Pada bulan kelima Tara bekerja, nomor yang pernah memperingatkannya tentang rumah besar kembali mengirim pesan. Kali ini tidak ada ancaman atau kalimat tentang permainan. Pesan itu hanya berbunyi, 'Saya yang memberikan kopi pada hari pertamamu. Saya perlu menjelaskan. Boleh bertemu dengan pendampingmu?'
Tara duduk lama di depan layar. Ia ingat perempuan muda di ruang tunggu, tetapi tidak ingat pernah berkenalan. Ingatannya kemudian beralih kepada Reza, kepada nama HRD yang dipakai temannya untuk menyembunyikan sumber informasi, serta semua orang yang merasa berhak mengetahui di mana Surti dirawat.
Ia tidak menjawab dengan alamat atau janji pertemuan. Ia meneruskan permintaan itu kepada Damar dan meminta saran mengenai cara menerima keterangan tanpa berada sendirian. Damar mengatur pertemuan di ruang konsultasi kantornya. Tara menyampaikan tempat dan waktu setelah perempuan itu menyebut nama lengkap serta pekerjaannya.
Namanya Niken. Ia bekerja pada bagian layanan rapat, bergantian menyiapkan ruang tunggu dan membantu administrasi pertemuan keluarga yang memakai fasilitas perusahaan. Beberapa tugas tambahan berasal dari kantor yayasan Slamet. Karena penugasan itulah ia mengetahui kalender, daftar tamu, dan nomor kontak asisten baru. Ia juga pernah diminta menyalin bagian berkas pelamar yang memuat riwayat kerja, sehingga tahu Tara meninggalkan pekerjaan sebelumnya. Tara tidak pernah mengizinkannya membawa informasi tersebut ke percakapan pribadi.
Ketika Niken datang, Tara mengenali wajahnya sebelum mengenali suara. Perempuan itu mengenakan kemeja sederhana dan membawa satu ponsel. Ia meletakkannya di meja tanpa meminta Tara menyentuhnya.
'Saya takut kalau bicara langsung, kamu mengira saya orang mereka,' katanya.
'Kamu memang bekerja untuk mereka,' jawab Tara.
Niken mengangguk. Tidak ada bantahan. Ia mengatakan ia pernah mengirim informasi tentang jadwal Tara kepada petugas administrasi yayasan atas permintaan Slamet. Ia tidak tahu seluruhnya akan dipakai untuk apa. Namun setelah mendengar nama rumah sakit dan kontrakan dibicarakan, ia menyadari yang diminta bukan sekadar jadwal rapat.
Tara menahan napas. 'Nomor saya kamu dapat dari daftar pegawai?'
'Daftar kontak untuk pengaturan jadwal. Saya memakainya untuk hal lain. Itu salah.'
Damar bertanya apakah Niken bersedia memberikan keterangan tersebut melalui proses pengaduan, termasuk bagian tentang dirinya sendiri. Niken menjawab iya. Ia tidak meminta agar keterlibatannya dihapus karena ia akhirnya mengirim peringatan.
Di ponselnya masih ada beberapa pesan keluar. Tara tidak memeriksa seluruh percakapan pribadi Niken. Damar membantu mencatat bagian yang hendak diserahkan dan bagaimana pesan asli akan diperlihatkan kepada pemeriksa. Tanggal serta isi beberapa pesan sesuai dengan yang masih tersimpan pada ponsel Tara. Ada pula pesan pertama yang telah Tara hapus pada dini hari setelah mulai bekerja. Niken masih memiliki salinan pada perangkatnya sendiri.
'Kenapa kamu bilang Reza bekerja untuk orang yang ingin Arka mati?'
Niken menunduk. Ia pernah mendengar Aryo meminta kabar tentang kedekatan Tara dan Arka. Pada malam Reza menelepon Tara, ia juga melihat Reza berbicara di koridor kantor yang masih dipakai menyiapkan rapat. Ia mendengar sebagian kalimat peringatannya, lalu menghubungkannya dengan ucapan keluarga tentang menyingkirkan Arka.
'Saya menyimpulkan terlalu jauh,' katanya. 'Saya tidak mendengar perintah membunuh. Saya tidak tahu Reza menerima perintah seperti itu.'
Tara memandangnya dengan kecewa. Pesan tersebut pernah membuat ia mempertimbangkan apakah satu-satunya teman yang dikenalnya di kantor hendak menjebaknya. Reza telah berbohong tentang informasi pribadi Tara, tetapi kebohongan itu tidak memberi Niken alasan untuk mengubahnya menjadi ancaman pembunuhan.
'Saya takut kamu tidak mendengar kalau saya hanya bilang hati-hati.'
'Kamu membuat saya takut kepada orang yang belum kamu periksa,' kata Tara. 'Rasa takutmu tidak membuat kalimat itu benar.'
Niken menerima teguran itu. Ia meminta agar koreksinya ditulis dan disampaikan kepada pihak yang menilai pesan-pesan tersebut. Tara tidak mengatakan semuanya selesai. Ia ingin kesalahan Niken tercatat bersama hal yang benar-benar dapat dibuktikan.
Peringatan tentang sisi utara memiliki dasar berbeda. Niken membantu menyiapkan rumah besar sebelum makan malam. Ia mendengar Slamet meminta sebuah map diletakkan di ruang kerja utara, untuk ditandatangani asisten baru setelah makan. Map itu memuat pernyataan mengenai informasi keluarga dan akses dokumen. Niken tidak membaca semua halamannya, tetapi ia melihat nama Tara pada lembar depan.
'Kamu tidak jadi masuk ke sana,' katanya. 'Saya tahu karena saya menunggu dipanggil untuk membawa map itu. Tidak ada panggilan.'
Tara mengingat posisinya dekat pintu serta pembicaraan yang terus berlangsung di ruang makan. Ia pernah mengira setiap sindiran mungkin pertanda bahaya yang lebih besar. Kini satu bagian dapat dijelaskan: ada rencana membawanya ke ruangan lain, dan ia tidak mengikutinya. Itu tidak membuktikan seluruh keluarga menyiapkan serangan. Damar menuliskan batas pengetahuan Niken dengan jelas.
Niken juga menceritakan satu pekerjaan di yayasan beberapa pekan sebelumnya. Ia diminta merapikan daftar pengiriman arsip, bukan membuka lemari pribadi. Di antara nomor yang disalinnya ada berkas lama mengenai kendaraan Hendra. Nama sebuah bengkel dan nama Herman tercantum pada korespondensi pembayaran tahun kecelakaan.
'Saya tidak membawa berkasnya,' katanya. 'Saya hanya ingat karena Pak Slamet meminta saya jangan memasukkan nomor itu ke daftar proyek yang sedang dicari audit.'
Damar meminta Niken tidak mencoba kembali mengambilnya. Informasi lokasi dan penugasan dapat disampaikan kepada pemeriksa, yang akan menentukan langkah pengamanan. Tara tidak menghubungi Arka untuk menyuruh orang mendatangi yayasan. Ia sudah mengetahui akibat ketika sebuah nama langsung diubah menjadi sasaran.
Pertemuan itu berlangsung hampir dua jam. Niken menandatangani keterangannya setelah membaca kembali koreksi tentang Reza. Ia akan didampingi untuk menjelaskan akses data pegawai serta pesan-pesan yang dikirimnya. Ia tidak keluar dari ruangan dengan janji bebas dari akibat.
Tara berdiri ketika Niken meminta maaf sekali lagi. 'Saya senang kamu berhenti bersembunyi,' katanya. 'Tapi saya belum bisa menganggap kamu teman.'
'Saya mengerti.'
Di dekat pintu, Niken sempat kesulitan memasukkan ponsel ke tas karena tangannya gemetar. Tara melihatnya tanpa mengulurkan janji yang belum ingin diberikannya. Ia mengenali rasa takut itu, tetapi tetap membiarkan Niken menghadapi jawaban yang harus disampaikan sendiri.
Niken pergi lebih dahulu. Tara menunggu sampai Damar selesai menyimpan catatan, kemudian menelepon Surti. Ibunya sedang memilih tempat untuk pot kecil dekat jendela. Tara mengatakan ia akan pulang membawa makan malam. Ia belum ingin menceritakan semua hal yang baru didengarnya, tetapi untuk pertama kalinya nomor tanpa nama itu telah menjadi seseorang yang dapat dimintai pertanggungjawaban.