Mesin itu hidup kembali. Saat Dimas memutar kunci kontak pagi itu, V6 rakitan Hardian meraung—dalam, rata, tanpa getaran. Bearing baru bekerja sempurna. Mereka menang melawan waktu, melawan usia, melawan kemustahilan.
Tinggal satu tes terakhir sebelum berangkat ke seri ketiga: tes rem dan suspensi penuh di sirkuit gokart yang diperluas. Rutin. Yang biasa.
Tapi pagi tes itu, Pak Heru menemukan sesuatu yang membuat darahnya membeku.
Ia sedang melakukan pemeriksaan akhir sistem rem—kebiasaan yang ia lakukan ribuan kali—saat jarinya menyusuri selang rem hidrolik di roda kanan depan. Ada sesuatu yang salah dengan teksturnya. Ia membungkuk, mengambil senter, dan memeriksa lebih dekat.
Di selang rem itu, tersembunyi di lekukan dekat sambungan, ada sayatan halus. Bukan retak karena usia. Bukan gesekan. Sayatan—lurus, bersih, dibuat dengan benda tajam—yang dalamnya tepat sampai sebelum lapisan terakhir. Cukup dalam untuk membuat selang itu pecah di bawah tekanan ekstrem pengereman keras, tapi cukup dangkal untuk tidak bocor saat diam.
Tangan Pak Heru gemetar. Ia tahu persis apa artinya ini. Selang rem yang pecah saat pengereman keras menjelang tikungan kecepatan tinggi berarti rem hilang total—di momen yang paling fatal.
"Pak Gun," panggilnya, suaranya nyaris tak bersuara. "Ke sini. Sekarang."
Pak Gun datang, dan saat ia melihat sayatan itu di bawah senter, wajahnya berubah putih. Ia tidak butuh penjelasan. Empat puluh tahun di dunia balap mengajarinya membedakan keausan dari kesengajaan. Ini kesengajaan.
"Jangan sentuh lagi," katanya pelan, suaranya dingin dengan kemarahan yang terkendali. "Dimas, ambil kamera. Foto semuanya. Dari segala sudut. Sebelum kita lepas."
Bayu, yang baru datang dari memanaskan tubuh, melihat wajah-wajah mereka dan tahu ada yang sangat salah. "Ada apa?"
Pak Gun menariknya ke selang itu, menunjuk dengan senter. "Lihat. Pelan-pelan. Jangan sentuh."
Bayu membungkuk. Saat ia melihat sayatan itu—rapi, sengaja, ditempatkan persis di titik yang paling mematikan—seluruh tubuhnya mendingin. Ia membayangkan apa yang akan terjadi kalau Pak Heru tidak menemukannya. Pengereman keras di akhir lurus panjang seri tiga, menjelang tikungan cepat, rem hilang, mobil melaju tak terkendali ke pembatas.
Persis seperti ayahnya. Tapi kali ini bukan ban, bukan suhu, bukan ketiadaan data.
Kali ini tangan manusia.
"Siapa," kata Bayu, suaranya bergetar bukan karena takut tapi karena amarah, "yang bisa masuk ke garasi ini?"
Hening. Garasi Prakoso bukan paddock terbuka. Tapi minggu-minggu terakhir ramai—mereka bolak-balik ke pelabuhan, ke luar kota mencari bearing, latihan, tidur tak teratur. Pintu tidak selalu terkunci. Orang keluar masuk. Kru bantuan datang. Tetangga lewat.
"Kapan terakhir kali kita cek selang ini?" tanya Bayu.
Pak Heru berpikir keras. "Tiga hari lalu. Sebelum kita bongkar mesin buat bearing. Saat itu masih utuh, aku yakin. Aku selalu raba tiap sambungan." Ia menelan. "Berarti sayatan ini... dibuat dalam tiga hari terakhir. Saat kita semua sibuk sama mesin."
Saat mereka semua sibuk. Saat perhatian seluruh tim tersedot ke jantung mesin yang sekarat. Seseorang memanfaatkan kekacauan itu untuk menyentuh rem.
Pak Gun berdiri tegak, dan di wajahnya ada ekspresi yang belum pernah Bayu lihat—bukan kelembutan mentor, bukan kewaspadaan prajurit tua, tapi kemarahan dingin seorang yang pernah kehilangan sahabat dan menolak kehilangan lagi.
"Lima tahun lalu," kata Pak Gun pelan, hampir pada dirinya sendiri, "bapakmu mati karena ketiadaan data. Karena nggak ada yang sengaja jahat—cuma kelalaian, cuma suhu, cuma nasib buruk. Aku bisa hidup dengan itu, walau susah." Ia menatap sayatan di selang rem. "Tapi ini. Ini ada yang sengaja mau kamu mati, Mas. Dan itu—" rahangnya mengeras, "—itu nggak akan aku biarin."
Bayu menatap mentornya, lalu menatap selang rem yang nyaris merenggut nyawanya. Kata-kata Adit di koridor menara kembali bergema di kepalanya. Mereka nggak akan main di lintasan aja.
"Kita nggak lapor polisi dulu," kata Bayu, otaknya bekerja dingin di balik amarah. "Belum. Kita nggak punya bukti siapa. Kalau kita ribut sekarang, pelakunya cuma akan lebih hati-hati. Kita simpan foto-fotonya, simpan selangnya sebagai bukti, dan—" ia menatap timnya satu per satu, "—mulai sekarang, garasi ini nggak pernah, nggak pernah, kosong tanpa pengawasan. Kita cari tahu siapa. Diam-diam. Dan kita cari tahu siapa yang nyuruh."