✨ BAB 2 — Tatapan yang Membakar
Keheningan di antara mereka terasa berat namun bukan karena canggung — melainkan karena sesuatu yang lain, sesuatu yang hangat dan membara, seakan udara di meja itu perlahan menipis. Seo-hwa menatap tangan pria itu yang menutupi punggung tangannya — jari-jemarinya panjang, kekar, hangat, dan begitu lembut seakan ia sedang memegang sesuatu yang paling rapuh di dunia. Ia tak menarik tangannya. Entah kenapa, ia tak sanggup.
Min-joon perlahan menarik tangannya kembali, namun tatapannya tak pernah berpaling sedikit pun. "Sudah berapa lama kau duduk di sini sendirian, Noona?" tanyanya lembut, suaranya rendah dan berat, bergema di d**a Seo-hwa hingga jantungnya berdebar kencang.
"Entahlah," jawabnya pelan, matanya tak berani menatapnya terlalu lama. "Waktu terasa berhenti sejak tadi."
"Karena kau sendirian," ucapnya tenang, namun ada kepastian dalam nada bicaranya. "Kau tak perlu sendirian malam ini. Tidak saat kau sedang terluka seperti ini."
Seo-hwa mendongak, menatapnya dengan mata yang masih berkaca-kaca. "Kau tidak mengerti. Hidupku baru saja hancur. Aku bukan wanita yang pantas kau dekati. Aku..." suaranya pecah, ia menelan ludah dengan susah payah. "Aku baru saja bercerai. Aku berusia dua puluh sembilan tahun, lebih tua darimu, penuh luka masa lalu. Apa yang kau lihat padaku?"
Min-joon condong ke depan, jarak di antara wajah mereka semakin dekat. Seo-hwa bisa mencium aroma tubuhnya — wangi kayu cendana dan jeruk nipis yang segar, bersih, dan maskulin, membuat kepalanya sedikit pening.
"Yang aku lihat?" bisiknya, matanya menatap lurus ke dalam mata Seo-hwa, seakan bisa melihat sampai ke kedalaman jiwanya. "Aku melihat wanita yang cantik, yang kuat, yang selama bertahun-tahun menyembunyikan cahayanya demi orang lain. Aku melihat wanita yang tulus, yang baik, yang pantas dicintai sepenuhnya — bukan separuh, bukan seadanya, tapi seluruhnya."
Napas Seo-hwa tertahan. Kata-kata itu — begitu indah, begitu tepat, hingga ia merasa matanya kembali panas. Tak ada yang pernah berkata seperti itu padanya. Tak ada yang pernah melihatnya seperti itu.
"Kau tak tahu apa-apa tentangku," bisiknya, berusaha keras menahan getaran di suaranya.
"Maka biarkan aku mengenalmu," jawab Min-joon tanpa ragu. "Satu per satu. Pelan-pelan. Selama kau bersedia."
Saat ia berbicara, Seo-hwa tanpa sengaja menatap ke arah dadanya. Kemeja putihnya yang rapi terlihat sedikit menegang di bagian d**a, menonjolkan otot-otot yang keras dan terbentuk sempurna — bidang, kokoh, bergerak perlahan setiap kali ia menarik napas. Napas Seo-hwa tercekat. Ia buru-buru menunduk, pipinya terasa memanas.
Min-joon menyadari ke mana pandangannya jatuh. Sudut bibirnya terangkat sedikit — bukan senyum sombong, melainkan senyum yang penuh pengertian dan sesuatu yang lain, sesuatu yang membuat jantung Seo-hwa berpacu lebih cepat.
"Kau melihatnya?" tanyanya pelan, suaranya rendah dan sedikit serak, seakan ia sengaja menurunkan volume agar hanya mereka berdua yang bisa mendengar.
Seo-hwa mendongak dengan cepat, matanya membelalak. "Aku... aku tidak bermaksud..."
"Tidak apa-apa," potongnya lembut, namun tatapannya semakin membara. "Aku senang kau melihatnya. Semua ini..." ia menunjuk dirinya sendiri dengan gerakan kepala yang halus, "...bukan untuk siapa pun selain kau, Seo-hwa."
Kata-kata itu begitu lugas, begitu jujur, hingga Seo-hwa tak mampu menjawabnya. Ia hanya diam, menatapnya dengan campuran rasa takut, kagum, dan sesuatu yang lain — sesuatu yang membuatnya ingin mendekat, bukan menjauh.
Min-joon berdiri perlahan, dan tubuhnya yang tinggi besar berdiri tegak di hadapannya. Kemeja yang dikenakannya menempel rapat di tubuhnya, memperlihatkan siluet tubuh yang atletis — bahu lebar yang menyempit ke pinggang, d**a bidang, dan di balik kain yang tipis itu, garis perutnya yang berbentuk kotak-kotak tercetak jelas. Seo-hwa menelan ludah tanpa sadar. Pria muda di hadapannya ini bukan hanya tampan — ia memancarkan kekuatan, kehadiran yang tak bisa diabaikan, dan daya tarik yang membuat lututnya terasa lemas.
"Malam semakin larut," ucapnya, mengulurkan tangan kembali. "Izinkan aku mengantarmu pulang. Aku tidak tenang membiarkanmu pulang sendirian di malam seperti ini."
Seo-hwa menatap tangannya yang terulur, lalu mendongak menatap wajahnya. Ia tahu ia seharusnya menolak. Ia tahu ini terlalu cepat, terlalu berisiko, terlalu... semuanya. Tapi saat itu, di tengah kafe yang mulai sepi, di bawah cahaya lampu yang hangat, ia merasa — untuk pertama kalinya sejak bercerai — ada seseorang yang benar-benar peduli padanya.
Ia meletakkan tangannya di atas telapak tangan pria itu.
Jari-jemarinya menggenggam tangannya dengan lembut namun kokoh, hangat, dan begitu aman. Seo-hwa berdiri perlahan, dan saat mereka berdiri berhadapan begitu dekat, ia menyadari — kepalanya hanya sampai sebatas d**a pria itu. Ia bisa merasakan panas tubuhnya yang memancar keluar, bisa mendengar detak jantungnya yang kuat dan teratur di balik d**a bidang itu.
"Terima kasih," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar.
Min-joon tersenyum — senyum yang tulus, hangat, dan membuat hatinya berdebar aneh. "Sama-sama, Noona."
Mereka berjalan keluar dari kafe itu berdampingan. Hujan masih turun deras, menciptakan tirai air di depan pintu keluar. Min-joon membuka payung besar yang entah sejak kapan ia siapkan, lalu menaungi keduanya. Payung itu cukup besar, namun jarak di antara mereka tetap begitu dekat — bahu mereka saling bersentuhan setiap kali melangkah, dan setiap sentuhan itu terasa seperti aliran listrik yang menjalar ke seluruh tubuh Seo-hwa.
Mereka berjalan menuju mobil yang terparkir tak jauh dari sana — sedan hitam mewah yang tampak baru dan berkilauan terkena cahaya lampu jalan. Min-joon membukakan pintu untuknya, dan saat Seo-hwa masuk ke dalam, ia menunduk sedikit, tanpa sengaja pandangannya jatuh ke leher pria itu — kulit yang bersih, dan di balik kemeja yang terbuka dua kancing bagian atas, ia bisa melihat sedikit bagian d**a yang berotot dan berwarna kecokelatan. Ia buru-buru masuk ke dalam mobil dan duduk, menatap ke depan dengan napas yang masih tak teratur.
Min-joon masuk ke sisi pengemudi, menyalakan mesin, dan mobil itu meluncur perlahan ke jalan raya. Di dalam mobil yang hangat itu, keheningan kembali menyelimuti mereka — namun bukan keheningan yang kaku. Ada sesuatu yang mengalir di antara mereka, sesuatu yang baru saja tumbuh dan mulai mengakar.
"Apakah kau sudah makan malam?" tanya Min-joon tiba-tiba, matanya tetap melihat ke depan, namun suaranya lembut dan penuh perhatian.
Seo-hwa menggeleng pelan. "Belum. Aku tidak lapar."
"Kau harus makan," katanya lembut namun tegas. "Tubuhmu butuh kekuatan, apalagi saat ini."
Seo-hwa tersenyum tipis, senyum pertama yang tulus sejak siang tadi. "Kau sangat perhatian, Min-joon."
"Hanya untukmu," jawabnya pelan, begitu pelan hingga Seo-hwa hampir tidak yakin apakah ia benar-benar mendengarnya.
Mobil melaju di jalanan Seoul yang basah dan berkilauan. Lampu-lampu kota berubah menjadi garis-garis cahaya keemasan dan merah yang meluncur di kaca jendela. Seo-hwa menatap ke luar, membiarkan pikirannya melayang. Di satu sisi ia takut — takut terluka lagi, takut salah memilih, takut ini semua hanyalah mimpi yang akan berakhir buruk. Tapi di sisi lain, ada sesuatu yang menariknya — ke arah pria di sebelahnya, ke arah perhatian yang tulus, ke arah tatapan yang selalu mencari keberadaannya.
Tanpa sadar, ia menoleh ke arah Min-joon. Pria itu sedang menyetir dengan tenang, satu tangan di setir, tangan lainnya bersandar di pintu mobil. Cahaya lampu jalan jatuh ke wajahnya, menonjolkan garis rahang yang tegas dan bibir yang tertutup rapat namun terlihat begitu lembut. Ia tampak tenang, namun matanya sesekali melirik ke arah Seo-hwa, seakan memastikan wanita itu baik-baik saja.
"Kau tahu," ucap Seo-hwa pelan, memecah keheningan. "Aku takut sekali."
Min-joon segera menoleh sebentar, lalu kembali melihat ke depan. "Aku tahu. Dan itu wajar. Tapi kau tidak perlu takut sendirian. Aku di sini."
"Untuk berapa lama?" tanyanya, suaranya bergetar. "Sampai kau bosan? Sampai kau menemukan wanita yang lebih muda, lebih cantik, lebih pantas untukmu?"
Mobil perlahan berhenti di lampu merah. Min-joon mematikan mesin sebentar, lalu berbalik sepenuhnya ke arah Seo-hwa. Tatapannya begitu dalam, begitu serius, hingga Seo-hwa menahan napas.
"Dengarkan aku baik-baik, Seo-hwa," ucapnya tegas namun lembut. "Aku tidak tahu berapa lama. Aku tidak berjanji selamanya sekarang — karena itu terlalu muluk. Tapi aku berjanji satu hal: selama aku di sisimu, kau akan dihargai, dihormati, dan dicintai sepenuhnya. Tidak ada separuh, tidak ada seadanya. Dan kalau suatu hari aku pergi... itu bukan karena kau kurang. Itu karena aku yang belum pantas mendapatkanmu."
Kata-kata itu menghantam hati Seo-hwa lebih keras daripada apa pun yang pernah ia dengar. Matanya kembali berkaca-kaca, dan kali ini ia tidak berusaha menyembunyikannya. Air mata jatuh perlahan di pipinya, dan Min-joon mengulurkan tangan, menyekanya dengan lembut menggunakan punggung jarinya.
"Jangan menangis, Noona," bisiknya. "Air matamu terlalu berharga untuk hal yang menyedihkan."
Seo-hwa menatapnya, dan di detik itu, di dalam mobil yang hangat di tengah malam yang dingin, di lampu merah yang berkedip — ia menyadari satu hal yang mengubah segalanya.
Ia tidak lagi ingin lari. Ia tidak lagi ingin bersembunyi.
Ia ingin mencoba.