"Dih, awas kamu, Bu Nisa! Aku jampi-jampi, baru tahu rasa kamu!” Wahyu bersungut-sungut seraya menjalankan sepeda motor bebeknya karena baru saja diusir oleh Nisa.
Sebenarnya memang bukan salah Nisa, dia sendiri yang salah karena datang begitu saja ke rumah Nisa, tanpa memberi kabar terlebih dulu, sedangkan Nisa sudah menjelaskan kepadanya di sekolah bahwa ia tidak pernah menerima tamu lelaki.
Itu pulalah alasannya kenapa Wahyu datang tanpa memberi kabar terlebih dulu kepada Nisa, sebab yang ada tentunya akan dilarang, akan tetapi siapa sangka meski sudah datang ke rumahnya pun, ia diusir, meski dengan cara lembut, tentu saja pengusiran tetaplah menyakitkan.
“Sombong kamu itu, Bu Nisa!” gerutu Wahyu lagi, seolah ia sedang berbicara langsung dengannya, padahal hanya berbicara dengan angin saja selama tiga puluh menit, melajukan sepeda motornya.
Lelaki itu kini memarkirkan sepeda motornya di sebuah rumah, yang tak lain adalah rumah temannya, Firman, satu sekolah tempat ia mengajar dan juga Nisa.
“Kenapa, Pak Wahyu? Kelabu gitu mukanya?” tanya lelaki yang mempunyai postur tubuh kecil, mungkin tingginya di bawah 160 cm saja, akan tetapi wajahnya begitu putih, bahkan nampak masih muda, meski usianya sudah menginjak angka 30 tahun.
Wahyu mendengus kecil ketika ia baru saja turun dari sepeda motornya, lalu menghempaskan tubuhnya itu pada kursi yang ada di depan rumah Firman.
“Kenapa sih?” tanya Firman lagi kepada Wahyu, heran.
“Saya dari rumahnya Bu Nisa, tapi malah diusir,” jawab Wahyu dengan sedikit kesal.
Akan tetapi berbeda dengan Firman, ia malah terkekeh ketika mendengar jawaban dari temannya itu, “ ha ha ha.”
“Kok bisa sih diusir begitu?” tanya Firman penasaran kepada Wahyu.
“Gak tahu, alasannya dia gak nerima tamu cowok,” balas Wahyu singkat dengan wajah yang masih penuh rasa kekesalan.
“Saya tahu alasannya karena dia gak suka sama saya, dan buktinya bahkan kalau ke Pak Firman malah menawarkan untuk datang ke rumahnya, kan?” ucap Wahyu lagi kepada Firman.
Yaa, Firman pernah bercerita ketika minggu lalu undangan pada temannya, yang melewati rumah Nisa, bahkan Nisa terang-terangan menawarkan Firman untuk mampir.
Wahyu juga tahu bahwa Nisa memang tertarik kepada Firman, mungkin karena sikapnya yang bertanggung jawab, pintar, dan juga kalem, tidak bar-bar seperti Wahyu.
Mungkin Firman adalah satu-satunya lelaki yang bisa membuat Nisa lepas dari Dani, akan tetapi tentu saja lagi-lagi cinta tak berpihak kepada Nisa, karena Firman sendiri masih belum usai dengan masa lalunya, meski lelaki itu seperti memberikan harapan saja kepada Nisa.
“Ha ha ha.” Firman hanya terkekeh saja, tidak menanggapi lagi apa yang dikatakan oleh Wahyu kepadanya, sebab memang ia sendiri pun tidak begitu tertarik kepada Nisa.
“Awas, ya jangan sampai Pak Firman deket-deket sama Bu Nisa! Bu Nisa biar saya yang miliki saja, otomatis kalau Pak Firman menolak Bu Nisa, dia akan lari kepada saya,” ucap Wahyu kepada Firman, bahkan ia terkesan seperti memberikan peringatan.
“Iya, tenang aja, sih! Saya juga gak akan mungkin suka sama Bu Nisa,” sahut Firman dengan yakin dan percaya diri.
“Tapi kalian sering kirim pesan, kan?” tanya Wahyu lagi, kini memojokkan Firman.
“Eh, ya itu hanya sebatas kepada teman kerja saja, tidak lebih, dengan tujuan agar lebih dekat lagi,” kilah Firman kepada Wahyu, sebenarnya Nisa pun tentu saja tidak akan menyimpan harapan kepada Firman, jika sebelumnya tidak dipancing, Firman terlebih dulu yang bersikap manis kepadanya.
Dengan keadaan Nisa yang saat ini sedang rancu hatinya karena masalah dengan Dani, tentu saja mampu menjadikan penawar, akan tetapi ternyata penawar itu tidak benar-benar menyembuhkan luka hatinya Nisa, bahkan malah menambah.
“Baguslah kalau begitu! Jadi saya masih ada harapan.” Wahyu menimpali dengan perasaan lega, meski sudah ditolak secara terang-terangan, lelaki itu tetap saja percaya diri untuk mendapatkan hatinya Nisa, meski harus memakai jalan pintas.
“Eh, tapi bukannya dengar-dengar dia udah punya pacar, ya? Pernah dengar sekilas dari Pak Deden dan Bu Riri kalau Bu Nisa itu pacarnya si Mas gitu.” Firman bertanya.
Wahyu hanya menggelengkan bahunya saja, pertanda bahwa ia tidak tahu, lalu sesaat setelah itu, ia mengeluarkan suara.
“Bu Nisa gak bakalan menikah dengan si Mas itu, sebab ternyata si Mas itu adalah lelaki yang sudah beristri, dia sudah punya anak, jadi gak akan mungkin juga kalau mereka berdua akan menikah.” Wahyu tahu sekilas dengan kisah Nisa.
Ya, sebab memang ia pernah mendapati Nisa dan Riri membahas masalah si Mas di kantor, dan dia sudah mendengar dengan jelas ketika di luar, hanya saja saat itu ia pura-pura tidak mendengarnya.
“Wow, suami orang?” tanya Firman lagi meyakinkan, dengan wajah yang tak kalah terkejutnya.
Wahyu hanya menganggukkan kepalanya saja, sementara Firman hanya bergidik saja, karena tidak percaya bahwa Nisa yang ia anggap sebagai wanita lugu, malah menjalin hubungan dengan lelaki yang sudah beristri.
Ternyata tampilan fisik tidaklah mencerminkan sikap seseorang yang sebenarnya. Don’t judge a book by it’s cover, begitu katanya.
***
“Kok udah pulang teman kamu itu, Nis?” tanya Ibu kepada Nisa ketika ia sudah tidak mendapati lagi temannya itu di ruang tamu.
“Sudah Nisa suruh pulang, Bu!” jawab Nisa santai saja, tanpa menoleh ke arah ibunya, ia masih focus dengan buku bacaannya.
“Lho kok disuruh pulang? Kan kasian jauh-jauh udah ke sini, katanya dia itu orang Petir, lumayan jauh kalau ke rumah kita,” tanya Ibu lagi tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh anaknya bahwa ia sudah mengusir lelaki yang bernama Wahyu.
“Ya, mau ngapan juga di sini, Bu? Nisa juga sedang sibuk baca buku, udah, ya, Nisa mau ke kamar dulu,” ucap Nisa seraya bangkit dari duduknya, meninggalkan ibunya yang masih duduk di sana.
Ibunya Nisa hanya menggelengkan kepalanya saja tak percaya dengan tingkah anaknya itu, jika ditanya soal lelaki, ia terus saja menutup dirinya, padahal usianya sudah menginjak ke 25 tahun, yang mana jika di kampung usia segitu sudah sangat layak untuk menikah.
“Astaga, Nis! Kamu itu kenapa malah mengusir teman lelakimu itu sih? Padahal Ibu baru saja senang karena ada tamu lelaki yang datang ke rumah untuk menemui kamu,” ucap Ibu pada dirinya sendiri.
Itulah alasannya juga kepada Nisa enggan untuk menerima tamu lelaki, karena orang tuanya, akan langsung saja menyimpulkan bahwa siapa saja lelaki yang datang menemui Nis ake rumahnya, itu artinya ada hubungan special, dan langsung saja akan ditanya keseriusannya.
Padahal hanya sebatas teman saja, tidak ada hubungan apa pun, itulah mengapa Nisa menjadi tidak nyaman sekali.
“Seharusnya kamu sudah menikah di usiamu yang tak lagi muda itu!” ucap Ibu lirih.