Wellton 1560
Dandelion sudah berdiri di depan gerbang asrama, ia berbicara pada seekor burung kecil. “Pergilah kesana dan katakan pada Aracelli bahwa aku sudah tiba.” Perintah Dandelion pada burung kecil itu.
Cuitt..ciittt..cuittt..,cuittt...
“Dia tidak akan mengerti bahasamu.” Kata Dandelion, “Kemari kau.” Perintahnya Lalu mengusap kepala burung kecil itu.
“Baiklah akan kusampaikan padanya.” Kata burung kecil itu tiba-tiba bisa berbicara bahasa manusia.
“Bagus.. Bilang padanya jangan terlalu lama.” Perintah Dandelion, “Pergilah..”
Burung kecil itu terbang dengan sayap mungilnya mencari-cari letak kamar Aracelli.
Aracelli sedang duduk di depan meja riasnya setelah dua jam ia habiskan hanya untuk memilih pakaian. “Apa yang sedang aku lakukan?” Ucapnya pada diri sendiri, “Aku berdandan untuknya? Dia bahkan mungkin tidak akan datang.”
Tokk..Tokk..tokkk... Terdengar suara yang berasal dari jendela kamar Aracelli.
Aracelli menoleh dan memperhatikan burung kecil yang sedang mematuk-matuk kaca jendela jendela dengan paruh kecilnya, ia memperhatikan cukup lama, hingga ia sadar bahwa burung kecil itu melambaikan sayap padanya.
“Aku?” tanya Aracelli pada burung itu, ”Kau melambai padaku?” Katanya lalu membuka jendela.
“Pangeran Dandelion sudah menunggumu sejak tadi,” Kata burung itu pada Aracelli.
“Kau bisa bicara?” Tanya Aracelli dan sedikit tercengang, “Apa Dandelion yang membuatmu bisa bicara?”
“Dia Pangeran, kau harus menyebutnya Seorang Pangeran,” Kata burung kecil itu lagi.
“Hei burung kecil, kau hanya dibodohi olehnya, kita tidak tinggal di sebuah Kerajaan, ini sebuah negara, dan tidak ada Raja atau Pangeran. “ kata Aracelli memprofokasi.
"Aku diperintahkan untuk memberitahumu agar segera turun dan menemuinya, sekarang juga.” Kata burung kecil itu lagi.
"Baiklah..Baiklah.. Apa aku akan dihukum jika melawan?”
“Akan ku tanyakan.” Kata burung itu Lalu pergi kembali kepada Dandelion.
Tak lama dari kejauhan Dandelion melihat Aracelli berjalan santai keluar dari asrama.
“Hai..” Sapa Dandelion. Aracelli hanya membalas dengan senyum kecil dan mengernyitkan dahinya.
“Aku sudah bertanya pada Pangeran, katanya Dia tidak akan pernah bisa menghukummu apapun yang terjadi.” Ucap burung itu melaporkan.
Aracelli terkekeh, “Baiklah, Terimakasih..”
"Ayo..”ajak Dandelion membukakan pintu mobilnya, mempersilahkan Aracelli untuk masuk.
"Kita mau Kemana?” Tanya Aracelli setelah dalam perjalanan.
“Ketempat Favoritku.” Jawab Dandelion.
"Dimana?” Tanya Aracelli lagi.
Dandelion hanya tersenyum tanpa menjawab, sampai mereka tiba disebuah mulut gua.
Wellton 2020
Suatu malam sekitar pukul 22.00 Dandelion pergi jalan-jalan sendirian, ia berada di Wellton tetapi beban dari Magica Mundi ikut bersamanya, seolah tak ingin melepaskannya, kenangan tentang Aracelli justru semakin menggangunya disini, ditambah lagi karena Jessica, setiap kali ia melihat gadis itu, hatinya berdebar sekaligus merasa begitu sakit.
“Selamat datang.. Selamat berbelanja.” Ucap Jessica sambil merapikan barang ketika seseorang memasuki toserba.
Seorang pria meletakan sebuah botol minuman dingin di meja kasir.
"Hai.. Kamu?” Sapa Jessica begitu gembira melihat pria yang diincarnya ada di depan mata.
Dandelion tersenyum dan mengangguk dengan wajah datar, “Aku beli ini.” Ucapnya.
"Baiklah..” Ucap Jessica mengambil botol minuman itu, “Harganya gratis.”
Dandelion meletakan uang $50 di meja kasir lalu mengambil minumannya dan pergi.
"Umm.. Ly..” Panggil Jessica sebelum Dandelion benar-benar keluar dari toserba.
Dandelion menghentikan langkahnya, Ly.. Tidak ada yang memanggilnya seperti itu disini, pikir Dandelion.
“Kemana kau akan pulang?” tanya Jessica.
Dandelion kembali melangkah pergi tanpa menjawab Jessica.
"Kemarin ada wanita yang di rampok di daerah sini.” Ucap Jessica lagi, “belakangan ini jalan begitu sepi.”
Dandelion menghentikan langkahnya lagi kemudian menoleh, “Lalu?” tanya Dandelion.
"Sebentar lagi aku pulang, jika kita searah, kalau kau tidak keberatan, apa kau mau pulang bersamaku?” pinta Jessica.
Dandelion masih terdiam, seperti berpikir namun tak mengatakan apapun.
“Umm.. Ya sudah jangan di pikirkan, kau pulanglah.. lagipula belum terlalu malam.” Ucap Jessica sambil tersenyum meringis.
Masih tak menjawab, Dandelion kembali melangkah pergi.
"Dia itu kenapa sih?” Rutuk Jessica, “Sia-sia sekali wajah tampan begitu tapi ekspresinya selalu datar, apa wajahnya terbuat dari marmer, begitu berkilau tapi juga kaku.” Jessica terus mengomel hingga satu jam berlalu.
“Ini uang makan mu.” Kata Pemilik toserba memberikan sejumlah uang pada Jessica.
"Terimakasih bos, aku pulang dulu.” Pamit Jessica.
Lalu mengencangkan tas yang menggantung di bahunya. “Baiklah.. Jalan secepat yang kau bisa Jess..” ucapnya pada diri sendiri.
Lalu seorang pria berjalan melewatinya.
“Hei..” Panggil Jessica begitu gembira, “Ku kira kau benar-benar pergi.”
"Kalau kau benar-benar dirampok maka aku akan jadi seorang pecundang karena tak mau mengantarmu.” Ucap Dandelion.
"Hi..Hi.. Kau baik sekali.” Kata Jessica sambil menggandeng tangan Dandelion.
“Bukankah aku pria yang terbuat dari marmer yang kaku?” Ucap Dandelion melepaskan tangan Jessica.
"Oh.. Terbuat dari marmer maksudnya kau begitu berkilau dan halus.” Kata Jessica. Apa dia tadi mendengarku? Bagaimana bisa? Ucapnya membatin.
"Dandelion menoleh, “Jangan pernah berbicara di dalam hati saat kau bersamaku.”Kata Dandelion, “Aku tidak bisa mendengarmu.”
“Apa itu artinya kita akan sering bersama?” tanya Jessica, “Siapa juga yang bisa mendengar suara hati seseorang.”
"Apa kau harus bekerja hingga malam seperti ini?” tanya Dandelion.
“Hmm.. Iya.” Jawab Jessica. “Karena nenek ku sudah cukup tua dan sendirian jika harus membiayai kuliah dan kebutuhanku setiap hari.”
"Kau bersama nenekmu?” tanya Dandelion lagi.
“Iya dia satu-satunya keluarga yang ku punya.” Jawab Jessica lagi, “Maaf ya kalau aku sering menyusahkanmu.”
Dandelion hanya tersenyum kecil, ingin sekali kubilang tidak apa-apa, katakan padaku jika kau butuh apapun, tapi itu hanya akan membuatmu semakin dekat denganku. Pikirnya.
“Aku tidak pernah tau seperti apa orang tuaku, kata nenek aku pernah mengalami kecelakaan dan hilang ingatan, sekuat tenaga aku mencoba mengingat seperti apa aku dulu, tapi tetap tidak berhasil, semuanya hilang.” Kata Jessica.
“Kenapa hidup kalian selalu sulit?” tanya Dandelion lirih, ia teringat kembali pada Aracelli, hidup gadis itu pun tidak mudah.
"Apa?” tanya Jessica.
Dandelion menggeleng. “Umm.. Sebenarnya apa kau menyukaiku?” tanya Jessica lagi.
Gadis gila ini mulai lagi, pikir Dandelion. “Ckk..” Dandelion berdecak karena malas membahas masalah itu. “Kenapa kau berpikir begitu?”
"Karena aku tahu, aku bisa membaca gerak-gerikmu “
"Astaga.. “ Ucap Dandelion. “Lebih baik aku pulang saja..”
"Baiklah, baiklah maaf... Aku tidak akan membahasnya. “ kata Jessica, "Kalau begitu kenapa kau membenciku?”
"Kau benar-benar peka ya.” Kata Dandelion.
“Jadi kau benar-benar membenciku?” “Aku hanya tidak suka pada wajahmu.” Jawab Dandelion. “Membuatku kesal.”
“Wajahku?” tanya Jessica memegangi pipinya dengan wajah masam.
Dandelion tersenyum melihat ekspresi Jessica.
"Eh.. Kita sudah sampai, ini rumahku.” Kata Jessica setelah tiba di.deoan sebuah rumah dengan cat berwarna putih.
Dandelion mengangguk, “Masuklah..” Katanya.
“Apa kau mau mampir?” tanya Jessica.
"Tidak, sudah malam, lain kali saja.” Jawab Dandelion.
"oke.. Hati-hati ya,” Ucap Jessica sambil melambaikan tangan.
“Oke...” Ucap Dandelion sambil melangkah pergi.
“Obicham te dhue.” Ucap Jessica mengingat kata-kata dalam mimpinya yang masih membuatnya penasaran, sambil membuka pintu rumah.
“Astaga...” teriak Jessica kaget ketika menoleh dan ada seorang pria tepat di belakangnya. “Kau?” tanya Jessica,
"Bukanya kau sudah pergi?” tanya Jessica pada Dandelion yang juga sedang kebingungan.
“Iya.. Umm.. Aku pergi.” Kata Dandelion.
“Iya.. Oke..” Ucap Jessica.
“Umm.. Jess.. Apa yang kau katakan tadi?” tanya Dandelion.
"Apa?” “Apa kau tadi mengucapkan sebuah mantra?” tanya Dandelion lagi.
“Mantra? Memangnya aku Harry Potter?” Jawab Jessica terkekeh.
"Ohh.. Yasudah lupakan,” Ucap Dandelion Lalu pergi.