Bu Ratih datang ke garasi dua hari kemudian, membawa map dan sesuatu yang baru di wajahnya—sesuatu yang Bayu hanya bisa sebut sebagai kemenangan yang ditahan.
"Saya sudah lihat datanya," kata Bu Ratih, membuka laptop di atas meja kerja yang penuh oli. Di layar, grafik suhu ban dari balapan Sentul terbentang seperti gambar pegunungan. "Tiga puluh lima lap. Kanan depan kalian menyentuh enam puluh dua derajat dan tidak gagal. Melemah bertahap, memberi peringatan, bertahan sampai pit. Persis seperti yang saya rancang."
Ia menatap Bayu dan Pak Gun bergantian, dan untuk pertama kali sejak mereka mengenalnya, insinyur yang obsesif dan dingin itu tersenyum lebar.
"Ban Reno gagal di tikungan dan suhu yang hampir sama," lanjutnya, dan senyum itu memudar jadi sesuatu yang lebih serius. "Ban impor mahal, tanpa sensor, tanpa peringatan. Dia melintir. Pembalap kalian membaca angka, menjaga ban, finis P5." Ia menutup laptop. "Itu bukan keberuntungan. Itu bukti. Bukti yang sudah saya tunggu bertahun-tahun. Adikarya Ban tidak menjual ban yang membunuh pembalapnya secara diam-diam. Kami menjual ban yang bicara."
Pak Gun mengangguk pelan, lengannya bersilang. "Saya tes ban itu sampai enam puluh derajat di garasi ini sebelum saya izinkan Bayu pakai. Saya nggak akan biarin anak ini buta kayak bapaknya dulu. Ban kamu lulus, Bu. Itu sebabnya kita masih hidup."
"Karena itu saya ke sini." Bu Ratih mengeluarkan map. "Direksi Adikarya melihat hasil Sentul. Mereka—untuk pertama kalinya—percaya pada apa yang saya bangun. Mereka menyetujui dukungan penuh." Ia meletakkan map di meja, membukanya. "Kontrak musim penuh. Ban gratis untuk seluruh empat seri sisa. Dan dana operasional per seri—bukan besar, tapi nyata. Cukup untuk hotel, transportasi, dan satu mekanik tambahan."
Bayu menatap angka di kertas itu. Bukan angka yang menyelesaikan utang lima ratus delapan puluh juta. Tapi angka yang berarti mereka tidak lagi membakar hadiah balapan untuk biaya hidup. Angka yang berarti hadiah-hadiah itu bisa disimpan, ditumpuk, dipakai melawan tenggat bank.
"Syaratnya?" tanya Bayu hati-hati. Ia sudah belajar bahwa tidak ada yang gratis.
"Logo kami di bodi. Besar, jelas, di sisi yang kena kamera TV." Bu Ratih menunjuk ke PR-09. "Dan satu hal lagi yang bukan tuntutan kontrak—permintaan pribadi saya." Ia menatap Bayu lurus. "Setiap balapan, kalian kirim data sensor lengkap ke saya. Tiap lap, tiap roda, tiap suhu. Saya mau membangun ban ini lebih baik lagi, balapan demi balapan. Kalian jadi tim penguji saya. Mobil kalian jadi laboratorium berjalan saya."
Pak Gun dan Bu Ratih saling pandang. Dua teknisi tua dan keras kepala, satu ahli sasis, satu ahli ban, dan di antara mereka mengalir sesuatu yang Bayu kenali: penghargaan profesional yang dingin tapi tulus.
"Logo di bodi nggak masalah," kata Bayu. "Kami bukan tim besar yang bisa pilih-pilih sponsor." Ia menatap map itu lagi, lalu menatap Bu Ratih. "Tapi saya mau jujur sama Anda, Bu. Bapak saya mati karena ban. Tiap kali saya lihat logo ban di mobil, saya inget itu. Saya nggak bisa janji saya bakal nyaman."
Bu Ratih tidak tersinggung. Ia mengangguk pelan. "Justru karena itu saya mau tim ini," katanya. "Saya nggak mau pembalap yang percaya buta sama ban. Saya mau pembalap yang takut sama ban—yang baca tiap angka karena dia tahu apa yang bisa terjadi kalau dia nggak baca. Ketakutan kamu itu bikin kamu hati-hati. Hati-hati itu yang bikin kamu hidup." Ia menutup map dan mendorongnya ke arah Bayu. "Ban yang gagal di lintasan itu aib insinyur, bukan nasib pembalap. Saya ulangi janji itu. Setiap balapan."
Bayu mengambil pena. Tangannya berhenti sebentar di atas garis tanda tangan. Ia memikirkan ayahnya, memikirkan terpal abu-abu, memikirkan lima tahun melarikan diri dari semua ini. Lalu ia memikirkan rumah, ibunya, Sekar, dan jam yang berdetak menuju tenggat bank.
Ia menandatangani.
"Selamat datang resmi di tim Prakoso, Bu Ratih," kata Bayu.
"Bukan tamu lagi, ya." Bu Ratih menyalami tangannya, genggaman kuat. "Sekarang saya bagian dari ini. Kalau kalian tenggelam, saya ikut tenggelam. Reputasi saya sekarang nempel ke nama Prakoso." Ia menatap PR-09, mobil tua bercat pudar yang membawa nama keluarga itu. "Jadi mari kita pastikan kita berdua nggak tenggelam."
Sore itu, Dimas dan Pak Heru memasang stiker logo Adikarya yang baru di sisi kanan PR-09. Bayu berdiri menontonnya, dan untuk pertama kali, melihat logo ban di mobil ayahnya tidak terasa seperti pengkhianatan. Terasa seperti perisai.