Waktu terus berjalan tak terhentikan, berganti hari, berganti bulan, dan berganti tahun, membawa mereka berdua menapaki usia yang makin lama makin matang dan berisi. Rambut hitam mereka perlahan mulai memutih seputih kapas sebagai tanda perjalanan panjang yang telah dilalui, dan wajah tampan serta cantik mereka pun mulai dihiasi oleh garis-garis halus keriput yang menjadi saksi bisu dari suka duka kehidupan yang telah mereka lewati bersama bergandengan tangan. Namun, di tengah segala perubahan fisik yang dibawa oleh waktu, ada satu hal yang tak pernah berubah sedikit pun, tak pernah pudar, dan tak pernah memudar: rasa cinta mereka yang tetap sama tulusnya, sama hangatnya, dan sama indahnya persis seperti saat rasa itu pertama kali tumbuh dan bersemi di antara baris-baris buku tua di perpustakaan SMA Negeri Merdeka puluhan tahun yang lalu.
Kini, Alina dan Dika sudah berubah menjadi sepasang kakek dan nenek yang terlihat begitu bijaksana, lemah lembut, dan penuh wibawa. Mereka dikelilingi oleh anak-anak yang berbakti, menantu yang menyayangi, dan cucu-cucu yang lucu serta menggemaskan yang menjadi kebahagiaan terbesar di masa tua mereka. Meski tubuh mereka kini tak lagi sekuat dan selincah masa muda dulu, namun semangat hidup serta kebahagiaan yang memancar dari wajah mereka tetap membara indah, tak kalah dengan anak-anak muda. Terutama setiap kali mereka mulai bercerita tentang kisah cinta masa muda mereka, kisah ajaib yang selalu membuat para cucu mereka duduk diam mendengarkan dengan mata berbinar-binar penuh kekaguman dan rasa ingin tahu yang besar.
Dan seperti kebiasaan mereka yang sudah mendarah daging dan tak pernah putus sekalipun, setiap tahun tepat di hari jadi pertemuan pertama mereka, mereka selalu menyempatkan diri untuk pulang kampung, berjalan beriringan dengan langkah yang agak lambat namun penuh kehati-hatian menuju SMA Negeri Merdeka tercinta itu, dan masuk ke dalam ruangan perpustakaan tua yang menjadi saksi segalanya. Meski sekolah itu kini sudah berubah banyak bentuk bangunannya, meski sudah banyak gedung-gedung baru yang dibangun dan fasilitas-fasilitas modern yang ditambahkan demi kemajuan pendidikan, namun ruangan perpustakaan yang satu ini tetap dipertahankan bentuk aslinya persis seperti dulu, termasuk rak sastra tua yang ada di sudut paling dalam itu, tempat di mana segalanya bermula dan bersemi.
Sore itu, di usia senja mereka yang penuh keberkahan, Alina dan Dika duduk berdampingan di kursi kayu tua yang sama persis dengan yang mereka duduki puluhan tahun silam. Kursi yang letaknya dekat dengan jendela besar itu kini terlihat makin tua dan lapuk dimakan usia, namun masih kokoh menopang tubuh renta mereka. Angin sore yang sejuk masih berhembus masuk sama lembutnya seperti dulu, aroma khas kertas tua dan debu yang menenangkan masih sama tercium harumnya, dan suasana damai serta hening itu masih sama menyelimuti seluruh penjuru ruangan seolah waktu berhenti di tempat demi menghormati kisah mereka.
Di tangan Alina yang sudah mulai keriput dan lemah, ia memegang dua buah buku tebal bersampul kulit yang warnanya sudah sangat usang dan pudar dimakan waktu, namun dijaga dengan sangat rapi, hati-hati, dan penuh kasih sayang seolah itu adalah harta yang paling berharga di dunia. Buku yang pertama adalah buku kosong pemberian Dika saat hari kelulusan dulu, yang kini halaman-halamannya sudah penuh tertutup tulisan tangan rapi Alina, berisi tumpahan rasa rindu yang mendalam, cerita keseharian, serta doa-doa tulus yang ia tuliskan selama masa perpisahan mereka dulu saat Dika harus pergi merantau jauh. Sedangkan buku yang kedua adalah buku baru yang diberikan Dika saat melamarnya dulu, yang kini halamannya pun penuh dengan catatan perjalanan hidup mereka berdua, berisi suka dan duka, tawa dan air mata, serta ribuan kenangan indah sepanjang puluhan tahun masa pernikahan mereka.
Dika dengan lembut memegang dan menggenggam tangan istrinya yang kulitnya sudah keriput namun masih terasa begitu lembut dan hangat itu. Ia menatap lekat-lekat wajah wanita yang telah setia menemaninya sepanjang hidupnya itu dengan tatapan yang penuh rasa syukur yang tak terhingga dan cinta yang tak akan berkesudahan.
"Alina..." panggil Dika pelan, suaranya terdengar agak gemetar karena usia yang sudah lanjut namun tetap terdengar lembut dan penuh kasih sayang yang mendalam. "Coba ingat-ingat lagi ya, Sayang... dulu kita pertama kali bertemu hati dan saling kenal lewat cara yang nggak terduga di sini, cuma bermodal selembar kertas kecil yang nggak sengaja jatuh terselip di dalam buku puisi itu. Siapa sangka ya? Dari hal sekecil dan sesederhana itu, ternyata bisa tumbuh cerita cinta yang sebesar ini, sepanjang ini, dan seindah ini buat kita. Aku bersyukur banget sama Tuhan Yang Maha Kuasa, Dia udah mengatur semuanya dengan begitu indah dan sempurna buat hidup kita."
Alina tersenyum lembut, senyum yang masih sama manisnya seperti senyum gadis muda dulu, meski kini dihiasi kerutan di sudut bibirnya. Matanya yang penglihatannya sudah mulai redup itu masih berbinar indah saat menatap wajah suaminya yang tua. Ia pun mengusap punggung tangan kasar milik Dika dengan penuh kelembutan.
"Aku juga bersyukur banget sama Tuhan, dan sama kamu juga, Dika. Dulu aku cuma gadis pendiam, pemalu, yang suka sembunyi di balik rak buku dan merasa diriku ini cuma orang biasa aja, nggak ada apa-apanya dan nggak berharga. Tapi kamu datang ke hidupku, lewat tulisanmu yang tulus, kamu bikin aku merasa jadi wanita yang paling berharga, paling istimewa, dan paling bahagia di seluruh dunia. Kamu yang bikin aku tahu dan percaya, bahwa cinta itu memang indah, cinta itu suci, dan cinta itu bakal abadi kalau dijaga sama kesetiaan yang kokoh dan ketulusan hati yang dalam."
Perlahan ia memandang ke sekeliling ruangan yang penuh kenangan itu, memandang rak-rak buku yang berjejer rapi, memandang jendela besar tempat cahaya matahari masuk menyinari ruangan, dan akhirnya pandangannya berhenti tepat di celah sempit di antara dua buku antologi puisi tebal di rak paling atas itu, tempat di mana pesan pertama dan pesan terakhir mereka diselipkan dan tersimpan aman.
"Tempat ini saksi segalanya ya, Dika. Di sini kita pertama kali belajar mencintai seseorang dengan tulus. Di sini kita belajar sabar menunggu waktu dan kesempatan. Di sini kita belajar mengucapkan janji sehidup semati. Dan di sinilah pula kita selalu kembali pulang setiap kali hati kita rindu. Buku-buku yang ada di sini, setiap lembar halaman yang ada di dalamnya, semuanya udah merekam dan menyimpan setiap detak jantung dan rasa kita. Rasanya, walaupun nanti kita sudah nggak ada lagi di dunia ini, sudah dipanggil pulang sama Yang Maha Kuasa, kisah kita bakal tetap ada di sini, tetap hidup, dan tetap abadi di antara baris-baris buku ini."
Dika mengangguk setuju dengan hati yang tenang, lalu tiba-tiba ia tersenyum dengan tatapan yang agak misterius, senyum khas pemuda yang dulu sering menyembunyikan pesan-pesan rahasia di antara halaman buku ini bertahun-tahun lalu. Ia mencoba berdiri perlahan dibantu oleh istrinya, lalu berjalan terhuyung-huyung kecil namun penuh hati-hati mendekati rak sastra itu. Dengan tangan yang gemetar namun penuh kehati-hatian, ia mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil yang sudah tua dan berdebu yang ternyata terselip rapi di bagian celah paling dalam rak itu, tempat yang sangat tersembunyi dan tak akan pernah ditemukan atau disentuh oleh orang lain selain mereka berdua saja.
Dari dalam kotak kayu itu, Dika dengan penuh rasa hormat dan hati-hati mengeluarkan selembar kertas kecil yang sudah sangat tua sekali, warnanya sudah memutih dan menguning dimakan waktu, namun tulisan tangan yang ada di atasnya masih terbaca sangat jelas, rapi, dan indah. Itulah puisi pertama yang ditulis oleh Alina dan tertinggal di dalam buku dulu, serta di baliknya ada balasan tulisan pertama dari Dika yang berhasil mengubah seluruh jalan hidup mereka menjadi indah seperti sekarang.
"Alina, kamu masih ingat nggak, Sayang?" tanya Dika pelan dan lembut sambil menunjukkan kertas tua itu tepat di depan mata istrinya. "Inilah awal segalanya. Kertas kecil sederhana inilah yang jadi jembatan penghubung hati kita yang dulu saling asing. Dulu pas aku nemuin ini, pas aku baca setiap kata yang tertulis di sini, aku langsung tahu dan yakin sepenuh hati... kalau penulisnya adalah wanita yang bakal nemenin aku seumur hidupku, yang bakal jadi pendampingku sampai tua begini."
Alina mengangguk pelan, air mata bahagia dan haru menetes perlahan membasahi pipi keriputnya. Ia mengusap permukaan kertas itu dengan ujung jarinya yang sudah menua, seolah dengan begitu ia bisa merasakan kembali detak jantung dan perasaan masa mudanya yang dulu pernah ada di sini.
"Semua bermula dari sini ya, Dika... dan aku bersyukur banget, semuanya bakal selesai dengan indah dan bahagia juga di sini."
Matahari sore itu perlahan mulai condong ke arah barat, cahayanya yang berwarna keemasan dan hangat menyinari seluruh ruangan perpustakaan itu, menyinari dua orang tua yang duduk berdua sambil saling berpegangan tangan penuh cinta dan kasih sayang yang mendalam itu, serta menyinari ribuan buku yang ada di sana yang menjadi saksi bisu perjalanan hidup mereka.
Di hari-hari terakhir usia mereka di dunia ini, saat mereka sudah tak sanggup lagi berjalan jauh meninggalkan rumah, mereka sering bercerita panjang lebar kepada anak cucu mereka, mewariskan kedua buah buku bersampul kulit yang penuh kenangan itu, dan selalu berpesan agar kisah cinta mereka yang sederhana namun ajaib itu selalu dikenang, selalu dijaga dengan baik, dan selalu diwariskan ke generasi selanjutnya sebagai teladan cinta sejati yang abadi.
Dan akhirnya, saat waktu mereka menjalani kehidupan di dunia ini telah selesai, mereka pun pergi beriringan, berpulang ke rumah yang kekal dengan perasaan yang damai, tenang, dan bahagia, membawa serta cinta yang tulus dan abadi itu ke alam baka. Namun, kisah cinta mereka tak pernah benar-benar berakhir atau hilang begitu saja.
Di perpustakaan SMA Negeri Merdeka itu, sampai kapan pun dan selama-lamanya, rak sastra tua di sudut paling dalam itu masih berdiri kokoh dan utuh seperti dulu. Di antara halaman-halaman buku antologi puisi yang tebal itu, masih tersimpan rapi kisah tentang dua hati yang saling mencari dalam diam, saling mengenal lewat tulisan tulus, saling menyatu lewat janji dan kesetiaan, serta saling mencintai sampai akhir hayat menjemput.
Setiap kali ada siswa-siswi baru yang datang, duduk diam di tempat itu, dan mulai membaca buku-buku lama yang ada di sana, mereka akan bisa merasakan kehadiran dua jiwa yang penuh cinta dan kasih sayang itu melayang lembut di udara. Mereka akan bisa merasakan keajaiban yang nyata, bahwa cinta sejati itu memang ada dan bisa tumbuh dari hal yang paling sederhana, dari selembar kertas yang tak sengaja tertinggal, dan dari ketulusan hati yang saling terbuka satu sama lain.
Dan sampai kapan pun, di SMA Negeri Merdeka itu, di antara baris-baris buku di perpustakaannya, kisah cinta Alina dan Dika akan selalu hidup, selalu teringat dalam ingatan siapa saja yang mengetahuinya, dan selalu menjadi bukti nyata yang tak terbantahkan... bahwa cinta sejati itu memang benar-benar ada, ia tumbuh dan bersemi di tempat yang paling tenang dan sederhana, dan ia abadi selamanya persis seperti kata-kata yang tertulis indah di atas kertas, di antara baris-baris buku perpustakaan.