Jumat pagi Tri menyelesaikan pendaftaran kuliah tata boga kelas pekerja. Sesudah berkas dinyatakan lengkap, ia membayar sembilan ratus ribu untuk pendaftaran serta angsuran awal sesuai rincian yang diterima. Dari tabungan baru satu juta delapan ratus ribu, tersisa sembilan ratus ribu untuk membantu kebutuhan belajar berikutnya. Ia membawa bukti pembayaran dan jadwal pulang dengan senyum yang terus muncul meskipun jalan sedang ramai.
Di rumah ia memperlihatkan kertas itu kepada Aki serta Nini. Perempuan tua itu meminta nama lengkapnya dibacakan, lalu mengangguk bangga. Tri mengulang namanya sambil tertawa, mendengar keinginan lama itu kini mempunyai tempat yang benar-benar akan didatanginya.
Adam menemuinya sesudah kegiatan kampus. Ia mendengarkan cerita mengenai kelas yang akan dimulai, kemudian meminta waktu berbicara lebih serius. Pada Minggu yang sama, sesudah jualan dalam pembukaan susunan baru lapak, ia ingin datang bersama Engkong untuk menyampaikan lamaran kepada keluarga, jika Tri sendiri memang bersedia.
'Saya bersedia,' jawab gadis itu setelah mendengarkan sampai selesai. 'Tapi kuliah kita tetap berjalan. Saya baru berhasil mendaftar, jangan disuruh berhenti lagi.'
'Aku justru ingin mendengar keluhan tugasmu nanti.'
Tri tertawa. Mereka sepakat membicarakan persiapan pernikahan sederhana untuk tahun berikut, dengan waktu serta biaya yang disusun bersama. Sesudah keputusan berdua itu jelas, barulah keluarga dihubungi. Ujang serta Asih datang dari Katumbiri pada Sabtu. Emak menumpang bersama Tri, sedangkan Bapak beristirahat di rumah Engkong agar kontrakan tidak terlalu penuh.
Minggu pagi papan Pancake Tiga kembali terpasang dengan tulisan yang lebih terang. Tempatnya tetap lapak lama di bangunan pujasera milik Adam. Rak yang diperbaiki dari anggaran enam ratus ribu membuat wadah lebih mudah diambil, bukan mengubahnya menjadi toko besar yang tak sanggup diurus sendiri. Mang Ucup menilai warna baru terlalu mencolok, lalu mengaku sebenarnya membantu orang menemukan jalan menuju mi ayamnya juga.
Tri menyalakan kompor sambil tertawa. Pesanan pertama datang sebelum ia selesai merapikan kantong. Emak membantu bagian yang sudah ditunjukkan, tidak mengubah jumlah porsi tanpa bertanya. Bapak mengambilkan kursi untuk Nini, yang datang bersama Aki setelah perjalanan pendek dari kontrakan.
Perempuan tua itu tetap memakai kursi roda untuk berpindah lebih jauh. Saat hendak berganti tempat duduk, ia berdiri dan melangkah sedikit dengan bantuan. Aki serta Tri mendampingi sampai ia duduk nyaman. Kemajuan itu membuat mereka senang, tetapi Nini masih perlu bantuan dan tindak lanjut yang tidak berhenti hanya karena hari ini ada perayaan.
'Sekarang Nini bisa melihat kamu memarahi pembeli dari tempat bagus,' katanya.
'Saya tidak memarahi pembeli, Ni.'
'Kalau begitu, siapa yang tadi kamu suruh jangan memiringkan kotak?'
Adam mengangkat tangan dari dekat rak. Semua orang tertawa. Pemuda itu mengeluh namanya selalu menjadi jawaban ketika ada orang salah memegang barang. Tri menyerahkan kantong berikut dengan senyum yang membuat keluhan itu berhenti sebelum selesai.
Tama datang bersama Shinta dan kedua anak mereka setelah suasana pagi mulai reda. Ia menanyakan kebutuhan tambahan, lalu benar-benar membantu memindahkan wadah ketika diberi tugas. Tidak ada permintaan agar Tri menutup lapak untuk melayani semua keluarga lebih dulu. Dwi menghubungi lewat panggilan video dari Yogya, mendengar kabar pendaftaran dan mengucapkan selamat sebelum kembali pada kegiatannya.
Lucky datang membawa anaknya serta satu kotak brownies untuk dibagikan. Ia melihat papan baru, menyapa keluarga yang dikenalnya, kemudian menanyakan jadwal pengiriman delapan kotak berikutnya. Tri memastikan hari yang sudah disepakati, lalu menerima ucapan selamat atas kuliahnya. Hubungan kerja mereka kini dapat dibicarakan tanpa jawaban cinta yang masih menggantung di tengahnya.
Anak Lucky menunjuk cetakan dan bertanya apakah pancake akan dibalik sekarang. Tri memperlihatkan dari jarak yang aman, membuatnya tertawa ketika bentuk kecil itu berpindah rapi. Lucky memegang bahu anaknya agar tidak mendekat, lalu mengucapkan salam sebelum kembali mengurus keperluan mereka. Brownies tinggal di meja untuk dibagi sesudah pekerjaan selesai.
Menjelang siang, jumlah yang disiapkan habis. Tri menolak tambahan pesanan yang tidak bisa dipenuhi, menawarkan hari berikut, lalu mematikan kompor. Ia mencuci alat dan menghitung hasil sebelum mengajak keluarga kembali ke kontrakan. Tidak ada tumpukan makanan yang dibiarkan menunggu karena semua orang terlalu sibuk merayakan hubungan baru.
Sesudah mereka makan dan ruangan dirapikan, Engkong duduk bersama Aki serta Ujang. Adam menyampaikan lamaran dengan suara yang sempat tersangkut pada awal kalimat. Tri menahan senyum, tetapi tidak menertawakannya. Ia mengetahui pertanyaan itu sudah disampaikan kepada dirinya lebih dulu; sekarang keluarga mendengar pilihan yang sama dari keduanya.
Ujang menanyakan apakah Tri bersedia. Gadis itu menjawab ya tanpa menunggu Emak mengarahkan. Bapak mengangguk, menerima rencana mereka, lalu meminta keduanya tetap menyelesaikan pembicaraan waktu serta kebutuhan dengan terbuka. Asih mengusap mata ketika menyebut ia senang melihat anaknya memilih sendiri. Ia tidak meminta tambahan uang atau mengganti keputusan dengan nama lelaki lain.
Aki menyampaikan restunya, dan Nini menyuruh Adam menjaga ucapan jika sedang kesal. Pemuda itu mengangguk, kemudian menjawab ia juga ingin Tri menegur ketika dirinya keliru. Engkong langsung mengatakan cucunya sudah mendapat latihan cukup banyak dari satu lapak pancake. Tawa kembali memenuhi ruangan kecil, membuat ketegangan Adam akhirnya surut.
Sore itu mereka membagi brownies yang dibawa Lucky. Engkong menawarkan sepotong durian kepada cucunya dengan gaya seorang pedagang yang belum menyerah. Adam menolak sambil mencari porsi vanila yang disisihkan Tri. Gadis itu menyerahkan wadahnya, lalu mengambil brownies untuk dirinya sendiri.
'Jadi saya tetap kalah sama vanila?' gerutu Engkong.
'Buah Engkong tetap laku, Kong. Tidak harus masuk perut Adam semua,' sahut Tri.
Ia tertawa bersama mereka, melihat Aki membantu Nini, Emak membereskan piring, dan Bapak bertanya kepada Tama tentang pekerjaan yang sedang dicari. Hidup belum selesai dikerjakan. Namun utang Kardi telah ditutup, pinjaman perawatan lunas, langkah kuliah terbuka lewat pendaftaran yang dibayar sendiri, dan orang yang dipilihnya duduk dekat dengan senyum yang dikenalnya. Tri Kekasih Hati tidak lagi menunggu namanya diberikan kepada siapa pun sebagai pembayaran. Ia sudah mengucapkan jawabannya sendiri.
TAMAT