Hari penting itu pun tiba. Hari itu Akira akan menikah dengan Albert. Dia sendiri tidak bisa menggambarkan perasaannya antara bahagia atau perasaan lain yang tak mudah untuk dijelaskan. Rasa cinta jelas belum ada. Dia hanya berusaha mengikuti alur dari jalan yang ia anggap sebagai takdir hidup. Seperti yang dikatakan Clarissa, mungkin cinta akan tumbuh secara perlahan dalam hubungan mereka nantinya.
Akira sedang duduk di depan cermin. Clarissa sibuk meriasnya sedemikian rupa. Tak lupa baju pengantin kiriman Albert juga sudah ia kenakan. Hari itu mereka akan menikah tapi tanpa melibatkan kehadiran banyak orang. Hanya beberapa orang yang terdiri dari penghulu, saksi, dan petugas KUA.
Tidak ada pihak keluarga atau pun kerabat yang hadir. Akira mengetahi bahwa Albert sudah yatim piatu dan tidak memiliki satu pun keluarga dekat. Sementara dirinya sendiri sudah tak memiliki seorang ayah sehingga perwaliannya diserahkan pada wali hakim. Mungkin dia hanya akan datang dengan didampingi oleh Clarissa.
Sesungguhnya yang menjadi beban pikiran Akira adalah Sofia. Dia bahkan tidak memberitahu sang ibu tentang pernikahan itu. Akira merasa bersalah karena sudah berbohong begitu jauh pada Sofia.
Setiap ibu berhak menyaksikan pernikahan putrinya. Tapi Akira sudah merenggut hak itu dari Sofia. Akira sangat yakin bahwa ibunya pasti akan kecewa karena dia berbohong dengan hal sebesar itu. Tapi gadis itu merasa tidak punya pilihan lain.
“Make upnya sudah selesai. Sahabatku tampak sangat cantik hari ini,” ujar Clarissa sembari memuji saat memandangi penampilan Akira yang sudah menjelma bak seorang putri dari negeri dongeng. Akira hanya tersenyum datar.
“Hei, kenapa ekspresi wajahmu seperti itu? Apa yang kamu pikirkan?” tanya Clarissa melihat Akira tampak memikirkan sesuatu. “Apakah kamu sangat gugup memikirkan malam pertamamu dengan Albert nanti?” goda Clarissa sembari menyikut lengan sahabatnya itu.
“Dasar kau ini. Aku tidak memikirkan hal itu,” bantah Akira. “Aku hanya sedang teringat pada ibu. Aku sudah menyembunyikan hal besar darinya. Aku bahkan tidak memberitahu bahwa hari ini putrinya akan menikah. Ibu pasti akan marah dan kecewa,” ungkap Akira dengan wajah lesu.
“Ra, aku mengerti bagaimana perasaanmu. Tapi semua ini kamu lakukan juga untuk menjaga nama baik ibumu. Aku pikir Tante Sofia juga pasti akan mengerti jika tahu alasan yang sebenarnya,” kata Clarissa memberi pengertian.
“Tapi sampai kapan aku akan terus menyembunyikan hal ini?”
“Sampai kamu merasa sudah waktunya untuk memberitahu semua yang terjadi pada ibumu. Masalah ini cukup pelik, Akira. Membongkar satu kebohongan akan menarik tirai kebohongan yang lainnya. Kamu mengerti apa yang aku katakan bukan?”
“Iya. Aku sangat mengerti itu, Cla.”
“Maka dari itu, kamu tidak perlu terus merasa khawatir dan terbebani. Khusus untuk hari ini, kamu harus menunjukkan wajah bahagia terlebih di hadapan suamimu nanti. Jangan membuat Albert merasa kamu terpaksa menikah dengannya. Itu akan melukai cinta di hati seorang laki-laki. Dia sudah membuat keberanian penuh untuk menikahimu dengan segala kondisi yang ada,” ungkap Clarissa.
Akira pun setuju dan membenarkan hal itu. Akira justru merasa harusnya dia berterima kasih karena pernikahan itu seperti pertolongan berharga yang Albert berikan padanya. Entah akan ada cinta atau tidak, tapi dalam hati Akira berjanji akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Albert nanti. Meski dia sadar diri bahwa dirinya tak sempurna lagi.
Setelah semua persiapan dilakukan, Akira dan Clarissa berangkat menuju lokasi akad. Di depan rumah Clarissa juga sudah ada mobil dan sopir khusus yang ditugaskan Albert untuk menjemput calon istrinya. Sebuah perlakuan yang begitu istimewa.
Tak berapa lama setelah menempuh perjalanan, mereka pun sampai di sana. Prosesi sakral itu akan dilangsungkan di taman sebuah hotel dengan konsep outdoor. Albert sudah menyiapkan semua sedemikian rupa. Dia juga memberitahu rencananya pada Akira bahwa mereka akan menginap semalam dulu di hotel itu.
Taman itu sudah dihias dengan dekorasi sederhana tapi tak mengurangi kesan mewah. Lokasi akad cukup sepi karena memang hampir tidak ada tamu yang diundang. Akira berjalan menuju meja akad dengan didampingi oleh Clarissa. Terlihat Albert sudah menunggu dengan senyum mengembang di sana.
Jantung Akira berdegup tak karuan. Seakan ia sedang berjalan menuju kehidupan baru. Setapak demi setapak langkah akan membawanya pada status baru sebagai seorang istri.
Akira tahu memang bukan pernikahan seperti itu yang dia impikan. Pernikahan yang tidak sempurna tanpa kehadiran orang-orang tersayang. Tapi dalam peliknya masalah hidup yang mendera belakangan ini, Akira berpikir mungkin pernikahan itu adalah setitik kebahagiaan yang dianugerahkan Tuhan sebagai pelipur lara.
Akira duduk pada kursi yang berdampingan dengan Albert. Akira sempat menangkap pandangan Albert yang memperhatikan dirinya. Perasaannya kembali bertalu-talu saat penghulu mulai menjabat tangan Albert. Pertanda ikrar suci pernikahan akan segera dilangsungkan.
“Saya terima nikah dan kawinnya Akira Calista Prasiwi dengan mas kawin tersebut tunai.”
Kata itu melantun dengan merdu dari mulut seorang Albert Kenzi Erdinata. Sebuah ucapan yang menandakan dimulainya hubungan baru antara pasangan itu. Ucapan sah mengalun dari para saksi. Menandakan mereka sudah resmi menjadi suami istri. Acara terus dilanjutkan dengan penanda tanganan dan penyerahan buku nikah.
Setelah semua prosesi inti itu selesai, Clarissa langsung menghampiri Akira dan memeluknya. Clarissa mengucapkan selamat atas pernikahan Akira dan Albert. Akira pun turut terharu dengan momen itu. Clarissa adalah sahabat terbaik yang membantunya di saat dia tertatih dalam masalah hidup yang begitu rumit.
“Selamat untukmu, Nyonya Albert. Aku harap kamu akan bahagia ke depannya,” ucap Clarissa dengan tulus.
“Terima kasih, Cla. Terima kasih banyak karena selama ini kamu selalu ada untukku,” jawab Akira tak kalah tulusnya.
“Sekarang kamu tidak perlu khawatir lagi. Kamu sudah memiliki Albert yang akan mendampingi. Babymu juga akan punya ayah nanti,” bisik Clarissa.
“Semoga semuanya berjalan dengan baik,” kata Akira penuh harap.
Tidak banyak susunan acara yang dilangsungkan. Setelah prosesi akad nikah selesai, mereka langsung mengabadikan momen itu dengan kamera. Clarissa begitu heboh melakukan selfie bersama sang pengantin. Fotografer yang sudah standby di sana juga tak kalah sibuk memotret kebersamaan Albert dan Akira.
Acara tak berlangsung lama karena Albert mengatakan bahwa Akira tidak boleh terlalu kelelahan dalam kondisi hamil muda. Albert masih ingat betul pesan Dokter Mega. Clarissa juga mengerti hal itu. Setelah acara usai, dia pun pamit pulang.
Clarissa hanya pulang sendiri karena Albert dan Akira akan menghabiskan waktu semalam di hotel itu. Lagi pula sebagai sahabat, dia merasa Akira sudah menemukan rumah barunya yaitu sang suami. Clarissa memeluk Akira sekali lagi sebelum pergi.
“Enjoy your night,” bisik nakal Clarissa menggoda Akira. Akira hanya berdelik malas mendengar ocehan sahabatnya.