Malam itu Bayu tidak bisa tidur. Pukul dua dini hari ia turun ke garasi, menyalakan satu lampu temaram, dan berdiri di hadapan mobil bertepal.
Tangannya bergerak sendiri. Menarik terpal pelan-pelan.
Di bawahnya muncul Prakoso PR-09, mobil formula nasional rancangan ayahnya sendiri. Cat birunya pudar, ban-bannya kempes, tapi garis lekuk bodinya masih elegan. Di sisi kokpit ada tulisan tangan kecil yang dilukis ayahnya dulu: "Berani itu takut yang tetap jalan."
Bayu menelan ludah. Kalimat itu dulu ditujukan untuknya, saat ia masih remaja dan gemetar sebelum balapan junior pertamanya.
"Nggak nyangka kamu masih ingat tempatnya."
Bayu menoleh. Sekar berdiri di tangga, memeluk lututnya, duduk di anak tangga paling bawah.
"Kamu nggak tidur?" tanya Bayu.
"Mas juga nggak." Sekar berjalan mendekat, mengusap bodi mobil dengan telapak tangannya. "Aku masih kecil waktu Bapak meninggal. Aku nggak terlalu ingat dia. Tapi aku ingat satu hal: tiap pulang balapan, Bapak selalu bawa kamu ke garasi ini, ngajarin kamu soal setelan mesin. Kalian berisik banget. Ibu sampai ngomel."
Bayu tersenyum tipis, getir. "Bapak keras kalau soal teknis. Tapi dia nggak pernah maksa aku ngebut. Dia bilang pembalap yang bagus bukan yang paling berani, tapi yang paling sadar batas."
"Terus kenapa Mas berhenti?"
Pertanyaan itu jujur, polos, dan menyakitkan. Bayu diam lama.
"Karena aku ada di sana, Sekar. Di radio tim. Aku yang ngomong sama Bapak terakhir kali." Suaranya nyaris berbisik. "Aku bilang, 'Pace bagus, Pak, pertahankan.' Lima detik kemudian bannya pecah. Aku yang nyuruh dia pertahankan pace itu."
Sekar tersentak. "Mas... itu bukan salah Mas. Ban pecah itu—"
"Aku tahu apa kata laporan. Kegagalan ban karena cuaca panas dan tekanan. Bukan kesalahan manusia." Bayu menatap kokpit kosong. "Tapi yang aku rasakan tiap malam bukan laporan, Sekar. Yang aku rasakan suaraku sendiri yang nyuruh dia jalan terus."
Garasi itu hening. Hanya dengung lampu dan napas mereka berdua.
"Adit bilang kita butuh sepuluh besar buat selamatkan semuanya," kata Sekar pelan. "Mas tahu nggak ada pembalap lain yang mau pakai mobil dua tahun nganggur tanpa bayaran. Mas juga tahu lisensi Mas masih hidup."
"Sekar—"
"Aku nggak maksa." Sekar mengangkat tangan. "Aku cuma mau bilang satu hal, terus aku tidur. Kalau bengkel ini hilang, yang hilang bukan cuma bangunan. Tapi semua kerja Bapak. Semua yang dia bangun dari nol. Memori dia bakal dilelang sama bank, Mas. Dijual ke orang yang nggak peduli."
Sekar mencium pipi kakaknya, lalu naik ke kamar.
Bayu sendirian lagi. Ia membuka pintu kokpit. Bau familiar menguar—campuran kulit, oli, dan bahan bakar yang sudah menua. Bau yang dulu adalah rumah, kini adalah teror.
Ia tidak masuk. Ia hanya menatap, lama sekali, sampai langit di luar mulai pucat.
Saat fajar menyentuh garasi, Bayu menutup kembali pintu kokpit dengan pelan. Tapi kali ini ia tidak menutupnya dengan terpal.
Ia membiarkan mobil itu terlihat.