Pertengkaran pertama mereka pecah pada hari Selasa, di atas meja kerja yang dipenuhi cetakan data dan gambar suspensi.
"Sudut camber-nya terlalu agresif," kata Bu Ratih, menusuk angka di kertas dengan jari. "Kalian setel roda depan terlalu miring. Itu memang nambah grip di tikungan, tapi bikin sisi dalam ban kerja lebih keras—suhunya naik nggak rata. Lihat ini, sisi dalam kanan depan selalu tiga derajat lebih panas dari sisi luar. Itu boros."
Pak Gun bersandar di meja, lengan bersilang, ekspresi seperti karang. "Sasis ini dirancang Hardian," katanya pelan. "Camber segitu yang bikin mobil tua ini bisa belok kayak mobil yang sepuluh tahun lebih muda. Kamu rapikan camber, kamu hilangin keunggulan satu-satunya yang kita punya. Kita kalah top-speed, kalah mesin, kalah dana. Yang kita punya cuma mobil yang lincah di tikungan."
"Lincah di tikungan nggak ada gunanya kalau bannya habis sepuluh lap lebih cepat," balas Bu Ratih, suaranya naik. "Kamu pikir kenapa kalian harus pit di lap tiga puluh lima? Karena sisi dalam ban kalian sekarat. Kurangi setengah derajat camber, ban kalian tahan empat puluh dua lap. Itu satu strategi pit lebih sedikit. Itu menang."
"Setengah derajat camber, Bayu kehilangan grip di Tikungan Tujuh," kata Pak Gun, dan suaranya turun jadi sesuatu yang berat. "Tikungan tempat bapaknya mati. Kamu mau dia masuk situ dengan mobil yang grip-nya kurang? Kamu nggak ada di radio waktu dia hampir kena serangan panik di tikungan itu, Bu. Aku ada."
Hening menusuk. Bayu, yang berdiri di sudut menonton dua orang yang paling ia percaya saling berhadapan, merasa perlu berbicara—tapi Bu Ratih lebih dulu, dan nadanya berubah.
"Kamu benar," kata Bu Ratih pelan. Tangannya turun dari kertas. "Soal Tikungan Tujuh, kamu benar. Aku baca data, kamu yang kenal anaknya." Ia menarik napas, lalu menarik kursi dan duduk, menatap gambar suspensi itu dengan cara baru. "Oke. Kita nggak ubah camber-nya. Tapi kalau masalahnya cuma sisi dalam kepanasan—kita serang dari arah lain. Tekanan ban."
Pak Gun mengangkat alis. "Tekanan?"
"Naikkan tekanan kanan depan setengah psi." Bu Ratih mulai menggambar di kertas kosong, cepat, energinya berubah dari menyerang jadi membangun. "Tekanan lebih tinggi sedikit, bentuk telapak ban berubah, beban geser ke tengah, sisi dalam nggak kerja sendirian. Grip di tikungan tetap—mungkin turun satu persen, nggak akan kerasa di Tikungan Tujuh. Tapi suhu sisi dalam turun dua derajat. Kita dapet keawetan tanpa korbankan camber Hardian."
Pak Gun mencondongkan tubuh ke kertas itu. Matanya menyipit, lalu melebar. Tangannya yang penuh kapalan menelusuri garis yang baru digambar Bu Ratih, dan untuk waktu yang lama ia diam, menghitung dalam kepala dengan cara yang sudah ia lakukan sejak Bayu masih bocah.
"Hardian nggak pernah kepikiran itu," kata Pak Gun akhirnya, pelan. Bukan kekalahan—pengakuan. "Dia jago sasis. Soal kimia karet ban, dia nggak punya datanya. Pabrikan dulu nggak transparan." Ia mengangkat kepala dan menatap Bu Ratih, dan ada sesuatu yang baru di matanya. "Kamu punya yang dia nggak punya. Aku punya yang kamu nggak punya. Sialan."
Bu Ratih tertawa—tawa pendek dan tak terduga yang mengejutkan dirinya sendiri. "Itu pujian pertama dari kamu sejak kita kenal, Pak Gun."
"Jangan kebiasaan." Tapi sudut bibir lelaki tua itu terangkat.
Bayu menonton dari sudut, dan sesuatu menghangat di dadanya. Selama lima tahun ia mengira tim ini hanya kenangan—mesin tua, kru tua, mobil di bawah terpal. Tapi di meja itu, dua otak terbaik yang ia kenal sedang membangun sesuatu yang ayahnya tidak pernah punya: bukan cuma sasis yang lincah, bukan cuma ban yang bicara, tapi keduanya digabung. Sasis Hardian, kimia Ratih, dijembatani data.
"Jadi," kata Bayu, melangkah ke meja, "kita naikin tekanan setengah psi, ban tahan lebih lama, camber tetap, aku tetap punya grip di Tikungan Tujuh. Begitu?"
"Begitu." Bu Ratih menatapnya. "Tapi cuma kalau kamu baca sensor tiap lap dan lapor ke kami. Setiap kali. Data itu yang bikin kombinasi ini jalan. Tanpa data, kita cuma nebak. Dan nebak yang bunuh bapakmu."
Bayu mengangguk. Ia mengerti sekarang, lebih dalam dari sebelumnya. Senjata tim ini bukan mesin, bukan dana, bukan keberanian. Senjata tim ini adalah informasi—angka-angka kecil yang menyala di setirnya, dibaca oleh dua orang tua keras kepala yang akhirnya berhenti berkelahi dan mulai membangun.
Malam itu mereka bertiga—Bayu, Pak Gun, Bu Ratih—berdiri mengelilingi PR-09 sampai larut, menyetel tekanan, mencatat angka, berdebat lagi tapi kali ini berdebat menuju jawaban. Dimas memesan kopi dari warung sebelah dan menatap mereka dengan kekaguman seorang yang masih muda melihat orang-orang yang tahu persis apa yang mereka lakukan.
Tim Prakoso bukan lagi empat orang yang menambal mobil tua. Mereka mulai jadi sesuatu yang lebih berbahaya: tim yang berpikir.