Letnan Surya tiba di Bukit 88 tiga hari kemudian, dengan seragam yang masih punya jahitan rapi dan sepatu bot yang baru kotor di bagian bawahnya saja. Ia turun dari kuda di kaki bukit, memandang ke atas dengan tatapan seseorang yang telah mempelajari medan seperti ini di atas peta dan diagram, dan mendaki dengan langkah tegap penuh keyakinan yang belum diuji.
"Siapa yang memimpin posisi ini?" tanyanya begitu mencapai puncak, suaranya jernih dan terlatih.
Bidin meludah ke samping dan menunjuk dengan dagunya pada Bara, yang sedang mengikat ulang perban di lengan seorang prajurit. Surya menatap Bara — lumpur kering di wajahnya, seragam koyak, peringkat yang bahkan tak ada — dengan kebingungan yang tak ia sembunyikan dengan baik.
"Kau?" tanya sang letnan. "Pangkatmu?"
"Tidak ada, Letnan." Bara berdiri, menyelesaikan simpul perban. "Kopral Jaya menyerahkan komando padaku sebelum dia diangkut. Yang lain mengikuti."
Surya mengangguk, tapi ada sesuatu di rahangnya yang mengeras. "Aku ditugaskan komandan posisi ini terhitung sekarang. Aku menghargai apa yang telah kalian lakukan — laporan yang kuterima luar biasa, sungguh — tapi sebuah posisi garis depan butuh komando yang tepat. Struktur. Disiplin." Ia menyapu pandang pada parit-parit yang digali serampangan, pada karung pasir yang ditumpuk seadanya, pada anak-anak yang duduk lelah dengan senapan di pangkuan. "Kita akan membenahi tempat ini sesuai prosedur."
Sepanjang hari-hari berikutnya, Bara mengamati. Ia tak menentang sang letnan — pangkat adalah pangkat, dan ia tahu pemberontakan terbuka tak menyelamatkan siapa pun. Tapi ia mengamati, dan apa yang ia lihat membuat dadanya gelisah. Surya cerdas; itu tak diragukan. Ia tahu sudut tembak ideal, geometri pertahanan, perhitungan jarak. Ia bisa menggambar bidang tembak senapan mesin yang sempurna di atas kertas. Tapi ia memerintahkan anak-anak menggali parit di tempat yang, di atas kertas, ideal — dan yang, dalam kenyataan, adalah cekungan tempat air dan gas berat akan mengendap, tempat seorang penembak jitu di punggung bukit seberang punya garis pandang sempurna saat senja.
"Letnan," kata Bara hati-hati, pada hari kedua, "kalau boleh. Parit di titik itu. Saat matahari turun ke barat, siapa pun yang mengangkat kepala di situ jadi siluet. Penembak jitu mereka sudah menembak dari sana dua kali bulan lalu. Kami kehilangan Reno di garis pandang seperti itu."
Surya menatap petanya, lalu menatap titik yang dimaksud Bara, lalu kembali ke petanya. "Secara taktis, posisi itu yang terbaik untuk menutup pendekatan timur."
"Secara taktis, ya," kata Bara. "Tapi anak-anak yang menggalinya akan mati sebelum sempat memakainya."
Ketegangan menggantung di antara mereka, tipis dan tajam. Surya mengangkat dagunya. "Kau punya pengalaman lapangan, aku menghargai itu. Tapi aku punya pelatihan. Perang tidak dimenangkan dengan firasat, Prajurit. Perang dimenangkan dengan metode."
"Dengan segala hormat, Letnan," kata Bara, dan suaranya tetap rendah, tetap tenang, walau sesuatu mengeras di dalamnya, "perang tidak dimenangkan sama sekali. Cuma dijalani. Dan yang menjalaninya adalah anak-anak ini. Saya cuma minta Letnan dengarkan tanah ini sebelum percaya sepenuhnya pada kertas."
Surya tak menjawab. Ia berbalik dan pergi, dan parit di titik itu tetap digali.
Malam itu, Bara melakukan apa yang ia bisa tanpa menantang sang letnan secara terbuka. Ia mengatur jadwal jaga sedemikian rupa agar tak ada yang mengangkat kepala di titik berbahaya itu saat senja. Ia memberi tahu anak-anak, diam-diam, cara merangkak rendah melewatinya. Ia melindungi mereka dari belakang keputusan yang tak bisa ia batalkan, seperti seorang ibu yang menyembunyikan bahaya dari anak yang terlalu yakin pada dirinya sendiri.
Keyakinan Surya retak untuk pertama kalinya pada senja hari ketiga. Sang letnan, ingin menunjukkan bahwa ia tak takut pada medan yang ia perintahkan, berdiri tegak di parit di titik bermasalah itu untuk memeriksa garis pandang dengan teropongnya. Bara melihatnya dari kejauhan dan jantungnya melonjak. "Letnan, menunduk!" teriaknya, tapi terlambat — sebuah peluru penembak jitu berdesing melintas, begitu dekat sampai menyambar topi Surya dan melemparkannya ke lumpur. Sang letnan jatuh terduduk, wajahnya putih, napasnya tersengal, menatap topinya yang berlubang di tanah dengan mata yang baru pertama kali benar-benar melihat.
Tak ada yang menertawakannya. Tak ada yang berkata "sudah kubilang." Bara hanya merangkak ke sisinya, menariknya lebih dalam ke parit, dan berkata pelan, "Penembak jitu mereka sabar, Letnan. Mereka menunggu satu kesalahan. Itu saja. Satu." Surya menatapnya, dan untuk pertama kalinya tatapan itu tak mengandung keangkuhan, melainkan sesuatu yang lebih dekat dengan rasa takut, dan di balik rasa takut itu, secercah pemahaman. Malam itu parit di titik berbahaya dipindahkan sepuluh langkah ke balik punggung tanah, persis seperti yang Bara sarankan, tanpa sepatah kata pun diucapkan tentang siapa yang benar.
Bidin mendekatinya di kegelapan, menyeringai pahit. "Kau bakal capek, Bara. Ngurusin perwira yang nggak mau dengar tapi tetap harus dijaga supaya nggak bunuh anak orang."
"Aku tahu," kata Bara, menatap siluet Surya yang sedang membungkuk di atas peta dengan lentera, sosok muda yang penuh keyakinan dan belum pernah benar-benar berdarah. "Tapi dia juga belum mati. Dan selama dia belum mati, dia masih bisa belajar." Ia menghela napas. "Jaya pernah bilang, tempat ini bikin orang jadi lebih dari dirinya, atau lebih sedikit. Aku belum tahu Surya yang mana. Belum."
Di parit di bawah bintang-bintang dingin, sang letnan yang belum pernah berdarah terus menggambar garis-garis sempurna di atas kertas, dan Bara terus menjaga garis-garis nyata yang ditarik dengan nyawa.