Jumat pagi, Tara membaca rancangan berita acara pencarian arsip. Ia memeriksa setiap istilah dengan lembar inventaris resmi. Draf itu menyebut 'persetujuan anggaran ditemukan', tetapi bagian yang diperiksa hanya halaman kedua tanpa halaman tanda tangan. Tara menandai kalimat tersebut dan meminta audit mengubahnya menjadi 'lembar lanjutan yang memuat kode dan nilai ditemukan; halaman tanda tangan belum ditemukan pada map yang diperiksa'.
Auditor meminta penjelasan lewat panggilan singkat. Tara mengatakan ia tidak dapat menentukan apakah halaman itu pernah ada, tersimpan di tempat lain, atau tidak termasuk dalam salinan. Ia hanya tahu apa yang terlihat pada map Kamis. Auditor setuju bahwa redaksi draf terlalu pasti dan mengubahnya.
Arka membaca ringkasan sementara dari audit dan berhenti pada kata 'lembar persetujuan'. Ia bertanya kepada Tara apakah itu berarti keluarga menyetujui nilai baru. Tara menjawab belum. Lembar tersebut tampak sebagai bagian dari rangkaian persetujuan, tetapi halaman tanda tangan tidak ada dan status autentikasi belum ditetapkan.
'Berarti ada sesuatu yang hilang,' ujar Arka.
'Yang bisa dicatat adalah halaman tanda tangan tidak ada di map yang diperiksa. Kita belum tahu apakah hilang, disimpan terpisah, atau salinannya memang tidak lengkap.'
Arka menahan napas. Ia berkata ia berusaha tidak menarik kesimpulan, tetapi ketiadaan halaman itu terasa seperti pola. Tara mengingatkannya bahwa pola baru berarti setelah bukti yang cukup dan pemeriksaan menyeluruh. Ia tidak ingin satu dokumen terpotong menjadi tuduhan kepada Aryo atau siapa pun.
Arka mengakui ia marah kepada proses, bukan kepada Tara. Ia bertanya apakah ia boleh meminta audit mencari halaman pertama di boks lain. Tara menjawab permintaan itu memang wajar, tetapi sebaiknya datang dari unit audit dengan rujukan kode dan nomor map. Arka mengirim permintaan tertulis melalui kanal resmi.
Siang harinya, Reza belum memberi kabar baru. Tara tidak menghubunginya. Ia tidak tahu apakah ia akan membuat laporan resmi atau membiarkan percakapan itu menjadi cerita yang tidak dapat diverifikasi. Tara tidak bertugas memutuskan untuknya.
Audit mengirim versi berita acara yang dikoreksi. Tara memastikan penyebutan kode proyek dan kondisi halaman sesuai inventaris. Ia menandatangani hanya bagian kehadiran sebagai pencatat. Auditor menandatangani temuan sementara. Dokumen menyebut pencarian belum menyeluruh dan pemeriksaan keaslian belum dilakukan.
Bagian keuangan mengirim balasan awal tentang dua kode. Kode A merupakan kode tahap awal, sementara kode B dipakai untuk paket pekerjaan tambahan. Namun balasan itu belum menjelaskan apakah anggaran B disetujui secara terpisah atau dibayar. Mereka meminta salinan dokumen otorisasi yang lengkap sebelum menelusuri jurnal secara spesifik.
Tara mencatat penjelasan itu sebagai informasi resmi bagian keuangan, bukan konfirmasi tentang transaksi. Ia meneruskan nomor surat kepada audit. Audit merespons bahwa penelusuran jurnal akan dimulai setelah daftar dokumen pendukung disepakati.
Menjelang sore, Arka menatap ringkasan di layar. Ia bertanya apakah selisih 150 miliar kini dapat dijelaskan sebagai paket tambahan. Tara berkata belum; kode B berkaitan dengan pekerjaan tambahan menurut surat, tetapi nominal draf dan otorisasi final belum terverifikasi. Bahkan bila ada persetujuan, bukti pencairan tetap pertanyaan terpisah.
Arka mengangguk dan berkata ia tidak ingin Tara membenarkan ketakutannya. Ia ingin tahu apa yang benar. Tara menjawab bahwa untuk sekarang, jawaban yang benar adalah masih belum cukup informasi.
Tara menyelesaikan pekerjaannya tanpa membawa catatan keluar. Ia menutup sistem, mengunci kartu akses, dan pulang. Kalimat 'halaman tidak ada' terdengar mudah dipelintir menjadi 'seseorang menghilangkan halaman'. Ia memilih kata yang lebih sempit, karena itulah yang bisa dipertanggungjawabkan.
Senin pagi pekan berikutnya, Tara menerima pesan dari Reza. Ia menulis bahwa setelah mempertimbangkan, ia ingin membuat catatan resmi melalui jalur kepatuhan perusahaan. Ia tidak meminta Tara mengatur pertemuan atau mengantarkannya. Ia hanya bertanya apakah ia boleh menyebut nama Tara sebagai orang yang pernah ia ceritakan.
Tara menjawab bahwa ia boleh menyampaikan apa yang ia ingat, tetapi tidak boleh menyebut Tara sebagai saksi atas percakapan yang tidak ia dengar. Ia juga mengingatkan bahwa ia tidak akan mengatur proses atau menjanjikan hasil. Reza membalas bahwa ia paham dan akan menjelaskan batas pengetahuannya.
Tara tidak memberi arahan tentang isi laporan. Ia tidak ingin Reza menyusun cerita agar terdengar lebih meyakinkan. Ia hanya menyarankan agar ia membedakan ingatan langsung dari dugaan, serta mencantumkan tanggal yang tidak pasti sebagai perkiraan. Reza berterima kasih dan mengakhiri percakapan.
Hari itu, audit meminta Tara memperbarui daftar dokumen yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi halaman tanda tangan. Mereka menyebut kemungkinan adanya daftar pengiriman, nomor registrasi, atau versi lengkap di boks lain. Tara memasukkan tiap butir sebagai permintaan pencarian, bukan sebagai bukti bahwa halaman tersebut pernah ada.
Arka bertanya apakah ada perkembangan dari Reza. Tara menjawab bahwa Reza berencana menghubungi kepatuhan secara mandiri. Ia tidak menunjukkan pesan atau menyalin keterangannya. Arka berkata ia ingin tahu apakah Reza bisa mengonfirmasi siapa yang meminta kabar. Tara menegaskan bahwa ia tidak akan meminta Reza menyebut apa pun selain yang ia ingat.
Arka tidak meminta lebih. Ia berkata ia tidak akan menghubungi Reza atau menggunakan jabatannya untuk mempercepat laporan. Tara mengangguk. Ia ingin memastikan keputusan itu benar-benar menjadi milik Reza.
Pada siang hari, sekretariat memberi tahu permintaan arsip yayasan belum memperoleh jawaban substantif. Pengelola dokumen meminta identifikasi periode dan kode agar pencarian dapat dilakukan. Arka mengirim tambahan rincian dari dokumen resmi, tanpa meminta Tara menghubungi Slamet. Permintaan diperbarui dan masuk antrean lagi.
Audit menetapkan jadwal pemeriksaan fisik berikutnya untuk Kamis. Tara ditawari peran pencatat, dengan ruang lingkup tertulis dan hak mengundurkan diri. Ia menyetujui setelah membaca agenda. Kali ini daftar boks menyebut kemungkinan adanya map persetujuan, tetapi catatan katalog tidak menjamin isinya.
Sore hari, Arka tampak menahan ketidaksabaran. Ia bertanya berapa lama pemeriksaan bisa berlangsung. Tara menjawab ia tidak tahu, dan tidak akan meminta akses informal. Arka menyandarkan punggung ke kursi, lalu berkata ia ingin menyelesaikan ini sebelum semakin banyak orang menyusun versi masing-masing.
'Versi yang cepat belum tentu benar,' kata Tara.
'Aku tahu. Aku akan menunggu hasil audit.'
Ia mengucapkannya tanpa menuntut Tara memastikan. Tara kembali ke mejanya. Ia melihat lagi bahwa aksesnya masih hanya untuk inventaris. Tidak ada tugas wawancara atau pemeriksaan Reza.
Menjelang pulang, Reza mengirim konfirmasi bahwa formulir kepatuhan telah diterima. Ia tidak memberi isi laporan dan Tara tidak memintanya. Ia hanya menyampaikan nomor penerimaan agar jika ditanya nanti ia dapat merujuk proses resmi. Tara membalas singkat, 'Terima kasih sudah memberi tahu. Semoga prosesnya berjalan sesuai prosedur.' Setelah itu, ia tidak melanjutkan percakapan.
Kamis pagi, Tara menghadiri pemeriksaan arsip tambahan. Prosedurnya sama: ponsel masuk loker, boks dibuka petugas, setiap map dicatat. Kali ini ada dua map dengan label yang mungkin berkaitan dengan kode B. Label bukan jaminan isi, sehingga auditor memeriksa lembar demi lembar sebelum mencatat statusnya.
Map pertama berisi salinan daftar pengiriman dokumen. Terdapat kolom penerima dan tanggal, tetapi sebagian kolom kosong. Tidak ada bukti tanda terima. Map kedua memuat halaman pertama dari dokumen persetujuan yang sebelumnya hanya ditemukan halaman keduanya. Nomor halaman dan kode dokumen cocok, tetapi halaman itu berupa salinan, bukan naskah asli. Kolom tanggal terisi, sementara tanda tangan terlihat samar.
Auditor tidak menyatakan tanda tangan itu milik siapa pun. Mereka mencatat salinan perlu dibandingkan dengan sumber lain dan diperiksa oleh petugas yang memiliki keahlian. Tara mencatat kondisi fisik serta nomor halaman sesuai arahan. Ia tidak mencoba membaca tanda tangan atau membandingkannya dengan contoh lain.
Lembar pertama memuat nilai yang berbeda dari lembar lanjutan. Ada catatan koreksi dengan tinta lain di tepi halaman, tetapi belum jelas kapan dibuat dan oleh siapa. Auditor menyebut hal itu sebagai ketidaksesuaian yang perlu ditelusuri. Tara memasukkan pertanyaan ke daftar tindak lanjut: apakah kedua halaman berasal dari versi yang sama, kapan koreksi ditambahkan, dan apakah ada naskah asli.
Tidak ada bukti pencairan di map tersebut. Daftar pengiriman juga tidak menunjukkan bahwa dokumen benar-benar diterima oleh pihak yang dituju. Auditor menegaskan persetujuan anggaran, jika terbukti, tetap berbeda dari bukti pembayaran. Tara menulis pernyataan itu sebagai batas temuan sementara.
Sesi berakhir setelah inventaris diperiksa oleh auditor. Tara menyerahkan lembar kerja dan menandatangani hanya sebagai pencatat. Ia meninggalkan ruang penyimpanan tanpa foto atau dokumen.
Arka menerima pemberitahuan bahwa halaman pertama dan kedua ditemukan dalam bentuk salinan. Ia menghubungi Tara untuk bertanya apakah nilai di halaman itu sudah dapat dipercaya. Tara menjawab belum. Ada perbedaan angka, tanda tangan samar, koreksi yang belum diketahui asalnya, dan belum ada naskah asli.
Arka berkata ia ingin menanyai Aryo. Tara menjawab itu keputusan manajemen, tetapi ia sebaiknya berkonsultasi dengan audit dan tidak menyampaikan temuan sementara sebagai tuduhan. Arka menyatakan ia akan menunggu evaluasi dokumen. Ia tidak meminta Tara hadir dalam percakapan apa pun.
Audit mengirim permintaan resmi kepada bagian keuangan untuk melacak dua kode setelah menentukan dokumen mana yang dapat digunakan sebagai dasar. Mereka juga meminta arsip yayasan mengidentifikasi apakah ada salinan lain. Belum ada tanggal hasil. Tara mencatat nomor tindak lanjut dan status 'menunggu pemeriksaan keaslian serta pemetaan kode'.
Sore hari, Reza mengirim pesan bahwa petugas kepatuhan telah menerima keterangannya dan mungkin akan menghubunginya lagi. Ia tidak memberi rincian. Tara membalas bahwa ia tidak perlu memberi tahu lebih banyak. Reza tidak meminta Tara mengonfirmasi cerita atau menjadi saksi. Tara menghargai jarak itu, meski belum mengetahui apakah keterangannya akan berguna.
Tara menutup inventaris dan kembali pada tugas administrasi hariannya. Ia tidak menulis nama pelaku, tidak menghubungkan proyek dengan kematian Hendra, dan tidak menyampaikan isi arsip kepada keluarga. Batas yang dapat dipertanggungjawabkan masih jelas: dokumen harus diuji, pembayaran harus ditelusuri, dan keterangan Reza tetap berada di jalur kepatuhan.