Mereka tidak tidur lagi malam itu—bukan karena mesin, tapi karena ketakutan baru yang lebih dingin dari kelelahan apa pun.
Garasi Prakoso berubah dalam semalam. Pak Heru memasang gembok baru di setiap pintu. Dimas, dengan keahlian elektroniknya, memasang dua kamera murah bekas yang ia beli pagi-pagi sekali—satu mengarah ke pintu masuk, satu ke mobil. Sekar membuat daftar: setiap orang yang masuk garasi dalam tiga hari terakhir, kapan, berapa lama, ditemani siapa.
Mereka berkumpul di meja dapur—ruang rapat lama mereka—dengan daftar Sekar di tengah meja.
"Mari kita pikir dingin," kata Bayu. Ia memaksa amarahnya jadi logika. "Siapa yang punya akses, dan kapan."
Sekar membaca daftarnya. "Kita berlima jelas. Bu Ratih datang sekali, dua hari lalu, anter sampel ban baru—tapi dia nggak pernah sendirian dekat mobil, Pak Gun selalu di sampingnya. Lalu ada Wahyu, sepupu Dimas, datang sekali jenguk, tapi cuma di pekarangan, nggak masuk." Ia ragu di nama berikutnya. "Lalu ada... dua orang kru bantuan yang kita sewa harian pas bongkar mesin. Tukang las dan satu asisten."
Pak Heru mengangkat kepala. "Tukang las itu rekomendasi siapa?"
Dimas menjawab pelan, dan wajahnya berubah. "Dari... kenalan di pelabuhan. Pas kita ke event itu. Ada orang yang nawarin jasa las presisi, murah, bisa dipanggil. Saya pikir kebetulan baik—kita lagi butuh las buat dudukan bearing." Ia menelan. "Saya yang bawa dia masuk. Astaga. Saya yang—"
"Jangan salahin diri dulu," potong Pak Gun tegas. "Kita belum tahu. Tapi ceritain. Orang itu gimana?"
Dimas menggambarkan: pria setengah baya, tenang, kerjanya rapi dan cepat, terlalu rapi untuk tukang las panggilan biasa. Ia bekerja di area mesin—tapi sempat, saat semua orang fokus mengangkat blok mesin, berdiri sendirian dekat roda depan kanan selama beberapa menit. Dimas ingat karena saat itu ia sempat heran kenapa tukang las ada di dekat rem, bukan di area kerjanya. Tapi ia terlalu sibuk untuk bertanya.
"Dia bilang nyari pinjaman tang," kata Dimas, suaranya hampa. "Saya kasih. Saya nggak curiga sama sekali."
Roda depan kanan. Tempat sayatan ditemukan. Garasi dapur itu jatuh sunyi.
"Kamu masih punya nomornya?" tanya Bayu.
Dimas mengecek ponselnya, lalu menggeleng pelan. "Mati. Saya coba telepon tadi malam waktu mulai curiga. Nomornya udah nggak aktif. Baru tiga hari, udah mati."
Itu menjawab banyak hal. Tukang las panggilan biasa tidak mematikan nomornya tiga hari setelah dibayar. Ini orang yang datang dengan satu tujuan, menyelesaikannya, lalu hilang.
"Dia nggak kebetulan ada di pelabuhan," kata Bayu pelan, menyusun potongan-potongan itu di kepalanya. "Dia di sana karena kita di sana. Ingat orang Wijaya di kotak VIP malam itu? Mereka udah tahu kita butuh dana, udah tahu kita balapan di pelabuhan. Mereka tahu mesin kita sekarat—mungkin dari memantau kita beli part. Dan mereka tanam orang yang nawarin jasa las tepat saat kita paling butuh dan paling lengah."
Sekar menatap kakaknya, ngeri. "Mereka rencanain ini. Dari jauh-jauh hari."
"Bukan Reno," kata Bayu, dan ia yakin akan hal itu. Ia teringat tatapan Reno di ruang steward—dingin, kompetitif, tapi ada batas. Reno menyenggol di lintasan, di depan kamera, dengan risiko penalti. Itu kesombongan pembalap, bukan pembunuhan. "Reno mau ngalahin aku di lintasan. Dia nggak akan motong selang rem. Itu bukan dia."
"Lalu siapa?" tanya Pak Heru.
Bayu menatap kamera murah yang baru dipasang Dimas, lalu ke daftar Sekar, lalu ke wajah-wajah lelah keluarganya. Di luar jendela dapur, langit mulai terang. Seri ketiga dua hari lagi—dan seri ketiga, ia ingat dari outline jadwal yang Sekar tempel di papan, digelar di sirkuit yang dikuasai tim Wijaya. Kandang lawan.
"Seseorang yang nggak mau kita sampai ke seri tiga," kata Bayu pelan. "Seseorang yang lihat kita naik ke posisi sembilan dan tahu kalau kita finis bagus di kandang mereka, kita aman di sepuluh besar. Seseorang yang lebih milih kita mati di garasi atau cacat di lintasan daripada mundur baik-baik." Ia mengepalkan tangan di atas meja. "Bukan pembalap. Pembalap berkelahi di lintasan. Ini orang yang berkelahi dari balik meja, pakai uang dan tangan orang lain."
Hening panjang. Lalu Pak Gun, yang sejak tadi diam menatap selang rem yang tergeletak sebagai bukti di ujung meja, akhirnya bicara, suaranya berat seperti vonis.
"Aku pernah lihat cara kerja ini sekali, dulu," katanya. "Bukan sama bapakmu. Sama tim lain, tahun-tahun awal. Tim kecil yang mulai ngalahin tim besar, terus tiba-tiba kena masalah teknis aneh terus-terusan sampai bangkrut dan mundur. Semua orang di paddock tahu siapa di belakangnya. Tapi nggak ada yang bisa buktiin." Ia mengangkat wajah, menatap Bayu lurus. "Tim besar yang dia kerjain dulu itu, Mas. Sekarang punya pemilik yang sama. Wijaya Group."