Tes ban Pak Gun berlangsung tiga hari penuh, persis seperti janjinya. Ia menyiksa ban Adikarya di sirkuit gokart yang diperluas, di trek pengujian sewaan, di bawah matahari terik dan di pagi dingin. Ia mengukur, mencatat, membongkar, memeriksa keausan butir demi butir.
Di akhir hari ketiga, ia menutup buku catatannya dan menatap Bayu.
"Ban ini," kata Pak Gun, "lebih jujur dari banyak ban mahal yang pernah saya tangani. Sensornya akurat. Keausannya bisa diprediksi. Dan di suhu tinggi—saya tes sampai enam puluh derajat—dia nggak menunjukkan tanda kegagalan mendadak. Dia melemah pelan-pelan, ngasih peringatan. Itu yang penting, Mas. Ban yang baik nggak mati tiba-tiba. Dia kasih kamu waktu."
Bayu menghela napas panjang. "Jadi Pak Gun setuju?"
"Saya setuju." Pak Gun menatapnya tajam. "Tapi dengan satu syarat dari saya: kamu harus belajar baca sensor itu. Tiap lap, kamu lirik suhu ban kiri-kanan. Kalau salah satu naik melebihi ambang, kamu lapor radio dan kita atur strategi. Ban ini aman selama kamu nggak buta sama datanya. Sama seperti Bapakmu—dia nggak mati karena lalai, dia mati karena buta. Kita nggak akan buta."
Kata-kata itu mengubah sesuatu di dalam Bayu. Untuk pertama kalinya, ban bukan musuh atau pengkhianat. Ban adalah mitra yang harus didengarkan.
Dua hari menjelang seri pertama, mereka melakukan latihan terakhir di Sentul. Bayu kini melewati Tikungan Tujuh tanpa tangannya gemetar. Waktunya masih dua detik lebih lambat dari pembalap papan tengah—jurang besar di dunia balap—tapi ia konsisten, dan ia membaca bannya seperti membaca suasana hati teman lama.
Di pit lane, mereka tidak sendiri. Tim Reno Wijaya sedang latihan juga, dengan truk transporter raksasa, belasan kru berseragam rapi, dan tiga mobil cadangan. Kontras dengan tim Prakoso yang cuma punya satu mobil, satu truk tua, dan empat orang.
Reno berjalan melewati pit Prakoso, menjilat melihat PR-09. "Masih hidup juga mobil tua ini," katanya. Lalu matanya jatuh ke logo Adikarya di bodi. Ia tertawa keras. "Ban Adikarya? Serius? Ban percobaan yang belum pernah dipakai siapa pun?" Ia menggeleng, geli. "Kamu beneran cari mati, Prakoso. Bapakmu mati gara-gara ban, dan kamu balapan pakai ban kelinci percobaan. Ironis banget."
Dimas hendak maju, tapi kali ini Bayu yang menahannya. Bayu menatap Reno dengan tenang—ketenangan yang baru, yang ia bangun dari tiga hari data dan tiga minggu mengalahkan ketakutannya.
"Ban saya punya sensor di tiap roda," kata Bayu. "Saya tahu suhu dan tekanannya tiap detik. Pertanyaannya, Reno—kamu tahu kondisi ban kamu seakurat itu? Atau kamu cuma percaya karena harganya mahal?"
Senyum Reno memudar sedikit. Ia tidak menjawab. Ia hanya mendengus dan berlalu.
Pak Gun menahan tawa di sampingnya. "Kena dia, Mas."
Tapi Bayu tidak merayakan. Ia tahu mulut bisa berani, tapi lintasan tidak peduli pada kata-kata. Reno lebih cepat. Mobilnya lebih baik. Timnya tak terbatas. Di atas kertas, balapan ini sudah selesai sebelum dimulai.
Malam sebelum berangkat ke Sentul untuk seri resmi, Bayu duduk sendiri di garasi. Ibunya keluar, membawa jaket balap ayahnya yang lama—jaket biru pudar dengan nama PRAKOSO tersulam di dada.
"Ibu nggak akan minta kamu menang," kata Bu Marni, menyerahkan jaket itu. "Ibu cuma minta kamu pulang. Kayak yang Pak Gun bilang. Pulang utuh."
Bayu memeluk ibunya lama. Lalu ia mengenakan jaket ayahnya. Ukurannya pas. Seolah memang ditunggu.