Siang hari dan dihujani panas terik begini akan terasa sangat tepat bila berbikini, duduk di tepi kolam renang memandang air bening menggenang yang manampakkan berjuta godaan untuk terjun ke dalam. Namun, apa daya itu hanya ada di khayalan Julia, di saat terik menggigit seperti ini dia malah sibuk berjinjit, menyempil di antara besi beton, melompati tanah yang siap dicor, dan merelakan rambut yang telah dicucinya kembali dihinggapi debu semen dan tanah kering yang beterbangan bebas.
Pak Hari memang bos yang paling payah dalam hal memberi instruksi. Segala perintah kerjanya tidak disertai informasi yang lengkap. Julia mendapatkan job mendesain interior hotel di kawasan jalan Parangtritis ini, bayangannya tentu saja pekerjaan kali ini akan bebas dari debu. Namun, kenyataannya hotel ini baru saja dipugar dan dibangun ulang di bagian depan yang membuat Julia tidak bisa menghindar untuk tetap berada di lingkungan proyek yang berisik dan berdebu. Ditambah pula dengan tukang bangunan yang tidak berhenti usil menggodanya karena jadi salah satu mahkluk perempuan yang sering keluar-masuk di sana.
Julia membersihkan sisa tanah yang menempel di ujung jinsnya sebelum masuk ke ruangan hotel yang tersisa di bagian belakang, tempat para tukang yang bekerja mengolah kayu jati menjadi aneka perabot untuk perlengkapan kamar. Sedetik kemudian, gadis itu terperangah kaget melihat meja TV hasil kerja para tukang di hadapannya jauh dari hasil desainnya. Sama sekali tidak ada nilai estetikanya. Menghemat bukan berarti dibuat sekacau ini kan?
Setelah mengutarakan semua ketidakpuasannya pada Pak Ridwan, si kepala tukang, dan diakhir dengan janji pria 40 tahunan itu untuk memperbaiki pekerjaannya, Julia siap meninggalkan area proyek yang pekat dengan aroma testosteron. Arin pernah mengamuk saat pertama kali Julia mengajaknya ke sini dan menghadapi kenyataan kalau yang mereka datangi adalah proyek pembangunan hotel. Arin paling sensitif dengan pria-pria kucel berkeringat yang usil mengeluarkan aneka bunyi dari mulut mereka setiap kali melihat ada perempuan lewat. Baginya, itu merupakan sebuah pelecehan.
Julia menuntun motornya ke luar proyek, sekilas dia menangkap bayangan Pak Alan, si kontraktor hotel ini, keluar dari pintu mobilnya bersama dengan seseorang. Sedetik panglihatan Julia menyapu sosok di sebelah Pak Alan, matanya kembali menunduk berkonsentrasi pada motornya, tetapi sedetik kemudian seluruh tubuhnya tiba-tiba kaku. Dia lekas kembali mengangkat wajahnya. Benar! Sosok itu mampu membuat Julia hampir berhenti bernapas. Dia mengamatinya lebih saksama. Apa dia...Ya tidak salah lagi itu Milan! Rasanya Julia ingin menghilang seperti uap. Dia tidak siap bertemu Milan. Tidak sekarang. Dengan keadaannya yang seperti ini?
Julia meneliti dirinya. Jins hitam dan kaus oblong biru kedodoran yang dia lapisi dengan jaket cokelat bata. Yeah...padanan yang cantik! Wajah tanpa make up, berminyak pula. God! Desis Julia, dia tak tahu caranya menghindar. Dia harusnya tahu pekerjaannya akan semakin memperluas kemungkinan mereka bertemu apalagi saat dia tahu Milan ada di Yogyakarta.
Julia cepat-cepat mengenakan helm, satu satunya cara terampuh untuk menghindari pertemuan itu. Dia menghidupkan mesin motornya. Hindari kontak mata dengan Pak Alan!
"Mbak Lia!"
SHIT!!
Julia menggigit bibirnya khawatir. Pak Alan mendekat, tentu saja Milan mengekor di belakangnya. Ya Tuhan, jangan biarkan pertemuan ini terjadi. Aku masih belum bisa menghadapinya. Tuhan tahu kan kalau aku pernah menamparnya? Please...
"Sudah mau pulang, Mbak?" Tubuh Julia mendadak dirayapi hawa dingin yang menjalar dari ujung kakinya. Jantungnya tiba-tiba berdegup di luar kendali setelah dia menyadari Milan akan mengenalinya. Dia memang menginginkan pertemuan itu,tetapi bukan di sini dan bukan sekarang. Julia kembali membatin gelisah.
"Uhm...iya, Pak." Julia menjawab sangat pelan dengan kepala menunduk pura-pura sibuk dengan tali tasnya yang diselempangkannya. Meski begitu, penglihatan Julia tetap berjaga dan menangkap gerak mencurigakan dari Milan. Jangan-jangan Milan mulai mengenaliku, bisik Julia dalam hati. Dia semakin gelisah.
"Lia? Julia?" Suara itu melumpuhkan semua indra Julia. Tuli, bisu, dan tak mampu melihat dengan jelas dan akhirnya totally blind! Julia pasrah karena dia tak mungkin lagi menghindar. Perlahan, dia mengangkat wajahnya dan melepaskan helm merah mudanya.
Sosok yang dikatakan Arin mirip Tom Price itu berdiri di hadapannya. Seandainya Arin ada di sebelahnya, dia ingin sekali menggetok kepala gadis itu agar otaknya kembali normal. Bagaimana mungkin dia menyamakan sosok di depannya ini mirip bule campuran itu? Sama sekali tidak mirip. Sumpah!
Dia memang jauh berbeda. Dalam benaknya, sosok di depannya ini muncul dengan versi delapan tahun lalu. Sangat nyata. Laki-laki itu, tingginya kurang-lebih 180 sentimeter. Kurus. Rambutnya ikal sedikit gondrong, kulitnya terang, matanya tidak terlalu besar karena tersembunyi dalam kelopaknya yang dalam namun bola matanya sangat bening. Alisnya tebal. Hidungnya tidak terlalu mancung tapi justru serasi dengan garis bibirnya yang tegas. Dulu dia hanya mengenakan kaus dengan dua warna, hitam dan cokelat, ditambah paduan dengan jins belelnya. Terkadang kalau dia harus mengikuti kelas yang menuntut kerapian setiap siswanya, dia memadukannya dengan hem putih dari luar. Milan berada dua tahun di atas Julia saat berada di Fakultas Teknik Arsitektur.
"Julia," sapaan Milan menarik Julia kembali ke masa sekarang dan melihat dengan jelas Milan versi delapan tahun setelahnya. Di tengah kecanggungan yang tercipta, kepala Julia bergerak ke segala arah.
"Ya Tuhan, Julia!" Mata bening itu menatap Julia tajam, beberapa detik hingga membuat Julia terasa membeku. Gadis itu meneguk ludahnya dan m******t bibirnya yang mengering sekilas sebelum benar-benar memfokuskan penglihatannya ke sosok di hadapannya.
"Hai," Julia menyapa pendek dan memberikan senyum kakunya.
"Hai." Balas Milan masih tak melepas pandangannya.
Kedua mulut mereka bergerak namun tak ada kata-kata yang keluar dari sana. Mereka menyadarinya dan sama-sama tertawa kecil. Milan menggeleng pelan entah apa yang ada dalam otaknya, Julia berusaha menebak.
"Kita..."
"Ya...sebaiknya kita nyari..." Kepala Milan menengok ke belakang, ke seberang jalan, dan senyum kecil tercipta. Ia kembali memandang Julia.
"Di sana?"
Julia mengangguk.
Keduanya akhirnya memutuskan mencari tempat yang nyaman untuk bicara sekaligus Julia ingin menyembunyikan dirinya dibalik meja ataupun segelas jus yang memungkinkan mata Milan tak mendapatkan akses langsung ke arahnya.
Hanya ada satu tempat yang mungkin yaitu sebuah kafe di depan proyek. Open cafe yang terdiri dari beberapa gazebo berbentuk joglo dan sebuah bangunan di depannya yang digunakan sebagai warnet dan game online. Berkali-kali Julia mengamati kaus oblong jeleknya yang tersembul dari balik jaket cokelat yang dinilainya sangat norak. Coba kalau saat ini Julia sedang berjalan bersisian dengan Milan versi delapan tahun lalu, tentu saja dia dan perasaannya tidak akan se-desperate ini. Julia melirik Milan di sebelahnya dengan pandangan putus asa tingkat tinggi. Ini semua gara-gara ketergesaannya tadi, Julia tak sempat mengganti baju rumahnya dan hanya melapisinya dengan jaket, toh, dia akan ke proyek, bukan show off di mal pikirnya tadi. Tapi sekarang?
Mereka duduk lesehan sambil menikmati jus stroberi yang dipesan Milan. Dia tidak pernah lupa dengan minuman favorit Julia.
"Emang kamu kira aku masih suka jus stroberi?" tukas Julia sambil mengaduk isi gelas dengan sedotan. Dia masih belum berani memandang Milan tepat di kedua manik matanya. Kepercayaan dirinya sudah tertelan bumi sejak tadi.
Milan tersenyum.
"Iya..ya...seharusnya aku tanya dulu. Tapi seharusnya nggak ada yang berubah kan." Milan memandang Julia dengan senyum di ujung bibirnya yang seksi itu. Busyet! Kenapa jadi mengamati bibirnya? Maki Julia dalam hati. Ini karena dia masih belum berani memandang Milan di bagian wajah yang seharusnya, dan bibir adalah target yang paling pas.
"Jadi, kenapa tiba-tiba kamu ada di Yogya?" Milan menyodorkan tisu ke hadapan Julia saat tahu embun-embun dari sisi gelas mulai menetes membasahi meja di depan gadis itu.
"Aku kuliah lagi." jawab Julia pendek dengan pandangan yang terarah pada gerakan tangannya yang sedang mengeringkan sisi sisi gelasnya.
"Oh ya? Ambil apa?"
"Akustik."
"Cinta banget sama Yogya sampai kuliahnya harus di sini?" sindir Milan. Julia mengangkat wajahnya sedikit, memandang laki laki yang sedang bicara itu. Mata Milan menyipit, memandang Julia. Julia sangat benci dengan caranya menatap. Dia seperti tahu kalau saat ini Julia benar-benar mati kutu. Oke, apa aku perlu minta maaf untuk kejadian delapan tahun lalu? Julia bertanya dalam hati
"Begitu kali. Dan, kamu, ngapain di sini?" Julia bertanya balik seakan-akan dia memang belum tahu tujuan keberadaan Milan di Yogya. Oh ya, sejak dulu Julia tidak pernah menyapa Milan dengan embel embel 'Mas' meski Milan kakak tingkatnya. Itu karena cara Milan yang cheesy di mata Julia saat mengejarnya, maka Julia pun sulit menganggap Milan sedemikian serius. Delapan tahun lalu he was so uncool! Namun, sekarang...baru sekali Julia melihatnya, semua keadaan delapan tahun lalu berbalik drastis. Milan yang ini sangat cool, dari penampilannya hingga pekerjaannya. Milan adalah arsitek andalan Beyond Arch, sebuah biro konsultan yang punya nama besar di Jakarta.
Siapa yang nggak tahu Sky Land, taman bermain dengan desain perkawinan antara Nature dan Futuristic yang menawarkan wahana-wahana bermain tercanggih yang didirikan dua tahun lalu. Atau Valley Beach, resor dengan pemandangan lembah hijau di satu sisi dan pantai berpasir putih di sisi lain yang sangat terkenal di Bali itu. Ya... keduanya adalah bagian proyek-proyek hebat Beyond Arch. Dan Milan adalah salah satu arsitek mereka. How cool is that!
Milan berdehem.
"Kantor dapat proyek. Jadi disinilah aku."
Mereka sama-sama terdiam sepertinya sudah tidak ada lagi bahan pembicaraan. Julia melempar pandanganku ke jalan raya dan dalam hati terus berdoa Milan menyudahi obrolan yang tak jelas arahnya ini. Minta maaf? Ahh...nggak usah! Seru suara hatinya. Lihat saja, Milan tidak ragu untuk menyapamu artinya kejadian delapan tahun itu tak ada artinya lagi buat dia.
Dia tidak dendam padaku. Baiklah...karena itu aku berharap akan ada pertemuan setelah ini. Dan bila itu terjadi aku akan melempar jauh-jauh kaus jelek yang kukenakan saat ini dan mengubur jaket kucel norak ini. Harus!
Julia melirik. Milan sendiri hanya diam menatap gelasnya yang isinya tinggal separuh. Apa yang ada dalam pikirannya? Apakah dia juga sama gelisahnya denganku? Sibuk mendengar suara hatinya meracau sendiri sepertiku sekarang?
"Sudah delapan tahun, ya." Milan memecah keheningan. Julia memandangnya, sedikit tegang, kemudian mengangguk. Kata-katanya sedikit lagi akan menyentuh bagian yang paling sensitif itu.
"Sudah menikah dengan Dani?" Milan memicingkan matanya. Sebuah ekspresi penuh selidik. Ada gelenyar perih di hati Julia saat mendengar pertanyaan ini. Pertanyaan yang paling ingin Julia hindari bila itu keluar dari mulut Milan. Karena sejarah kisah cinta dia dan Dani, delapan tahun lalu, serta aksi kekerasannya pada Milan seperti sebuah jaminan akan sebuah pernikahan yang manis. Julia menelan ludah pahit.
"Belum," jawabnya pendek. Dia menyedot jus stroberinya dengan kekuatan penuh hingga cairan merah muda itu tandas. Dia mencoba memberi kesan bahwa dia baik-baik saja tapi justru sikapnya membuat siapapun yang melihat berpikir bahwa dia sedang tidak baik-baik saja. Tanpa usaha keras, Milan sudah cukup menyiksanya saat ini.
"Lama juga pacarannya. Terus kapan menikah?" Julia tahu Milan bukan sengaja melakukan ini. Tapi entahlah bisa saja kan? Bisa saja dia sudah tahu tentang gagalnya hubungannya dengan Dani.
"Kita udah putus."
"O ya?" Ada ekspresi kaget di wajah Milan, Julia memandangnya sekilas dan berpikir apakah itu ekspresi yang jujur. Apa benar Milan sama sekali tidak tahu tentang kabarnya. Duh! Come on Julia. Milan ini bukan Milan yang dulu, yang selalu ingin cari tahu segala detil tentang diri kamu.
"Kenapa? Ahh... maaf." Milan mengangkat tangannya menandakan bahwa dia seharusnya tidak perlu tahu tentang masalah ini. Julia tersenyum kecut.
"Orang pacaran kalau putus kan biasa." jawab Julia enteng sekali lagi memberi kesan bahwa dia baik-baik saja. Milan akhirnya tersenyum sangat tipis. Kalau bisa dibilang dia tidak tersenyum entahlah ekspresi apa itu. Hanya ada kedutan kecil di sudut-sudut bibirnya. Jangan sampai itu sebuah ekspresi iba terhadapku, pikir Julia.
"Sorry. Masalahnya aku kira kamu dan Dani bakal awet. Karena aku tahu perasaan kamu dengannya, Lia." suara Milan sangat lembut. Entah kenapa ada keberanian dalam diri Julia yang begitu kuat membuatnya tidak ingin melepaskan tatapannya dari Milan.
Rambutnya yang dulu gondrong sekarang dipotong pendek dan rapi. Kaus hitam atau cokelat yang selalu membalut tubuhnya sekarang berganti kemeja putih polos lengan panjang yang dia tekuk hingga ke pangkal sikunya. Dia membiarkan satu kancing bagian atas kemejanya terbuka. Tubuhnya semakin berisi mungkin hasil nge-gym. Ada aroma mint bercampur kayu-kayuan yang s*****l terpancar dari tubuhnya setiap kali dia bergerak.
Tiba tiba tanpa Julia sadari matanya terperangkap dalam pandangan Milan yang tiba tiba di arahkan padanya. Wajahnya memanas seketika.
"Kamu melamun ya?"
Gadis itu menggeleng cepat.
"Aku hanya ingat Arina pernah cerita kalau dia pernah ketemu kamu setahun lalu. Dan lucunya Arina bilang kamu mirip Tom Price." Gadis itu tertawa sendiri menutupi perasaan salah tingkahnya. Dalam suasana awkward Julia bisa bertingkah dan berbicara kacau-balau dan berujung situasinya justru berkali-kali lipat lebih awkward.
"Mirip siapa? Tom? Tom siapa?" Milan mengernyit.
"Ah...kamu nggak kenal." Julia mengibaskan tangan kanannya. Kali ini bukan hanya wajahnya yang memanas, sekujur tubuhnya ikut memanas. Julia mengutuk dirinya sendiri.
Melihat betapa gelisahnya gadis di depannya ini, Milan akhirnya tergelak. Julia sempat kaget dengan reaksi Milan yang menurutnya sedikit berlebihan. Apa mungkin tadi aku tidak sengaja melawak? Julia berpikir sendiri. Dia kembali memandang laki-laki itu yang tertawa tanpa beban di depannya.
"Apa benar aku mirip si Tom? Dari namanya kok tiba tiba aku merasa ganteng aja ya." Milan berkata penuh percaya diri. Namun, kata-katanya seperti tamparan halus di wajah Julia. Apa maksudnya aku sedang memujinya saat ini? Pikir Julia. Rasa sesal karena kata-katanya tadi membuat Julia kembali mengutuk dirinya. Kalau dihitung, berapa kali Julia mengutuk dirinya, mungkin saja sebentar lagi Julia merasa dirinya akan menjelma jadi seekor kecoak. Cukup aksi mengutuk! Karena itu sebaiknya pergi dari sini secepat mungkin. Julia melirik jam di pergelangan tangannya. Mencari alasan untuk cabut dari hadapan Milan. Sejak pertemuan tadi Julia sudah kalah telak. Dia tidak mau semakin tidak berdaya di depan Milan.