Mereka bertiga merangkak pulang sepanjang sisa malam dan seluruh hari berikutnya, bersembunyi di selokan kering, di balik bangkai kendaraan, menahan lapar dan haus. Tak seorang pun bicara tentang Pak Darmo. Tak ada yang sanggup. Tapi Bara terus melihat bayangannya, jari-jari tenang yang menyalakan sumbu, kalimatnya yang terakhir, "Sebentar lagi." Pak Darmo yang punya istri dan tiga anak. Pak Darmo yang selalu menyibukkan tangannya supaya tidak gemetar. Kini tangannya takkan pernah gemetar lagi.
Mereka kembali ke parit dengan tubuh remuk dan jiwa yang lebih remuk lagi. Komandan, si kucing, menyambut mereka dengan mengeong, melompat ke pangkuan Tio, seolah tahu bahwa satu dari mereka takkan pulang lagi.
Hari-hari berikutnya berlalu dalam kabut kelelahan. Lalu, di suatu pagi yang dingin dan berkabut, sesuatu yang aneh terjadi.
Bara sedang berjaga sendirian saat ia mendengar suara erangan dari tanah lapang. Lemah, putus asa. Ia mengintip melalui celah karung pasir. Di sana, tersangkut di kawat berduri hanya beberapa puluh meter dari parit, ada seorang serdadu musuh. Ia terluka, kakinya terjerat kawat, dan setiap gerakannya hanya membuat duri-duri besi itu mencabik lebih dalam. Ia tak bisa maju, tak bisa mundur. Hanya menggantung di sana, di antara dua dunia, sama seperti Reno dulu.
Logika perang sederhana. Tembak. Atau biarkan ia mati perlahan. Itulah yang seharusnya Bara lakukan.
Tapi ia tak bisa.
Kabut pagi itu tebal, cukup tebal untuk menyembunyikan gerakan dari penembak jitu. Bara menatap serdadu itu lama-lama. Lelaki itu masih muda, mungkin seusianya. Wajahnya kotor oleh tanah dan ketakutan. Dan saat mata mereka bertemu melintasi tanah tak bertuan, Bara tidak melihat musuh. Ia melihat seorang anak laki-laki yang takut mati. Ia melihat dirinya sendiri.
Tanpa benar-benar memutuskan, Bara meraih kantong air dan sepotong roti kering. Ia melepas helmnya supaya tak terlalu mencolok, lalu, melawan setiap aturan dan akal sehat, ia merangkak keluar dari parit, masuk ke dalam kabut.
Serdadu itu tersentak ketakutan saat Bara mendekat, mencoba meraih senjatanya yang tergeletak jauh dari jangkauan. Bara mengangkat tangan, menunjukkan bahwa ia tak membawa senjata. Hanya air. Hanya roti. Lelaki itu menatapnya dengan mata lebar, tak percaya, antara takut dan putus asa.
Bara bekerja cepat, dengan tangan gemetar, melepaskan kawat berduri dari kaki si serdadu. Durinya merobek tangannya sendiri, tapi ia tak peduli. Ia memberikan air, yang diteguk lelaki itu dengan rakus. Mereka tak bisa bicara, bahasa mereka berbeda. Tapi mereka tak butuh kata-kata. Si serdadu menatap Bara dengan ekspresi yang melampaui semua perang, semua bendera, semua kebencian, sebuah ekspresi yang hanya berarti satu hal: terima kasih.
Lelaki itu merogoh kantongnya dan, dengan tangan gemetar, menyerahkan sesuatu pada Bara. Sebuah foto kecil yang lusuh. Seorang wanita tua dan seorang gadis kecil. Ibunya, mungkin. Adiknya. Lalu ia menunjuk dada Bara, lalu dadanya sendiri, dan menggeleng pelan, seolah berkata: kita sama. Kita bukan musuh. Kita hanya dua anak yang dikirim untuk saling membunuh oleh orang-orang yang tak pernah kita temui.
"Pergilah," bisik Bara, walau ia tahu lelaki itu tak mengerti. Ia menunjuk ke arah parit musuh. "Pulang."
Serdadu itu mengangguk, air mata mengalir di pipinya yang kotor, lalu merangkak menjauh ke dalam kabut, ke arah garisnya sendiri. Sebelum lenyap, ia menoleh sekali, dan mengangkat tangannya. Bukan dengan senjata. Hanya melambai. Sebuah ucapan selamat tinggal antara dua manusia.
Bara merangkak kembali ke parit, jantungnya berdebar. Kopral Jaya menunggunya di sana, wajahnya keras seperti batu. Bara menyiapkan diri untuk dimarahi, untuk dihukum karena tindakan bodoh dan berbahaya yang baru saja ia lakukan.
Tapi Jaya hanya menatapnya lama. Lalu, dengan suara pelan, ia berkata, "Kau tahu kau bisa mati barusan."
"Saya tahu, Pak."
Jaya menghela napas panjang, menatap kabut yang mulai menipis. "Aku pernah punya prinsip," katanya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Bahwa mereka bukan manusia. Itu satu-satunya cara untuk tetap waras. Untuk bisa menembak." Ia diam lama. "Tapi kau benar, Nak. Mereka manusia. Mereka selalu manusia. Itulah yang membuat semua ini begitu terkutuk."
Ia tak menghukum Bara. Ia hanya berbalik dan pergi ke ujung parit, berdiri sendiri di sana, dan Bara melihat bahu lelaki keras itu sedikit menurun, seolah baru saja diberi beban yang lebih berat dari sebelumnya.