Parit Sektor Tujuh adalah luka panjang yang digali di muka bumi. Bara turun ke dalamnya saat dini hari masih kelabu, melewati papan-papan kayu yang licin oleh lumpur dan entah apa lagi yang ia tak mau pikirkan. Dindingnya setinggi dada, diperkuat anyaman bambu dan karung pasir yang sebagian sudah jebol. Air menggenang di dasar, dingin menusuk sampai ke tulang melalui sepatu butnya yang terlalu besar.
Kopral Jaya menempatkan mereka di posisi masing-masing. Bara di antara Tio dan seorang prajurit kurus bernama Sapto. Di seberang sana, melintasi tanah lapang yang dipenuhi kawat berduri dan kawah-kawah bekas ledakan, adalah parit musuh. Bara tak bisa melihatnya, tapi ia bisa merasakannya. Sebuah kehadiran yang dingin, menunggu.
"Jangan angkat kepala lebih tinggi dari karung," kata Kopral Jaya, menekan bahu Bara ke bawah. "Penembak jitu mereka sabar. Mereka bisa menunggu satu jam hanya untuk satu kepala bodoh."
Pagi datang perlahan. Lalu, tanpa peringatan, dunia meledak.
Bara tidak tahu bagaimana menggambarkannya. Suara itu bukan suara, ia adalah benda padat yang menghantam dada. Bumi melompat. Lumpur dan batu beterbangan. Seseorang berteriak. Dentuman demi dentuman menggetarkan giginya, dan Bara menjatuhkan diri ke dasar parit, menutup telinga dengan kedua tangan, tubuhnya meringkuk seperti anak kecil. Air dingin merendam wajahnya. Ia mengira ia menangis, tapi ia tak yakin. Mungkin itu hanya lumpur.
"BARA!" Tio menariknya. "Senapanmu! Pegang senapanmu!"
Tangan Bara begitu gemetar hingga ia hampir tak bisa menggenggam logam dingin itu. Di sebelahnya, Kopral Jaya berdiri tegak, sama sekali tak gentar, mengintip ke depan melalui celah di antara karung pasir.
"Mereka maju!" teriak sang kopral. "Ke garis tembak! Sekarang!"
Bara memaksa dirinya berdiri. Lututnya seperti agar-agar. Ia mengangkat kepala hanya beberapa senti di atas karung, dan apa yang dilihatnya akan menghantui mimpinya selama bertahun-tahun. Bayangan-bayangan kelabu bergerak melintasi tanah lapang, membungkuk, berlari, jatuh. Manusia. Manusia seperti dirinya, berlari ke arahnya untuk membunuh atau dibunuh.
"Tembak!" perintah Jaya.
Jari Bara membeku di pelatuk. Ia tidak bisa. Otaknya berteriak bahwa mereka adalah orang, orang yang punya ibu di suatu tempat, yang mungkin juga menyimpan bungkusan kunyit di tas mereka. Sebuah peluru mendesing melewati telinganya, begitu dekat hingga ia merasakan panasnya. Sapto di sebelahnya tersentak, lalu jatuh ke dalam air dengan lubang merah di lehernya, matanya terbuka menatap langit kelabu, terkejut, seolah tak percaya.
Sesuatu pecah di dalam diri Bara. Bukan keberanian. Sesuatu yang lebih tua dan lebih kotor dari itu, naluri yang tak ia tahu ia miliki. Ia menarik pelatuk. Sekali. Dua kali. Tangannya bergerak sendiri sementara pikirannya melayang jauh, ke sawah, ke jerami, ke mana saja yang bukan di sini.
Entah berapa lama itu berlangsung. Lima menit atau lima jam, ia tak tahu. Lalu serangan itu surut, seperti ombak yang menarik diri. Bayangan-bayangan kelabu mundur, sebagian meninggalkan tubuh mereka di kawat berduri.
Bara terduduk di dasar parit, basah oleh air dan darah orang lain. Tangannya masih gemetar. Di sebelahnya, jasad Sapto mengambang pelan. Tio muntah-muntah di pojok. Dan Kopral Jaya, dengan wajah yang tak bisa dibaca, berjongkok di hadapan Bara.
"Kau menembak," kata sang kopral pelan.
Bara mengangguk, lalu air matanya tumpah, deras dan tak terkendali, bahu kecilnya berguncang. Ia merasa malu, kotor, hancur. Ia baru saja membunuh manusia.
Kopral Jaya tidak mengejek. Tidak menertawakan. Ia hanya meletakkan tangannya yang berat dan kasar di kepala Bara, sejenak, seperti seorang ayah.
"Menangislah sekarang," katanya. "Selagi masih bisa. Karena nanti, akan datang hari di mana kau tak bisa menangis lagi. Dan itu, Nak, adalah hari yang paling kuhindari."
Lalu ia berdiri, dan suaranya kembali keras. "Bersihkan senapan kalian. Angkat Sapto. Dan tetap rendah. Hari masih panjang."
Bara mengusap wajahnya yang penuh lumpur. Ia memandang Tio, yang balas memandangnya dengan mata sembap. Tanpa kata, mereka tahu, mereka telah melintasi sesuatu yang tak bisa dilintasi kembali. Dunia mereka yang lama, dunia sawah dan ikan dan radio warung kopi, telah mati pagi itu, bersama Sapto, di dasar parit Sektor Tujuh.