Kematian Reno mengubah sesuatu dalam diri mereka semua. Tawa menjadi lebih jarang, lebih getir. Tio jadi pendiam, dan kesunyiannya lebih menyakitkan daripada teriakan mana pun. Tapi hidup, atau apa pun yang menyerupai hidup di parit ini, harus terus berjalan. Dan perang tak peduli pada duka.
Seminggu kemudian, Kopral Jaya dipanggil ke pos komando. Ia kembali dengan rahang yang mengeras dan tatapan yang lebih gelap dari biasanya. Ia mengumpulkan Bara, Tio, dan Pak Darmo.
"Ada gudang amunisi musuh," katanya pelan, membentangkan peta lusuh di atas peti. "Di sini. Tiga kilometer di balik garis mereka, di reruntuhan sebuah pabrik gula. Tugas kita meledakkannya. Empat orang. Kita berangkat malam ini."
Tio menelan ludah. "Di balik garis mereka? Tiga kilometer?"
"Kalau gudang itu meledak," kata Jaya, "serangan besar mereka yang direncanakan minggu depan akan terhenti. Itu berarti ratusan nyawa di pihak kita yang selamat. Termasuk nyawa kita." Ia menatap mereka satu per satu. "Aku tak akan memaksa. Tapi kalau aku boleh jujur, aku ingin kalian. Karena aku percaya kalian akan kembali."
Tio mengernyit. "Kalau kita semua pergi, siapa yang pegang parit ini?"
"Komando sudah mengaturnya," jawab Jaya. "Regu dari Sektor Enam akan menggeser sebagian orangnya menutupi posisi kita sampai kita kembali. Dan bukan tanpa alasan komando memilih kita berempat, bukan regu lain." Ia menatap mereka satu per satu. "Darmo satu-satunya yang paham bahan peledak; tanpa dia, gudang itu tak akan meledak. Dan aku sudah berhari-hari memetakan titik buta di kawat dan jalur patroli mereka; tak ada yang lebih hafal jalan masuknya selain aku. Komando tahu mengirim seluruh inti regu untuk satu misi itu berisiko. Tapi untuk tugas seperti ini, keahlian lebih penting dari jumlah. Mereka memilih orang yang punya peluang paling besar untuk berhasil dan pulang."
Mereka berangkat saat tengah malam, wajah dilumuri arang, langkah seringan mungkin. Mereka menyelinap melalui titik buta di kawat berduri yang sudah dipetakan Jaya selama berhari-hari. Bara merasa jantungnya berdetak begitu keras hingga ia takut musuh bisa mendengarnya. Setiap ranting yang patah, setiap percikan air, terdengar seperti ledakan di telinganya.
Dunia di balik garis musuh ternyata mengerikan dengan cara yang berbeda. Bukan parit dan lumpur, melainkan reruntuhan desa-desa yang dulu pasti indah. Mereka melewati sebuah rumah yang separuh runtuh, dan Bara melihat di dalamnya sebuah ayunan kayu yang masih tergantung, sebuah boneka kain tergeletak di lantai berdebu. Anak-anak pernah tinggal di sini. Ke mana mereka sekarang, Bara tak berani menebak.
"Fokus," bisik Jaya, seolah membaca pikirannya. "Jangan lihat. Hanya jalan."
Mereka bergerak selama berjam-jam, bersembunyi setiap kali patroli musuh lewat, menahan napas saat sorot lampu menyapu hanya beberapa langkah dari tempat mereka tiarap. Sekali, mereka begitu dekat dengan dua serdadu musuh hingga Bara bisa mendengar mereka bercakap-cakap, dalam bahasa yang tak ia mengerti, tapi dengan nada, nada itu, ia mengenalinya. Salah satu dari mereka tertawa pelan, dan yang satunya mengeluh tentang kakinya yang lelah. Suara-suara biasa. Suara manusia yang lelah dan ingin pulang. Bara menahan napas dan menutup matanya sampai mereka berlalu.
Menjelang dini hari, mereka mencapai pabrik gula. Reruntuhan besar dari batu bata merah, dijaga oleh segelintir penjaga yang mengantuk. Gudang amunisi ada di sayap timur, ditandai oleh tumpukan peti dan kewaspadaan ekstra para penjaga.
Rencananya sederhana dan mematikan. Pak Darmo, yang dulunya pernah bekerja di tambang dan paham bahan peledak, akan memasang muatan. Tio dan Bara mengawasi. Jaya menjaga jalur mundur.
Mereka bergerak seperti bayangan. Bara, dengan tangan gemetar, membantu Pak Darmo membawa kotak peledak melintasi celah di dinding yang runtuh. Setiap detik terasa seperti satu jam. Seorang penjaga lewat begitu dekat hingga Bara bisa mencium bau tembakaunya. Ia menempel di dinding, tak bernapas, sementara keringat dingin mengalir di punggungnya.
Pak Darmo bekerja dengan ketenangan yang luar biasa, jari-jarinya yang biasa mengukir kayu kini menyusun sumbu dan detonator. "Sebentar lagi," bisiknya. "Sebentar lagi."
Lalu sebuah suara teriakan memecah malam. Salah satu penjaga melihat mereka.
"Sekarang! Lari!" geram Jaya.
Pak Darmo menyalakan sumbu. Mereka berlari, berhamburan ke dalam kegelapan reruntuhan, peluru mendesing dan memantul di sekitar mereka. Bara berlari secepat kakinya bisa membawanya, paru-parunya terbakar, sampai, di belakang mereka, dunia meledak.
Ledakan itu menerangi langit malam seperti fajar palsu, sebuah bola api raksasa yang mengangkat mereka dari tanah dan melemparkannya ke depan. Panasnya menyengat punggung Bara. Untuk sesaat, dunia hanya cahaya dan suara dan getaran.
Lalu hening. Mereka tiarap di balik gundukan tanah, terengah-engah, tertawa dan menangis sekaligus karena masih hidup. Mereka berhasil. Gudang itu hancur total. Tapi saat Bara menoleh untuk menghitung, jantungnya mencelos. Mereka hanya bertiga.
"Pak Darmo?" bisik Tio. "Di mana Pak Darmo?"
Kopral Jaya menatap ke arah kobaran api yang membakar reruntuhan pabrik, dan wajahnya, untuk sesaat, hancur.