Wellton 23 april 1520
Hari ini adalah hari pertama kepindahan Aracelli ke sekolah Akademagic sekolah sihir setingkat SMA yang berada di kota Wellton. Saat itu sekolah sihir masih diijinkan di kota ini, hanya saja tidak ada manusia biasa disini, semua murid disini adalah keturunan penyihir asli ataupun.berdarah campuran.
Sebenarnya Aracelli tidak ingin bersekolah disini, ia lebih suka bersekolah disekolah umum, bersama dengan manusia biasa, karena Aracelli tergolong penyihir tingkat rendah karena ia berdarah campuran, ibunya hanya manusia biasa yang menikah dengan seorang penyihir dengan kasta ksatria atau lebih tepatnya ayah Aracelli sebenarnya adalah salah satu anggota kerajaan yang kini hidup miskin.
Sang ayah ingin Aracelli menjadi penyihir hebat agar bisa kembali diterima di istana.
“Well aku barada disini,” ucap Aracelli sebal, “siapkah dirimu Ar, bisa jadi kau akan dibuly.” ucapnya pada diri sendiri, ia celingukan mencari ruang administrasi sekolah.
“Siapa gadis itu?” tanya Dandelion saat melihat ada wajah baru disekolah.
“Oh.. Dia anak baru, pindahan dari Newels.” Jawab Dirga.
Entah apa yang spesial dari gadis itu,tapi Dandelion merasakan ada yang berbeda dihatinya, Ia jatuh cinta pada gadis yang bahkan belum ia ketahui namanya, cinta pada pandangan pertama.
“Anak-anak, ini hari ini kalian kedatangan teman baru, namanya Aracelli,” ucap sang guru memperkenalkan. “silahkan sapa teman-temanmu.” Perintahnya pada Aracelli.
“umm.. Hai.. Aku Aracelli, aku berasall dari Newels.” Ucap Aracelli memperkenalkan diri.
“Oo.. Aracelli.” Ucap Dandelion pelan.
“Baiklah,silahkan duduk disana.” Bu Prada mempersilahkan.
* * *
Wellton juni 2020
Sepertinya, aku harus memakan sesuatu, Dandelion membatin, la merasa perutnya sudah menjerit-jerit minta diisi.
"Bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan makanan di sini?" ucapnya lirih sambil membongkar seisi dapur, bingung, karena selama ini, ia selalu dilayani.
Lagi pula, ini pertama kalinya ia datang ke dunia ludzi setelah lebih dari tiga ratus tahun pergi dari sini.
Ia telah lupa bagaimana caranya hidup di sini. Dunia ludzi telah berubah. Perubahannya sangat drastis. Jauh berbeda dengan saat ia tinggalkan dulu.
"Ya sudah, keluar saja dulu," ucapnya.
la pun memutuskan untuk jalan-jalan sore. Berharap ada yang bisa ia pelajari di luar sana.
"Bagaimana kalau kita ke Luscious saja? Aku lapar sekali," ujar seseorang yang berbincang dengan temannya di seberang jalan.
Dandelion menguping, meski dari kejauhan. Tentu saja, ia mampu mendengarnya meski suara itu berasal dari jarak yang sangat jauh.
"Luscious?" gumamnya, "sepertinya itu tempat untuk makan."
"Ya. Kudengar nasi goreng di sana sangat enak," kata seseorang lagi di seberang jalan.
Nasi goreng, ya? ucap Dandelion dalam hati.
"Oke, ayo kita makan nasi goreng di Luscious," ucap Dandelion sambil menepuk perutnya yang sudah mintad iisi dari tadi.
"Maaf, permisi!" ucap Dandelion pada seorang pria yang lewat saat ia berada di sebuah gang sempit dan sepi.
"Ya, ada apa?" Pria itu berhenti.
"Aku hanya ingin menyontek beberapa hal dari otakmu," kata Dandelion sambil merapatkan pria itu ke tembok.
"Apa yang kau lakukan?" tanya pria itu panik.
"Sudah diam, tatap aku!" ujar Dandelion sambil menghipnotisnya.
Seketika, pria tersebut menurut di luar kesadarannya.
Hingga beberapa saat, Dandelion masih terus berkonsentrasi menatap dalam-dalam pada pria itu, tdak akan ada yang melukainya. Ia hanya sekadar menyalin semua memori orang itu agar bisa lebih mudah menyesuaikan diri di dunia ludzi.
"Yeakh...!" sesekali Dandelion mencibir jika melihat beberapa memori yang membuatnya jijik.
"Baiklah, terima kasih!" ujarnya setelah selesai. "Dengar,kau akan melupakan semua yang terjadi saat ini. Kau juga tidak akan mengingatku, mengerti?!" ucapnya pada pria yang belum sepenuhnya sadar itu.
Pria itu mengangguk.
"Baiklah, kau akan sadar saat tidak melihatku lagi," ucap Dandelion.
Lalu, dengan cepat, ia meninggalkan pria yang masih saja berdiri dan bengong itu di sana.
"Hmm..., aromanya sangat lezat!" ucap Dandelion saat telah berdiri di depan restoran sederhana itu.
Aroma makanan membuat perutnya semakin keroncongan.
Dengan sigap, ia berjalan menuju sebuah meja kosong.
"Maaf, ini tempatku!" kata Jessica. Wanita itu berpenampilan sangat santai, hanya memakai kaus, celana pendek, dan membawa tas.
Sesaat, Dandelion menatapnya heran. la terdiam. Tidak bergeming sedikit pun.
"Hallooo..." Jessica melambaikan tangannya di depan wajah Dandelion.
"Mmm..., tapi aku yang sampai lebih dulu," kata Dandelion lembut.
"Oke. Asal kau tahu saja, akulah yang melihat kursi ini lebih dulu. Kau kan laki-laki, jelas saja kau berjalan lebih cepat," ujar Jessica tidak mau kalah.
"Tetap saja ini tempatku, Nona. Silakan pergi cari tempat yang lain," kata Dandelion. Lalu, ia pun duduk di kursinya.
"Ehh..., tidak bisa. Apa kau tidak lihat, di sini tidak ada meja kosong lagi? Ini tempatku, kau saja yang pergi!"kata Jessica. Lalu dengan santainya, ia duduk di kursi dan berhadapan dengan Dandelion.
"Permisi, Tuan, Nona, silakan!" seorang pelayan memberikan menu makanan pada mereka.
"Kau masih tidak mau mengalah juga?" kata Jessica.
"Maaf, restoran kami sudah hampir tutup. Jika kalian ingin makan, silakan pesan sekarang," kata pelayan itu dengan sopan, berharap mereka bisa cepat memesan dan mnghabiskan makanannya agar ia bisa cepat pulang.
Di hari Sabtu, restoran ini memang hanya buka sampai sore hari.
"Nasi goreng," ucap mereka berbarengan.
Pelayan itu tersenyum. "Nasi goreng kami hanya tersisa satu porsi. Salah satu dari kalian silakan pesan menu lain."
"Aku yang nasi goreng!" kata Jessica.
"Tidak, itu milikku!" Dandelion kesal. la semakin tidak mau mengalah. "Nasi goreng itu milikku, cepat pergi buatkan!" kata Dandelion menghipnotis pelayan tersebut.
"Silakan menunggu, pesanannya segera saya antar," ujar pelayan itu, lalu pergi menuruti Dandelion.
"Wee...," Dandelion menjulurkan lidahnya pada Jessica.
"Awas kau!" ancam Jessica pelan, matanya melotot pada Dandelion.
Lalu mereka sama-sama terdiam.
Tak lama berselang, pelayan itu datang kembali dengan sepiring nasi goreng di tangannya. "Silakan!" ujarnya sambile trsenyum. la meletakkan sepiring nasi goreng itu tepat dihadapan Dandelion. Lalu pergi.
"Seharusnya kau mengalah pada wanita," kata Jessica merebut nasi goreng Dandelion.
"Itu milikku!" Dandelion kembali merebutnya.
"Milikku!" Jessica pun tak mau mengalah.
Akhirnya, terjadi tarik menarik piring di antara mereka.
Keduanya bersaing memperebutkan sepiring nasi goreng.
Persaingan sengit pun terjadi dan. ...
Prakkkk...!!
Terdengar suara beling yang pecah di lantai,. Nasi goreng pun tumpah berserak.
Dandelion dan Jessica hanya bengong menatap nasi goreng yang sudah terkapar di lantai. Musnah sudah harapan mereka untuk menyantapnya. Tidak akan ada lagi nasi goreng, yang tersisa hanya perut lapar yang semakin meronta-ronta.
"Lihat perbuatanmu?!" kata Dandelion.
"Aku?" balas Jessica marah. "Ini semua salahmu!"
"Maaf, kalian tidak bisa bertengkar di sini, kami akan tutup," kata sang pelayan tetap penuh sopan santun, "dan...Siapa yang akan membayar?"
"Itu kan punyamu, bayar sana!" kata Jessica lalu pergi melenggang santai.
"Iishh...," Dandelion berdesis, "dasar kau!" katanya. la bingung karena tidak punya uang.
"Berapa?" tanya Dandelion.
"Lima puluh ribu," jawab pelayan itu.
Dandelion memasukkan tangannya ke saku celana. la memunculkan uang dengan sihirnya. Itu jelas melanggar hukum.
"Ah., biarkan, ini keadaan darurat," ucapnya dalam hati. "Ini...," ia menyerahkan uang seratus ribu, "Ambil kembaliannya," katanya, lalu ia pergi dari sana.
"Ke mana wanita itu" ucap Dandelion lirih. Ia celingukkan mencari-cari sosok wanita yang merebut nasi gorengnya.
"Wah, cepat juga jalannya," ucap Dandelion saat melihat Jessica sudah berjalan cukup jauh. la lalu mengejarnya. Berjalan perlahan di belakang wanita itu.
Jessica menyadari keberadaan Dandelion. la merasa diikuti.
Kenapa pria ini mengikutiku? Jangan-jangan, dia ngin membunuhku karena masalah tadi, pikir Jessica. Ia pun mempercepat langkahnya.
Dandelion ikut mempercepat langkahnya. la memperhatikan setiap detail dari tubuh dan wajah Jessica.
Tapi, Jessica keburu berlari menghilang di sebuah tikungan. la bersembunyi di belakang sebuah patung es krim yang besar, ikon dari toko di depannya.
"Cepat sekali larinya," ujar D, ia menoleh kesana kemari.
Jessica cepat-cepat keluar dari persembunyiannya dan langsung menendang lutut D, llu berlari sekencang-kencangnya.
"Akhrrrgghhh...!" Dandelion meringis kesakitan karena memar di tulang keringnya. "Dasar aneh, Kenapa dia menendangku. Aduh...,"katanya sambil mengusap-usap kakinya.
Jessica sudah tidak terlihat lagi, Ternyata, ia benar-benar mengira kalau Dandelion ingin membunuhnya.