Bangunan di Bogor itu kini sudah tak terlihat seperti rumah tua lagi. Dindingnya sudah dicat putih gading, jendela-jendela besarnya diganti kaca bening, dan halaman belakangnya yang dulu penuh ilalang kini rapi dengan rumput dan pohon kamboja. Dua bulan lagi tempat ini akan dibuka sebagai gallery, studio, sekaligus mini kafe.
Lane berdiri di tengah ruangan dengan helm proyek kebesaran di kepala. Ia menunjuk-nunjuk dinding sambil berdebat dengan mandor soal letak lampu sorot.
Jalen memperhatikan dari ambang pintu. Ia datang pagi-pagi sekali dari Jakarta karena Lane bilang butuh pendapatnya. Padahal sejak tadi Lane sama sekali tak bertanya pendapat siapa pun. Perempuan itu sudah tahu apa yang ia mau.
“J, sini deh.” Lane akhirnya menoleh. “Lampunya di sini atau di sana?”
“Di sana. Biar nggak mantul ke kaca.”
“Tuh kan!” Lane menunjuk mandornya dengan puas. “Saya bilang juga apa, Pak.”
Mandor itu menghela napas pasrah lalu berlalu memanggil anak buahnya. Lane melepas helmnya dan merapikan rambut. Ia memandangi Jalen sedikit lebih lama dari biasanya.
“Kamu kenapa?”
“Kenapa apa?”
“Dari tadi lihat hape terus. Biasanya kamu paling nggak suka orang main hape pas lagi ngobrol.”
Jalen memasukkan ponselnya ke saku. Ia sendiri tak sadar sudah memeriksanya berkali-kali. Sejak pagi ia menunggu satu jawaban. Pesan yang ia kirim jam enam pagi tadi masih belum dibalas.
“Ada urusan,” jawabnya.
“Urusan apa?”
“Kerjaan.”
Lane menyipitkan mata. Ia sudah mengenal Jalen bertahun-tahun. Ia tahu kapan pria itu sedang menyimpan sesuatu. Dan Jalen hampir tak pernah menyimpan apa pun darinya.
“Kamu kelihatan beda akhir-akhir ini,” ujar Lane. “Nggak tahu bedanya di mana. Tapi beda.”
Jalen tak menjawab. Ponsel di sakunya bergetar. Ia mengeluarkannya terlalu cepat untuk ukuran orang yang katanya cuma mengurus kerjaan.
“Hari ini jadwal saya padat. Periksa darahnya saya undur minggu depan.”
Jalen mengetik balasan dengan satu tangan.
“Itu bukan jawaban yang saya minta. Saya tanya, kamu sudah periksa atau belum?”
Beberapa detik kemudian.
“Belum.”
Jalen memandangi kata itu. Paling tidak perempuan itu tidak berbohong. Ia mengetik lagi.
“Jam tiga saya jemput.”
“Saya ada rapat jam tiga.”
“Kalau begitu jam empat.”
Tak ada balasan lagi. Jalen tahu itu artinya iya. Ia memasukkan ponselnya ke saku dan mendapati Lane sedang menatapnya dengan senyum aneh.
“Kerjaan, ya?” goda Lane.
“Aku balik ke Jakarta siang ini.”
“Iya, iya.” Lane terkekeh. “Hati-hati di jalan, Pak Dosen.”
...
Pukul empat tepat Sela sudah berdiri di lobi. Bukan satu menit lewat. Bukan sepuluh detik. Tepat.
Jalen tak berkomentar. Ia hanya membukakan pintu mobil. Tapi Sela bisa melihat sesuatu di matanya. Sesuatu yang mirip rasa puas. Menyebalkan sekali.
Pemeriksaan darah berjalan lebih cepat dari dugaan Sela. Hasilnya keluar satu jam kemudian. Kadar hemoglobinnya sudah naik, meski belum normal. Dokter memintanya terus minum obat dan makan teratur. Tangannya juga membaik. Bengkaknya sudah turun. Bidai boleh dilepas dalam seminggu, asal tak dipakai mengangkat beban.
“Kalau Mbak Sela nurut begini terus, sebentar lagi sembuh,” ujar sang dokter sambil melirik Jalen. “Suaminya hebat. Bisa bikin Mbak Sela mau kontrol tepat waktu. Biasanya harus ditelepon lima kali dulu.”
Sela tak membantah. Jalen juga tidak. Keduanya keluar dari ruang dokter dalam diam yang canggung.
Langit sudah gelap ketika mobil kuning itu meninggalkan rumah sakit. Sela mengira Jalen akan langsung mengantarnya pulang. Tapi mobil itu justru berbelok ke arah yang tak ia kenal. Lalu ke arah yang mulai ia kenal. Jalanan sepi. Lampu jalan yang jarang. Deretan pohon di kanan kiri.
Sela langsung menegakkan punggung.
“Anda mau ke mana?”
“Makan.”
Mobil menepi di depan gerobak yang sama. Penjual yang sama. Bangku plastik yang sama. Sela memandangi tempat itu dengan raut yang sulit dijelaskan. Dua minggu lalu ia ditinggal di sini tanpa ponsel, tanpa dompet, tanpa apa pun.
“Anda mau meninggalkan saya lagi?” tanya Sela. Nadanya datar, tapi ada sesuatu di balik kalimat itu.
Jalen tidak menjawab. Ia mematikan mesin, mencabut kunci mobil, lalu meletakkannya di telapak tangan kanan Sela.
“Pegang,” ucapnya. “Biar kamu tenang.”
Sela memandangi kunci di tangannya. Lalu memandangi Jalen. Pria itu sudah turun dari mobil dan berjalan ke arah gerobak seperti tak terjadi apa-apa.
Akhirnya Sela ikut turun. Kunci itu ia genggam erat.
“Loh, Mbak yang waktu itu!” Si abang penjual langsung mengenalinya. “Mbak sampai rumah dengan selamat, kan? Saya kepikiran loh, Mbak. Malam-malam jalan kaki sendirian.”
“Sampai, Pak,” jawab Sela. Ia melirik Jalen. “Jam dua pagi.”
Jalen yang sedang duduk langsung terbatuk. Si abang penjual menatap Jalen dengan sorot menghakimi yang tak ditutup-tutupi.
“Masnya ini ya yang ninggalin?”
“Iya, Pak,” jawab Jalen. Tidak membela diri sedikit pun.
“Ya ampun, Mas. Kok tega.”
“Saya sudah minta maaf, Pak.”
“Udah dimaafin belum sama Mbaknya?”
Jalen menoleh pada Sela. Sela menoleh pada abang penjual. Abang penjual menoleh pada Jalen lagi, menunggu.
“Dua porsi, Pak,” ujar Sela akhirnya. “Satu pedasnya sedang.”
Si abang penjual tertawa dan langsung meracik. Jalen memandangi Sela. Perempuan itu duduk di bangku plastik dengan blazer mahal dan sepatu yang harganya mungkin bisa membeli tiga gerobak ketoprak. Tapi ia duduk dengan tenang, seperti sudah sering melakukannya.
“Kamu mau makan?” tanya Jalen.
“Kata dokter saya harus makan teratur.”
“Ketoprak?”
“Kenapa? Nggak boleh?”
Jalen tak menjawab. Tapi sudut bibirnya terangkat. Kali ini Sela yakin ia tidak salah lihat. Pria itu tersenyum. Senyum yang sama dengan yang ia lihat waktu Jalen berbincang dengan Opa di restoran malam itu.
Ketoprak datang. Sela makan dengan pelan. Terakhir kali ia makan ketoprak, ia masih kecil sekali, duduk di pangkuan seseorang yang sudah lama tidak ada. Rasanya ternyata masih sama enaknya. Jauh lebih enak dari steak di restoran klasik waktu itu.
Ponsel Sela berdering di tengah suapan ketiga. Opa.
“Sela, sepuluh hari lagi ulang tahun AMARA yang keempat puluh. Kamu ingat?”
“Ingat, Opa.”
“Opa mau Jalen datang. Sebagai suamimu. Semua pemegang saham akan hadir. Wartawan juga. Ini penting.”
Sela melirik Jalen yang sedang makan dengan tenang di seberangnya. “Sela tanyakan dulu, Opa.”
Setelah telepon ditutup, Sela meletakkan sendoknya.
“Sepuluh hari lagi—”
“Saya dengar,” potong Jalen. Ia mengelap mulutnya dengan tisu. “Saya datang.”
“Anda belum tahu acaranya seperti apa.”
“Acara ulang tahun perusahaan. Banyak orang, banyak kamera, banyak yang pura-pura ramah.” Jalen meneguk teh botolnya. “Saya sudah sering datang ke acara seperti itu. Bedanya, kali ini saya datang sebagai suami orang.”
Sela tak tahu harus menjawab apa. Ia kembali makan. Kunci mobil Jalen masih ada di genggaman tangan kirinya yang dibidai, dan ia tak berniat mengembalikannya sampai mereka tiba di depan apartemennya.
***