“Bagaimana? Apakah kamu sudah melakukan tugasmu dengan baik? Apakah Akira akan menyetujui pernikahan itu?” tanya Albert saat berbicara dengan seseorang di telepon.
“Tenang saja, Bos. Keahlianku tidak perlu diragukan. Semua akan berjalan sesuai rencana. Kau akan segera melihat hasilnya,” jawab seseorang dari seberang terdengar begitu yakin.
“Baiklah, aku tunggu. Lanjutkan tugasmu dengan baik. Aku tidak mau sampai ada kesalahan,” ujar Albert memberi peringatan sebelum akhirnya mengakhiri panggilan.
Laki-laki itu tersenyum licik di dalam kamarnya. Tangannya masih refleks memutar-mutar ponsel dalam genggamannya. Albert membayangkan satu persatu rencana yang akan ia jalankan. Ya. Dia masih Albert yang licik dan sangat ahli dalam bermuka dua. Kelembutan dan kasih sayang yang dia tunjukkan pada Akira hanyalah pemanis buatan agar gadis itu percaya.
“Entah kau itu gadis yang terlalu polos atau terlalu bodoh, Akira. Mudah sekali terjebak dalam perangkapku. Aku bisa melihat bahwa dia mulai terkesan dengan sikap yang aku tunjukkan. Tak lama lagi, setelah kami resmi menjadi suami istri, maka aku akan semakin leluasa untuk berbuat lebih banyak hal menyakitkan padanya,” gumam Albert membanggakan diri sendiri.
Begitulah seorang Albert. Dia tidak pernah berpikir tentang cinta dan perasaan. Bahkan ajakan menikah yang dia utarakan pada Akira hanya sebuah kepura-puraan. Dia tidak pernah benar-benar peduli pada gadis itu.
Tujuan utamanya menikahi Akira hanya karena dia menginginkan anaknya. Albert ingin memastikan agar anak itu baik-baik saja selalu berada dalam pengawasannya. Nantinya setelah anak itu lahir, Albert berencana akan langsung mencampakkan Akira. Dia akan mengambil dan menguasai anak itu sendiri.
Tapi sebelum waktu itu tiba, Albert harus menahan diri dengan bersandiwara sebagai pendamping hidup yang baik bagi Akira. Meski begitu dia tidak akan tinggal diam. Albert tetap tidak rela jika Akira bisa bersenang-senang menikmati kenyamanan yang dia berikan nanti. Perlahan dia akan membuat Akira merasa tersiksa.
“Kau lihat saja nanti, Akira. Aku akan mengalahkanmu dalam permainan ini. Aku akan membuatmu terus merasa tersakiti tapi di sisi lain juga tidak bisa untuk pergi,” ucap Albert dengan penuh ambisi.
***
Pagi itu Akira menikmati sejuk udara pagi yang belum bercampur dengan polusi. Dia sengaja membuka jendela kamarnya dan mempersilahkan hawa segar untuk masuk. Sejenak Akira merasa lebih tenang dan damai.
Setelah mendengarkan saran dari Clarissa, akhirnya Akira pun menentukan sebuah keputusan. Pilihan yang tidak mudah dicapai karena harus melalui proses perenungan selama semalaman. Dia berencana untuk memberitahu Albert tentang keputusannya itu. Tidak enak pula jika terlalu lama membuat laki-laki itu menunggu.
Akira meraih ponselnya dan menghubungi Albert. Akira mengajak Albert untuk bertemu. Albert pun setuju dan mengatakan akan menjemput Akira ke rumah Clarissa. Setelah mencapai kesepakatan itu, Akira pun mulai bersiap sebelum Albert datang mendahului.
Tak lama setelah Akira merampungkan persiapannya, suara deru mobil terdengar di halaman rumah. Akira tak ragu lagi bahwa yang datang itu pasti Albert. Benar saja, dia langsung mendapati Albert saat membuka pintu rumah. Sudah beberapa hari Akira tidak bertemu dengan laki-laki itu.
“Apakah kamu sudah siap?” tanya Albert sembari memandangi Akira dari atas kepala hingga ujung kaki.
“Sudah,” jawab Akira singkat.
“Apa Clarissa ada di rumah?”
“Tidak. Dia sedang pergi. Tapi aku sudah berpamitan bahwa aku ada janji dengan bapak.”
“Kalau begitu sebaiknya kita berangkat saja sekarang,” ajak Albert langsung.
“Apa bapak tidak mau masuk dulu?” tawar Akira.
“Tidak perlu. Tujuan utamaku adalah untuk bertemu denganmu,” jawab Albert. Dia kemudian melangkah menuju mobil. Akira menyusul setelah sempat mengunci pintu terlebih dahulu.
Albert membawa Akira ke sebuah kedai teh. Setelah pesanan tersaji, Akira menyempatkan diri untuk meneguk minumannya sebelum angkat bicara. Dia merasa gugup dan berusaha menenangkan diri.
“Jadi apakah kamu sudah punya jawaban, Akira?” tanya Albert mendahului. Dia sadar Akira tidak akan merasa nyaman jika harus mengawali pembicaraan.
“Iya, Pak. Aku sudah membuat sebuah keputusan,” jawab gadis itu.
“Apa keputusanmu?” tanya Albert menunggu.
“Aku ... aku bersedia menikah denganmu,” ucap Akira. Akhirnya kata itu melesat keluar dari bibirnya. Albert sontak tersenyum mendengar jawaban itu.
“Terima kasih, Akira. Aku sangat bahagia mendengarnya,” tutur Albert. Laki-laki kemudian meraih salah satu tangan Akira dan menggenggamnya. “Aku akan berusaha menjadi pendamping hidup yang baik untukmu. Kita akan bahagia dengan keluarga kecil ini nantinya,” kata Albert disertai ciuman pada tangan Akira. Perlakuan Albert itu membuat Akira merasa malu.
“Pak, ini di tempat umum. Aku malu,” kata Akira sembari melihat kanan kiri. Khawatir ada orang yang memperhatikan mereka berdua.
“Mulai sekarang kamu tidak boleh memanggilku dengan sebutan bapak karena tak lama lagi kamu akan menjadi istriku,” pinta Albert.
“Lalu aku harus memanggilmu apa?”
“Panggil namaku saja.”
“Baiklah, Albert.”
Tidak sampai di situ, Albert juga membuat Akira takjub saat laki-laki itu merogoh sesuatu dari dalam saku jasnya. Sebuah kotak beludru berwarna hitam yang isinya adalah sebuah cincin. Tanpa ragu, Albert meraih tangan Akira dan menyematkan cincin itu di jari manisnya.
“Mulai sekarang, kamu sudah menjadi milikku dan aku akan segera meresmikan hal itu,” kata Albert mantap. Akira hanya tersenyum merasa diperlakukan istimewa.
“Terima kasih. Ini cincin yang sangat indah,” ucap Akira sembari memandangi sebuah cincin berlian yang sudah bertahta di jarinya. Pertanda bahwa dia sudah terikat hubungan dengan seseorang.
Tak sampai di situ, Albert juga mengatakan rencananya agar pernikahan mereka segera dilaksanakan. Akira juga setuju dengan hal itu karena mempertimbangkan kehamilannya. Mereka merasa jalan terbaik adalah menikah sebelum perut Akira membesar.
Akira juga mengatakan keinginannya pada Albert. Dia hanya ingin menikah secara sederhana. Tidak perlu ada pesta atau mengundang banyak orang. Akira ingin hari bersejarah itu hanya dinikmati oleh mereka berdua saja.
“Kamu pasti masih ingat bahwa orang-orang di kantormu sudah tahu tentang kehamilanku. Kalau mereka tahu kamu menikahiku dalam kondisi seperti ini, kamu pasti akan menjadi bahan pembicaraan juga. Aku tidak mau membuat nama baikmu menjadi buruk di mata para karyawanmu sendiri. Oleh karena itu aku berpikir sebaiknya pernikahan kita tidak perlu dihadiri banyak orang,” kata Akira mengutarakan pendapatnya.
“Aku senang mendengar ini, Akira. Ternyata kamu begitu peduli untuk menjaga nama baikku. Aku merasa keputusanku tidak salah untuk menikahimu. Tentu tidak masalah jika pernikahan itu dilakukan secara sederhana. Hal yang terpenting bagiku hanyalah dirimu. Menjadikanmu milikku seutuhnya,” ungkap Albert membuat wajah Akira bersemu merah merona.
Akira masih merasa canggung setiap kali Albert mengungkapkan kata-kata manis padanya. Dia bahkan tidak pernah membayangkan akan menjalin hubungan seperti itu dengan Albert. Padahal saat awal-awal bekerja, Akira selalu merasa kesal dengan sikap laki-laki itu. Siapa sangka tak lama lagi dia akan menjadi istri dari mantan atasannya sendiri.