Wellton April 1520
“Ar.. Apa kau sudah makan malam?” tanya Lira , teman sekamar Aracelli. Karena orang tua Aracelli tetap tinggal di Newels, gadis itu terpaksa tinggal di asrama.
“Belum.” Jawab Aracelli. “Kau?”
“Kalau begitu ayo kita makan diluar saja,” ajak Lira, “Aku lapar.”
“Umm..Tapi aku ingin makan roti saja, kebetulan ibu ku membawakan roti.” Jawab Aracelli. Aku ingin pergi, tapi aku harus mengatur uang saku ku agar cukup untuk satu bulan. Jessica membatin.
“Sudahlah simpan saja rotimu untuk besok pagi, sekarang ayo temani aku makan, aku traktir untuk merayakan kedatanganmu disini.” Lira menarik tangan Aracelli, tidak perduli apapun Aracelli harus ikut.
“Ok..ok.. Biar aku ganti baju dulu.”
"Ah sudah, begitu saja kau sudah cantik.” Lira memaksa lalu mereka bergegas pergi.
“Makanan disini lumayan kan?” tanya Lira.
“Mm..” Aracelli mengangguk..
“Hai Lira..” Seorang pria tiba-tiba menyapa.
“Oh, hai Dandelion.” Jawab Lira.
“Teman baru?” tanya Dandelion basa-basi.
“Iya kenalkan, aracelli.”Ucap Lira, “Ar.. Ini Dandelion, well kau tau dia Pangeran kita.”
Aracelli terkekeh, “Bukankah itu nama bunga?” ucapnya, “kita bahkan bukan negara kerajaan, kenapa ada Pangeran.”
Dandelion cemberut, ekspresi Aracelli benar-benar diluar dugaan, bukankah seharusnya dia senang berkenalan dengan orang sepertiku? Pikir Dandelion.
“Permisi apa kau pernah bertemu denganku?” tanya Dandelion.
“Tidak.” Jawab Aracelli.
“Apa aku pernah berbuat salah padamu?” tanya Dandelion lagi.
"tidak.”
"Kalau begitu kenapa kau terlihat sangat kesal padaku.”
"Aku hanya tidak menyukaimu.” Jawab Aracelli, “Melihatmu membuatku kesal setengah mati.” Katanya lalu beranjak pergi, meninggalkan Dandelion yang ternganga karena kebingungan.
Lira ikut ternganga, Lalu mereka.saling tatap, mata Dandelion seolah bertanya ada apa ini?
Lira mengangkat bahunya, “mana ku tahu.”
Disisi lain Aracelli berjalan gusar sendirian, “Pangeran sialan.. keluarga Kerajaan sialan.. Karena mereka keluargaku hidup miskin, apa salahnya jika bukan penyihir? Kenapa mereka mengusir ayah hanya karena menikah dengan ibu.” Rutuk Aracelli.
“Ada apa dengan keluargamu?” tanya Dandelion tiba-tiba muncul di hadapan Aracelli.
“Astaga..” Aracelli terlonjak.
"Oh.. Maaf..” Kata Dandelion.
"Dasar sombong.” Rutuk Aracelli pelan, Lalu pergi meninggalkan Dandelion.
"Hei.. Ada apa?” tanya Dandelion.
“Apa sih?” tanya Aracell kesal.
"Kau kenapa begitu kesal padaku?”Tanya Dandelion meminta klarifikasi pada Aracelli, “Bukankah ini kali pertama kita bertemu?”
"Iya..Lalu?” “Lalu kenapa kau membenciku? Memangnya apa yang ku lakukan padamu?”
“Tidak ada,” Jawab Aracelli, “Aku hanya tidak ingin terlibat denganmu.”
"Terlibat denganku? Aku bukan pembuat masalah, memangnya kenapa Kalau terlibat denganku?” Protes Dandelion.
"Tapi aku tidak mau, sudahlah.. Kau juga tidak kekurangan teman kan?”Ucap Aracelli.
"Oo..Aku tahu.”Ucap Dandelion menganggung-angguk, “Kau sengaja melakukan ini agar aku lebih tertarik padamu kan?”
"Apa?” Tanya Aracelli dengan nada tinggi.
“Kau sengaja berpura-pura bersikap dingin padaku agar aku semakin simpati padamu kan?”Kata Dandelion, “Tentu saja, aku Seorang Pangeran, dan aku tampan, memangnya siapa yang bisa menolakku?”
“Woahhh..”Ucap Aracelli tercengang dan sangat kesal, “Dengar ya tuan yang sangat percaya diri, tapi bisakah kau pergi saja dari hadapanku? Aku sampai tidak tau harus berkata apa padamu.”
“Baiklah.. Besok ku tunggu kau di kelas ya.” Ucap Dandelion sambil menyunggingkan senyum paling manis yang ia miliki. Aracelli merengut tanpa berkata apapun, Lalu.bergegas masuk ke Asrama.
* * *
Wellton 2020
"Selera makanku hilang karena wanita itu. Tapi.., siapa dia?" gumam Dandelion kesal.
Kini, ia berdiri di atas tebing curam. la memutuskan untuk pergi jalan-jalan, melihat apa saja yang ada di dunia ludzi ini.
"Pemandangan di sini lumayan juga," gumamnya lagi sambil melihat ke bawah.
Terlihat debur ombak menabrak dinding tebing dan karang-karang tajam jauh di bawah sana. Ia memikirkan banyak hal, tentang ibunya, tentang perjodohannya dengan Abigael, tentang Aracelli, juga tentang wanita yang baru saja ditemuinya, wanita itu sungguh penggangu, ia bukan saja membuat Dandelion gagal untuk makan siang, tapi juga wajahnya kini mondar-mandir di benak Dandelion.
Krrukkkk....
Perut Dandelion kembali menjerit.
"Ckk.. Diamlah, aku juga tau kau lapar." katanya pada diri sendiri sambil memegangi perut.
"Huaaahhh...!" teriak histeris Jessica sangat kencang dan lantang, karena melihat Dandelion seperti ingin melompat dari sana.
"Aduh..!" Dandelion terlonjak kaget dan terjatuh.
"Heeeii..., jangan bunuh diri!" teriak Jessica semakin histeris. la berlari untuk menolong Dandelion yang sedang berpegangan,mencoba menarik dirinya kembali ke atas.
Sebenarnya terjatuh dari sana bukanlah masalah bagi Dandelion. Tetapi, jika seseorang melihatnya terjatuh dan tidak mati, itulah yang menjadi masalah. Sebisa mungkin, Dandelion harus berpura-pura seperti manusia biasa.
"Sial, kenapa kedatangannya selalu menyusahkanku," rutuk Dandelion.
"Cepat naik!" kata Jessica sambil menarik tangan Dandelion.
Tak lama kemudian, mereka telah berdiri berhadap-hadapan di tepi tebing itu. Saling memandang dalam diam.
"Bodoh sekali!" maki Jessica pada Dandelion, setelah agak lama mereka terdiam. "Bunuh diri tidak akan menyelesaikan masalah."
"Apa?" kata Dandelion heran. "Aku terjatuh karena kau!"
"Karena aku?" kata Jessica dengan suara melunak, lalu berpikir sejenak. "Ya, baiklah, maaf...," ucapnya.
Dandelion cemberut kesal padanya. la teringat pada tulang keringnya yang masih memar dan hampir saja terjatuh dari sana.
"Tapi, masa hanya karena sepiring nasi goreng saja kau sampai mau bunuh diri," kata Jessica lagi.
Dandelion ternganga, "Nasi goreng?"
"lya. Kau mau bunuh diri karena masalah nasi goreng tadi, kan?" kata Jessica sok tahu. "Kau lapar, tapi sudah tidak punya uang lagı karena sisa uangmu sudah kau pakai untuk membayar nasi goreng tadi."
Apa ada orang yang mau bunuh diri hanya karena sepiring nasi goreng? Lagi pula, apa aku terlihat begitu miskin? gerutu Dandelion dalam hati. sepertinya wanita ini memang tidak waras, pikir Dandelion curiga.
"Maafkan aku, ya?!" Jessica memohon. "Jika kau melakukannya, maka aku akan sangat merasa bersalah."
Dandelion tersenyum licik. Ia baru saja mendapatkan ide untuk mempermainkan Jessica. "Tidak, aku akan tetap bunuh diri," katanya, lalu berpura-pura akan terjun.
"Heii..., jangan...! Kumohon, aku akan menebus kesalahanku. "Ummm.. aku mau melakukan apa saja, atau aku akan mentraktirmu makan. Mau, ya?" kata Jessica panik.
"Tidak, bukan hanya itu. Kau harus mentraktirku terus selama satu bulan," kata Dandelion.
"Apa? Satu bulan?" ucap Jessica. " Wah, ini pemeras namanya, tidak, tidak. Aku tidak mau!"
"Kalau begitu, aku akan bunuh diri," ancam Dandelion.
"Ya sudah, lompat sana! Kau juga tidak akan berani," tantang Jessica.
"Baik, aku lompat. Setelah ini, aku akan menghantuimu," ucap Dandelion, lalu bersiap melompat.
"Kau benar-benar ingin melompat?" tanya Jessica mulai takut lagi.
"Selamat tinggal!" kata Dandelion, lalu melompat ditempat.
"Akhaaaaahh..!" Jessica berteriak menutup mata, tidak beraní melihat Dandelion yang terjatuh.
Secepat kilat, Dandelion menghilang dan muncul dibelakang Jessica.
Perlahan, Jessica membuka matanya. Mengintip dari sela-sela jari. "Aduh., dia benar-benar bunuh diri. Bagaimana ini?" katanya panik. Lalu ia merayap ke ujung tebing. Takut akan limbung karena angin dan ikut jatuh. "Hiks. hiks..," Jessica menangis. "Kenapa kau nekat sekali? Jangan mati. Bagaimana kalau nanti aku dituduh membunuhmu? Aku akan menuruti maumu. Sebenarnya aku mau mentraktirmu makan, tapi aku tidak punya uang cukup untuk itu. Aku tinggal seorang diri. Untuk bayar kuliah dan makan sendiri saja susah, apalagi harus mentraktirmu setiap hari," katanya menangis terisak.
Dandelion tersenyum mendengarnya. "Kau jangan menghantuiku, ya?!" pinta Jessica. "Maafkan aku."
"Hei.. Bodoh." Panggil Dandelion pelan tepat di samping telinga Jessica. Jessica menoleh ke belakang.
"Hah?" Jessica gantian terlonjak kaget. "Cepat sekali jadi hantunya? Apa kau tidak diinterogasi malaikat dulu? Jangan menghantuiku ya.. Aku akan selalu mengirimimu doa agar arwahmu tenang di sana. Aku janji." Jessica bersimpuh dihadapan Dandelion.
"Kau pikir aku benar-benar melompat?" kata Dandelion. "Bodoh. Mana ada orang yang mau bunuh diri hanya karena nasi goreng."
"Tapi tadi..." Jessica masih terisak.
"Aku tidak benar-benar melompat. Lagi pula, aku belum ingin mati," kata Dandelion. "Kau tahu? Teriakanmu itu akan membuat orang terjatuh meski tidak ingin bunuh diri, mengerti?"
"Jadi..., kau belum mati?" tanya Jessica.
Dandelion mencubit pipi Jessica pelan. "Aku masih bisa menyentuhmu, kan?" katanya membuktikan.
Jessica menangis semakin kencang.
Kini, Dandelion lah yang terlihat agak panik. "Hei, kau kenapa? aku kan hanya bercanda," ujar Dandelion.
"Tadi aku takut sekali," kata Jessica masih menangis. Aku kira kau benar-benar mati dan akan menghantuiku."
"Aduhh., sudah, sudah. Aku tidak tahan melihat wajah seperti itu." kata Dandelion merasa tidak enak, tapi juga meledek. "Diam ya," bujuknya.
Jessica menyapu air matanya. Sesekali masih terisak.
"Kau terluka?" tanya Dandelion saat mengetahui lutut Jessica berdarah. Jessica mengangguk.
"Ya, aku tersandung saat berlari tadi," jawabnya.
"Uhm.," gumam Dandelion. la celingukan mencari-cari sesuatu. "Ah..., daun ini bisa menyembuhkan luka dengan cepat!" dustanya, lalu memunguti beberapa lembar daun dengan asal-asalan.
"Benarkah?" Jessica ragu. "Itu kan hanya rumput?!"
"Lihat ini!" perintah Dandelion. Kemudian, ia meremas daun itu dan meletakkannya di kaki Jessica yang terluka, lalu ditutup dengan tangannya.
Jessica meringis, terasa sedikit pedih dan hangat.
"Benar, kan?" kata Dandelion sambil membuang daun itu.
Lukanya sudah membaik. Tidak berdarah dan mulai mengering. Tidak lagi terasa sakit. Sebenarnya ia ingin menyembuhkan sekaligus menghilangkan bekas lukanya. Tapi, hal tersebut pasti terlihat aneh dan hanya akan membuat Jessica curiga.
"Ayo...!" katanya. la segera menggendong Jessica.
"Aku bisa jalan sendiri," kata Jessica merasa canggung.
"Jika kau berjalan, lukanya akan kembali terasa sakit," dustanya. "Kau pikir aku suka menggendongmu seperti ini."
Jessica pun menurut saja. Suasana hening. Mereka membisu selama perjalanan. Sesekali, pandangan mereka bertemu.
"Lalu apa yang kau suka?" tanya Jessica.
"Kenapa kau bertanya?" Dandelion malah balas bertanya, "Apa yang ku suka bukan urusanmu."
"Ishh.. Dari sikapmu, kau pasti tipe pria yang mencintai diri sendiri." Jessica menebak.
Dandelion tidak menjawab.
"Lalu apa yang tidak kau suka?" Tanya Jessica lagi.
"Pengganggu sepertimu." Jawab Dandelion.
"Kau juga bermulut jahat." kata Jessica. "Perjanjian kita batal, kan?" tanya Jessica. Tiba-tiba, ia teringat dengan syarat Dandelion untuk mentraktirnya selama satu bulan.
"Baiklah. Kau pelit sekali!"
"Aku bukan pelit, tapi ngirit!" bantah Jessica.
"Apa bedanya?" ucap Dandelion terus berjalan sambil menggendong Jessica.
"Jelas beda," kata Jessica, "pelit itu punya tapi tidak mau membantu, kalau aku mau membantu, tapi tidak punya."
"Ya sudah, terserah saja." ucap Dandelion malas berdebat.
Perbincangan merekapun instens selama perjalanan, sedikit demi sedikit menghilangkan kecanggungan diantara mereka.
(Dandelion love quotes : Yang paling berbahaya dari cinta adalah, kita tak pernah bisa merencanakan dan memilih kepada siapa kita jatuh cinta.)