Bantuan datang dengan dua puluh orang dan empat tandu sungguhan, dipimpin seorang sersan tua dari kompi tetangga yang menatap puncak bukit dengan ekspresi yang campuran antara kagum dan ngeri. "Kalian yang merebut ini?" tanyanya pada Bara, menyapu pandang pada belasan sosok lusuh yang tersisa. "Cuma kalian?"
"Yang tersisa cuma kami," jawab Bara. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri, datar dan jauh.
Mereka mengangkat Jaya pertama, dengan hati-hati, ke tandu yang sebenarnya. Sang sersan tua memeriksanya sekilas, lalu menatap Bara dan tak mengatakan apa-apa, dan ketidakhadiran kata-kata itu lebih berat daripada apa pun yang bisa ia ucapkan. Jaya masih bernapas. Tapi wajahnya seputih kapur, dan tak ada yang mau menjanjikan apa pun.
"Bawa dia secepat mungkin," kata Bara, menggenggam lengan salah satu pengusung. "Tolong. Dia... dia komandan kami. Dia yang membawa kami sejauh ini. Tolong jangan biarkan dia mati di jalan."
Pengusung itu mengangguk, dan mereka membawanya turun, sosok kecil di atas tandu yang menjauh menuruni lereng yang telah menelan begitu banyak. Bara menatap sampai mereka lenyap dalam debu, dan ada bagian dirinya yang ingin ikut, ingin berlari di samping tandu itu sepanjang jalan ke belakang garis. Tapi ia tak bisa. Ia tak boleh. Ada anak-anak di bukit ini yang masih menjadi tanggung jawabnya.
Sang sersan tua mendekatinya sebelum kembali ke barisannya. "Kau yang pegang sini sampai komando mengirim perwira," katanya, bukan sebagai pertanyaan. Ia menatap Bara dengan sesuatu yang menyerupai belas kasih. "Aku sudah lihat banyak bukit direbut, Nak. Tapi belum pernah lihat yang ditahan semalaman oleh anak-anak tanpa komandan, tanpa mantri, dengan amunisi habis. Apa pun yang kau lakukan tadi malam, teruskan." Lalu ia pergi, dan kata-katanya menggantung di udara panas, terasa lebih seperti beban daripada pujian. Sebab Bara tahu apa yang sesungguhnya dimaksud: bahwa ia tak boleh berhenti. Bahwa berhenti adalah kemewahan yang tak lagi miliknya.
Sepanjang pagi, sementara bala bantuan memperkuat posisi dan menggali ulang parit pertahanan menghadap balik bukit, Bara melakukan tugas yang paling menghancurkan dari semua tugas. Ia mendata yang gugur.
Ia mengeluarkan buku catatan kecil yang dulu milik Pak Darmo — buku yang dipakai lelaki tua itu untuk mencatat ukuran kayu ukirannya — dan membalik ke halaman kosong. Lalu ia berjalan menyusuri lereng, dari satu tubuh ke tubuh berikutnya, berlutut di sisi masing-masing, dan mencatat. Bukan sekadar jumlah. Nama. Ia bersikeras pada nama.
Sebagian ia kenal baik. Sebagian baru bergabung beberapa hari lalu, wajah-wajah yang belum sempat ia akrabi. Untuk yang itu, ia harus bertanya pada yang masih hidup, mengumpulkan kepingan-kepingan: dari mana asalnya, siapa yang ditinggalkannya, apa yang pernah ia katakan. Ada yang punya istri di kampung jauh. Ada yang masih remaja, yang memalsukan usianya agar bisa mendaftar. Ada yang tak ada satu pun yang tahu nama lengkapnya, dan itu, entah kenapa, adalah yang paling menyakitkan dari semua.
"Kenapa Abang catat semuanya?" tanya Marsudi, mengikutinya dengan mata merah. "Markas cuma butuh jumlahnya."
Bara berhenti, menatap halaman yang penuh dengan tulisan tangannya yang kasar. "Karena buat markas, mereka angka," katanya. "Tapi buat kita, mereka punya nama. Dan selama ada yang ingat namanya..." Ia tak menyelesaikan. Marsudi mengangguk pelan; anak itu sudah cukup lama bersama mereka untuk tahu akhir kalimat itu.
Menjelang siang, Bara duduk di atas batu di puncak, buku catatan terbuka di pangkuannya, dan menghitung. Mereka berangkat menyerang Bukit 88 dengan tiga puluh dua orang. Yang masih bisa berdiri di puncak ini kurang dari selusin, dan Jaya bukan salah satunya. Ia menatap deretan nama, dan menyadari sesuatu yang membuat perutnya dingin.
Mereka kini menatap padanya. Semua yang tersisa. Bidin, yang lebih tua dan lebih berpengalaman, menunggu perintahnya. Marsudi dan Wira dan yang lain, anak-anak yang ketakutan, mencari arah dari wajahnya. Bahkan bala bantuan, walau secara pangkat mereka tak berkewajiban, secara naluri memperlakukannya sebagai yang memegang bukit ini. Tanpa keputusan resmi, tanpa pengangkatan, tanpa pita di pundak, Bara telah menjadi pemimpin mereka. Pemimpin de facto belasan nyawa.
Beban itu turun ke pundaknya bukan sebagai kehormatan, melainkan sebagai sesuatu yang nyaris meremukkan. Ia ingat wajah Jaya, lelah dan tua, dan kini ia mengerti dari mana keletihan itu berasal. Bukan dari pertempuran. Dari ini. Dari mengetahui bahwa setiap perintahnya akan menambah atau mengurangi nama di buku catatan ini.
Komandan, si kucing maskot, entah bagaimana telah ikut dalam karung perlengkapan bala bantuan — seseorang di parit belakang pasti memasukkannya — dan kini melompat ke pangkuan Bara, mendengkur, menggosokkan kepalanya ke buku catatan yang penuh nama-nama orang mati. Bara mengusapnya, dan menatap ke arah belakang garis, ke arah ke mana tandu Jaya telah dibawa.
Ia menutup buku catatan itu dan menyimpannya di dalam mantel, di sebelah foto istri dan putri Jaya, di sebelah surat yang belum datang dan serbuk kunyit dari ibunya. Begitu banyak benda kecil yang ia bawa kini, masing-masing adalah sebuah nama, masing-masing adalah seseorang yang menunggu di suatu tempat atau takkan menunggu lagi. Pundaknya terasa berat bukan oleh ransel, melainkan oleh semua ini — oleh ingatan yang ia pilih untuk panggul agar tak ada yang benar-benar hilang.
"Aku akan membawa mereka pulang, Pak," bisiknya pada angin, ke arah belakang garis tempat tandu Jaya telah lenyap. "Aku janji. Aku cuma... aku cuma belum tahu caranya." Lalu, lebih pelan, hampir pada dirinya sendiri: "Tapi dulu Bapak juga belum tahu. Dan Bapak tetap melakukannya."