Bayu Prakoso berdiri di pintu garasi keluarga Prakoso, menatap selembar surat yang gemetar di tangannya. Kepala suratnya bertuliskan nama bank, dan di bawahnya ada deretan angka yang sanggup membuat dadanya terasa diremas.
Lima ratus delapan puluh juta rupiah. Itu jumlah utang Tim Prakoso Motorsport per hari ini. Tenggat tiga bulan lagi.
"Mas, sarapan dulu," kata Sekar dari arah dapur. Adiknya itu baru dua puluh tahun, masih kuliah, tapi pagi-pagi sudah memakai wearpack penuh noda oli karena membantu di bengkel sejak ibu mereka tak lagi sanggup membayar mekanik tambahan.
"Sebentar," jawab Bayu.
Ia melipat surat itu dan menyelipkannya ke saku belakang. Di hadapannya, sebuah mobil balap formula nasional terbungkus terpal abu-abu. Mobil itu sudah dua tahun tidak menyala. Sama seperti dirinya yang sudah lima tahun tidak duduk di kokpit.
Bayu dua puluh enam tahun sekarang. Saat ayahnya, Hardian Prakoso, tewas di Tikungan Tujuh Sirkuit Sentul, Bayu baru dua puluh satu. Lima tahun. Cukup lama untuk membuat orang lupa. Tapi Bayu tidak lupa. Ia mengingat semuanya: bunyi ban meletus, mobil yang berputar tak terkendali, asap, dan keheningan radio tim yang lebih mengerikan daripada teriakan mana pun.
Sejak hari itu, Bayu bersumpah tak akan pernah lagi menyetir mobil balap.
"Mas Bayu." Suara baru. Berat, hangat. Pak Gun, kepala mekanik yang sudah ikut ayahnya sejak Bayu kecil. Rambutnya kini lebih banyak putih daripada hitam. "Ibu nyariin. Ada tamu."
Bayu menoleh. "Tamu siapa?"
"Orang dari penyelenggara Kejurnas. Katanya soal slot tim."
Di ruang tamu, ibunya, Bu Marni, duduk berhadapan dengan seorang pria berkemeja rapi. Wajah ibunya tegang, kedua tangannya saling meremas di pangkuan. Bayu mengenali ekspresi itu—ekspresi orang yang sedang berusaha keras tampak tenang padahal dunianya runtuh.
"Ini Mas Bayu, putra sulung Pak Hardian," kata ibunya memperkenalkan.
Pria itu berdiri, menjabat tangan Bayu. "Saya Adit, dari panitia Kejuaraan Nasional Balap Sirkuit. Begini, Mas. Tim Prakoso masih punya lisensi tim aktif sampai akhir musim ini. Tapi kalau tahun ini tidak ikut serta minimal satu seri, lisensi itu hangus permanen. Dan kalau hangus, sponsor warisan dari Pak Hardian juga otomatis batal."
Bayu merasa lantai bergeser di bawah kakinya. "Sponsor warisan?"
"Pak Hardian punya kontrak sponsor jangka panjang dengan PT Lintas Jaya. Klausulnya: dana cair kalau tim masih berkompetisi. Kalau berhenti, kontrak gugur. Dananya..." Adit melirik Bu Marni. "Cukup besar, Mas. Cukup untuk menutup sebagian besar utang."
Hening sejenak. Bayu menatap ibunya. Bu Marni tidak berani menatap balik.
"Berapa serinya?" tanya Bayu pelan.
"Untuk mempertahankan lisensi, satu seri saja sudah cukup. Tapi untuk mencairkan sponsor penuh, tim harus finis di sepuluh besar klasemen akhir. Itu artinya ikut seluruh musim. Lima seri."
Lima seri. Satu mobil. Satu pembalap.
Dan tim ini, Bayu tahu, tidak punya pembalap.
"Kami punya waktu sampai kapan untuk mendaftar?" tanya Bayu.
"Dua minggu. Seri pertama di Sentul, akhir bulan depan."
Sentul. Sirkuit tempat ayahnya mati.
Bayu merasa mual. Ia mengangguk sopan, mengantar Adit ke pintu, lalu kembali ke ruang tamu. Ibunya sudah menangis tanpa suara.
"Maaf, Bayu," kata Bu Marni. "Ibu nggak mau bebanin kamu. Tapi bengkel ini, rumah ini, semuanya jaminan utang."
Bayu berlutut di depan ibunya, menggenggam tangan perempuan yang tampak jauh lebih tua dari usianya. "Kita cari pembalap, Bu. Kita sewa pembalap."
"Pakai apa, Nak? Pembalap nasional yang punya lisensi minta bayaran puluhan juta sekali start. Kita nggak punya."
Pak Gun, yang berdiri di ambang pintu, akhirnya bicara. Suaranya rendah dan hati-hati. "Ada satu pembalap yang punya lisensi dan nggak perlu kita bayar, Bu."
Bayu tahu ke mana arah pembicaraan ini. Ia menggeleng sebelum nama itu disebut.
"Tidak," kata Bayu.
"Lisensi balapmu masih aktif, Mas," Pak Gun melanjutkan, tak peduli penolakan itu. "Bapakmu memperpanjangnya tiap tahun. Bahkan setelah kamu berhenti. Dia selalu berharap—"
"Saya bilang tidak, Pak."
Suara Bayu pecah di akhir. Ruangan itu jatuh sunyi. Di luar, suara mesin sepeda motor lewat di jalan, dan untuk sepersekian detik, Bayu mendengarnya sebagai raungan formula yang berputar di Tikungan Tujuh.
Ia bangkit dan keluar dari ruangan, meninggalkan ibunya, adiknya, dan terpal abu-abu yang menyembunyikan mobil yang ditakutinya.