Bara masih mengingat bau jerami pagi itu, bau yang menempel di tangannya saat ia mengikat berkas padi di sawah belakang rumah. Saat itulah Pak Lurah datang dengan amplop cokelat di tangan, langkahnya berat seolah membawa sesuatu yang lebih besar dari sekadar kertas. Ibunya berhenti menumbuk beras. Tidak ada yang bicara. Hanya angin yang lewat di antara batang-batang padi, membawa aroma tanah basah yang sebentar lagi akan ia tinggalkan.
"Negara memanggilmu, Nak," kata Pak Lurah. Suaranya pelan, tapi di telinga Bara terdengar seperti gemuruh.
Bara baru sembilan belas tahun. Ia tidak tahu apa-apa soal perang. Yang ia tahu hanyalah desanya, Sumberarum, sebuah lembah kecil yang dikepung bukit-bukit hijau, tempat ia tumbuh tanpa pernah mendengar suara meriam. Perang baginya hanyalah cerita radio yang berderak-derak di warung kopi Mang Karta, kata-kata seperti "garis depan" dan "front utara" yang terasa jauh, seperti negeri dongeng yang gelap.
Tiga hari kemudian, ia berdiri di stasiun kecil dengan ransel kanvas di punggung. Ibunya menyelipkan sebungkus kunyit dan bawang yang dibungkus daun pisang ke dalam tasnya, katanya untuk obat kalau-kalau lukanya membusuk. Bara tertawa kecil, mengira itu kata-kata berlebihan seorang ibu. Ia belum tahu betapa benar perkataan itu nanti.
"Pulanglah," bisik ibunya, memeluknya erat. "Pulang dalam keadaan apa pun. Asal pulang."
Kereta membawanya ke utara selama dua hari dua malam. Pemandangan berubah perlahan. Sawah-sawah menghilang, berganti hutan jati yang gundul karena ditebang untuk benteng. Lalu bukit-bukit cokelat tanpa rumput. Lalu reruntuhan kota yang tak ia kenal namanya, dinding-dinding hitam bekas terbakar, jendela-jendela kosong menatap seperti rongga mata orang mati. Di setiap stasiun, semakin banyak pemuda seusianya naik, semuanya diam, semuanya memegang amplop cokelat yang sama.
Di gerbong itu Bara duduk berhadapan dengan seorang pemuda berkulit gelap yang tak henti-hentinya menggoyangkan kaki. Namanya Tio. Ia berasal dari kota pelabuhan, dulunya tukang panggul ikan. Mulutnya tak bisa diam.
"Kau takut?" tanya Tio sambil nyengir, memperlihatkan gigi yang sebagian retak.
Bara menggeleng, lalu mengangguk, lalu menggeleng lagi. Tio tertawa terbahak. "Sama. Aku juga takut setengah mati. Tapi katanya kalau kita ngomong, takutnya jadi kecil. Jadi aku ngomong terus."
Mereka tiba di sebuah depot militer yang dibangun dari papan dan seng karatan. Udara di sana penuh asap dapur lapangan dan bau keringat ratusan lelaki. Seorang sersan berteriak-teriak membariskan mereka di tanah berlumpur. Bara berdiri tegak, dadanya berdebar, sambil mencoba mengingat semua yang diajarkan dalam pelatihan singkat dua minggu yang menurutnya tidak cukup untuk apa pun.
Di sanalah ia pertama kali melihat Kopral Jaya.
Lelaki itu tidak tinggi, tapi tubuhnya seperti dipahat dari kayu keras. Wajahnya penuh bekas luka tipis, dan matanya, mata itu yang membuat Bara langsung diam, adalah mata orang yang sudah terlalu sering melihat hal yang tak ingin dilihat. Kopral Jaya berjalan di depan barisan, menatap satu per satu wajah anak-anak muda itu seolah menghitung berapa yang akan kembali.
"Kalian dikirim ke Sektor Tujuh," katanya tanpa basa-basi. Suaranya serak, seperti tanah kering. "Parit garis depan. Aku tidak peduli dari mana kalian datang, siapa ibu kalian, apa cita-cita kalian. Di parit, satu-satunya yang penting adalah ini: kalian dengarkan aku, kalian hidup. Kalian sok pintar, kalian mati. Sesederhana itu."
Tidak ada yang berani bersuara. Hanya gerimis yang mulai turun, menumbuk seng di atas mereka dengan suara seperti tepuk tangan yang lelah.
Malam itu Bara tidur di barak yang sesak. Dari kejauhan terdengar suara yang baru pertama kali ia dengar, dentuman dalam yang membuat tanah bergetar pelan, seperti jantung raksasa yang sakit. Tio di sampingnya berbisik, "Itu meriam. Masih jauh." Tapi suaranya gemetar.
Bara memejamkan mata dan membayangkan sawahnya, bau jerami, dan wajah ibunya di stasiun. Ia tidak mengerti perang ini. Ia tidak tahu siapa musuhnya, atau kenapa mereka harus saling bunuh. Yang ia tahu hanyalah esok pagi ia akan dibawa ke garis depan, ke tempat di mana, kata Kopral Jaya, fajar adalah waktu paling berbahaya.
Ia menggenggam bungkusan kunyit dari ibunya, dan untuk pertama kalinya dalam hidup, ia berdoa dengan sungguh-sungguh.