Sejak hari itu, saat segala kerahasiaan terbongkar dan perasaan mereka saling terungkap, semuanya berubah menjadi jauh lebih indah, jauh lebih berwarna, dan terasa begitu nyata. Rasa sayang dan rasa suka yang dulu hanya tersimpan rapat dalam diam, yang hanya mampu tercurah lewat tulisan di selembar kertas kecil yang bersembunyi di antara halaman buku, kini terungkap dengan begitu jelas, begitu tulus, dan terbuka di hadapan dunia. Hubungan yang terjalin di antara Alina dan Dika pun makin hari makin tumbuh menjadi sangat dekat, makin akrab, namun tetap terjaga dengan baik, penuh sopan santun, manis, dan dihiasi rasa hormat yang tinggi satu sama lain.
Perpustakaan SMA Negeri Merdeka kini mengalami perubahan makna yang sangat besar bagi kedua hati muda itu. Tempat ini bukan lagi sekadar ruangan luas yang berisi tumpukan buku-buku tua dan debu, bukan lagi sekadar tempat untuk mencari ilmu atau sekadar tempat berlindung dari keramaian seperti yang dirasakan Alina dulu. Kini, perpustakaan ini telah berubah menjadi tempat yang paling berharga, paling suci, dan paling istimewa di hati mereka berdua. Tempat di mana kisah cinta mereka pertama kali lahir, tempat di mana benih-benih rasa itu mulai tumbuh perlahan, dan tempat di mana hati mereka akhirnya bersatu menyatu menjadi satu.
Setiap kali bel istirahat berbunyi atau saat jam pelajaran kosong tiba, mereka pasti bisa ditemukan berada di sana, duduk berdampingan di sudut rak sastra yang tersembunyi itu, tempat di mana segalanya bermula. Kadang mereka duduk diam membaca buku yang sama, saling bertukar pendapat dan pandangan tentang apa yang mereka baca. Kadang mereka mengobrol panjang lebar, berbagi cerita tentang impian-impian besar yang ingin mereka raih, tentang cita-cita yang ingin mereka wujudkan, hingga menumpahkan segala isi hati dan perasaan yang ada di dalam d**a. Namun tak jarang juga mereka hanya duduk diam berdampingan, bersandar pada keheningan yang damai, cukup dengan saling bertatapan atau menggenggam tangan saja, mereka sudah bisa menikmati kebersamaan yang begitu tenang dan penuh kebahagiaan.
Di mata teman-teman sekelas maupun para guru yang melihatnya, hubungan mereka terlihat begitu indah dan sangat pantas untuk disandingkan. Dika dengan sifatnya yang tenang, dewasa, cerdas, dan selalu bijak dalam bertindak, terlihat sangat serasi dipadukan dengan Alina yang lemah lembut, pendiam, anggun, dan penuh dengan kehalusan budi pekerti. Bahkan, mereka berdua menjadi contoh nyata bagi teman-teman yang lain tentang bagaimana seharusnya menjalin hubungan di masa remaja. Cinta yang mereka miliki tidak membuat mereka lalai dari kewajiban belajar, tidak membuat nilai mereka turun, melainkan justru menjadi semangat baru dan kekuatan besar yang mendorong mereka untuk menjadi lebih baik dan lebih bersemangat dalam menjalani hari-hari mereka.
Suatu sore yang indah, saat jam sekolah sudah usai dan pengunjung perpustakaan mulai pulang satu per satu hingga suasana menjadi sangat sepi dan hampir kosong, Dika dan Alina duduk di kursi kayu tua yang menjadi tempat favorit mereka, tepat di dekat jendela besar itu. Angin sore yang sejuk berhembus pelan masuk lewat celah-celah kaca jendela yang terbuka, membawa serta aroma khas kertas tua yang bercampur dengan wangi bunga-bungaan yang tumbuh di halaman sekolah luar sana. Dika dengan lembut meraih dan memegang tangan mungil Alina, menggenggamnya dengan erat namun penuh kelembutan, lalu menatap gadis itu lekat-lekat dengan tatapan yang penuh cinta, kekaguman, dan rasa syukur yang begitu besar.
"Alina..." panggil Dika pelan, suaranya terdengar begitu lembut namun dalam dan penuh getaran perasaan. "Kadang aku sampai masih nggak percaya sama kenyataan ini, lho. Bahwa gadis yang selama berbulan-bulan ini aku kagumi diam-diam, yang setiap hari aku lihat dari jauh dengan penuh harap, yang selalu aku doakan dan aku harapkan suatu hari bisa jadi milikku... sekarang benar-benar ada di sini, ada di sampingku, duduk bersamaku, dan membiarkanku menggenggam tanganmu begini. Rasanya semua ini seperti mimpi indah yang begitu nyata, mimpi yang sama sekali nggak mau aku bangunin."
Alina tersenyum manis, wajahnya yang cantik tampak bersinar dengan rona merah yang indah di pipinya. Ia pun meremas tangan Dika dengan pelan dan penuh kasih sayang sebagai jawaban dari ucapan pemuda itu. "Aku juga merasakan hal yang sama persis kayak kamu, Dika. Dulu aku selalu berpikir dan merasa kalau aku ini cuma bakal jadi bayangan gelap di sudut rak buku aja. Aku pikir aku cuma orang yang lewat, yang kamu nggak pernah lihat, yang kamu nggak pernah sadar keberadaannya. Ternyata... Tuhan punya cara yang paling indah dan paling ajaib buat menyatukan hati kita ya? Lewat selembar kertas yang nggak sengaja tertinggal, lewat pesan-pesan rahasia yang kita tukar, lewat buku-buku di tempat ini. Semuanya terlihat seperti kebetulan biasa aja, tapi rasanya semua ini sebenarnya udah diatur Tuhan dengan sangat indah sejak lama."
Dika mengangguk setuju dengan sepenuh hati, matanya perlahan beralih menatap sekeliling ruangan, melihat rak-rak buku yang berjejer rapi yang menjadi saksi bisu perjalanan mereka.
"Kamu benar sekali, sayang. Tempat ini adalah saksi segalanya, Alina. Di sini untuk pertama kalinya aku melihatmu, jatuh hati padamu dalam diam. Di sini untuk pertama kalinya aku berani 'bicara' sama kamu lewat tulisan. Di sini kita saling mengenal hati dan budi jauh lebih dalam dari siapa pun. Dan di sini akhirnya kita saling memiliki dan bersatu. Kalau nanti saatnya tiba aku harus lulus dan meninggalkan sekolah ini... aku rasa aku bakal paling kangen sama ruangan ini, kangen sama rak sastra itu, dan kangen sama setiap sudut yang ada menyimpan kenangan indah tentang kita."
Alina pun ikut mengalihkan pandangannya memandang sekeliling ruangan yang penuh kenangan itu, hatinya perlahan dipenuhi oleh rasa haru dan rasa sayang yang mendalam. Ia sadar betul, sebentar lagi waktu kelulusan akan tiba, dan Dika harus meninggalkan sekolah ini untuk melanjutkan pendidikannya ke kota yang jauh lebih besar. Pikiran tentang perpisahan itu mulai menyelinap masuk ke dalam benaknya, membuat dadanya terasa sesak dan sedikit sedih.
"Dika..." bisik Alina sangat pelan, suaranya terdengar sedikit bergetar menahan kesedihan. "Sebentar lagi kamu bakal lulus, bakal pergi jauh ninggalin aku dan kota ini. Aku takut, Dika... aku takut nanti kita nggak bisa ketemu dan bertatap muka setiap hari kayak gini lagi. Aku takut suasana damai dan bahagia yang selalu kita rasakan ini bakal berubah jadi beda. Aku takut jarak itu bakal pisahin kita."
Dika segera menoleh kembali menatap wajah Alina yang tampak cemas, lalu dengan lembut mengusap pipi gadis itu, menghapus rasa takut yang terlihat di sana dengan penuh keyakinan. Senyumnya begitu tenang dan sangat meyakinkan hati.
"Alina, dengarkan aku baik-baik ya. Tempat, jarak, waktu... itu semua cuma hal yang ada di luar saja, hal yang fisik. Yang paling penting dan yang paling berharga itu ada di sini," ucap Dika dengan lembut namun tegas sambil menunjuk d**a kirinya, tempat di mana jantungnya berdetak. "Rasa sayang dan cintaku padamu itu nggak ada hubungannya sama tempat, nggak ada hubungannya sama seberapa jauh jarak yang memisahkan kita. Dulu aja kita bisa saling mencintai dan saling mengenal dalam hati cuma lewat tulisan saja, tanpa pernah bicara atau ketemu lama... apalagi sekarang, saat rasa kita udah saling punya, udah ada janji yang kita ikat. Sejauh apa pun aku pergi nanti, hatiku bakal tetap tinggal di sini, tetap sama kamu, dan bakal selalu ingat semua janji kita."
Ia menggenggam tangan Alina makin erat lagi seolah tak mau melepaskannya, lalu melanjutkan ucapannya dengan suara yang tegas namun penuh kasih sayang yang mendalam.
"Dan ingat satu hal yang paling penting: perpustakaan ini, buku-buku ini, rak sastra itu... semuanya bakal tetap ada di sini, nggak bakal berubah sama sekali walau waktu terus berjalan. Nanti kalau aku pulang lagi ke sini, tempat pertama yang pasti aku cari adalah kamu, dan tempat kedua yang bakal aku kunjungi adalah ruangan ini. Tempat ini jadi milik kita, Alina. Tempat di mana cinta kita lahir dan tumbuh. Dan sampai kapan pun, tempat ini bakal selalu ada di sini, menunggu kita datang kembali lagi bersama-sama."
Air mata bahagia dan haru pun menetes membasahi pipi Alina. Ia mengangguk kuat-kuat, merasa hatinya kini dipenuhi rasa aman, rasa dicintai yang luar biasa, dan rasa percaya yang utuh pada janji pemuda di hadapannya. Segala rasa takut dan cemas yang tadi sempat ada di hatinya kini lenyap seketika berganti keyakinan yang kokoh.
Hari yang ditunggu sekaligus ditakuti itu pun akhirnya tiba. Hari kelulusan Dika dan teman-temannya. Suasana sekolah penuh dengan kegembiraan karena berhasil menamatkan pendidikan, namun bercampur dengan kesedihan karena harus berpisah dengan teman-teman dan tempat yang disayangi. Sebelum pulang ke rumah masing-masing dan berpisah untuk sementara waktu, Dika mengajak Alina datang sekali lagi ke perpustakaan, datang ke tempat biasa mereka duduk berdua. Di sana, di tengah keheningan yang penuh kenangan itu, Dika memberikan sebuah buku bersampul kulit yang terlihat sederhana namun sangat indah dan tebal.
"Ini ada buat kamu, Alina," kata Dika lembut saat menyerahkan benda itu ke tangan Alina. "Ini buku yang masih kosong, halamannya putih bersih tanpa ada satu goresan pun. Dulu kita pernah menuliskan rasa dan cerita kita di kertas kecil yang kita selipkan di buku milik orang lain. Sekarang, aku kasih buku ini khusus buat kamu, milikmu seorang. Tuliskan semuanya di sini ya. Tuliskan hari-harimu, tuliskan segala rindumu, tuliskan apa saja yang kamu rasakan saat aku lagi jauh di sana. Nanti pas aku pulang lagi, hal pertama yang bakal aku lakukan adalah membaca buku ini sampai selesai. Ini bakal jadi buku yang paling berharga di dunia, jauh lebih berharga dari semua buku tebal yang ada di perpustakaan ini."
Alina menerima buku itu dengan tangan yang sedikit gemetar karena terharu, lalu memeluk buku itu dengan erat di dekat dadanya seolah sedang memeluk Dika sendiri. "Aku janji sama kamu, Dika. Aku bakal isi setiap halamannya sama rasa sayang, sama rindu yang menumpuk, dan sama semua cerita tentang kamu. Aku bakal jaga buku ini dengan sebaik-baiknya, sama persis kayak aku bakal jaga rasa cintaku padamu sampai kapan pun."
Dika tersenyum sangat bahagia melihat ketulusan di mata Alina, lalu ia mengeluarkan selembar kertas kecil, menulis satu kalimat pendek namun penuh makna di atasnya, lalu berjalan menuju rak sastra itu dan menyelipkannya tepat di bagian paling atas, di celah sempit di antara dua buku tebal yang jarang ada yang menyentuhnya.
"Ini pesan terakhirku yang aku taruh di sini, Alina," bisik Dika dengan suara berat. "Biarpun aku pergi jauh, pesan ini bakal tetap ada di sini, aman tersimpan di tempat segalanya bermula. Nanti pas kamu kangen berat, pas kamu rindu sama aku, atau pas kamu lewat di sini, kamu bisa ambil dan baca lagi. Ingat ya: rasa aku nggak bakal pernah pudar, nggak bakal pernah berubah, dan bakal tetap sama persis kayak tulisan ini yang bakal tetap ada di sini selamanya."
Setelah momen perpisahan yang mengharukan itu, Dika pun akhirnya pergi merantau meninggalkan kota ini untuk mengejar mimpi dan cita-citanya. Bertahun-tahun lamanya mereka terpisah oleh jarak yang sangat jauh, ratusan kilometer memisahkan raga mereka. Namun, persis seperti janji yang sudah mereka ucapkan di depan rak buku itu, jarak dan waktu ternyata sama sekali tidak mampu mengubah apa pun, apalagi memadamkan rasa cinta mereka. Alina tetap setia menjaga hatinya, setiap hari rajin menulis di buku pemberian Dika itu, menceritakan segala hal yang ia alami, menyimpan semua rasa rindu dan kasih sayang di dalam setiap lembar kertasnya. Begitu pun dengan Dika, ia selalu menyempatkan waktu di tengah kesibukan belajarnya untuk berkirim kabar, selalu mengingatkan kembali janji mereka, dan berjuang mati-matian agar bisa cepat lulus dan pulang kembali menjemput kekasih hatinya.
Berkali-kali saat rasa rindu itu datang begitu berat dan tak tertahankan, Alina akan datang sendirian ke perpustakaan ini, berdiri diam di depan rak sastra itu, lalu mengeluarkan kertas kecil tulisan tangan Dika yang terselip di sana. Di atas kertas itu tertulis kalimat yang sederhana namun mampu menenangkan hatinya: "Di mana pun aku berada, hatiku selalu ada di sini, sama kamu. Tunggu aku ya, kita bakal sambung cerita kita di tempat ini lagi." Dan kertas kecil itu selalu ada di sana, utuh, bersih, dan terjaga baik, menjadi saksi bisu kesetiaan cinta mereka berdua.
Empat tahun berlalu terasa begitu cepat bagai berkedip mata saja. Alina pun akhirnya lulus dari SMA dan melanjutkan kuliah di kota terdekat, sementara Dika dengan tekun menyelesaikan pendidikannya di kota perantauan. Hingga akhirnya, hari yang sudah sangat lama mereka tunggu-tunggu pun tiba: hari di mana Dika pulang kampung, hari di mana mereka akhirnya akan kembali bertemu setelah berpisah cukup lama.
Dan tempat pertemuan yang mereka janjikan? Tentu saja di perpustakaan SMA Negeri Merdeka itu, tepat di sudut rak sastra itu, di tempat di mana semuanya bermula dan tumbuh.
Sore itu, suasana di ruangan itu sama persis seperti dulu. Ruangan ini masih sama persis, rak-rak bukunya masih tersusun rapi di tempatnya, aroma kertas dan debu khas perpustakaan itu masih sama, dan jendela besar itu masih membiarkan cahaya matahari sore yang keemasan masuk menerangi ruangan. Saat Alina melangkah masuk dan melihat sosok Dika yang sudah berdiri menunggunya di sana, tampak makin dewasa, makin gagah, dan tersenyum lebar penuh rindu... rasanya seluruh waktu yang berlalu selama empat tahun itu seakan terhapus begitu saja. Di tangan Alina, ia membawa buku tebal bersampul kulit pemberian Dika dulu, yang kini halaman-halamannya sudah penuh dengan tulisan tangan Alina, penuh dengan cerita, penuh dengan rindu, dan penuh dengan cinta yang tulus.
"Alina..." panggil Dika pelan, suaranya terdengar berat dan bergetar karena emosi yang meluap serta rindu yang tertahan begitu lama.
Ia berjalan mendekat perlahan, lalu dengan penuh rasa hormat dan cinta, berlutut perlahan di hadapan Alina. Di tangannya, ia mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berisi sebuah cincin sederhana namun sangat indah dan berkilau. Di sampingnya, ia juga membawa sebuah buku baru yang bersampul kulit, sama persis bentuk dan warnanya dengan buku lama yang dipegang Alina.
"Dulu aku pernah ninggalin kamu di sini, ninggalin pesan di antara rak buku ini, ninggalin janji suci untuk pulang kembali dan menjemputmu," ucap Dika dengan suara yang bergetar menahan haru. "Sekarang aku sudah kembali lagi, Alina. Aku datang untuk menepati semua janjiku. Buku lama yang kamu pegang itu sudah penuh sama cerita rindu, perjuangan, dan kesetiaan kita. Sekarang aku bawa buku yang baru, halaman yang baru, kosong bersih dan putih... siap kita isi sama cerita kita yang selamanya."
Ia mengangkat cincin itu tinggi sedikit, lalu menatap mata Alina lekat-lekat dengan cinta sepenuh jiwa dan raga.
"Alina... maukah kamu menerima lamaranku dan jadi pendamping hidupku yang sah? Maukah kamu terusin menulis cerita indah kita sama aku, sampai kita