Hari Minggu, hari yang biasanya seorang Rarki diberikan dua pilihan, antara bermalas-malasan di rumah atau nongkrong bersama teman-temannya di manapun itu. Kecuali jika dirinya sedang dalam keadaan tidak jomblo alias punya pacar, mungkin dia akan pergi bersama pacarnya entah itu nonton, makan bareng, ataupun jalan-jalan layaknya remaja yang sedang berkencan pada umumnya.
Tapi tidak untuk kali ini, padahal dirinya sedang tidak dalam status pacaran. Tapi mau tidak mau pria itu harus menemani seorang wanita yang bahkan bukan siapa-siapanya, Shea. Entah kenapa dirinya merasa terpaksa setiap kali melakukan apa yang wanita itu mau. Secara tidak langsung Rarki menjadikan dirinya bertanggung jawab atas keadaan Shea.
Mengingat bagaimana kemarin malam wanita itu terus saja mengirimkan pesan bahwa dirinya akan menunggu Rarki di taman dekat rumahnya. Tidak mungkin Rarki membiarkan Dia menunggu lagi seperti terakhir kali yang malah berujung dirinya pingsan.
Maka di sinilah pria itu sekarang, di taman sekitar komplek rumah Shea. Jam tangannya menunjukkan pukul 11. Dari kejauhan matanya menangkap sosok Shea yang ternyata benar-benar menunggunya di taman. Jika taman ini ada di dekat rumahnya, kenapa dia tidak menunggu di rumahnya saja? Kira-kira begitulah pertanyaan yang muncul di benak Rarki. Hingga kini motornya berhenti tepat di depan wanita yang duduk di salah satu bangku taman tanpa mematikan mesin motornya, membuatnya tersenyum lebar dan langsung berjalan menghampiri Rarki.
"Buruan naik. Nih." Tanpa mengatakan apapun, Shea sudah duduk di belakang Rarki dan seperti biasa tangannya dilingkarkan di perut Rarki.
Yang berbeda kali ini Rarki membawakan helm untuk gadis itu mengingat tempat tujuannya akan masuk ke daerah kota yang mewajibkan pengendara menggunakan helm. Untungnya Rarki sudah cukup umur untuk mendapatkan SIM sejak beberapa bulan yang lalu.
"Ke toko kaset kan?."
"Tapi gue mau beli pelembap dulu, udah abis soalnya."
"Kan kemaren lo-"
"Ayo, jalannn.. Nanti keluar dari komplek belok kiri ya." Pada akhirnya Rarki mengikuti perintah gadis itu. Lagi.
~~
"Itu tuh yang ada spanduk pinknya." Setelah perjalanan cukup jauh akhirnya mereka tiba di toko kosmetik wanita. Shea turun dari motor usai Rarki memarkirkan motornya di depan toko dengan bebas karena hanya ada beberapa kendaraan di sana.
"Kok ga turun?" Shea menatap bingung Rarki yang masih duduk di motor tanpa melepas helmnya.
"Ngapain?"
"Lo juga harus masuk dong, temenin gue."
"Ini tempat cewe. Gue cowo dan elu cewe. Kita beda."
"Terus?"
"Ya ga mungkin gue masuk ke situ."
"Kenapa? Banyak kok cowo yang nemenin pacarnya ke sini."
"Gue bukan cowo lu, She."
"Tapi lo calon pacar gue, ayo dong.." Lagi-lagi Shea mengundang perhatian orang di sekitar mereka yang terkekeh melihat perdebatan kecil dua insan itu. Menyadari hal itu, sudah tak terhitung berapa banyaknya Rarki yang akhirnya pasrah dan mengikuti kemauan gadis bermata coklat itu.
"Rarki, bagusan yang mana warnanya? Ini atau ini? Yang cocok ke gue." Dengan antusias Shea mengangkat dua liptint dengan warna berbeda sambil tersenyum menatap Rarki. Kenapa liptint? Bukannya tujuannya ke tempat kosmetik itu untuk membeli pelembap? Yah begitulah, melihat deretan liptint yang lucu-lucu membuat matanya haus ingin menambah koleksi liptintnya lagi.
"Ini aja. Udah, cari pelembapnya, terus bayar." Sementara yang ditatap hanya menunjuk asal salah satu di antara dua pilihan yang Shea berikan.
"Ih, bentar. Masa sih yang ini?"
"Iya, udah bagus."
Sekali lagi Shea mengoleskan sedikit liptint yang memang disediakan sebagai tester ke tangannya, memastikan warna.
"Kayanya ini terlalu tua deh warnanya. Eh, ini kok lucu sih bentuknya? Liat deh Ki, lucu kan?" Kali ini Shea berpindah pada liptint merk lain.
"Iya lucu. Udah yang itu aja, buruan."
"Ini model baru ya mbak?" Pertanyaan Shea menyadarkan seorang SPG yang sedari tadi mencoba menahan tawa melihat kedua pelanggan yang diawasinya itu.
"Oh, iya mbak. Baru masuk sih barangnya, diimpor langsung dari korea. Memang kualitasnya bagus banget mbak, tahan lama, dan ringan di bibir. Pilihan warnanya juga lebih banyak dari yang ini." Satu pertanyaan, banyak jawaban, memang begitulah tugas seorang SPG.
Setelah melihat, memilih, mencoba, pemeriksaan harga, membandingkan, akhirnya Shea telah memberi keputusan akhir. Keputusan yang membuat Rarki lagi-lagi harus menahan kesabarannya. Bagaimana tidak? Setelah hampir setengah jam mereka berkeliling, dirinya membeli liptint yang merupakan pilihan keduanya. Kenapa dirinya tak langsung membelinya tadi? Untungnya soal pelembap Shea tak lagi memilih-milih dan langsung membelinya.
"Rarki.."
"Apa lagi?"
"Gue laper.."
Berakhirlah dua insan itu di sebuah kafe bernuansa modern, adanya suara musik yang diputar dengan volume pelan sehingga terdengar nyaman di telinga. Mereka memilih duduk berhadapan di meja yang terletak di belakang namun tak terlalu ujung, dimana kaca kafe yang tembus pandang membuat mereka bisa melihat keadaan luar. Ditemani seorang pelayan yang memegang catatan kecil, Rarki dan Shea mencari-cari menu apa yang akan mereka nikmati di jam yang sudah menunjukkan hampir pukul 12 siang ini.
"Mbak, menu yang recommended di sini yang mana ya?"
"Ehm.. Nasi goreng pattaya mbak, banyak yang review enak. Sama Bokkeumbap juga."
"Bokkeumbap?" Mata Shea kembali menelusuri menu, mencari-cari nama tak asing yang barusan ia dengar. Ia merasa sering mendengar nama itu di drama-drama korea kesukaannya. "Oh, yang ini ya. Campurannya apa aja mbak?" Kebetulan di menu ada gambarnya.
"Sebenarnya itu nasi goreng kimchi, di atasnya ada rumput laut sama telur mbak."
"Ki, menurut lo pesan bokkeumbap atau nasi goreng pattaya?"
"Lo yang makan She, kenapa harus gue yang nentuin?"
"Gue pengen pattaya tapi pengen nyobain bokkeumbap juga. Lo pesen apa?"
"Saya nasi goreng pattaya aja ya mbak. Minumnya lemon tea." Dengan cekatan pelayan wanita itu menulis pesanan Rarki barusan.
"Kalo gitu saya bokkeumbap deh, entar gue cobain punya lo dikit ya Ki. Kalo minumnya... apa ya?" Mata Shea mulai mencari lagi di daftar menu. "Lemon tea juga deh."
Pelayan pergi, meninggalkan kedua remaja itu yang tiba-tiba diselimuti kebisuan. Rakri yang sedang mengecek HPnya karena baru sempat, sementara Shea dengan kedua tangan yang menangkup wajahnya dan bertumpu di meja sedang memperhatikan setiap lekuk wajah pria di depannya itu. Selang satu menit tentu Rarki menyadari bahwa dirinya sedang diperhatikan sejak tadi.
"Apa?"
"Lo ganteng." Seperti biasa, Shea selalu menjawab pertanyaan dengan mudah.
Tapi kali ini Rarki mengurut keningnya, mencoba menyembunyikan wajahnya menahan malu karena sadar dua wanita yang duduk di sebelah meja mereka sedang cekikan berkat perkataan Shea. Shea yang menyadarinya langsung menatap kedua wanita itu.
"Ganteng kan? Calon pacar saya?" Berhasil lah Shea membuat kedua wanita yang tampak seperti anak SMP itu tersenyum canggung dan langsung berpura-pura sibuk dengan handphonenya.
"Rarki?" Kali ini Shea melembutkan suaranya, Rarki yang malas menjawab hanya merespon dengan menatap manik coklat wanita itu. "Kenapa.. Lo ga pernah tanya apa-apa ke gue? Lo ga penasaran tentang gue?" Tatapan Shea berubah, tak ada senyum yang biasa menghiasi wajahnya, pertama kali Rarki melihat ekspresi alami Shea.
Saling menatap, mencoba mengerti pesan apa yang disampaikan melalui tatapan masing-masing. Cukup lama, namun semua itu buyar saat seorang pelayan pria datang membawa nampan. Termasuk ekspresi Shea yang kembali berubah dan tersenyum menyambut pesanannya yang sudah datang.
"Lemon tea dua, bokkeumbap, sama pattaya."
"Wahh.. Makasih ya Mas. Kayanya enak, lo mau cobain Ki?" Rarki menggeleng, tatapan masih fokus pada wanita di depannya. "Gue cobain ini dulu, terus entar gue cobain punya lo ya." Entah kenapa Ia baru sadar kalau selama ini Shea selalu memaksakan senyuman yang biasa ditunjukannya.
Dilihatnya kini wanita itu menyendokkan sedikit ke mulutnya, mengunyah pelan, mulai menikmati rasa yang sepertinya memang enak. Tapi perlahan ekspresinya terlihat aneh, terlebih saat seluruh makanan itu sudah masuk ke kerongkongannya. Dengan gerakan cepat bibirnya meraih sedotan di gelasnya dan langsung menyedotnya.
"Enak, sssshh tapi pedasss. Gue lupa kimchi itu pedas." Terdapat raut kekecewaan di wajah Shea mengingat bahwa dirinya tidak bisa memakan makanan pedas karena tidak tahan.
Menyadari hal itu tangan Rarki bergerak mengangkat nasi goreng pattaya miliknya dan langsung menukarkannya dengan piring bokkeumbap milik Shea. Tentu perilaku itu membuat Shea mengerjap bingung.
"Gue suka pedas, lo makan punya gue aja." Mungkin hal itu bisa menjawab kebingungan wanita itu, pikir Rarki.
TBC