Insinyur itu datang ke garasi Prakoso dua hari kemudian, sendirian, mengendarai mobil biasa, membawa koper berisi data dan satu ban contoh.
Bu Ratih lebih muda dari bayangan Bayu—mungkin tiga puluh lima tahun—dengan kacamata, rambut diikat ketat, dan cara bicara yang lugas tanpa basa-basi penjualan. Hal pertama yang ia lakukan bukan memuji produknya, melainkan bertanya.
"Saya baca soal Pak Hardian," katanya, menatap Bayu lurus. "Saya tahu kenapa kamu ragu sama ban. Kalau saya jadi kamu, saya juga ragu. Jadi saya nggak akan jualan. Saya akan kasih data, dan kamu putuskan sendiri."
Ia membuka laptop dan menjelaskan selama satu jam penuh. Komposisi karet, suhu kerja optimal, ambang batas tekanan, hasil uji ribuan kilometer di mesin uji dan di trek pengujian tertutup. Ia menunjukkan grafik keausan, simulasi panas, bahkan laporan kegagalan—ban yang sengaja dirusak untuk mengetahui batasnya.
"Ini yang membedakan kami dari kasus ban Pak Hardian," kata Bu Ratih, membuka satu halaman. "Lima tahun lalu, ban yang gagal di Sentul itu adalah ban impor yang dipakai di luar rentang suhu rekomendasinya. Hari itu suhu aspal lima puluh delapan derajat. Ban itu dirancang untuk maksimal lima puluh dua. Tim Pak Hardian nggak punya data itu—pabrikannya nggak transparan."
Bayu merasa ada simpul lama di dadanya yang sedikit terurai. Lima tahun ia menyalahkan suaranya sendiri di radio. Tapi di balik itu ada sebab yang lebih dingin dan teknis: data yang tidak pernah dimiliki timnya.
"Maksud Bu Ratih, kalau Bapak saya tahu suhu aspal hari itu—"
"Dia mungkin akan menurunkan pace, atau pit lebih awal," kata Bu Ratih lembut, tapi jujur. "Saya nggak bilang ini buat menghibur kamu. Kematian Pak Hardian itu kombinasi banyak faktor. Tapi salah satu faktor terbesarnya adalah ketiadaan informasi. Dan itu—" ia mengetuk layar penuh data, "—justru yang ingin saya hilangkan. Setiap ban kami punya sensor suhu dan tekanan internal. Kamu akan tahu kondisi ban tiap detik, langsung di setir."
Pak Gun mencondong, memeriksa spesifikasi sensor itu dengan mata profesional. Setelah lama, ia mengangguk pelan kepada Bayu—tanda hormat dari satu teknisi ke teknisi lain.
"Saya tetap akan tes sendiri," kata Pak Gun. "Tiga hari penuh. Tekanan, suhu, semua skenario."
"Saya harap begitu," kata Bu Ratih. "Saya bahkan akan kirim teknisi saya untuk bantu. Saya nggak mau kamu pakai ban saya karena percaya omongan saya. Saya mau kamu pakai karena datanya membuktikan dia aman."
Bayu menatap perempuan itu. Tidak ada satu kata penjualan murahan pun. Tidak ada janji manis. Hanya angka, kejujuran, dan rasa hormat pada nyawa di kokpit.
"Kenapa Bu Ratih mau ambil risiko sama tim seperti kami?" tanya Bayu. "Kalau ban Bu gagal di mobil saya, di Sentul, di tempat ayah saya mati—reputasi Bu hancur."
Bu Ratih tersenyum tipis, untuk pertama kalinya. "Justru karena itu. Kalau ban saya bisa selamat bersama pembalap yang paling punya alasan untuk meragukannya, di sirkuit paling menghantui di Indonesia—maka semua orang akan tahu ban saya aman. Kamu butuh ban, saya butuh bukti. Kita berdua bertaruh hal yang sama: nyawa kamu."
Bayu mengulurkan tangan. "Kalau Pak Gun lolos tesnya, kita sepakat."
Mereka berjabat tangan. Di luar perkiraan Bayu, untuk pertama kalinya dalam lima tahun, gagasan tentang ban tidak lagi murni teror. Ada sains di baliknya. Ada manusia yang peduli. Dan mungkin—mungkin—data bisa menjadi tameng yang dulu tidak dimiliki ayahnya.