Wellton 1560
Begitu memasuki pintu kantin, Aracelli melihat Dandelion yang sedang duduk dengan santai di kursi bersama keempat saudaranya.
Dia lagi. Pikir Aracelli Lalu buru-buru membuang muka.
“Hai.. “ Sapa Dandelion mulai mendekati Aracelli lagi.
"Hai..” Sapa Aracelli menoleh dengan senyum yang tidak manis sama sekali.
“Mau bergabung bersama kami?” ajak Dandelion.
“Tidak, Terimakasih.” Tolak Aracelli.
“Kalau begitu aku bergabung bersamamu saja.” Kata Dandelion Lalu berjalan tepat dibelakang Aracelli.
"Dengar.. Bukankah menurutmu kita harus menjaga jarak?” Ucap Aracelli mulai kesal.
“Baiklah..” Dandelion Lalu sedikit mundur menjauh dari Aracelli.
Aracelli hanya memelototi Dandelion, tidak tahu harus berkata apa lagi kepada pria itu.
“Umm.. Aku ingin menunjukan sesuatu padamu.” Kata Dandelion.
“Apa?” tanya Aracelli.
“Besok ku tunggu di gerbang asrama ya.” Ucap Dandelion Lalu pergi kembali bergabung dengan Althaf dan yang lainnya tanpa menunggu jawaban Aracelli.
* * *
Wellton 2020
"Hari ini, kabarnya kita akan kedatangan anak baru, ya?" tanya Dara sambil memilin-milin rambut.
"Siapa?" tanya Fiola.
"Mana kutahu!" jawab Dara. "Aku, kan belum berkenalan dengannya, menurut kabar burung, anak baru itu tampan lho!"
Jessica mencibir. "Yah, tapi tetap saja tidak menarik!"
"Jess, tidak ada satu pria pun di dunia ini yang cukup baik di matamu," sindir Fiola.
"Mungkin saja kali ini beda," timpal Dara. "Maksudku, berita tentang kepindahannya saja sudah menjadi buah bibir di kampus ini. Wah, terbayang nggak sih, kalau pria itu benar-benar akan nginjakkan kakinya di kampus kita,Pasti keren banget, ya?"
"Ah, kau ini lebay!" ujar Jessica sembari menghela napas, "Uhm.. aku tahu dari mana berita itu menyebar?!" kata Jesica sambil senyum-senyum menyındir.
"Gina, si peri gosip!" ujar Jessica dan Fiola serentak.
"Ya sudahlah, kita lihat saja nanti!" tantang Dara."Bukankah seharusnya hari ini dia sudah mulai masuk kelas? Kenapa belum kelihatan juga?" tanya Dara, matanya mencari-cari keberadaan wajah asing yang membuatnya sangat penasaran.
Saat itulah, sebuah mobil sport tipe terbaru melaju lembut di tengah kerumunan mahasiswa.
Hampir semua mata tertuju pada mobil super mewah itu. Mobil itu berhenti tak jauh dari tempat Jessica berdiri. Pintunya terbuka, lalu sang empunya keluar dengan gayanya yang cool dan super keren.
Seketika, suasana menjadi hening.
"Jess...!" panggil Dara sembari meremas tangan Jessica.
Jessica pun ikut melihat pada sebuah objek yang membuat semua mata tertuju padanya. Jessica tertegun sejenak, antara percaya dan tidak percaya.
Hah?! Bukankah dia pria nasi goreng? Pria yang pernah menggendongku? Masak sih? Dia anak baru nya? Bagaimana dia tahu aku kuliah disini? Apa dia ingin mendekatiku? Kata Jessica dalam hati.
Hei.., sadar Jess.. la hanya sedang berjalan, tak akan menoleh ke arahmu, tegurnya dalam hati, mencoba menyadarkan diri sendiri. Tapi kenapa pria itu kelihatan tampan sekali? Apa kemarin aku terlalu lapar sampai tidak memperhatikannya, ya? Jessica terus membatin.
Lelaki itu berjalan di sepanjang koridor. Melewati semua mata yang terpesona padanya. Jika di dalam sebuah film. mungkin pria itu akan berjalan diringi musik rock dan diterpa angin lembut,
Ah, seperti film India saja! batin Jessica lagi sedikit geli.
Sesaat kemudian. Entah mengapa, Jessica teringat pada seseorang. Sembari berpikir, ia kembali memperhatikan tiap detail gaya pria magnet itu.
Berwajah tampan, rambut hitam, postur tubuhnya proporsinal, dan gayanya.., woww.., sempurna...! kata Jessica dalam hati.
Tapi sepertinya..., "hah?!" Tiba-tiba, Jessica mengingat semuanya.
Kenapa pria ini memiliki Ciri-ciri yang sama dengan seseorang yang selalu hadir dalam mimpiku? ujarnya kembali membatin.
Dandelion membalas tatapan Jessica saat melewati gadis manis itu. Sepasang matanya berbinar.
* * *
Jessica duduk di kursinya seperti biasa. Pada posisi keempat.
Dan, mahasiswa baru yang menghebohkan kampus itu duduk di barisan yang bersebelahan dengan Jessica. Pada posisi kedua.
Dari tempat duduknya, Jessica bisa dengan leluasa memandangi punggung Dandelion.
"Kemarin juga aku sudah bertemu dengannya, tapi kenapa aku tidak memperhatikan, ya?" ujar Jessica pelan.
Seketika, Dandelion menoleh, ia juga terlihat seperti sedang berpikir keras.
Kemarin mereka mendapat tugas, untuk mencari sebuah karangan, puisi atau semacamnya. Hari ini, mereka harus membacakannya.
Seperti anak SD saja! pikir mereka.
Dosen yang satu ini memang terkadang aneh, ia suka sekali dengan sastra. Pokoknya, apa pun yang berhubungan dengan kata-kata indah.
Sebenarnya mereka sudah sering sekali diberi tugas seperti ini. Tapi tugas tetap tugas. Selagi itu bisa memberi nilai, lebih baik, ya lakukan saja.
"Baiklah, siapa ingin jadi yang pertama?Sep" tanya Pak Albert. Matanya menyisir semua siswa di kelas.
Namun semua tampak diam.
Jeremy adalah nama pertama yang dipanggil Pak Albert. la membacakan karangannya yang berjudul "Enggan."
kemudian Dara dengan judul "Luruh".
Dan "Jessica" adalah nama ketiga yang disebutkan Pak Albert.
Ia sengaja memanggil Jessica karena dilihatnya gadis itu sedang asyik melamun. la tenggelam memandang mahasiswa baru itu. Meskipun yang dilihatnya hanya punggungnya.
Jessica tak kunjung merespons hingga semua siswa menoleh padanya, termasuk Dandelion. Melihat pria itu menoleh padanya, Jessica tersenyum malu.
Sepertinya, ia benar-benar sedang terlena. Separah itukah pesona mahasiswa baru itu?
"Jessica!" panggil Pak Albert. la mulai emosi melihat gelagat mahasiswi yang satu ini.
"Ya!" jawab Jessica. la belum menyadari bahwa ia menjadi pusat perhatian. "Kenapa?" tanya Jessica menoleh pada Dara yang berdecak padanya.
"Giliranmu," bisik Dara.
"Apa? tanya Jessica heran, kemudian berpikir. "Owh.. ." ia terlonjak dan langsung berdiri "Ya, Pak!" katanya sok innocent.
"Bacakan!"
Jessica menghela napas sebelum memulai. Mengembalikan kesadarannya secara utuh. "DANDELION" ucapnya membacakan judul dari karangannya.
Dandelion menoleh, ia pun begitu tampak serius mendengarkan karangan Jessica.
Keindahan cinta layaknya cerita benih-benih dandelion,
yang dibawa udara dunia jauh dari rahim Cinta tempat kelahirannya.
la beterbangan ketika masanya untuk mulai menyebar,
demi menampakkan keindahannya kepada semesta.
Menunjukkan kelembutannya pada mayapada.
Dandelion bukanlah meteor yang jatuh ke bumi dengan membawa bencana.
Menabrak bumi dengan serudukan kasarnya.
Benih Dandelion turun dengan lembut di tanah tujuannya.
Mereka menyampaikan pesan dari sang ibunda pada tanah tempat kedatangannya dengan tarian-tarian keindahan.
Setiap benih dandelion tiba di bumi dengan sentuhan kesunyiannya.
Dibantu sang angin, turun perlahan,
mengukir cinta di hamparan bumi,
di bawah naungan sang langit.
Namun, di tempat barunya, dandelion tetap tumbuh sebagai dandelion.
Sampai di mana pun ia tetap dandelion.
Jessica tersipu malu, saat Dandelion tersenyum padanya. la tampak tidak percaya diri dengan hasil karangannya.
Apalagi jika mengingat kejadian barusan.
"Hmm..., bagus!" komentar Pak Albert."Kenapa kau mengangkat tema dandelion?"
"Hanya kebetulan, Pak. Aku mencarinya di internet, jawab Jessica jujur. "Mungkin karena aku sangat menyukai bunga dandelion."
"Bunga dandelion?" Pak Albert mengerutkan keningnya."Unik, bukankah dandelion hanya rumput biasa? Apa keistimewaannya?"
"Sangat istimewa," jawab Jessica singkat.
"Aku ingin seperti dandelion. Ia hidup dengan apa adanya. Mungkin ia tak secantik mawar dan tak seharum semerbak melati. Tetapi, bunga rumput liar ini begitu indah. la tampak sederhana meski hanya memiliki bunga-bunga kecil. Dandelion itu sangat berbeda. Di balik tubuhnya yang rapuh, ia mampu bertahan. Padahal ia sering terluka. Bahkan, ketika mengering, dandelion pun tumbuh menjadi bunga yang lebih besar dengan keindahan serta kesederhanaannya."
Dandelion menyeringai, Seolah-olah semua kalimat itu ditujukan untuknya.
"Bagus sekali," Pak Albert mengangguk-angguk. "Oh, iya, bukankah hari ini kita kedatangan anak baru?" ujarnya sembari mencari-cari sosok asing di antara para mahasiswanya.
Tentu saja ia tidak hafal satu per satu mahasiswanya, karena terlalu banyak kelas yang diajarnya.
Dandelion berdiri.
"Owh..., kau?!" tanya Pak Albert. "Silakan, perkenalkan dirimu!"
"Namaku Dandelion," katanya menekankan dan menoleh pada Jessica.
Gadis itu ternganga. Tidak menyangka nama pria itu sama seperti bunga favoritnya. Uhm..., ternyata bunga dandelion cocok juga dipakai untuk nama seorang pria, pikirnya.
"Dandelion Beauregard," pria itu menyebutkan nama lengkapnya.
"Baiklah, Dandelion tentu saja kau tidak mengerjakan tugas yang kuberikan. Tapi, apa kau hafal beberapa puisi atau semacamnya? tanya Pak Albert lagi.
Dandelion berpikir sejenak, kemudian membacakan salah satu puisi yang ia ingat.
Apabila cinta memanggilmu,
ikuilah walau jalannya berliku.
Dan apabila sayapnya merangkummu,
pasrahlah serta menyerah,
walau pedang tersembunyi di sela sayap itu dan melukaimu.
Tubuh mempunyai kenginan yang tidak kita ketahui.
Mereka dipisahkan karena urusan duniawi.
Dan dipisahkan di ujung bumi.
Namun jiwa tetap ada di tangan cinta.
Terus hidup sampai kematian datang
dan menyeret mereka kepada Tuhan.
"Sebuah karya milik Kahlil Gibran. Bagus sekali, Nak," puji Pak Albert.
Setelah jam pelajaran terakhir. Jessica masih duduk di taman memperhatikan Dandelion dari kejauhan. Walaupun
belum secara resmi berkenalan, tetapi Jessica sudah tahu banyak tentang Dandelion berdasarkan info dari Dara.
la kagum dan terpesona saat melihat wajah tampan milik Dandelion.
Kemana dia? tanya Jessica dalam hati, sambil celingukkan mencari-cari karena kehilangan Dandelion.
"Mencariku?" tanya seseorang yang tiba-tiba berada disampingnya.
"Ka.. kamu!" Jessica gugup. Seketika jantungnya berdetak kencang.
"lya, ada apa?" ujar Dandelion.
"A.. a.. aku...," Jessica tambah gugup.
"Kau mencariku, kan?" tanya Dandelion yakin.
"Kenapa kau bisa tahu?" tanya Jessica to the point.
"Apa?" tanya Dandelion pura-pura tak mendengar.
"Ba... ba... barusan kau...," katanya masih gugup. "Ah, tidak. Lupakan saja."
Jessica tersenyum. la menatap wajah Dandelion.
Matanya indah sekali, mata itu begitu menggoda, aku sangat menyukainya, ujarnya membatin.
"Uhm.. Namamu Dandelion?” tanya Jessica.
“Ya..” Jawab Dandelion singkat.
"Aku Jessica," ucapnya mengulurkan tangan pada Dandelion.
"Aku tahu," balas Dandelion sambil tersenyum.
"Hahhh!" Jessica mengerut heran. "Dari mana kau tahu namaku?"
"Pak Albert," jawab Dandelion. "Jess, puisimu tadi bagus."
"Terimakasih,"jawabnya. "Owh..., by the way, maafkan aku atas kejadian waktu itu, ya." Jessica tersenyum setengah meringis malu.
"Tentang apa?" tanya Dandelion.
"Nasi goreng. Bahkan kejadian itu nyaris merenggut nyawamu," ujar Jessica menerawang.
"Ooo..., masalah itu. It's ok," jawab Dandelion santai. "Seharusnya akulah yang meminta maaf padamu, karena aku, kau jadi terluka."
"Ya, tapi semua itu terjadi karena salahku sendiri," ujar Jessica menyesal.
"Sudah, sudah. Sebenarnya bukan itu yang jadi masalah," kata Dandelion.
"Terus, masalahnya apa?" tanya Jessica sedikit tenang.
"Masalahnya adalah bagaimana bisa kau mengira aku ingin mati hanya karena kelaparan? Apa tampangku saat itu benar-benar memprihatinkan, ya?"
Jessica terkekeh, wajah putihnya memerah. "Bukan begitu, hanya saja ,hemmm..., yah anggap saja aku ini bodoh," katanya. "Sorry, ya."
"Lupakan," ucap Dandelion. “Lagipula kita tidak akan akrab, kau tidak perlu begitu ramah padaku.”
"Kukira kita sudah berteman," balas Jessica.
Mereka lalu sama-sama terdiam. Tenggelam dalam pikirannya masing-masıng.
"Umm.. Kenapa kau mengikutiku sampai kesini?” Tanya Jessica dengan seluruh kepercayaan dirinya.
“Apa? Aku mengikutimu?”
“Iya bagaimana kau tahu aku kuliah disini?” tanya Jessica lagi,” Umm.. Dengar ya, aku bisa saja pacaran denganmu, tapi untuk sementara kita rahasiakan saja dulu.”
“Hei.. Nona.. Darimana datangnya rasa percaya dirimu itu?” Ucap Dandelion, “Bahkan jika aku tahu kau belajar disini sebelumnya maka aku akan mencari campus lain.” Katanya kesal lalu menoleh dan mendapati Jessica sudah terlelap disampingnya.
Jessica memang mudah tidur dimanapun ia berada, wajar saja, karena seharian ia disibukan dengan berbagai kegiatan, ia harus pergi bekerja di siang hari, belum lagi banyak tugas kampus yang harus ia kerjakan hingga tengah malam.
"Bagaimana bisa seorang gadis tidur seperti itu?" Dandelion bergumam, sembari menyandarkan kepala Jessica di bahu nya. Ia memutuskan untuk tetap berada disana hingga Jessica terbangun, ia tidak bisa meninggalkan gadis itu tidur disana sendirian.
30 menit kemudian.
Dandelion menyadari Jessica mulai terbangun.
“Hmmm.. Lelap sekali tidurku?” Gumam Jessica sembari menyeka matanya.
lalu ia menoleh kekanan dan kekiri, Dandelion sudah tidak berada disana,
Lalu ia melirik jam ditangannya, “Hah.. Aku sudah tidur selama 30 menit? Kenapa tidur disini bisa senyaman itu.” ucapnya Lalu berdiri sambil merenggangkan otot-ototnya yang kaku.