Di kantin, seperti hari biasanya Shea duduk seorang diri di salah satu kursi. Jika di jam istirahat ini semua orang menyempatkan waktu untuk makan sambil mengobrol bersama teman-temannya, tidak untuk seorang Shea karena dirinya tak mempunyai teman. Tapi bukan berarti dia melewatkan waktu untuk makan, buktinya saat ini ada s**u dan sandwich buah di mejanya.
Matanya pun tak hanya terpaku pada makanan, melainkan pada HP yang saat ini sedang dipegangnya. Jarinya dengan lincah menari-nari di atas layar, memainkan salah satu game online yang baru-baru ini menjadi permainan favoritnya. Sesekali jika ada kesempatan ia menggigit sandwich dan meminum s**u beruang kesukaannya.
Namun di tengah keasikannya itu, tiba-tiba saja Shea melemparkan HPnya ke meja dengan gerakan kecil. Matanya membesar, menelan ludah sekali, kemudian sekali lagi melirik layar HPnya untuk memastikan apa yang barusan Dia lihat. Memang benar, dirinya sedang tidak mengkhayal. Sebuah notifikasi memang tertera di sana, pesan dari Rarki. Senyumnya mengembang, lalu dengan cepat Ia kembali meraih handphonenya untuk membuka pesan itu.
'Lagi apa?'
Senyumnya semakin mengembang, jarinya mulai menari tapi kali ini untuk membalas pesan Rarki, tak lupa menambahkan ikon hati di akhir kata.
'Makan'
Dua detik kemudian pesan dibaca, namun satu menit berlalu, bukannya balasan pesan, melainkan masuk panggilan video dari kontak yang bertuliskan 'Calon pacar'. Sedikit terkejut, tapi Shea langsung menggeser ikon berwarna hijau tanda kalau dirinya menerima panggilan itu.
"Felix?" Tapi yang Ia dapati adalah wajah Felix yang memenuhi layar HPnya, bukan Rarki.
"Hai Sheaa!!"
"Hai, Felix.. Ini.. HPnya Rarki kan?" Gadis itu tersenyum.
"Iya, gue minjem." Felix menunjukkan cengirannya.
"Emang calon pacar gue kemana?"
"Calon pacar? Nihhh..." Dan terlihatlah wajah Rarki yang ternyata ada di samping Felix, melirik ke layar sekilas sambil menyeruput minuman berwarna coklat.
"Haii calon pacar yang gantengnya kebangetannn.." Celetukan aneh Shea bahkan sudah terdengar biasa di telinga Rarki, sehingga dirinya tak lagi bereaksi. Jangan lupa Shea tak memperdulikan tatapan orang-orang sekitar yang melihat aneh ke arahnya.
'Orang aneh yang menyedihkan', kira-kira begitulah tatapan mereka pada Shea.
"Sok cuek dia She, biarin aja." Tiba-tiba layar kembali dipenuhi oleh wajah Felix. "Eh, She. Lo lagi makan bereng temen-temen lo kan? Kenalin dong ke gue.."
"Kenalin gue juga She! Biasanya orang cantik temen-temennya juga cantik.." Ando muncul di layar bersama Felix.
"Ehmm.. Tapi.. Ga ada siapa-siapa." Shea melihat sekeliling, memastikan saat ini dirinya memang sedang makan seorang diri. "Gue makan sendiri."
*********
"Aw!" Rarki memekik kesakitan karena kepalanya yang terlempar bola basket. Salahnya sendiri, sejak tadi konsentrasinya terganggu oleh dua insan yang sedang duduk berbincang di pinggir lapangan. "Ck," Tanpa kata-kata Rarki meninggalkan lapangan membuat pemain lainnya menghentikan permainan, melihat apa yang akan dilakukan salah satu pemain terbaik itu.
"Lang! Gantiin gue!" Dalam perjalanannya ke pinggir lapangan Rarki berteriak, sehingga permainan kembali dilanjutkan. Elang yang sedang asik mengobrol dengan Shea tertegun, mau tak mau Ia menuruti kemauan seniornya itu setelah permisi dengan Shea tentunya.
"Kok udahan?" Shea mengulurkan minum pada Rarki.
"Sorry deh udah ganggu lu sama Elang, tapi gue mau pulang." Bukannya meraih minuman itu, Rarki beralih pada tasnya dan mengambil handuk kecil miliknya untuk mengelap keringat yang hanya sedikit tak seperti biasanya.
"Kenapa? Lo sakit Ki?" Raut panik menghiasi wajah Shea, punggung tangannya spontan langsung menyentuh puncak kepala Rarki. Tapi pria itu menjauhkan kepalanya, berusaha menolak perlakuan Shea.
"Engga. Kalo lo masih mau di sini, gue duluan. Entar minta anter Elang aja." Setelah merasa dirinya sudah selesai mengelap keringat, Rarki langsung memasukkan handuknya ke dalam tasnya dan dengan langkah besar ia berjalan pergi sambil membawa tasnya. Tentu saja hal itu membuat Shea sedikit berlari karena sulit untuk menyamakan langkah mereka.
"Lo kenapa sih?" Entah sudah ke berapa kalinya Shea menanyakan pertanyaan yang sama.
"..." Dan entah ke berapa kalinya juga Rarki tak merespon pertanyaan itu, saat ini dirinya fokus pada jalanan walau sebenarnya Dia mendengar dengan jelas yang dikatakan Shea.
*********
Malam ini Shea sedikit bersemangat. Ia baru saja selesai mengganti piyama beruang teddy nya dengan kaos putih polos lengan pendek dan hotpant jeans di atas lutut yang tak terlalu pendek tapi mampu memperlihatkan sedikit paha putihnya. Ia memadukannya dengan cardigan panjang berwarna abu-abu.
Tak lupa Shea menghias wajahnya dengan sedikit bedak dan liptint di bibirnya. Seperti biasa rambutnya Ia biarkan digerai bebas. Diraihnya tas selempang kecil berwarna hitam sebelum meninggalkan kamar. Tepat saat Ia menutup pintu kamar, smartphonenya bergetar menandakan ada pesan masuk.
'Gue udah di depan.'
"Ma, Pa, Shea berangkat yaa." Melewati ruang keluarga, Shea sempat mencium pipi kedua orang tuanya yang sedang menonton acara tv seperti biasa, siaran politik yang Shea tak mengerti.
"Sama Rarki kan?"
"Iya Maa."
"Jam sembilan harus udah di rumah ya."
" Iya Papa.. Bye.."
"Hati-hati bilang sama Rarki."
"Iyaaaa.." Memakai sepatu sneakers putih, lalu Shea keluar rumah. Benar saja, seseorang yang dikenalnya sudah berada di luar gerbang dengan motornya. Untuk pertama kalinya Shea keluar rumah di malam hari, bukan bersama Kakak ataupun orang tuanya melainkan bersama pria yang baru beberapa hari ini dikenalnya.
"Udah nunggu lama ya?"
"Engga kok, baru." Orang itu tersenyum menyambut kedatangan Shea. "Lo cantik." Lanjutnya lagi yang hanya dibalas senyuman oleh Shea.
"Rarki udah di sana Lang?" Ya, lelaki itu tak lain adalah Elang. Tapi kenapa Elang yang menjemput Shea? Bukannya Rarki? Kemana mereka akan pergi?
"Katanya sih udah, yuk." Shea langsung naik ke kursi belakang motor Elang, setelahnya motor berwarna hitam itu mulai melaju meninggalkan komplek rumah Shea.
Butuh waktu hampir 15 menit bagi pria berkulit putih itu akhirnya tiba dan memarkirkan motornya di depan sebuah bangunan yang dihiasi banyak lampu. Lampu yang mampu membuat tempat itu mencolok di antara banyak bangunan mencolok lainnya.
"Lo serius Rarki sering ke sini Lang?" Mata Shea bergerak memperhatikan bangunan di depannya itu seraya turun dari motor.
"Yoi, dia kemari sama temen-temennya. Pasti lo kenal mereka juga kan. Seru di sini, kita bakal seneng-seneng bareng deh pokoknya." Elang turun dari motor, sedikit menata kerah kemejanya, lalu menarik tangan Shea menuntunnya masuk ke bangunan yang di pintunya dijaga oleh 2 orang bodyguard bertubuh kekar.
Begitu masuk suara dentuman musik dan tawa bahagia orang-orang langsung memenuhi indera pendengaran Shea. Terlalu banyak orang di sana, para wanita mengenakan baju kurang bahan meliuk-meliukkan tubuhnya dengan seksi, menggoda setiap pria yang juga ikut menari di lantai dansa. Sangat berisik bagi Shea, orang yang baru pertama kalinya datang ke tempat yang disebut klub itu.
Wanita itu tak berfokus pada orang-orang di sana, matanya bergerak mencari-cari dimana pria yang menjadi alasannya datang ke tempat ini, Rarki. Elang masih menggenggam tangannya. Pria itu berhenti dan menyapa kumpulan pria yang duduk di bar sambil meminum minunan yang entah apa namanya.
"Hai gaesss!" Satu persatu Elang memberi salam macho pada beberapa pria yang tampak seumuran dengan kami.
"Wow! Hai cantik.. Siapa nih cewek yang lu bawa?"
"Oh, kenalin. Ini Shea."
"Hai Shea. Lo tinggi ya."
"Body lo juga oke."
"Ga salah lo milih cewek Lang!" Mereka semua tertawa, kecuali Shea yang hanya tersenyum miris. Hatinya tidak tenang karena belum menemukan sosok pria yang dicarinya. Pelan Ia mencubit lengan baju Elang, mencoba menyadarkan pria itu.
"Dimana Rarki? Lo bilang udah di sini?" Shea harus mendekatkan bibirnya ke telinga Elang agar pria itu bisa mendengarnya.
"Ohiyaya, dimana Rarki? Katanya udah di sini tadi." Hanya 5 detik Elang memutar kepalanya mencari Rarki, kemudian kembali menatap Shea.
"Mungkin dia lagi di sana, jadi ga keliatan." Dagu Elang menunjuk ke arah kerumunan orang yang sedang menari di lantai dansa. "Entar kita cari si Rarki! kita minum aja dulu!."
"Tapi gue mau ketemu dia dulu!" Mereka harus saling berteriak agar lawan bicaranya bisa mendengar karena musik yang terlalu keras.
"Lo mau ke sana?!" Shea mengangguk cepat saat Elang menunjuk ke arah lantai dansa lagi. "Gaes, gue mau seneng-seneng dulu ya!" Mereka mulai memasuki kerumunan orang.
"She! Musiknya enak banget!" Elang mulai menggoyangkan tubuhnya, mengikuti irama Dj yang terdengar seru baginya namun memekakkan bagi Shea. "Lo juga harus coba!" Elang memegang tangan Shea dan menggoyang-goyangkannya agar ikut menari bersamanya, tapi Shea menggeleng dan melepaskan tangannya.
"She! Mau kemana?!" Elang hendak mengejar Shea yang berjalan pergi, tapi seorang wanita seksi mulai menari menggodanya. Hal itu membuat Elang tergoda dan berakhir menari bersama wanita asing itu.
Shea berjalan semakin masuk ke dalam kerumunan, mencari Rarki. Tapi terlalu banyak orang di sana. Matanya tak bisa diam, bergerak kesana kemari. Beberapa pria berusaha menyentuhnya, tapi Ia selalu menepis dan langsung menjauh. Dirinya terus mencari, Ia tak menyadari ada dua pasang mata yang menatap lapar ke arahnya. Saling bicara lewat tatapan, seakan sedang merencanakan sesuatu.
"Hai cantik.." Benar saja, salah satu dari mereka muncul di depan Shea, mengangkat tangan berusaha menyentuh pipi lembut wanita itu.
"Apaan sih!" Tapi Shea langsung menepisnya sebelum pria yang terlihat berumur dua puluhan itu menyentuhnya.
"Hei, jangan kasar-kasar dong cantik.." Sekali lagi pria berkumis tipis itu mencoba menyentuhnya. Belum sempat Shea menghindar, tiba-tiba ada yang memeluk pinggangnya dari belakang.
"Main sama kita yuk.."
"Lepas!!" Panik? Tentu saja. Walau dirinya terus meronta sekuat tenaga untuk melepaskan pelukan itu, tetap saja Ia adalah seorang wanita yang tak bisa mengalahkan kekuatan pria.
"Ayolah.. Ga usah sok jual mahal.." Kedua pria itu menggeret Shea keluar dari kerumunan.
"Lepas! Lepasin gue! Elang! Tolong gue! Rarki!" Kuat Shea berteriak meminta tolong, tapi orang di sekitarnya tak peduli sama sekali seakan hal itu sudah biasa terjadi di tempat ini. Sedangkan Elang? Shea tak lagi dapat melihat batang hidung pria itu yang mungkin sudah tenggelam di antara keramaian orang di sana. Dan teriakannya tak bisa mengalahkan musik yang berdentum keras agar Elang bisa mendengarnya.
Kedua pria itu terus membawa Shea menjauh secara paksa hingga mereka berada di tempat sempit yang sunyi. Mereka menyudutkan Shea di dinding. Tak ada orang di sana, musik pun masih terdengar walau tak sekuat tadi.
"Enaknya kita apain ya nih cewek?" Sehingga mereka tak perlu lagi berteriak untuk saling berbicara.
"Cantik begini sikat aja bro! Lumayan, walaupun body nya ga terlalu ngisi."
"Haha, salah sendiri kenapa tadi sendirian aja sih cantik.." Salah satu pria itu menyentuh pipi Shea. "Wow, lembut banget!"
"Pergi lo berdua! Tolong! Siapapun Tolong gue! Eh! Lepas!!"
"Ssstttt... Percuma sih lo teriak.." Pria yang memakai topi ke belakang mendekatkan wajahnya setelah mengunci kedua tangan Shea ke atas dengan satu tangannya. "Bibir lo seksi juga." Pria itu semakin mendekatkan wajahnya, tangannya yang lain melingkar di pinggang Shea bermaksud memberi dorongan agar gadis itu tak bisa bergerak. Sedangkan pria berkumis tipis tertawa puas melihat ekspresi Shea yang bercampur aduk. Antara marah, takut, dan merasa jijik.
"SINGKIRIN TANGAN KOTOR LO ANJING!"
*BHUKK!*
TBC