Permukaan air danau yang tenang dan bening itu menggeliat pelan dan membentuk riak berupa lingkaran-lingkaran kecil yang perlahan menghilang. Beberapa lembar daun yang tampak kecokelatan bergerak mengapung di atasnya. Mata Julia membuka sedikit, kemudian tersenyum kecil melihat pemandangan di depannya. Dia menarik napas dalam, memenuhi rogga dadanya dengan udara segar dengan wangi musim gugurnya. Kedua tangannya direntangkannya ke atas, matanya kembali terpejam untuk meresapi suasana sunyi dan damai yang melingkupinya saat ini.
Beberapa detik kemudian dia menyadari sesuatu, gadis itu kemudian membuka matanya pelan, meneliti dirinya sendiri. Menatap tak percaya gaun putih panjang berbahan satin yang membungkus tubuhnya hingga ke mata kaki. Kedua tangannya meluncur ke bawah dengan cepat, tetapi sesuatu yang menyentuh pergelangannya membuat kelopak matanya semakin melebar. Tak cukup dia dikejutkan dengan gaun satin panjang putihnya, sekarang ada jalinan bunga liar berwarna-warni dan cantik yang memahkotai kepalanya.
"Ada apa denganku?" Bisiknya pelan pada dirinya sendiri. Dia bangkit berdiri, sekali lagi meneliti pakaian yang sedang dia kenakan saat ini. Dia dia menyentuh mahkota bunga itu.
"Julia...." Sebuah suara berat terdengar dari belakangnya. Untuk sesaat dia mencoba mengenali suara itu. Ada kelegaan kecil terbersit di wajah gadis itu. Dia cepat berbalik. Tapi...
"Ah..." Gadis itu mengaduh kemudian meringis kecil saat sesuatu yang keras mengenai bahunya.
"Kak Julia! Kak Lia! Kak Liaaaaaaaaaaa!" Perlahan mata Julia membuka. Pemandangan yang sangat familier terpampang di hadapannya. Dinding bercat biru muda yang dihiasi jam dinding bergambar anjing putih bernama Snoppy membuat jiwanya terenggut kembali ke dunia nyata.
"Tidur apa pingsan sih? Kakak nggak kuliah?" Julia mengerjap beberapa kali berusaha memfokuskan penglihatannya pada seseorang yang berdiri tepat di sebelah ranjangnya. Seakan masih tak percaya Julia kembali meneliti dirinya sendiri. Tak ada gaun satin putih. Tangan kanannya cepat menyentuh bagian atas kepalanya. Tak ada mahkota bunga. Hal tadi terasa begitu nyata.
"Kak?"
"Hanya mimpi?" Gadis itu bergumam sendiri. Dia tidak sedikitpun menanggapi panggilan Sinta, si gadis bawel yang sudah seminggu ini terus menempel padanya. "Mimpi yang aneh," gumamnya lagi.
"Mimpi apa Kak?" Sinta kembali bersuara.
"Ada apa, Sin?" Julia bergerak pelan turun dari ranjangnya. Dia tidak menjawab pertanyaan gadis itu malahan menimpalinya dengan pertanyaan lagi.
"Itu si Sekseh tadi nelpon dan nanyain kalau Kak Julia udah pulang kuliah dia mau ngomong sesuatu." Julia tersenyum kecil. Yang disebut Sinta si Sekseh adalah Lodi, gadis 20 tahun yang emang paling seksi di kos-kosan ini. Kalau kata Sinta, Lodi punya kecenderungan eksibisionis karena seragam harian di kosnya adalah tanktop ketat dan hot pants yang emang bikin gerah siapa saja yang melihatnya.
"Hmmm..." Julia berdehem pendek.
"Kak Lia bukannya nggak kuliah karena ketiduran kan?" selidik Sinta.
"Nggak. Dosennya sakit." Tangan Julia sibuk menyisir rambut panjang sebahunya. Pikirannya masih tersangkut pada mimpinya tadi. Julia yakin sangat mengenali suara itu. Namun, sekarang Julia bahkan tidak bisa menebak suara yang memanggilnya dalam mimpi tadi. Dia mencoba berpikir keras tapi tidak berhasil. Aneh. Kening Julia berkerut.
"Ya udah, aku cuma mau bilang itu." Sinta beranjak ke luar. Julia meringis menahan sebal karena anak itu sudah menariknya keluar dari mimpi indahnya hanya untuk membawa kabar yang tidak terlalu penting. Setelah Sinta menghilang, Julia kembali mencoba mengingat mimpi aneh yang baru saja menghampirinya tadi.
"Memang seharusnya aku nggak boleh tidur sore-sore." dia bergumam sendiri. Dia kembali naik ke ranjangnya dan berbaring menatap langit-langit, mencoba fokus dan bisa mendapatkan jawaban atas rasa penasarannya. Dan jelas sekali tadi aku berada di sebuah negara dengan empat musim. Di Eropa? Apa karena kemarin aku bertemu Milan? Ahhh....jangan terlalu dipaksakan Lia, Milan, dan Eropa? Come on! Julia mencoba membantah suara hatinya.
"Tapi coba kalau si bawel tadi nggak gangguin pasti aku bisa tahu siapa cowok tadi. Haiissss... dasar si bawel menggangu aja." Julia memukul gulingnya kesal. Sinta, gadis itu sering sekali lupa dengan namanya menghargai privasi orang. Kadang Julia suka kesal sendiri menghadapi sifatnya yang ekspresif serta mengganggu itu. Sudah setahun Julia kembali di Yogyakarta dan menempati kos ini, memulai persahabatannya dengan geng Sinta yang terdiri dari Lody, Vinka, dan Naya.
Berada di antara empat perempuan yang sedang belajar menjadi dewasa tentu saja membuat hari-hari Julia di Yogya dipenuh warna. Hampir setiap saat dia mendengar cerita dan keluhan mereka tentang kuliah dan tentu saja CINTA. Hah... seandainya saja mereka tahu kalau diusianya yang hampir 28 ini dia adalah seorang pecundang cinta. Pacaran dengan Dani selama delapan tahun tidak mampu membuat laki-laki itu menjadi suaminya. Perasaan Julia biasanya jadi serba salah setiap kali mereka mencarinya untuk mencurahkan masalah hati, dia akan semakin bodoh saat menatap setiap mata penuh harap akan sebuah solusi cinta. Kalau misalnya diimplementasikan, perasaan Julia ini persis seperti guru bahasa yang dipaksa memecahkan sebuah soal matematika paling rumit.
***
Kelopak mata Julia mulai terasa kesemutan kelamaan menatap layar laptop. Di sekitarnya berhamburan kertas-kertas fax dari Jakarta. Pekerjaan rumahnya yang harus kelar besok berdasarkan titah Yang Mulia Hari Antono. Dia menguap cukup panjang sambil mengucek matanya yang semakin terasa pegal.
Julia melirik ponselnya untuk kesekian kali. Ada satu pesan. Hatinya berdesir sedikit. Arin. Dia menghembuskan napas penuh kekecewaan. Ya, tak dipungkiri Julia mengharapkan sepotong kabar dari Milan setelah pertemuan waktu itu.
Li, bsk mlm nonton pegelaran budaya Korea di UGM.. q jemput y
Julia kembali menguap. Tangannya mulai mengetik balasan sms Arin.
Okey..
Percuma menolak permintaan anak itu, karena segala daya upaya akan dia kerahkannya agar bisa membuat Julia mengikuti ajakannya. Tidak apa-apalah dari pada memacari layar laptop terus dan membiarkan pikiran dan hati dipenuhi dengan harapan-harapan kosong. Julia berdesis tak percaya dengan apa yang sedang terjadi pada dirinya sekarang setelah bertemu dengan Milan.
Menghabiskan waktu bersama Arin mungkin saja bisa mengurangi sedikit penderitaan hatinya. Oalaaahhh... Julia berdecak dan menepok jidatnya keras. Dia menggeleng dan berlari cepat ke kamar mandi. Keramas pasti bisa menolongnya saat ini. Sambil mengeringkan rambut, pikirannya terbang kemana-mana. Dia mencoba melupakan masa kuliahnya, lebih fokus pada SMA-nya, masa dia dan Arin bersahabat begitu dekat.
Selain Sinta dan gengnya, Arin-lah satu-satunya teman Julia di sini. Dulu waktu tahu Julia mau kembali ke Yogya, Arin senang bukan main. Maklum anak itu kesepian gara-gara kekasih hatinya, Mas Adam, dipindah-tugaskan ke Palembang sejak enam bulan yang lalu. Dulu, Julia dan Arin tinggal di asrama bersama. Bagi orangtuanya, Arin dianggap bandel, karena itu mereka mengirimnya untuk tinggal di asrama agar Arin bisa mengubah tabiatnya itu. Ada aja tingkah ajaib anak itu yang sering bikin Suster kepala asrama sakit kepala dan bikin Julia jadi malu luar biasa.
Julia jadi inget satu cerita saat SMA, Julia pernah dibonceng Arin dengan motor bebek merah dua tak pinjaman dari Dewi, teman kelas mereka, yang suara mesinnya sangat biadab. Bagaimana nggak biadab, setiap kali mendengar suara motor Dewi, satu warga asrama sering mengira kereta api ekonomi sedang salah jalur dan mengira asrama adalah Stasiun Lempuyangan. Sangat berisik!
Nah, ketika sampai di lampu lalu lintas sebelah Gramedia, Julia turun sebentar dari motor untuk kembali mengikat tali sepatunya yang lepas. Kok bisa-bisanya si Arin dengan tidak sopannya pergi meninggalkan Julia bersama motor Dewi yang suaranya amat-sangat-tidak-bersahabat itu. Jadi, Julia hanya bisa bengong di lampu lalu lintas, menunggu sampai si Arin sadar. Ternyata dia baru sadar setelah tiba di asrama. Dasar! Masih banyak keisengan Arin yang lain yang meski bikin kesal tapi mewarnai masa remaja mereka.
Julia terkikik kecil mengingat kejadian-kejadian itu. Tetapi beberapa detik kemudian wajahnya kembali muram melihat tugas yang menumpuk di depannya. Bekerja sambil kuliah ternyata tidak semudah yang Julia bayangkan. Apalagi punya bos seperti Pak Hari. Dia cuma tahu buat deal dan Julia yang harus pusing menyelesaikan setumpuk deal-nya, belum lagi ditambah jadi 'mandor' proyek desain interior hotel yang membuatnya dalam seminggu harus beberapa kali bolak-balik proyek di jalan Prangtritis, plus tugas kuliah yang bejibun.
Julia menghela napas dan melepaskannya dengan kesal. Mata kuliah Project Design Studio semakin bikin mumet. Waktunya yang sedikit harus dia bagi untuk melakukan survei di Kota Gede. Untung saja Pak Darno, dosennya, langsung setuju dengan pengajuan tema mengenai ketidaknyamanan pejalan kaki di kota budaya tua itu, jadi pikiran Julia lumayan terbebas dari satu masalah.
Disela-sela bejibunnya isi otak gadis itu, ada satu nama perlahan menyeruak. Milan! Dulu, waktu tahu Milan kembali ke Jakarta setelah menyelesaikan S2 Design Technology and Management-nya di Singapura (ini juga karena diceritain Nana, teman kuliahnya waktu ketemu di Plaza Senayan), Julia bahkan tidak punya keinginan sedikitpun untuk mencari tahu kabar dan keberadaannya. Dan sepertinya Milan pun begitu. Keputusannya delapan tahun lalu untuk give up, benar-benar di jalankan. Tidak bisa dia pungkiri ketika Milan 'pergi', ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya. Ya, seperti sebuah kebiasaan yang tiba-tiba saja terhenti. Pasti ada perasaan aneh.
Mata Julia terpaku pada ponselnya. Sekali lagi dia berharap benda itu berbunyi dan ada satu nama tercetak di layar. Nama yang dia harapkan. Kata orang menunggu adalah pekerjaan yang paling mengesalkan. Apalagi kalau kita menunggu dengan penuh harap. Entah kenapa Julia begitu mengharapkan sebuah pesan dari Milan. Dan entah kenapa Milan begitu menyebalkan membuat Julia memiliki perasaan seperti ini. Tentu saja, Julia tidak akan menghubunginya terlebih dahulu. Saat itu Milan yang punya inisiatif untuk menyimpan nomornya, sehingga dia yang pertama kali punya niat untuk menghubungi Julia.
Julia memutuskan keluar kamar daripada gila sendiri mendengar celoteh suara hatinya. Dia menghirup dalam-dalam udara Yogya sehabis hujan. Lembap. Dingin. Hening. Tempias air hujan dari dedaunan pohon alpukat di depan kamarnya yang disebabkan embusan angin semakin membekukan rasa dan memaksa keluar keapatisannya. Julia harus mengakhirinya. Ini hanya sebuah rasa penasaran saja.