✨ BAB 3 — Mantan Kembali Mengganggu
Mobil melaju pelan memasuki perumahan tempat Seo-hwa tinggal — kawasan yang tenang, dipenuhi pepohonan rindang dan lampu jalan yang remang-remang. Di sepanjang jalan, hujan masih turun rintik-rintik, membasahi dedaunan yang berkilauan terkena cahaya lampu. Keheningan kembali menyelimuti kabin mobil, namun kali ini bukan keheningan yang canggung — melainkan keheningan yang penuh perasaan, seakan keduanya enggan mengakhiri waktu singkat yang baru saja mereka miliki.
Seo-hwa menatap ke luar jendela, melihat rumah-rumah yang berlalu-lalang. Hatinya terasa penuh namun juga berat — penuh karena untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun seseorang benar-benar memperhatikannya, namun berat karena ia tahu betapa rumitnya jalan yang baru saja ia mulai pijak.
"Ini rumahmu?" tanya Min-joon pelan, saat mobil berhenti di depan sebuah rumah dua lantai yang sederhana namun rapi, halamannya dipenuhi tanaman bunga yang kini terlihat basah dan layu terkena hujan.
Seo-hwa mengangguk pelan. "Ya. Terima kasih sudah mengantarku." Ia meraih gagang pintu, namun tangannya berhenti di udara saat suara Min-joon terdengar lagi.
"Seo-hwa."
Ia menoleh. Pria itu menatapnya dengan tatapan yang begitu lembut namun juga begitu serius, seakan ada sesuatu yang berat ingin ia ucapkan namun tertahan di tenggorokan.
"Besok... boleh aku datang lagi?" tanyanya pelan, suaranya rendah seakan ia takut mendengar jawaban tidak. "Bukan untuk apa-apa. Hanya untuk memastikan kau baik-baik saja."
Seo-hwa terdiam. Pertanyaan itu begitu sederhana, namun jawabannya terasa begitu berat. Logikanya berteriak menolak — ini terlalu cepat, terlalu berisiko, terlalu... semuanya. Tapi hatinya, hati yang selama tujuh tahun kelaparan akan kasih sayang dan perhatian, berbisik lembut: biarkan dia datang.
"Aku..." ia menelan ludah, matanya tak berani bertemu dengan tatapan pria itu terlalu lama. "Aku belum tahu, Min-joon. Beri aku waktu."
"Baik," jawabnya tanpa ragu, tanpa kecewa. "Aku akan menunggu. Selama yang kau butuhkan."
Kata-kata itu begitu tulus, begitu tenang, hingga Seo-hwa merasa dadanya terasa hangat. Ia membuka pintu mobil, udara dingin malam langsung menyambutnya. Sebelum turun, ia menoleh sekali lagi. "Terima kasih. Untuk malam ini. Untuk semuanya."
Min-joon tersenyum — senyum yang hangat dan membuat jantungnya berdebar lagi. "Hati-hati, Noona. Kunci pintunya baik-baik."
Seo-hwa turun dari mobil, berlari kecil menuju pintu rumah. Ia tidak menoleh ke belakang, takut kalau ia menoleh, ia akan kembali dan masuk ke dalam mobil itu lagi. Pintu terbuka, ia masuk ke dalam rumah yang gelap dan dingin, lalu menutup pintu rapat-rapat di belakangnya. Dari balik tirai jendela, ia melihat mobil itu tetap diam di sana beberapa saat, sebelum akhirnya perlahan melaju pergi.
Seo-hwa bersandar di pintu, menutup matanya. Napasnya masih terasa tidak beraturan. Apa yang baru saja terjadi? batinnya. Apakah ini mimpi? Atau aku benar-benar bertemu seseorang seperti dia?
Namun keheningan rumah itu segera menyadarkannya kembali. Rumah ini — rumah yang dulu ia bangun bersama, yang dulu penuh tawa dan rencana masa depan — kini terasa kosong, terlalu besar untuk satu orang. Di sudut ruang tamu, foto pernikahan mereka yang dulu berdiri gagah di atas meja, kini sudah terbalik menghadap ke bawah. Seo-hwa membiarkannya begitu — belum sanggup melihat wajah itu, belum sanggup mengingat janji-janji yang ternyata kosong.
Ia berjalan pelan ke dapur, menuang segelas air, lalu duduk di kursi meja makan yang panjang dan sepi. Hatinya masih berdebar — sebagian karena Min-joon, sebagian lagi karena ketakutan akan masa depan yang kini terasa begitu samar.
Namun ketenangannya tak berlangsung lama.
Bel pintu berbunyi.
Seo-hwa menegang. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Siapa yang datang di jam seperti ini? Min-joon? Tidak, tadi ia sudah pergi. Ia berjalan perlahan ke pintu, matanya mengintip melalui lubang kunci — dan darahnya seketika membeku.
Di luar sana, berdiri sosok pria yang tak ingin ia temui seumur hidupnya.
Ji-hoon. Mantan suaminya.
Seo-hwa mundur selangkah, napasnya tercekat. Apa yang dia lakukan di sini? Bukankah semuanya sudah berakhir? Bukankah surat cerai itu sudah menandakan selesainya semuanya?
Bel berbunyi lagi, kali ini lebih lama dan lebih keras. Lalu suara — suara yang dulu begitu ia kenal, suara yang dulu membuatnya merasa aman, kini terdengar mendesak dan tajam.
"Seo-hwa! Aku tahu kau ada di dalam! Buka pintunya!"
Seo-hwa menutup telinganya dengan tangan, berharap suara itu akan hilang. Tapi pria itu tidak berhenti. Ia mulai mengetuk pintu — bukan ketukan sopan, melainkan ketukan yang keras dan berirama, seakan ia berniat memecahkan pintu itu.
"Seo-hwa! Buka! Kita harus bicara! Ini belum selesai!"
Dengan tangan gemetar, Seo-hwa membuka kunci pintu, lalu menariknya perlahan. Ji-hoon langsung masuk tanpa diundang, mendorong pintu itu terbuka lebar. Wajahnya merah padam, matanya merah, napasnya berbau alkohol yang menyengat. Ia tampak berantakan — rambutnya berantakan, kemejanya kusut, dan tatapannya bukan tatapan pria yang menyesal, melainkan tatapan orang yang kehilangan kendali.
"Kau..." suara Seo-hwa bergetar, ia mundur selangkah menjauh darinya. "Apa yang kau lakukan di sini? Kita sudah bercerai, Ji-hoon. Semuanya sudah berakhir."
"Berakhir?" Ji-hoon tertawa sinis, suara tawanya kasar dan menakutkan. "Kau pikir semudah itu berakhir? Tujuh tahun, Seo-hwa! Tujuh tahun hidup bersama, dan kau pikir dengan tanda tangan di atas kertas, semuanya hilang begitu saja?"
"Aku sudah cukup menderita, Ji-hoon," ucapnya tegas, meski kakinya gemetar hebat. "Kau sendiri yang meminta ini. Kau sendiri yang bilang kau tidak bahagia bersamaku. Sekarang kau pergi, dan biarkan aku hidup tenang."
"Tenang?" Ji-hoon melangkah mendekat, membuat Seo-hwa mundur hingga punggungnya menabrak dinding. "Kau mau hidup tenang bersama siapa? Pemuda itu? Pria yang tadi mengantarmu pulang? Kau sudah menggantiku begitu cepat, hah?"
Seo-hwa terkejut. "Kau... kau melihatnya?"
"Tentu saja aku melihatnya!" Ji-hoon membentak, suaranya menggema di ruang tamu yang sepi itu. "Aku menunggumu di sini sejak tadi! Menunggu untuk melihat siapa yang membawamu pulang! Dan ternyata — anak kecil! Pria yang bahkan belum cukup umur untuk mengerti apa itu rumah tangga! Dan kau... kau wanita yang sudah bercerai, berusia dua puluh sembilan tahun, dan kau terlihat begitu bahagia bersamanya! Memalukan!"
Kata-kata itu menghantam Seo-hwa seperti pukulan keras di wajahnya. Memalukan. Itulah yang ia takutkan. Itulah yang selalu ia rasakan — bahwa ia tidak pantas, bahwa ia salah, bahwa apa yang ia lakukan itu keliru.
"Dia bukan sekadar anak kecil," jawabnya pelan, namun ia berusaha keras agar suaranya terdengar tegas. "Dan apa yang aku lakukan bukan urusanmu lagi. Kita sudah berpisah, Ji-hoon. Kau tidak berhak mengatur hidupku."
"Siapa bilang tidak berhak?" Ji-hoon mengangkat tangannya, dan Seo-hwa menutup wajahnya dengan kedua tangan, bersiap menerima pukulan yang dulu sering ia terima saat pria itu sedang marah. Namun pukulan itu tidak datang. Ji-hoon menurunkan tangannya dengan kasar, menunjuk wajahnya dengan jari telunjuk yang gemetar karena amarah. "Kau milikku, Seo-hwa! Kau selalu milikku! Tidak peduli apa pun surat itu katakan! Tidak peduli siapa pria itu!"
"Aku bukan milik siapa-siapa!" Seo-hwa berteriak, air mata akhirnya jatuh. "Aku bukan barang! Dan kau... kau yang melepaskanku! Kau yang bilang aku tidak pernah cukup baik untukmu! Sekarang kau datang kembali dan bilang aku milikmu? Apa yang sebenarnya kau mau, Ji-hoon?"
Ji-hoon terdiam sejenak, napasnya memburu. Tatapannya berubah — dari amarah menjadi sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih gelap dan lebih menakutkan. "Aku mau kau kembali, Seo-hwa. Aku menyesal. Aku salah. Kita bisa mulai lagi. Lupakan surat itu. Lupakan pemuda itu. Kita bisa kembali seperti dulu."
"Seperti dulu?" Seo-hwa tertawa pahit, air mata terus mengalir di pipinya. "Seperti dulu di mana aku sendirian di rumah menunggumu pulang? Di mana kau pulang larut malam dan marah-marah tanpa alasan? Di mana aku merasa tidak berharga setiap hari? Tidak, Ji-hoon. Aku tidak mau kembali seperti itu. Lebih baik sendirian daripada bersama orang yang membuatku merasa tidak ada."
Kata-kata itu memicu kemarahan Ji-hoon. Wajahnya memerah, dan ia mengangkat tangannya lagi — kali ini dengan niat yang jelas. Seo-hwa memejamkan matanya, bersiap menerima. Namun pukulan itu tetap tidak datang.
Terdengar suara ketukan keras di pintu depan, lalu — suara yang membuat keduanya menegang.
"Seo-hwa! Buka pintunya! Aku tahu kau di dalam!"
Suara itu — rendah, berat, namun penuh kekuatan dan ketegasan. Suara yang baru saja ia dengar beberapa jam yang lalu, namun kini terdengar seperti harapan yang datang di saat paling gelap.
Min-joon.
Ji-hoon menoleh ke arah pintu, matanya menyipit. "Siapa itu? Pria itu?"
Seo-hwa segera membuka pintu sebelum Ji-hoon sempat mencegahnya. Di sana, berdiri Min-joon — rambutnya sedikit basah karena hujan, napasnya sedikit memburu seakan ia berlari, dan tatapannya... tatapannya begitu tajam dan penuh ancaman saat melihat Ji-hoon di dalam rumah itu.
"Apa yang sedang terjadi di sini?" tanyanya, suaranya tenang namun dingin, begitu dingin hingga suhu ruangan seakan turun beberapa derajat. Ia melangkah masuk, berdiri di samping Seo-hwa, melindunginya di balik tubuhnya yang tinggi dan kekar. "Kau baik-baik saja, Noona?"
Seo-hwa mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. "Dia... dia datang tiba-tiba."
Min-joon menatap Ji-hoon — dari atas ke bawah, tanpa rasa takut sedikit pun, meski Ji-hoon lebih tua dan lebih dulu mengenalnya. "Kau harus pergi. Sekarang."
"Siapa kau untuk menyuruhku pergi?" Ji-hoon maju selangkah, dadanya membusung. "Aku suaminya!"
"Bukan lagi," potong Min-joon dengan tegas, tanpa meninggikan suara namun kata-katanya terasa seperti palu yang menghantam lantai. "Mereka sudah bercerai. Dan kau tidak berhak masuk ke sini tanpa izin, apalagi membuatnya takut. Sekarang — pergi. Sebelum aku memanggil polisi."
Ji-hoon tertawa sinis, namun tawanya terdengar kurang yakin. Ia melihat wajah Min-joon — melihat ketegasan di sana, melihat kekuatan yang terpancar dari tubuh pria muda itu, dan untuk pertama kalinya ia merasa kecil di hadapan seseorang yang jauh lebih muda darinya.
"Kau pikir kau menang?" ucap Ji-hoon, menatap Seo-hwa dengan tatapan penuh kebencian dan penyesalan. "Dia akan meninggalkanmu juga, Seo-hwa. Sama seperti aku. Tidak ada yang bisa bertahan bersamamu selamanya."
"Pergi," ucap Min-joon sekali lagi, kali ini satu kata yang penuh penekanan, membuat Ji-hoon mundur selangkah.
Dengan wajah yang penuh amarah dan rasa malu, Ji-hoon berjalan keluar dari rumah itu. Di ambang pintu, ia berhenti sejenak, menatap Seo-hwa untuk terakhir kalinya. "Kau akan menyesal ini."
Lalu ia pergi, menghilang ke dalam kegelapan malam.
Pintu tertutup. Keheningan kembali menyelimuti ruangan — namun kali ini keheningan yang aman, keheningan yang terlindungi. Seo-hwa berdiri diam, tubuhnya masih gemetar hebat, hingga sepasang tangan hangat perlahan memeluk bahunya.
"Sudah selesai," bisik Min-joon lembut di dekat telinganya. "Dia sudah pergi. Dan dia tidak akan berani kembali. Tidak selama aku di sini."
Seo-hwa menengadah, menatap wajah pria itu — matanya yang penuh kekhawatiran namun juga penuh ketegasan, bibirnya yang terkatup rapat menahan amarah demi dirinya. Tanpa sadar, ia memeluk pinggangnya erat, menempelkan wajahnya ke d**a bidang pria itu — mendengar detak jantungnya yang kuat dan teratur, merasakan kehangatan tubuhnya yang memancar, dan di detik itu, di pelukan yang begitu aman dan begitu melindungi, air mata Seo-hwa jatuh kembali — bukan karena takut, tapi karena untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar dilindungi.
"Terima kasih," isaknya pelan, suaranya teredam di d**a kemeja putihnya. "Kau... kau kembali."
Min-joon mengusap punggungnya dengan lembut, mencium puncak kepalanya dengan penuh kasih sayang. "Aku sadar aku meninggalkanmu sendirian. Itu kesalahanku. Dan aku takkan mengulanginya lagi. Sejak malam ini, Seo-hwa — aku takkan membiarkan siapa pun menyakitimu. Termasuk mantan suamimu."
Seo-hwa mendongak, menatapnya dengan mata yang masih basah namun kini mulai bersinar dengan harapan baru. "Mengapa? Mengapa kau melakukan semua ini untukku? Kita bahkan belum saling kenal dengan baik."
Min-joon menatapnya dalam-dalam, jari-jemarinya menyentuh pipinya yang basah oleh air mata. "Karena sejak pertama kali melihatmu, aku tahu — kau adalah wanita yang pantas diperjuangkan. Dan aku takkan menyerah begitu saja, Noona. Tidak padamu. Tidak pada kita."
Di ruang tamu yang hangat itu, di bawah cahaya lampu yang lembut, di pelukan pria yang baru saja ia kenal namun terasa lebih dekat daripada siapa pun — Seo-hwa menyadari satu hal.
Perjuangannya belum berakhir. Justru — perjuangan mereka baru saja dimulai.