Ruang rapat lantai dua puluh dua AMARA Group selalu terasa lebih dingin dari ruangan lain. Sela tak pernah tahu apakah itu karena pendingin ruangannya atau karena orang-orang yang biasa duduk di dalamnya.
Pagi ini sebelas kursi sudah terisi. Para anggota dewan direksi duduk dengan map di depan mereka. Aryan di kepala meja. Pasundanu di sisi kanannya. Kursi GM yang dulu milik Pak Hamdan Syah kini ditempati Sela. Dan di sebelah Sela, satu kursi tambahan yang khusus disiapkan untuk tamu.
Kursi itu masih kosong.
Sela melirik jam di dinding. Delapan lewat lima puluh sembilan. Rapat dimulai pukul sembilan tepat. Di seberang meja, Pak Darmawan sudah memandanginya sejak tadi dengan senyum yang tak sampai ke mata. Pria berkumis tipis itu adalah direktur paling senior setelah Aryan. Kandidat yang ia usulkan untuk kursi GM kalah karena satu nama. Nama yang belum juga muncul.
Pintu terbuka tepat ketika jarum panjang menyentuh angka dua belas.
Jalen masuk dengan setelan abu-abu gelap. Ia mengangguk sopan pada Aryan, lalu pada seluruh ruangan, lalu duduk di sebelah Sela tanpa tergesa. Ia bahkan tak menoleh pada Sela.
“Tepat waktu,” bisik Sela tanpa menggerakkan bibir terlalu banyak.
“Saya selalu tepat waktu,” balas Jalen sama pelannya.
Rapat dibuka. Sela memaparkan laporan kuartal dengan suara datar dan jelas. Angka penjualan, proyek pembangunan gudang di Cikarang yang tertunda, rencana efisiensi biaya distribusi. Ia tak membuka satu catatan pun. Semua sudah ada di kepalanya sejak berminggu-minggu lalu. Tangan kirinya ia letakkan di pangkuan, tersembunyi di bawah meja, masih dibidai.
Beberapa anggota dewan mengangguk. Ada yang mencatat. Ada yang bertanya soal anggaran, dan Sela menjawab tanpa ragu.
Lalu giliran Pak Darmawan.
“Laporan yang bagus, Bu Mirsela.” Ia menutup mapnya pelan. “Saya tidak meragukan kemampuan Ibu soal angka. Tapi kita semua tahu bukan itu yang dipersoalkan beberapa minggu lalu.”
Ruangan langsung hening. Sela merasakan Aryan menegang di ujung meja.
“Saya hanya penasaran,” lanjut Darmawan. Kali ini pandangannya beralih ke Jalen. “Pak Jalen. Selamat, omong-omong. Pernikahannya kapan? Kok rasanya tidak ada satu pun dari kami yang diundang. Bahkan kabarnya pun tidak ada di mana-mana.”
Sela merasa jantungnya berhenti sesaat. Ia sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan ini. Ia sudah berlatih di depan cermin. Tapi sebelum ia membuka mulut, Jalen sudah lebih dulu bicara.
“Terima kasih ucapannya, Pak.” Suara Jalen tenang. Terlalu tenang. “Paman Aryan sudah menyampaikan semuanya kepada dewan. Saya tidak terbiasa membicarakan urusan rumah tangga saya di ruang rapat.”
“Tentu, tentu. Tapi ini menyangkut syarat jabatan. Bukankah wajar kalau dewan ingin melihat buktinya? Buku nikah, misalnya?”
“Darmawan.” Suara Aryan rendah. “Sejak kapan aturan itu meminta surat?”
“Sejak aturan itu dipakai untuk mengangkat seseorang, Pak Aryan.” Darmawan tersenyum. “Saya hanya menjalankan tugas pengawasan.”
Beberapa anggota dewan saling melirik. Sela bisa merasakan arah angin berubah. Ia membuka mulut, tapi lagi-lagi Jalen mendahuluinya.
“Saya mengerti kekhawatiran Bapak.” Jalen menyandarkan punggung. “Saya sudah menyatakan Mirsela sebagai istri saya di hadapan Paman Aryan dan Pak Pasundanu. Saya tidak pernah menarik kata-kata saya. Kalau dewan butuh kepastian lebih, saya kira itu bisa dibicarakan dengan cara yang lebih pantas daripada di tengah pembahasan anggaran.”
Darmawan membuka mulut. Jalen belum selesai.
“Lagi pula, kalau Bapak ingin menilai kemampuan seorang GM, laporan yang barusan dia paparkan selama empat puluh menit tanpa membuka catatan menurut saya lebih relevan daripada tanggal resepsi.”
Seseorang di ujung meja tertawa kecil, lalu buru-buru batuk. Darmawan tersenyum tipis. Senyum orang yang tahu ia kalah di babak ini, tapi belum di pertandingan.
“Baik. Kalau begitu saya usulkan dewan melakukan evaluasi enam bulan lagi. Untuk kinerja,” ia menekankan kata itu, “dan untuk memastikan semua syarat terpenuhi dengan benar.”
Aryan diam beberapa detik. Lalu mengangguk. “Disetujui.”
Enam bulan. Sela menunduk ke mapnya. Lagi-lagi angka itu.
...
Pintu lift VIP tertutup. Hanya ada Sela dan Jalen di dalamnya. Angka di layar mulai turun. Dua puluh dua. Dua puluh satu.
“Anda pandai berkelit,” ujar Sela tanpa menoleh.
“Saya tidak berkelit.”
“Anda tidak menjawab pertanyaannya.”
“Saya menjawab semuanya.” Jalen memandangi angka-angka yang turun. “Coba ingat. Satu kalimat saja yang bohong.”
Sela terdiam. Ia memutar ulang rapat tadi di kepalanya. Paman Aryan sudah menyampaikan semuanya kepada dewan. Benar. Opa memang menyampaikan sesuatu, entah apa saja yang ia sampaikan. Saya sudah menyatakan Mirsela sebagai istri saya. Benar juga. Hari itu, di ruang kerja Opa, Jalen memang mengatakan itu. Saya tidak pernah menarik kata-kata saya. Tidak bohong.
Pria ini benar-benar tidak mengucapkan satu kebohongan pun. Ia hanya memilih kebenaran mana yang ingin ia ucapkan.
“Kenapa?” tanya Sela.
“Kenapa apa?”
“Kenapa anda repot-repot begitu? Bohong saja lebih mudah.”
Jalen akhirnya menoleh. Sorot matanya sulit dibaca, seperti biasa.
“Syarat saya berlaku untuk kamu, bukan untuk mereka,” jawabnya. “Tapi saya sendiri tidak berbohong untuk siapa pun. Saya sudah setuju membantu kamu. Saya tidak setuju jadi pembohong.”
Lift berhenti di lantai dasar. Pintu terbuka. Lobi AMARA ramai seperti biasa. Beberapa pegawai langsung menunduk memberi salam begitu melihat GM mereka keluar bersama pria yang kini jadi bahan gosip satu gedung.
Sela melangkah keluar. Tapi kakinya berhenti setelah dua langkah. Ia berbalik.
“Terima kasih,” ucapnya. “Untuk tadi.”
Jalen mengangkat satu alisnya. “Itu terima kasih yang tulus atau terima kasih basa-basi?”
“Kenapa tanya?”
“Karena kamu tidak boleh bohong sama saya.”
Sela menghela napas panjang. Kenapa pria ini selalu berhasil membuatnya ingin melempar sepatu?
“Tulus,” jawabnya akhirnya. Pendek dan nyaris tak terdengar.
Jalen mengangguk sekali. “Sama-sama.” Ia melirik tangan kiri Sela yang kini terlihat jelas karena lengan blazernya tersingkap. “Bidainya dipakai. Bagus.”
Pria itu lalu berjalan pergi menuju pintu kaca. Sela berdiri di tengah lobi, memandangi punggungnya. Ia baru sadar beberapa pegawai sedang memperhatikannya dengan senyum-senyum aneh.
Sela berdehem. Ekspresinya kembali datar dalam sedetik. Para pegawai itu langsung pura-pura sibuk.
...
Di lantai dua puluh dua, Pak Darmawan masih duduk di ruang rapat yang sudah kosong. Ia membuka ponselnya dan mengetik sesuatu.
“Cari tahu kapan dan di mana Jalen Gomez menikah. Semuanya. Saya tunggu.”
Ia menekan kirim, lalu tersenyum pada kursi kosong di seberangnya. Kursi GM yang seharusnya bukan milik perempuan itu.
***