Zafira masih bergelut melawan si penjambret ke 2, saat zafira lengah penjambret ke 3 yang wajah nya di lempari minuman oleh zafira menikam punggung zafira, tak lama satpam meringkus semua penjambret itu dan menyerahkan nya ke polisi. zafira tertunduk merasakan sakit pada bahu nya dengan darah terus mengalir pada tangan nya.
Julia menghampiri zafira khawatir, ya ibu ibu yang zafira tolong adalah Julia.
"nak bahu mu terus mengeluarkan, ayo Tante kita ke rumah sakit, Tante takut kamu kenapa Napa". ucap Julia
"tidak apa apa Tante, saya masih kuat ko, Tante tidak apa apa kan ? saya mohon izin pergi duluan".
zafira berlari ke arah motor nya, tidak memperdulikan panggilan Julia yang terus memanggil nya.
zafira pergi mengendarai motornya menuju rumah sakit terdekat. Ia meyakinkan diri bahwa lukanya tidak terlalu parah, meski itu belum dinilai tenaga medis. Dengan wajah pucat menahan sakit, ia tetap memacu motor. Keinginan tidak merepotkan orang membuatnya meremehkan bahaya, keputusan yang kelak ia akui keliru.
sementara di tempat kejadian Julia mengemasi barang barang zafira yang tertinggal, ia segera menghubungi suami nya dan menceritakan kejadian yang dia alami barusan. Julia juga meminta satpam untuk segera mengamankan penjambret itu kepada polisi.
ketika sampai di depan ruang IGD zafira langsung berhenti dan turun di dari motor nya dan segera berlari ke dalam, zafira meminta satpam memarkirkan motor nya di tempat parkir.
"syukurlah luka tusukan nya tidak terlalu dalam, tapi ini cukup lebar jadi membutuhkan beberapa jahitan." jelas dokter.
"ya lakukan saja dok, aku akan baik baik saja".
selesai luka nya di jahit zafira di perbolehkan pulang oleh dokter, dia hanya di beri obat dan d sarankan untuk mengganti perban dua hari sekali. ketika hendak membayar tagihan rumah sakit nya, Zafira kebingungan karena dompet nya ada di dalam tas, dan tas nya tertinggal di depan lobi mall itu.
"suster maaf, apa pembayaran nya bisa lewat mbanking atau Qris, dompet saya tertinggal di tempat kejadian penjambretan tadi".
"mohon maaf kak, tidak bisa, paling disini menyediakan pembayaran menggunakan kartu debit saja selain uang cash".
"ya sudah sus tunggu sebentar".
zafira kembali ke ruang IGD, dia memohon bantuan ke pada dokter yang menangani nya tadi untuk membayarkan dulu biaya nya. dokter pun bersedia membantu nya, setelah mendapatkan obat, zafira segera pulang ke rumah nya, dia fikir besok saja lah menanyakan tas nya yang tertinggal kepada pihak mall.
dengan menahan sakit zafira melajukan motor nya pulang ke rumah.
Julia tergopoh gopoh berjalan ke dalam IGD.
"suster maaf mau tanya apa ada pasien perempuan yang datang kesini dengan luka tusuk di punggung nya". tanya Julia
"apa dia gadis berjilbab army berkemeja army?"
"ahh saya tidak terlalu memperhatikan warna jilbab nya, tapi iya dia memakai kemeja warna army, oh iya dia juga mengendarai motor sport."
"oh seperti nya orang yang ibu cari memang gadis yang baru saja kami tangani, tapi mohon maaf Bu, dia sudah pulang sekitar 15 menit yang lalu."
Julia mendesah merasa bersalah, dia kalah cepat, jika tidak terjebak macet mungkin dia bisa datang lebih awal dan menemani nya disini menjalani tindakan pengobatan dokter, atau setidak nya dia masih sempat mengucapkan terima kasih pada gadis itu.
Julia berjalan kecewa menuju mobil nya, akhir nya dia memutuskan pulang ke rumah nya.
se sampai nya di rumah Julia bercerita pada suami nya apa yang menimpa dirinya tadi.
"mami kecewa pi, gara gara macet mami jadi telat ke rumah sakit nya, kan mami jadi gak bisa nemuin gadis itu".
tak lama Abi pun datang
"assalamu'alaikum mi Pi" ucap abi seraya mencium tangan kedua orang tua nya.
"mami kenapa murung gitu Pi" tanya Abi
"ini loh bi mami mu tadi sempet kena jambret tapi di tolongin sama anak gadis, nah si gadis itu sempet ketusuk di bagian punggung nya tapi dia pergi gitu aja ga mau di bantuin, mami mu nyusul ke rumah sakit tapi sayang nya dia sudah pergi, jadi kecewa deh mami mu belum sempet bilang makasih".
"tapi mami ga terluka kan ?"
"Alhamdulillah enggak bi cuman shock aja"
"kalo belum sempet bilang makasih kenapa mami ga datengin aja dia ke rumah nya mi"
"tapi kan mami ga tahu rumah nya dimana bi gimana sih kamu".
"loh kan mami bisa minta alamat gadis itu sama pihak rumah sakit"
"loh iya ya kenapa mami ga kefikiran sebelum nya."
"ya udah mami ga usah kecewa lagi, sekarang mending mami bersih bersih solat kemudian istirahat, besok papi anter ke rumah sakit itu untuk minta alamat si gadis Perkasa itu" ucap Lutfi pada istri nya.
"nah itu ide yang bagus Pi, udah mana ga usah kecewa gitu dong", semang Abi pada ibu nya.
"iya deh mami mulai tenang sekarang, tapi janji ya besok papi anterin mami ke rumah sakit, terus sekalian ke rumah gadis itu".
"iya mami sayang iya papi janji".
*****
"assalamu'alaikum zaf pulang" ucap zafira dengan wajah meringis masih menahan sakit.
"wa'alaikumsalam sayang dari mana ko baru pulang, ga bilang bilang bunda juga pergi nya."
"maaf Bun zaf lupa hehe, abis dari mall beli barang yang lagi d butuhin zaf".
"ohhh terus mana barang nya ko kamu cuma bawa keresek kecil doang, emang beli apaan" bingung Sheila.
"barang nya ketinggal di mall nya Bun, besok aja mungkin zaf ambil kesana". jawab zaf sambil menahan rasa sakit.
"sayang kamu kenapa kok kaya nahan sakit gitu".
"enggak Bun gapapa hanya luka dikit aja"
"ko luka emang nya kamu jatoh dimana nak".
"bukan jatoh Bun, zaf abis nolongin ibu ibu yang di jambret terus zaf d tusuk punggung nya pake pisau si penjambret."
"astagfirulloh ya Allah ya Rabb zafiraaaaaa kamu bilang luka kecil, ini luka tusukan loh nak, mana sini bunda lihat dulu luka nya".
Sheila shock melihat luka anak nya bisa selebar itu.
"ya Allah nak ini luka nya besar banget, ya udah kamu bersih bersih dulu terus solat, nanti buanda siapin makan buat kamu."
"iya bun maaf ya bikin bunda hawatir, zaf ke atas dulu."
"iya sayang tidak apa apa lekas sembuh cantik nya bunda, bunda tahu kamu anak yang kuat".
*****
"maaf tuan ini barang belanjaan nyonya, dan ini tas juga barang barang si neng yang nyelametin nyonya dari para jambret itu". ujar mang Ujang pada tuan nya itu.
"oh iya simpan di situ saja Jang, nanti biar saya bilang ke istri saya".
mang Ujang menurut kemudian pamit undur diri pada tuan nya.
Lutfi terus menatap tas yang di bilang mang Ujang milik gadis yang membantu istri nya itu, Lutfi penasaran mungkin saja ada tanda identitas di dalam nya jadi dia bisa langsung datang ke rumah nya tanpa harus ke rumah sakit dulu.