbentuk dari hal-hal sederhana.
'Kau tidak harus membantuku,' kataku.
'Aku tahu. Aku tinggal di sini juga.'
'Dulu kau mungkin akan bilang aku harus menyelesaikan bagianku dulu sebelum kau ikut.'
'Dulu aku mungkin akan membuat tabel pembagian tugas.'
'Sekarang?'
'Sekarang aku sedang belajar bahwa kita bisa menyelesaikan sesuatu bersama tanpa menentukan siapa yang paling banyak bekerja.'
Aku tersenyum. 'Itu terdengar seperti kemajuan.'
Ia mengangguk, lalu menaruh piring terakhir. Kami selesai membereskan dapur. Aku membuat teh, dan kami duduk di balkon sebentar. Udara malam tidak terlalu dingin. Dari kejauhan terdengar suara kendaraan dan percakapan orang-orang yang sedang pulang.
'Tadi Ningning bilang kita tampak kompak,' katanya.
'Dia memang suka mengamati orang.'
'Menurutmu kita terlihat berbeda?'
Aku berpikir sejenak. 'Mungkin kita lebih nyaman bekerja bersama. Tapi aku tidak mau terlalu membaca pendapat orang lain.'
'Aku juga tidak. Aku hanya ingin memastikan aku tidak membuatmu merasa harus berpura-pura semuanya baik-baik saja.'
'Aku tidak berpura-pura. Aku memang sedang merasa lebih baik. Masih ada hal yang kupikirkan, tapi aku bisa menyampaikannya kalau sudah siap.'
'Baik.'
Kami menyesap teh dalam diam. Kali ini diamnya bukan cara menghindari masalah. Rasanya seperti ruang yang boleh kami tempati tanpa kewajiban mengisi setiap detik. Saat aku bangkit, Ethan ikut berdiri dan membukakan pintu balkon.
'Selamat malam,' katanya.
'Selamat malam.'
Aku melangkah masuk lebih dulu. Sebelum masuk kamar, aku menyadari bahwa sikap biasa yang kuinginkan bukan berarti menghapus perasaan. Itu berarti membiarkan hari-hari berjalan tanpa membuat setiap momen menjadi ujian. Besok mungkin terasa canggung lagi, atau mungkin tidak. Aku tidak harus tahu sekarang.
Sebelum tidur, aku mengirim pesan kepada Ningning untuk memastikan ia sudah sampai rumah. Ia membalas dengan foto roti yang dibawanya dari toko dan menulis bahwa ia sengaja menyisakan satu potong untuk sarapan. Aku tertawa sendiri membaca pesannya. Hal-hal kecil seperti itu mengingatkanku bahwa aku punya hubungan dekat selain dengan Ethan. Perhatianku tidak harus tertuju pada satu orang saja. Aku menaruh ponsel, mematikan lampu, dan membiarkan hari itu selesai tanpa mengulang setiap percakapan di kepala.
Aku memasang alarm untuk esok pagi, memastikan tas kerjaku sudah siap, lalu menaruh ponsel di meja. Rutinitas sederhana itu membuatku merasa kembali mengendalikan hariku. Aku tidak tahu apakah hubungan kami akan berubah, tetapi aku tahu apa yang akan kulakukan besok: bangun, menulis sedikit, lalu bekerja. Itu sudah cukup untuk malam ini.